Tahap Demi Tahap Pendakian Gunung Semeru Hingga Puncak Mahameru 3676 Mdpl

Tulisan ini bisa dijadikan panduan lengkap mendaki Gunung Semeru untuk pendaki pemula. Kutulis selain untuk sharing pengalaman pribadi, juga untuk mengenang kembali langkah demi langkah menggapai 3.676 mdpl selama 4 hari 3 malam, dari tanggal 11 hingga 14 Mei 2017 yang begitu menguras tenaga dan emosi.

Rombongan Pendaki Gunung Semeru

Rabu malam, 10 Mei 2017, kira-kira pukul 23.00 WIB, dengan mengendarai motor pribadi, aku dan seorang teman traveller bernama Eko Hadi Susilo berboncengan berangkat dari Surabaya. Tujuan kami ke Ranu Pani, sebuah desa di kaki Gunung Semeru dan merupakan desa terakhir sebelum memulai pendakian.

Desa Ranu Pane berada pada ketinggian 2.200 mdpl dan masih bisa ditempuh dengan kendaraan. Kami tiba di sana bersamaan dengan sahut-sahutan adzan Shubuh dari masjid-masjid di sekitar desa. Jalannya mayoritas menurun serta rusak parah di beberapa titik. Ada sedikit rasa heran dalam hati, bisa-bisanya akses menuju objek wisata yang mendunia kondisinya begitu memprihatinkan.


BASE CAMP RANU PANI

Setelah Shubuhan di Mushalla Kantor TNTBS (Taman Nasional Tengger Bromo Semeru) resort Ranu Pani, aku bergabung dengan pendaki-pendaki lain dari berbagai daerah. Kebanyakan dari Jakarta. Ngobrol-ngobrol alakadarnya sembari menunggu kantor buka pada jam 08.00. Suhu di sana pagi itu sangat dingin. Aku membeli segelas teh panas yang dalam waktu semenit saja sudah menjadi teh dingin.

Kantor beroperasi sampai jam 16.00. Jam empat sore juga merupakan batas waktu yang diizinkan untuk memulai pendakian. Untuk pendaki pemula dengan pengalaman minim kayak aku begini, sebaiknya segera mengambil formulir begitu kantor buka pada jam 08.00. Tujuannya supaya bisa ikut breafing kloter pertama dan bisa segera memulai pendakian.

Selain itu juga untuk menghindari kalau-kalau pendaftaran sudah tutup karena kuota penuh. Perlu diketahui, bahwa jumlah pengunjung kawasan Gunung Semeru dibatasi 500 orang per hari. Memang dari total pendaki setiap harinya, tidak semua mendaki hingga puncak Mahameru. Ada yang cuma sampai Ranu Kumbolo atau paling jauh Kalimati. Ada juga yang sejak awal berniat sampai puncak, tapi gagal karena berbagai kendala.

Pengambilan Formulir di Kantor TNTBS Resort Ranu Pani

Jam 08.00 kantor buka. Para ketua rombongan mengambil formulir sebanyak jumlah anggota rombongannya. Karena kami cuma berdua, aku mengambil dua lembar saja. Dan untuk bisa mendapatkan formulir, ketua regu harus menunjukkan surat kesehatan dan fotokopi kartu identitas seluruh timnya.

Hal-hal yang diharus diisi di dalam formulir meliputi biodata seluruh rombongan, ceklis kelengkapan barang, menuliskan berapa jumlahnya dan menandatangi surat pernyataan bahwa batas akhir pendakian adalah sampai Kalimati. Tanda tangan dilakukan oleh pimpinan rombongan di atas materai 6.000. Kemudian seluruh berkas dibawa ke ruang breafing dan diserahkan kepada SaVer (Sahabat Volunter Semeru) untuk diperiksa.

Para calon pendaki yang telah menyelesaikan proses administratif, langsung diarahkan untuk memasuki ruang breafing. Breafing gelombang pertama dilaksanakan sekitar jam 09.30. Acara ini berlangsung antara setengah sampai satu jam. Berisi penjelasan bagaimana medan gunung Semeru. Tentang berbagai macam bahayanya. Hal-hal apa saja yang perlu dilakukan dan yang tak boleh dilakukan selama pendakian.


SaVer juga akan memeriksa kelengkapan berkas para pendaki. Barang-barang yang dibawa juga dicek, apakah sesuai standar pendakian atau tidak. Calon pendaki yang memenuhi syarat, formulirnya akan ditandatangani oleh ketua SaVer.

Formulir yang telah ditandatangani SaVer tadi, dibawa ke loket sebagai syarat pengambilan tiket masuk ke kawasan Gunung Semeru. Agak ribet memang. Tapi semua itu demi keselamatan kita para pendaki.


