Monumen Simpang Lima Gumul Kediri di Malam Hari

Simpang Lima Gumul (SLG), tempat nongkong paling populer di Kediri ini memiliki monumen yang arsistekturnya mirip Arc de Triomphe di Paris. Bedanya, monumen L'Archde Triomphe dibangun untuk mengenang revolusi Perancis, sementara monumen SLG selain untuk daya tarik pariwisata, juga merupakan ikon kebanggan Kota Kediri.


Monumen Simpang Lima Gumul Kediri di malam hari
Hai...

Wira-wiriku kali ini sampai ke Simpang Lima Gumul Kediri, Jawa Timur. Bareng teman-teman dari Komunitas Keluarga Mbah Sangkil (Kabeh Dulur), dengan mengendarai mobil sewaan, kami berangkat dari Surabaya jam 23.00 dan tiba di kota Kediri sekitar pukul 01.00 Waktu Indonesia Barat. Walau terhitung sudah dini hari, jangan mengira pengunjung SLG sudah sepi. Di berbagai sudut, masih banyak kawula pemuda yang lembur nongkrong, bahkan ada beberapa yang asyik berfota-foto tanpa memperdulikan kehadiran rombongan kami.

Sejujurnya di Simpang Lima Gumul malam itu kami hanya mampir beristirahat. Target utamanya adalah ke Pantai Pudak, Blitar. Kebetulan dari kota Surabaya ke Blitar via Kediri memang melewati Monumen SLG. Jelas sayang sekali kalau tidak dihampiri. Terutama untuk aku yang sebelumnya belum pernah sekalipun main ke sini. Jadi moment istirahat tersebut, terang-terangan aku salah gunakan untuk berwisata malam mengitari Monumen SLG.

Traveling Bareng Teman-teman ke Kediri.
Ngetrip keroyokan.

Tak hanya aku, teman-teman serombongan juga kompak melenceng dari tujuan awal. Padahal pada ingin istirahat, tapi ternyata tidak ada yang duduk-duduk, gelar tikar tiduran atau buka rantangan, masing-masing justru sibuk selfie atau minta difoto. Padahal sebagian besar dari mereka sudah pernah ke sini malah ada yang sudah beberapa kali.

Hal itu membuktikan bahwa Monumen Simpang Lima Gumul selalu menarik meski disingahi berulang kali. Termasuk saat malam hari seperti saat itu. Di malam hari, MSLG terlihat semakin tampan diterpa tata lampu yang didominasi warna keemasan. Dipadu dengan sendunya cahaya lampu-lampu jalan, membuat suasana di monumen ini terasa romantis andai datang ke sini bersama kekasih tersayang.

Hal itu yang mungkin menginspirasi Mas Nur Bayan, musisi campursari asal Kediri, membuat lagu Simpang Limo Ninggal Janji. Berikut ini aku nyanyikan lagunya. Tapi sepenggal dan pelan-pelan saja. Kalau keras-keras takut menganggu teman-teman yang sedang tidur.

"Kembangku ayu, lilakno lungoku. Aku ra bakal lali, marang janji sing ketali. Ing simpang limo iki, sing nyekseni sumpahing ati. Janjiku engko mesti tak tepati. Entenono, aku nang simpang limo..."

Lagu tersebut bercerita tentang sepasang kekasih sedang ngedate di Simpang Lima. Dalam pertemuan itu, sang pria berpamitan hendak merantau ke mancanegara menjadi TKI. Ia bersumpah akan kembali lagi, dan meminta wanita-nya untuk menunggu dan bertemu lagi di Simpang Lima.

Wisata Simpang Lima Gumul kota Kediri
Monumen Simpang Lima Gumul Kediri Malam Hari.

Selain terasa lebih romantis, di dini hari seperti itu juga lalu lintas kendaraan sudah sepi, sehingga aku bisa total menikmati suasana malam di Simpang Lima Gumul. Pengunjungnya yang tinggal satu dua itu, membuat kami semua pede berfoto-foto bergaya sesuka-suka.

Tapi sayang karena kelewat malam, sudah tidak ada satu pun pedagang makanan yang tersisa. Semua sudah pulang dan menutup lapak-lapak jualannya. Padahal kata salah satu pengunjung, asal jangan malam-malam banget, di seberang monumen ada pasar malam dan pasar tumpah, yang menjual berbagai makanan dan aneka oleh-oleh khas Kediri.

Monumen yang resmi dibuka sejak tahun 2008 ini, berlokasi di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Dengan tinggi 25 meter serta luas 804 meter persegi, membuat Monumen SLG layak menjadi landmark kebanggaan bagi kota yang dijuluki kota tahu ini. Monumen SLG tampak begitu gagah berdiri tepat di tengah-tengah persimpangan lima jalan dari arah Pare, Pagu, Plosoklaten, Gampingrejo dan Pesantren.

