Hiroshima Hancur Karena Bom, Warung Hancur Karena Bon

Pagi kemarin, bangun dari tidur episode kedua -episode pertama adalah pada saat bangun sholat shubuh terus lanjut tidur lagi-, tanpa sempat sekedar cuci wajah, aku pergi ke Alfamart untuk membeli pulsa. Sekalian ingin mendapat ucapan, "Selamat pagi, Mas," dari cewek-cewek penjaga Alfamart.

Ke sana aku tempuh berjalan kaki saja. Males mau manasin mobil, terus senin pagi seperti itu biasanya jalanan macetnya parah, belum lagi nanti kena biaya parkir. Jadi jalan kaki adalah keputusan yang tepat. Lagian aku memang tak punya mobil.

Karena jaraknya tidak jauh, tidak sampai sebulan aku sudah sampai di Alfamart. Dan lumayan benar, begitu masuk aku langsung dapat ucapan, "Selamat pagi, Mas," dari salah satu penjaga yang di lehernya terkalung kartu identetas atas nama 'Herman'. Aku hanya membalas dengan senyum ikhlas tak ikhlas.

Sementara dua penjaga cewek di meja kasir yang kudatangi, yang satu hanya melihatku sedetik kemudian tak peduli, sedangkan satunya memberi senyum seperlunya sambil bertanya aku ada keperluan apa. Segera kuutarakan bahwa kedatanganku berniat baik, mau isi ulang pulsa 5 ribu rupiah. Tidak usah banyak-banyak, yang penting masa tenggang SIM Card ponselku yang tersisa 2 hari lagi bisa kembali diperpanjang.

Pada saat itu, datang seorang cowok yang dari penampilannya yang rapi bisa ditebak dia adalah anak kantoran. Tampaknya dia akan melakukan pembayaran. Barang belanjaan di tangannya ada sebotol air mineral, tissue, parfum dan sabun pencuci muka. Mbak yang tadi hanya sudi melihatku sedetik, menyambut cowok itu dengan ucapan, "Selamat pagi, Mas," disertai senyuman yang ramah.

Kepada kasir, cowok itu juga meminta rokok dari rak yang dipajang di belakang meja kasir. Kulihat rokok yang dimintanya itu Sampoerna*Mild -spasinya sengaja aku sensor biar nggak ada yang tahu, takut dikira ngiklan-.

Setelah barang selesai dihitung, lelaki muda itu mengeluarkan selembar seratus ribu dari dompet untuk pembayaran. Beda sama aku yang untuk pembayaran cuma merogoh kantong, mengambil duit tujuh ribu kembalian beli batagor seminggu lalu. 

Merasa sudah tidak ada keperluan lagi, aku segera enyah dari tempat itu kemudian menuju warung kopi langgananku yang terletak tak jauh dari Alfamart. Beda dengan di Alfamart, di warung tersebut aku disambut dengan senyum ramah dan tulus oleh Mbak Sari, mamah-mamah tua yang merupakan pemilik warung kecil itu. Seperti biasa, di sana aku pesan segelas kopi bubuk racikan. Bagiku, pagi-pagi memang sebaiknya ngopi dulu biar nggak salah paham.

Di saat pesanan kopiku datang, datang juga cowok kantoran yang tadi beli rokok di Alfamart. Tanpa basa-basi dia mencomot ubi goreng kemudian duduk tak jauh dariku. Dia juga pesan minuman berupa susu cokelat hangat. Entah kenapa kulihat raut wajah Mbak Sari berubah keruh sejak kehadiran anak kantoran itu.

Dan sambil menikmati susu hangatnya, lelaki itu terus mengunyah jajanan demi jajanan. Habis satu ambil lagi. Sepertinya ia mau mencoba semua kue yang ada di kedai mbak Sari mulai dari ubi goreng, kue lapis, naga sari, tahu bulat hingga kripik tempe. Aku hanya memperhatikan sambil sesekali menyeruput kopi, untuk menutupi bahwa sebenarnya aku juga sambil menelan ludah karena kepingin. Tentu saja aku tak berani serakus dia, aku harus hidup hemat demi bertahan hidup.

"Mbak, aku susu anget satu sama jajannya 5. Catet di bon dulu," kata cowok itu berdiri dari duduknya dan kelihatannya bersiap untuk pergi.

Mbak Sari hanya mengangguk kecil dengan raut muka makin butek.

"Pagi-pagi udah ngutang, bikin sial warung saja," dumel Mbak Sari seperginya cowok itu.

Oh... Kini aku mengerti mengapa tadi tampang mbak Sari berubah kesal. Ternyata warungnya kehadiran tukang ngutang.

"Kalau begini terus warung bisa bangkrut, Mas Zuk!" mbak Sari kembali merepet sambil menatapku dengan tatapan minta disemangati.

"Sabar, Mbak," hanya itu yang bisa kukatakan.

"Dia itu bon-nya di sini udah banyak. Hampir 300 ribu. Memang di awal bulan biasanya dia bayar, tapi biasanya juga nggak lunas. Ini cuma warung kecil, kalau...