PINTU GERBANG PENDAKIAN

Kamis, 11 Mei 2017. Inilah saat yang sedikit mendebarkan bagiku dan mungkin para pendaki newbie lainnya. Perjalanan panjang akan segera dimulai. Sepasang kaki lemah ini akan dibawa berjalan naik hingga puluhan jam lamanya. Empat hari tiga malam. Mencoba menggapai asa 3676 mdpl. Tanpa tahu apa yang nanti akan terjadi di depan sana. Dengan sederet bahaya yang tadi dijelaskan SaVer, tak bisa dibohongi hati ini sedikit diremas-remas rasa cemas.

Kurang lebih jam 09.30, langkah pertama menuju puncak Mahameru 3676 mdpl resmi aku mulai. Bersama Eko, kami melangkah gontai meninggalkan kantor TNTBS Ranu Pane. Sebagai pendaki pemula, di hari pertama pendakian itu, tujuan kami adalah Ranu Kumbolo dan beristirahat satu malam di sana. Kalau pendaki-pendaki expert yang sudah punya jam terbang tinggi, ada yang lanjut ke Kalimati dan malamnya langsung summit attack ke puncak Mahameru.

Gapura Pintu Masuk Pendakian Gunung Semeru

Sepuluh menit berjalan, kami melewati gapura yang bertuliskan 'Selamat Datang Para Pendaki Semeru'. Tidak jauh dari pintu gerbang pendakian itu, kami dicegat beberapa petugas. Tiket kami diperiksa. Setelah itu kami dipersilakan melanjutkan perjalanan. Tidak lupa para petugas yang baik hati itu menyemangati kami, mendoakan kami, dan mewanti-wanti kami agar senantiasa hati-hati.

Dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo butuh waktu tempuh antara empat sampai lima jam. Bisa lebih cepat bisa juga lambat. Tergantung kecepatan dan ketahanan fisik masing-masing. Tapi sebelum tiba di Ranu Kumbolo, pendaki akan lebih dulu melewati dua kawasan yang dinamakan Landengan Dowo dan Watu Rejeng. Di kawasan itu terdapat empat pos yang bisa digunakan untuk ngaso.

Tapi kalau sudah tidak tahan, tidak perlu menunggu tiba pos. Bisa kapan saja istirahat di pinggir jalur pendakian. Yang penting tidak mengganggu lalu lintas pendaki-pendaki lain. Istimewanya, kalau istirahat di pos ada penjual makanan dan minuman seperti air mineral, kopi, teh, pop mie, gorengan adem dan semangka dingin bagai dikulkas.


LANDENGAN DOWO

Landengan Dowo berada di ketinggian 2300 mdpl. Dari Ranu Pani berjarak 3 km dan bisa dicapai 1 hingga 2 jam. Jalurnya landai dan telah dilapisi paving, meski pavingnya sudah banyak yang tertutup tanah.

Dasar pendaki karbitan, biar pun lintasannya relatif landai, aku sudah mulai kelelahan. Bahu terasa sengkleh akibat beratnya keril. Sebentar-sebentar aku izin istirahat. Padahal pos 1 saja belum tercapai.

Tapi aku tak ingin menyerah. Aku selalu bangkit melanjutkan pendakian meski kemudian juga tetap sebentar-sebentar istirahat. Akibatnya, beberapa kali aku didahului pendaki lain. Biarin. Toh mendaki gunung itu bukan ajang balapan dulu-duluan sampai puncak, tapi tentang bagaimana menikmati perjalanannya fase demi fase. Begitu kata bijakku di dalam hati mencoba menghibur diri yang lemah ini.

Sementara itu di angkasa, awan gelap mulai berarak menutup langit. Dan seiring mendung yang semakin pekat, akhirnya aku sampai juga di pos 1 walau dalam durasi yang tidak wajar. 3 jam lebih!

Penjual Makanan di Pos Peristirahatan Pendaki Gunung Semeru

Itu baru pos pertama, masih ada 3 pos lagi hanya untuk sampai Ranu Kumbolo saja. Nggak nyangka jarak antar pos begini banget jauhnya. Jujur sampai di sini, aku sudah mulai pesimis bisa sampai puncak Mahameru 3676 mdpl. Orang baru pos 1 saja capeknya sudah capek banget seperti ini.

Di Pos 1 dan tiga pos lainnya ada semacam gazebo. Juga ada lapak-lapak penjual makanan. Setelah sholat dzuhur di pos 1, aku dimotivasi bapak yang jualan, bahwa jarak antar pos tidak sama. Rute Ranu Pani - Pos 1 memang yang paling panjang. Dari pos 1 ke pos 2 lebih dekat. Ke pos 3 juga tidak terlalu jauh. Dan nanti kalau sudah tiba pos 4 berarti sudah sampai di Ranu Kumbolo.

Baiklah, sambil meringis menahan pegal-pegal di badan, trekking aku lanjutkan. Dan memang benar, walau sebentar-sebentar berhenti istirahat, pos 2 lebih cepat dicapi.