Oh iya, pemilihan tinggi 25 meter dan luas persegi 804 meter tadi bukan asal-asalan dan bukan tanpa alasan. Angka tersebut memiliki makna 25 Maret 804, yang mana merupakan tanggal lahirnya Kabupaten Kediri. Kabarnya pada setiap tanggal 25 Maret, bersempena dengan HUT kabupaten Kediri, Monumen Simpang Lima Gumul akan sangat meriah dengan adanya berbagai acara dan panggung hiburan.

Selain saat dirgahayu Kabupaten Kediri, puncak kemeriahan Simpang Lima Gumul juga bisa terjadi saat malam takbiran dan malam tahun baru. Makanya, kalau ingin merasakan seperti apa ramainya Simpang Lima Gumul Kediri, silakan datang pada malam-malam hari besar.

Sementara kalau ingin belajar sejarah lahirnya Kediri, traveler bisa mengamati pahatan relief di dinding monumen. Di sana terdapat 16 pahatan relief dengan masing-masing 4 relief di setiap sisinya. Tapi selain aku, sepertinya tidak ada pengunjung lain yang serius memperhatikan relief-relief tersebut. Semua sibuk dan asyik mengambil gambar.

Berkunjung ke sini hanya dikenakan biaya parkir kendaraan sebesar Rp 5.000. Tapi karena aku ke sini di dini hari, dengan kondisi lalu lintas sudah lengang, kami cuma memarkirkan mobil secara cuma-cuma di pinggir jalan. Setelah itu kami dengan leluasa masuk ke area monumen.

Spot Foto di Monumen Simpang Lima Gumul Kesiri
Malam-malam tetep pake kacamata! Eh iya sandal jepit juga.

Setelah puas berjalan-jalan di sekitar monumen, foto-foto juga dirasa sudah cukup, kemudian rasa lelah juga telah jauh berkurang, kami segera kembali memasuki mobil dan tancap gas menuju Blitar. Sasaran kami selanjutnya adalah Pantai Pudak. Do'akan kami selamat sampai ke tujuan ya.

Buat teman-teman traveler, kalau suatu hari nanti berdarmawisata ke kota Kediri, atau kebetulan sedang dalam perjalanan melewati kota ini, jangan lupa mampir dan bernarsis ria di Monumen Simpang Lima Gumul. Dijamin seru dan foto-foto yang dihasilkan bisa membuatmu seakan kesasar ke Arc de Triomphe, Paris, Perancis. Mhehehe.

Happy Traveling. ^^


Jangan Lewatkan

12 comments:

  1. saya doakan mas semoga selamat sampai kembali kerumah mas. aamiin
    bisa di tiru nih supaya pasrkir gratis datang tengah malam parkir pinggir jalan. wkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.Tapi susahnya kalau malam nggak ada yang jual makanan Mang. Mau ngopi aja nggak ada. :)

      Delete
  2. Asyik dong masnya bisa jalan-jalan malem bareng temen-temen, emangnya saya siang malem ngadepin monitor mulu.. monitornya ampe bosen liatin muka saya .. hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya iya lah lawong mukanya g pernah ganti

      Delete
    2. Kan malah gajinya utuh, Mas, Hehe. Keseringa jalan-jalan juga bisa bikin kantong kosong. :)

      Delete
    3. @Mas Trik emang bisa gantiin wajah saya? Mau dong, xixi...

      @Mas Zuki amin... mudah-mudahan doanya makbul yah, hehe..
      Jalan-jalan sesekali emang perlu juga yah buat refreshing, asal jangan keseringan. Mungkin sebulan sekali cukuplah buat ngilangin kepenatan setelah sekian lama berkutat dengan rutinitas kerja...

      Delete
  3. Jalan jalan ke Simpang Lima Gumul asyik tuh mas... Sambil bawa laptop pas itu siapa tahu nemu ide buat artikel

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya iya kalau waktunya mencukupi. Sayangnya waktu itu aku hanya mampir dan lebih banyak foto-foto dan guyonan. :)

      Delete
  4. Jadi inet waktu mampir ke simpng lima gumul ini, tapi belum pernah nyoba suasana malam hari, Karena lokasinya di tengah, agak sulit juga bila kita mencari kopi atau cemilan jajanan, yang ada harus nyebrang dulu dekat parkiran kendaraan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti kalau ke sini lagi bawa bekal dari rumah aja ya, Mas, haha..

      Delete
  5. Sayang jalan jalannya nggak pakai acara makan makan habis kemalaman sih...

    ReplyDelete

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.