Perempuan 41 tahun tapi masih terlihat seperti berusia 40-an itu menghentikan curhatannya. Menelan ludah, mungkin dengan begitu ia berharap bisa sedikit meredam emosinya.

"Ini cuma warung kecil, kalau banyak yang ngebon seperti itu bagaimana warung ini bisa maju? Yang ada lama-lama malah hancur!"

"Masa sampai segitunya, Mbak?"

"Bayangin coba, Mas Zuk. Akhir-akhir ini yang ngutang banyak, ada yang bayarnya lancar, ada bayarnya susah dengan alasan macem-macem, ada juga yang sampai sekarang nggak bayar-bayar! Sementara warung sewaktu-waktu butuh uang untuk kulak'an. Belanja barang-barang yang mau dijual. Bayar iuaran sampah. Beli galon beli LPG. Mana setiap hari ada penagihan dari pengamen dan pengemis. Kalau pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, apa nggak hancur lama-lama warung ini, Mas?"

Kota Hancur
pixbay

Aku hanya mengangguk-angguk sambil membayangkan andai warung ini benar-benar hancur, akan separah apa tingkat kehancurannya. Aku biarkan mbak Sari menumpahkan seluruh uneg-unegnya, yang bisa jadi masalah ini juga menimpa para pengusaha warung kecil lain di tanah air.

"Ditambah lagi ada pembeli-pembeli nakal, makan jajanan habis 5 ngakunya cuma 2."

"Hah?! Ada yang seperti itu, Mbak?!" tanyaku sedikit kaget. Kasus seperti ini langsung mengingatkanku pada masa-masa sekolah dulu. Di mana saat itu kalau makan gorengan di kantin habis 5 tapi ngakunya 8.

"Ada, Mas. Ada banget! Padahal jajanan di warung ini rata-rata titipan orang, untung yang didapat cuma sedikit. Kalau ada yang makan 5 ngakunya 2, warung bukannya untung, malah buntung!"

"Yah gimana lagi, mbak. Memang begitulah resikonya warung. Pasti ada aja pembeli-pembeli yang nggak jujur. Diawasin terus nggak mungkin. Dipasangin CCTV juga kayaknya berlebihan," kataku menanggapi. "Trus mengenai tukang utang tadi, kenapa masih mbak bolehin?"

"Mas Zuki lihat sendiri kan tadi? Dia datang-datang langsung ngambil gorengan. Gimana cara saya ngelarang?"

"Ya langsung bilang aja, mbak. Jangan ngebon lagi, gitu."

Mbak Sari terdiam beberapa saat. "Saya nggak enak ngomongnya, Mas."

Nah ini. Ini sudah mirip sama permasalahan asmara remaja-remaja Indonesia, yang cewek nggak berani ngomong langsung, sementara yang cowok nggak peka. Mbak Sari nggak enak mau ngelarang langsung, sedangkan si tukang ngutang nggak peka walau sudah dicemberuti.

"Lagian para tukang ngebon itu modusnya pinter. Dulu-dulunya mereka pelanggan yang selalu bayar kayak Mas Zuki gini, lama-lama ngutang. Alasan mereka simpel, 'Saya pelanggan tetap di sini, masa ngutang aja nggak boleh?' Kan saya jadi nggak enak."

"Kalau sama aku, mbak Sari nggak usah kuatir. Aku nggak bakal ngutang, karena aku lelaki. Masa laki-laki pakai kutang? Hahaha," kataku mencoba melucu biar mbak Sari terhibur. Tapi sedikit pun dia tidak tertawa.

Dipikir-pikir serba salah memang jadi pemilik warung kecil kayak mbak Sari begini. Terlalu galak pelanggan pada lari. Terlalu baik pelanggan pada ngutang.

Dari kejadian itu aku bisa menyimpulkan bahwa warung kecil memang selalu menjadi korban. Tak hanya warung kopi, tapi juga warung-warung sembako, warung makan dan usaha kecil lainnya kerap menjadi objek kepengecutan tukang ngutang. Seperti yang dilakukan cowok kantoran cemen tadi, kenapa dia beraninya ngutang di warung mbak Sari, warung kecil bermodal pas-pasan. Kenapa saat belanja di Alfamart justru bayar cash? Padahal itu toko besar dan sudah pasti didukung modal besar.

Kalau memang tukang ngutang sejati, harusnya juga berani ngutang di Alfamart, Indomaret, Ramayana, Matahari dan sebangsanya. Coba makan di CFC habis itu suruh penjaganya catet di bon dulu. Atau ngopi di Starbuck dan bilang ke pelayan nanti bayarnya tanggal muda sehabis gajian. Berani?

Terus yang masih terbawa sifat kekanak-kanakan masa sekolah padahal sudah tua, kayak makan bakwan 5 ngakunya 4? Ayolah lebih ditingkatkan lagi. Jangan beraninya cuma ke warung-warung kecil selevel kantin sekolah yang jadi sasaran. Coba praktekkan di tempat yang lebih berkelas. Misalnya di dialer, beli motor 4 ngakunya 2.