WATU REJENG

Pendakian berlanjut. Kira-kira setengah jam dari pos 2, kami memasuki kawasan yang disebut Watu Rejeng 2350 mdpl. Treknya juga masih tergolong menanjak landai. Tapi karena lelahku sudah demikian parah, langkah-langkah terasa semakin berat. Keril di punggung juga rasanya bertambah empat kali lipat lebih berat.

Watu Rejeng Gunung Semeru

Cuaca buruk membayangi. Kawasan Watu Jereng diselimuti kabut tebal. Suhu begitu dingin. Mendung di langit juga semakin menjadi-jadi. Tak lama kemudian gerimis pun turun satu persatu. Saat itu rasa lelah sudah bercampur ketakutan. Akan seperti apa jadinya aku, mendaki dengan kondisi fisik yang sudah kepayahan, masih harus diguyur hujan? Sementara tempat berteduh terdekat adalah pos 3, yang entah masih berapa mil lagi jauhnya.

Beruntung gerimis itu hanya berlangsung sebentar. Tapi hati tetap tak bisa tenang. Mendung hitam masih menggelayut. Hujan masih sangat mungkin turun sewaktu-waktu. Kabut juga bertambah tebal. Apalagi ketika melewati Jembatan Cinta, pekatnya kabut membuatku seolah berada di dunia lain.

Jembatan Cinta di Jalur Pendakian Gunung Semeru

Menjelang pos 3, kami berpasasan dengan iring-iringan petugas mengevakuasi korban kecelakaan tertimpa batu saat summit attack tadi malam. Korban mengalami luka serius dan terpaksa ditandu. Aku terdiam melihat itu. Nyaliku menipis. Percaya diriku turun drastis. Aku semakin pesimis melanjutkan pendakian sampai Mahameru.

Dengan nafas ngos-ngosan akut, akhirnya aku sampai juga di pos 3. Rasanya kayak mau semaput. Tapi penderitaan belum berakhir, saudara-saudara! Tanjakan tajam sudah menunggu di depan mata. Semua pendaki harus melalui itu. Tidak ada jalan lain. Panjangnya cuma sekitar 50 meter, tapi kemiringannya sukses menguras sisa-sisa tenaga. Tiga empat langkah mendaki, aku harus berhenti mengatur nafas.

Tanjakan Terjal Setelah Pos 3 Gunung Semeru

Sukses melewati itu, untuk sampai ke Ranu Kumbolo, pendaki masih harus trekking 2 - 3 jam lagi. Melewati jalan setapak dengan jalur turun naik. Di sisi kiri banyak jurang menganga, sementara di sisi kanan ada tebing-tebing rawan longsor. Semakin seru karena sesekali harus melangkahi atau menunduk pada batang pohon yang roboh memalangi jalan.

Kabut dan mendung masih tebal. Bahkan gerimis sempat turun lagi sebentar. Sementara garis finish masih jauh. Tapi aku masih konsisten dengan caraku mendaki; beberapa meter berjalan, duduk ngelimpruk beristirahat. Kapan nyampenya? Habis bagaimana lagi, aku memang lelah tiada tara. Tenagaku mungkin tinggal 10%. Sudah tak terhitung berapa kali aku disalip pendaki lain. Bodo amat.

Untung rekan mendakiku sangat mengerti dengan kondisiku. Ia setia menemani. Tidak berjalan duluan meninggalkanku. Meski dia juga kelelahan, tapi dia terlihat lebih baik. Dan mungkin khawatir kondisiku semakin memburuk, dia menyarankanku untuk mendaki sampai Ranu Kumbolo saja. Tidak usah diteruskan sampai puncak.

Aku mengangguk setuju. Dengan stamina cemen seperti ini, aku tidak ingin mengambil resiko naik Semeru, yang treknya jauh lebih berat dan berbahaya dari ini. Bahkan saat itu aku sudah merasa kapok naik gunung. Rasanya nggak lagi-lagi deh.

Dari analisaku, biang dari cepat terkurasnya tenagaku adalah karena salahku sendiri. Perencanaan pendakian yang cuma setengah mateng, sehingga blunder ketika diaplikasikan di lapangan.

Kesalahan pertama adalah malam sebelumnya tidak tidur sama sekali. Malah digunakan untuk motoran jauh dari Surabaya ke Ranu Pani. Pendaki pemula lain rata-rata menginap di Ranu Pani atau Tumpang, sebelum trekking esok harinya.

Selanjutnya keril yang terlalu berat. Kerilku berisi tenda camping kapasitas 4 orang -padahal kami cuma 2 orang-, terpal pelapis tenda, tongkat hingking, matras, sleeping bag, kompor lapangan, nesting (peralatan masak), peralatan makan, 2 botol akua besar, dan bahan bakar gas portable sebanyak 4 kaleng. Dengan asumsi satu hari satu kaleng, maka kami beli 4 kaleng. Nyatanya selama 4 hari pendakian kami cuma habis satu kaleng.

Belum termasuk barang-barang pribadi seperti baju, celana, power bank, kamera, kulkas dan lain-lain. Itu lah isi kerilku. Sementara logistik seperti beras, sarden, mie instan, roti dan lain-lain ditempatkan di kerilnya Eko. Dan asal tahu saja, makanan-makanan yang kami bawa banyak yang tidak kemakan karena kebanyakan. Intinya, beberapa barang-barang yang memberatkan keril justru tidak terpakai selama pendakian.

Kurangnya peserta juga mungkin mempengaruhi. Coba andai kami mendaki 3 atau 4 orang, tentu perlengkapan yang dibawa itu bisa dibagi-bagi. Sehingga keril tidak terlalu berat akibat kelebihan muatan. 

Dan kesalahan terbesarku adalah mendaki tanpa persiapan fisik. Harusnya, sejak jauh hari atau minimal dua minggu sebelum hari H, aku rajin berolahraga menempa fisik. Rutin jogging, melatih pernapasan, latihan naik turun loteng dan olah raga ringan lainnya.

Pendakian kami yang mendadak, -soalnya sudah beberapa kali berencana tapi selalu gagal-, membuatku tidak sempat berolahraga mempersiapkan fisik. Wajar kalau akhirnya staminaku ngedrop, kaget dibawa berjalan berjam-jam melewati medan yang berat.

Gazebo Pos 4 Ranu Kumblo Gunung Semeru

Matahari sudah condong ke barat saat kami tiba di pos 4. Pos terakhir ini berada di lembah sebelah utara Ranu Kumbolo. Di antara lelah aku merasa lega. Indahnya danau lumayan mengobati lelah. Aku berhenti di pos 4 membeli sepotong semangka. Sementara Eko langsung menuju lokasi kemping.


RANU KUMBOLO

Sekitar jam lima sore aku tiba di Ranu Kumbolo, tepatnya di camp area sebelah selatan. Aku langsung mengambrukan diri dan terkapar di padang rumput berbantalkan keril. Eko yang tiba 15 menit lebih awal, juga tampak tak berdaya duduk bersandar pada kerilnya.

Saat itu ada beberapa pendaki menggelar matras untuk alas asharan berjamaah. Aku pun berwudhu di air danau yang super dingin, lalu gabung sholat bersama mereka meski tak kenal. Alhamdulillah, setelah sholat badan terasa agak segaran.

Danau Ranu Kumbolo 2400 mdpl

Perjalanan dilanjutkan. Untuk yang akan mendaki hingga Mahameru, sebaiknya memang bermalam di camp area sebelah utara. Lumayan bisa memangkas waktu untuk melanjutkan perjalanan esok paginya. Selain pada dasarnya camp utara memang yang paling banyak dipilih para pendaki mendirikan tenda. Di sana ada shelter, ada warung makanan, serta dekat dengan Bukit Cinta dan Oro-oro Ombo.

Sampai di tempat, di tengah kelalahan yang mendalam, kami masih harus memasang tenda. Tidak bisa langsung berleha-leha. Hari juga sudah semakin sore. Udara dingin mulai menyergap. Meski tidak merasa lapar, demi menjaga stamina kami harus memasak. Nasi putih dan sarden. Tadinya mau ngopi tapi kami cancel. Takut tidak bisa tidur.

Selesai makan dan maghriban, aku tiduran di dalam tenda. Dan tanpa sadar tertidur beneran.

Jam dua malam aku terbangun. Suhu dingin begitu mencekam. Dengan badan menggigil dan gigi gemeretak aku berusaha khusuk melaksanakan sholat Isya yang sudah sangat terlambat.

Aku mencoba tidur lagi setelah itu. Tapi tidak berhasil. Kurang lebih sejam aku gelisah menahan dingin yang sungguh warbyasah. Sleeping bag dan pakaian berlapis yang kukenakan tak banyak menolong. Semua barang-barang di dalam tenda basah tertembus kabut.

Aku keluar tenda meninggalkan Eko yang tengah terlelap. Aku menuju shelter. Dari penjelasan saat breafing tadi pagi, di shelter ada api unggun yang dibuat oleh penduduk setempat, yang bisa digunakan oleh para pendaki untuk berkumpul dan menghangatkan badan.

Dan aku kembali ke tenda saat shubuh. Eko masih terlelap. Setelah sholat, aku menyusup ke dalam sleeping bag. Berusaha tidur.


BUKIT CINTA

Tanggal 12 Mei 2017. Hari kedua pendakian. Aku terjaga karena suasana Ranu Kombolo sudah ramai bak pasar. Saat keluar dari sleeping bag, aku melihat Eko sudah selesai membuat sarapan. Tapi di luar kabut masih tebal. Luasnya danau tak terlihat terhalang halimun.

Takut keburu dingin, kami segera menyantap menu sarapan. Nasi dengan lauk sayur bening bayam dan wortel. Plus sarden sisa kemarin digoreng ulang lebih kering. Yummy banget.