Kalau tidak berani melakukan di tempat-tempat tersebut, harusnya juga malu melakukannya di warung-warung kecil, wirausaha kecil, milik rakyat kecil, bermodal kecil.

Berhutang memang tidak dilarang, tapi alangkah baiknya kalau hal itu dilakukan hanya di situasi, kondisi serta tempat yang tepat. Terakhir mbak Sari berpesan, ia lebih menyukai pengunjung yang walaupun belanja sedikit tapi dibayar lunas, daripada belanja banyak tapi dihutang. Dan itu membuatku agak tersanjung. Walaupun aku nongkrong sejam cuma pesan kopi segelas seharga Rp 2.500, tapi aku bayar tunai. Syah! ^^


Jangan Lewatkan

35 comments:

  1. kenapa hawanya pingin nyengir terus ya baca tulisan ini, aduh Mas salam kenal ya, suka cara penulisannya, ringan, santai dan ngena di hati. HUahh malah baper. Tapi emang bener ya mas, jangan suka ngutang. salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan nggak cuma hawanya, adamnya juga bisa nyegir terus. Biar sama-sama bahagia. Salam kenal juga, Mbak. :)

      Delete
  2. Hhahahahaa..judulnya itu yang bikin aku ngakak banget..hahaha..

    ReplyDelete
  3. Kalo mau majy warungnya
    Dorong j
    Gitu j pot pot
    .
    Umur saya 18 tahun loh bang
    Tapu masih kliatan 17 tahunan loh bang

    ReplyDelete
  4. Gkgkgkgk betul juga sih kang kalau dipikir pikir mah dan kalau menurut saya mah ini lebih parah karena kalau ini mah sakitnya secara pelan pelan.

    ReplyDelete
  5. bedanya hanya pada huruf M dan N, tetapi imbas dan dahsyatnya akibat dari hal tersebut sangat mirip dan miris bahkan bisa disebut tragis kalau dibilang mah...makanya Hirosima dan Warung adalah sama.....eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuk kita budayakan jangan berhutang wkwkwk

      Delete
  6. Gak nyangka tuh kelakuan w kebaca sama si abang ini... dulu sih w cuma ngambil batagor 6 ngakunya 5, tapi besokanya w dikasih 4 sama abngnya dan bilang itu udah "lima".

    Yang namanya utang emng harus dibayar deh selagi di dunia dari pada ditagih diakhirat !...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abang batagornya cerdas tuh. Salam buat beliau...

      Delete
  7. haha, keren persamaannya sam.
    rupanya ini yang tukang ngebon

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain persamaannya, aku juga keren lho, Sam.

      Delete
  8. ooo ya, pemilik warung kopinya mbak Sari, ah nama yang Indonesia banget hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aslinya namanya Jennifer Khodijjah, Mbak. Kombinasi eropa dan timur tengah :)

      Delete
  9. Replies
    1. Fayah nih masa komennya cuma mantafff tok...

      Delete
  10. Sewaktu SMA pun saya pernah melakukan hal yg sama. Beli gorengan habis berapa bilangnya berapa. (Kalau sekarang sudah tobat). Mungkin kalau goreng sendiri agak sulit ngitungnya, kalau titipan orang ya baru kerasa banget kerugiannya. Kunjungan perdana mas, salam kenal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukurlah kalau sudah tobat. Salam kenal juga, Mas. Terima kasih atas kunjungannya, maaf nggak sempat nyuguhin kopi..

      Delete
  11. Si Lin disini jadi apa ? Kok sampai terakhir saya baca nggak ada. Apa lupa ditulis...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah nggak penting, Kang. Dia sudah tertulis di batu nisan. Hahaha..

      Delete
  12. kalau warung emang begitu resikonya. kudu cerewet mas yang punya warungnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang delima juga, Mangs. Terlalu cerewet pembeli pada kabur.. :)

      Delete
  13. Hahaha...ini mirip dengan artikel lamaku.
    Dan aku sempat photo-photo kreasi sendiri.
    Nah itu gaya belanja sekarang, ke minimarket lunas ,ke warung kecil bon.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah masa sih? Aku malah belum baca artikel lamanya sampeyan. Ntar baca ah kalau masih ada kuota. :)

      Delete
  14. Membaca tulisan ini saya malu pada diri sendiri, karena sewaktu masa sekolah dulu jujur saya pernah bertindak tidak jujur saat jajan gorengan, sungguh penyesalan yang tiada berguna. Maafkan saya ibu pemilik warung yang baik, andai saya bisa bertemu kembali....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasa, Mas, kenakalan anak-anak. Semoga tidak menurun ke anak-anak kita. :)

      Delete
    2. Iya mas... semoga anak-anak kita mah di jauhi dari hal-hal yang negatif seperti itu...

      Delete
  15. Ceritanya lucu.. anaknya sok dan gayanya beruang tapi bayar kopi aja ngutang

    ReplyDelete

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.