Selesai sarapan, ketebalan kabut berangsur-angsur menipis. Sambil ngopi, aku menonton pesona mentari terbit dari sebelah timur Ranu Kumbolo. Dan pagi itu, untuk pertama kalinya aku mengeluarkan kamera. Kami berkeliling di sekitar Ranu Kumbolo untuk foto-foto.

Indahnya Sunrise Ranu Kumbolo

Tidak boleh berlama-lama! Kami harus segera beres-beres untuk meneruskan perjalanan ke camp Kalimati. Untuk ke sana butuh waktu antara tiga sampai empat jam. Belajar dari pendakian hari pertama kemarin, bisa saja durasinya membengkak parah melebihi waktu yang diperkirakan. Makanya kami segera bergegas. Biar nanti memiliki lebih banyak waktu istirahat, sebelum summit attack malam harinya.

Foto Keren di Bukit Cinta Ranu Kumbolo

Setelah beres-beresnya beres, kami mulai bergerak meninggalkan camp area Ranu Kumbolo. Kira-kira 20 langkah, kami langsung berhadapan dengan Bukit Cinta. Tantangan pertama pendakian hari kedua yang harus dilalui. Treknya memang tidak terlalu panjang, tapi tingkat menanjakknya yang level dewa membuat waktu terasa lama.

Tanjakan Tajam Bukit Cinta

ORO ORO OMBO


Dari puncak Bukit Cinta, perjalanan berlanjut ke Oro Oro Ombo. Terdapat dua jalur menuju ke kawasan ini. Yang sebelah kanan lebih dekat namun menurun tajam. Harus ekstra kulit manggis, eh ekstra hati-hati maksudnya, agar tidak kepeleset dan menggelundung bebas ke dasar bukit.

Sebaliknya jalur sebelah kiri, jalurnya melipir lebih panjang tapi dengan turunan yang lebih bersahabat. Waktu itu aku dan Eko sepakat memilih jalur sebelah kanan.

Foto Pendaki Padang Bunga Ungu di Oro-oro Ombo

Oro-oro Ombo berada di ketinggian 2.460 mdpl. Berupa hamparan bunga berwarna ungu seluas 20 hektar, dikelilingi bukit-bukit yang menghijau oleh rerumputan. Pemandangannya yang begitu instagramable, membuat banyak pendaki berhenti di padang bunga ini untuk fotografi.


CEMORO KANDANG

Pendakian berikutnya akan melewati area hutan cemara yang disebut Cemoro Kandang. Dari Oro Oro Ombo ke perbatasan Cemoro Kandang ini sekitar 29 menitan. Treknya datar. Di sana ada penjual makanan dan minuman. Rata-rata pendaki akan berhenti istirahat memulihkan tenaga. Sebelum lanjut menyusuri hutan cemara hingga pos Jambangan.

Cemoro Kandang Gunung Semeru

Jalur pendakian di sepanjang Cemoro Kandang 98% menanjak. Mulai dari yang ringan, sedang hingga lumayan terjal. Tapi kebanyakan menanjak landai. Di papan penunjuk tertulis jarak dari Cemoro Kandang ke Jambangan 3 Km.

Dan karena cuma seorang pendaki abal-abal, perlu waktu dua jam bagiku untuk menyelesaikan jarak segitu. Tak terhitung beberapa kali aku disalip pendaki lain, meski aku juga beberapa kali sukses mendahului pendaki lain yang sedang mandek.

Secara umum, pendakianku hari kedua jauh lebih baik ketimbang kemarin. Meski tetap lelet karena bentar-bentar istirahat, tapi aku benar-benar menikmati perjalanan. Bedanya di hari kedua itu, meski sebentar-sebentar berhenti, tapi durasi berhentinya hanya sebentar. Aku sudah paham, kelamaan berhenti akan membuat panas tubuh menurun, sendi-sendi terasa sakit, sehingga ogah-ogahan melanjutkan perjalanan lagi.

Jalur Cemoro Kandang ke Jambangan

Desau-desau daun cemara tertiup angin menjadi pengiring perjalanan. Aku sangat bersemangat. Lelahku lelah sewajarnya seorang musafir. Sepanjang Cemoro Kandang aku bahkan terus menenteng kamera. Memotret apa saja termasuk diri sendiri alias narsis.

Foto Narsis Pendaki Gunung Semeru


JAMBANGAN

Tiba di Jambangan 2.600 mdpl, pendaki akan disambut gagahnya Gunung Semeru yang sudah tampak begitu nyata di depan mata. Aku semakin bersemangat. Rasa pesimis yang kemarin sempat menghantui sudah lenyap bagai hantu. Tekadku kembali bulat. Harus sampai ke puncak. Tidak boleh tidak!

Pos Jambangan Gunung Semeru

Jambangan menjadi rest area, baik pendaki yang mau naik atau yang sedang perjalanan kembali ke Ranu Kumbolo. Di tempat ini juga terdapat warung menjual gorengan, buah semangka dan aneka minuman.


KALIMATI

Kalimati berupa padang rumput yang luas dan berada di ketinggian 2.700 mdpl. Kawasan ini adalah batas terakhir pendakian Semeru yang diizinkan Balai Besar TNTBS. Nekat melanjutkan pendakian hingga ke puncak Mahameru, resiko ditanggung penumpang.

Kawasan kemping di Kalimati Gunung Semeru

Mungkin karena sedang begitu semangat, tidak sampai sejam aku sudah menginjakkan kaki di Kalimati. Selain itu trek Jambangan - Kalimati memang sepenuhnya menurun landai, jadi perjalanan tidak terasa berat.

Kami segera membongkar keril. Tenda didirikan. Matras digelar. Peralatan masak dipersiapkan. Sementara Eko memasak untuk makan siang, aku ke Sumber Mani untuk berwudhu dan mengambil air. Sumber Mani merupakan sumber air terdekat di Kalimati. Untuk kesana menghabiskan waktu sekitar satu jam bolak-balik.

Selesai makan, kami kompak ketiduran karena kelelahan. Dan bangun-bangun sudah sore. Setelah sholat ashar yang sedikit telat, aku keluar tenda, jalan-jalan di sekitar Kalimati. Sore itu cuacanya cerah. Senja di Kalimati terasa begitu indah. Di puncak Mahameru, sesekali terlihat letupan berapi. Sungguh sore yang Subhanallah.

Pemandangan suasana Sore di Kalimati Gunung Semeru

Aku kembali masuk tenda saat Maghrib. Rencananya setelah sholat Isya mau tidur lagi. Nabung tenaga buat summit attack tengah malam nanti. Tapi rencana tinggal rencana. Mungkin sudah cukup saat tidur siang tadi, kami tidak bisa tidur lagi meski sudah berusaha merem.

Mendadak kami mengubah jadwal muncak. Dari yang sebelumnya akan dimulai tengah malam, dimajukan menjadi jam 22.00. Perubahan itu atas dasar pengalaman pendakian hari pertama, yang lama perjalanannya ternyata melampaui waktu yang diperkirakan. Jadi kami sepakat summit attack lebih cepat. Mendaki santai-santai. Toh mau tidur juga nggak bisa.

Saat itu masih jam setengah sembilan. Masih ada waktu satu setengah jam lagi. Kompor segera kami nyalakan. Masak nasi dan membuat kopi. Penting bagi setiap pendaki untuk makan dulu sebelum summit attack. Summit attack sangat menguras energi, dan kalau kelaparan di atas tidak ada warteg.

Namun karena sibuk merapikan barang-barang yang akan kami tinggal, dan aku juga sempat BAB, jadwal muncak yang tadi telah disepakati jadi sedikit molor. Jam 22.30 kami baru berangkat. Berbekal sebotol air, 6 sachet madu, 2 sachet tolak angin, kami meninggalkan tenda untuk sementara. Kami akan menyambangi puncak tertinggi di pulau Jawa.

Tapi sebelum bertempur melawan terjalnya lereng Semeru, pendaki akan terlebih dahulu melewati hutan hingga ke kawasan yang disebut Kelik.


KELIK

Dari camp Kalimati ke Kelik dibutuhkan waktu sekitar 1 sampai 2 jam pendakian. Kelik merupakan batas vegetasi antara lautan pasir di lereng Semeru dengan hutan belantara di kaki gunung Semeru. 

Menuju Kelik lintasannya cukup menanjak terjal. Dengan kemiringan sekitar 50 derajat. Membelah hutan yang lebat. Lumayan untuk pemanasan sebelum summit attack. Nafas sudah pasti ngos-ngosan. Apalagi malam hari seperti itu, pendaki harus rebutan oksigen dengan dedaunan hutan.

Di hutan ini beberapa kali aku menemukan jalur bercabang. Biar tidak tersesat, ikuti jalur yang telah diberi tanda-tanda. Tanda-tanda yang dipasang sangat sederhana dan bermacam-macam. Misalnya potongan-potongan kertas ditabur di jalur yang benar, atau kresek diikat di ranting pohon. Aku sempat berpikir, ini kalau ada pendaki iseng memasang tanda-tanda palsu, bakal banyak pendaki yang kesasar.

Summit Attack ke Mahameru 3676 mdpl


MAHAMERU 3.676 MDPL

Well, sampailah pada pendakian Gunung Semeru yang sesungguhnya. Fase paling berat dari semua tahap yang telah terlewati. Yups, Summit Attack! Menyeret langkah demi langkah mengarungi lereng pasir dengan kemiringan mencapai 75 derajat, di tengah suhu dingin dan oksigen yang tipis, menuju puncak Mahameru 3676 mdpl. 

Seringkali pasirnya gembur membuat kaki terbenam saat dipijak. Butiran pasir pasti masuk ke sepatu jika tak memakai geiter. Dan ini bisa membuat langkah kaki kian berat.

Kalau yang ditulis-tulis di internet katanya naik lima langkah, terperosot turun dua langkah. Aku pribadi tidak mengalami hal itu. Entah kalau pendaki lain ada yang mengalaminya. Menurutku, asalkan saat berhenti berpijak pada pasir yang rada padat bekas pijakan orang, dan menancapkan trekking pole lebih dalam, kejadian terperosot itu bisa diminimalisir.

Aku bersyukur tadi memulai summit attack lebih awal. Di saat jalur pendakian belum padat. Jauh di bawahku, kelip-kelip head lamp para pendaki tampak menyemut dan sepertinya harus antri.

Dan alhamdulillah, meskipun berat dan luar biasa lelah, pendakianku ke puncak Mahameru berjalan lancar. Tidak mengalami hal-hal menegangkan. Pendaki lain ada yang harus sampai jatuh bangun, merangkak, bahkan ada yang harus ditarik tali oleh rekannya. Seperti itulah beratnya perjuangan menakhlukan atap pulau Jawa itu. Banyak yang gagal dalam fase ini. Mereka yang menyerah akan berhenti dan turun kembali ke Kalimati.

Staminaku juga lagi bagus. Berkali-kali aku permisi mendahului pendaki lain saking fit-nya. Malah aku termasuk sepuluh besar pendaki yang lebih dulu tiba di puncak. Saat itu sekitar jam 04.00, di puncak abadi para dewa itu baru ada sekitar lima atau tujuh orang.

Tak berapa lama, menyusul di belakangku sepasang suami istri entah pasangan kekasih. Mereka tiba di puncak dalam keadaan lucu. Tubuh sang perempuan diikat tali, dan si lelaki menarik tarik tali tersebut. Sangat so sweet walau jadi kayak sapi digembala. Tapi metode itu cukup efektif membantu pendaki yang lebih lemah untuk mencapai puncak.

Begitu tiba di puncak si wanita langsung menangis kejer memeluk lelakinya. Ya, berhasil sampai puncak Semeru tentu bukan perkara kecil. Butuh perjuangan dan nyali yang besar. Wajar kalau ia menangis meluapkan kebahagiaannya. Aku yang tadinya biasa-biasa saja, ikut baper melihat adegan itu.

Aku mendongak ke langit. Malam itu langit Mahameru begitu cerah. Ada beribu bintang. Ada rembulan. Aku merasa begitu kecil di dalam semesta-Nya. Aku terbayang Ayah Ibuku di pulau Sumatera, yang bahkan tak tahu menahu anaknya mendaki Semeru. Terbayang seorang yang begitu aku sayangi. Terbayang kembali tahap demi tahap yang telah aku lalui, dari hari pertama hingga sampai ke titik ini. Aku terharu. Saat itu mungkin mataku berkaca-kaca.

Tapi tak lama kemudian, terlalu cepatnya aku sampai di puncak juga berdampak buruk. Termperatur di Mahameru yang begitu dingin, masih ditambah lagi dengan angin kencang yang berhembus terus menerus. Tak ayal aku disiksa rasa dingin yang luar biasa. Sementara matahari terbit masih lebih satu jam lagi. Dan rasa-rasanya aku tak akan sanggup menunggu selama itu.

Akhirnya aku putuskan kembali sedikit turun. Tak jauh dari bendera merah putih penanda bahwa telah sampai kawasan puncak. Aku meringkuk di antara bebatuan. Setidaknya meskipun tetap kedingininan, aku tidak terkena hembusan angin kencang.

Perut terasa begitu lapar. Dan salahku juga cuma bawa air minum, tidak membawa makanan apapun. Aku semakin meringkuk. Bibir terasa kering. Tangan dan kaki seperti mati rasa. Tubuh sulit digerakkan. Aku bahkan mencium bau darah yang cukup menyengat. Aku raba hidungku khawatir aku mimisan saking dinginnya. Tapi alhamdulillah tidak. 

Dan tak lama kemudian aku benar-benar tak sadarkan diri, entah pingsan, tapi kayaknya cuma tertidur. Meski agak ajaib juga, aku bisa tertidur di tengah suhu dingin yang menusuk tulang seperti itu.

Foto Keren Sunrise di puncak Mahameru

Yang kurasakan kemudian ada yang mengguncang-guncang tubuhku. Aku terbangun. Ternyata Eko pelakunya. Dari tempatku meringkuk, kulihat cakrawala di sebelah timur langit mulai kemerahan. Itu berarti fajar segera datang. Eko memang penuh pengertian. Aku dibangunkan di saat yang tepat. Sehingga aku masih sempat shubuhan dan tidak ketinggalan moment menyaksikan sunrise dari puncak tertinggi di tanah Jawa itu.

Mahameru 3676 mdpl

Juga menonton letusan dari kawah Jonggring Seloka yang terjadi hanya setiap setengah sekali.


TURUN GUNUNG


Pengunjung diizinkan berada di puncak Mahameru hanya sampai jam sembilan. Tapi saat itu baru jam tujuh lebih sedikit, aku sudah mengucapkan sampai jumpa lagi pada Mahameru.

Meluncur sky Turun dari Puncak Mahameru

Jam segitu matahari sudah terang benderang. Saat kami turun masih banyak pendaki lain yang sedang summit attack. Jadi biar tidak terjadi tabrakan, pendaki yang turun biasanya mengambil jalur sebelah kanan.

Dan perjalanan menuruni lereng Semeru itu rasanya sangat menyenangkan. Sesuai sama yang banyak diberitakan di internet. Dengan mengandalkan tumit sepatu, aku bisa meluncur bak bermain sky di salju kutub tenggara.

Tapi kegiatan ini harus dilakukan hati-hati, harus lihai mengatur keseimbangan tubuh dan penuh perhitungan. Salah perhitungan bisa terjatuh. Yang paling bahaya, saking keasyikannya meluncur dan terlalu melebar ke kanan, bisa terseret ke zona kematian alias blank 75.

Tiba di batas vegetasi aku melewati kerumunan orang. Ternyata ada pendaki yang mengalami kecelakaan lagi. Pingsan tertimpa longsoran batu saat summit attack shubuh tadi. Korban sudah dimasukkan ke dalam kantong evakuasi. Aku sempat melihat wajahnya yang sudah begitu pucat. Ia seorang wanita.

Rasa lelah, ngantuk dan lapar yang bercampur menjadi satu, membuat kami tidak semangat masak setibanya di Kalimati. Akhirnya kami membeli nasi bungkus seharga Rp 15.000. Setelah itu tidur. Ba'da Dzuhur nanti kami akan pulang.

Saat istirahat di Jambangan dalam perjalanan pulang, tersiar kabar kalau korban kecelakaan tertimpa batu tadi pagi sudah meninggal. Inalillahi.

Perjalanan pulang, meski mayoritas treknya menurun dan beban di keril sudah lebih ringan, bukan berarti perjalanan menjadi lebih mudah. Bahu dan punggung pegal-pegal. Sekujur kaki terasa nyeri. Agak sakit dibawa melangkah. Lebih-lebih saat menuruni terjalnya Bukit Cinta, rasa sakit di paha dan betis sungguh menyiksa.

Ashar kami tiba Ranu Kumbolo. Kami akan kemping sekali lagi dan malam mingguan di sana. Malam itu kaki kuolesi balsem. Dan alhamdulillah mujarab. Paginya, saat dipakai bergerak, nyeri-nyeri di otot kaki sudah jauh berkurang.

Pagi itu 15 Mei 2017, merupakan pendakian hari ketiga sekaligus hari terakhir. Rutenya pulang ke Ranu Pani. Di awal-awal kaki masih sedikit terasa sakit dipakai melangkah. Mungkin semacam pemanasan. Begitu sudah panas, langkah terasa lebih ringan dan penuh semangat.

Perjalanan pulang kami diiringi cuaca yang begitu cerah. Langit biru. Kabut hanya tipis-tipis. Hutan, padang rumput, burung-burung, bunga-bunga dan puncak Gunung Semeru terlihat begitu fotoable. Pada pendakian hari pertama, pemandangan-pemandangan itu tak terlihat. Mungkin cuaca cerah dalam perjalanan pulang tersebut, sebagai pengganti perjalanan berangkat yang diiringi cuaca buruk. Tuhan Maha Adil.

Shelter di Ranu Kumbolo Semeru

Foto Puncak Gunung Semeru dari Kejauhan

Savana Padang Rumput Gunung Semeru

Bunga edelweiss gunung Semeru

Bunga Parasit Verbena Brasiliensis Vell

Satwa Burung Taman Nasional Tengger Bromo Semeru

Lewat tengah hari kami tiba di basecamp Ranu Pani. Sampai di sini, pendakian kami ke Gunung Semeru telah rampung tepat waktu. Rasanya lega, bahagia dan semakin suka dengan kegiatan mendaki Gunung. Kapok yang kemarin hanya emosi sesaat, muehehe. 

Itulah tahap demi tahap mendaki Gunung Semeru, mulai dari Ranu Pani sampai ke puncak Mahameru 3.676 meter dpl. Kiranya pengalamanku ini bisa sedikit dijadikan tutorial atau panduan begi teman-teman yang berencana melakukan pendakian. Terima kasih. Happy trekking.


Jangan Lewatkan

19 comments:

  1. Wah keren hobbynya... makasih dah panjang lebar berbagi cerita...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Gan. Trims juga atas kunjungannya. :)

      Delete
    2. Samapi di Cemoro Kandang asik sekali ,ada yang jualan. Kira-kira harganya selangit kagak tu ?

      Delete
    3. kalau saya, ini artikel panjang gini, bisa jadi 5 artikel deh...mayan bisa nambahin arsip dan iklan GA jadi banyak yang klik, kalau dibikin banyak mah....*ehh

      Delete
  2. Makin kesini makin tinggi aja gunung yang di daki ya bang, medannya tentu makin berat, harus jaga stamina biar fit dan sampai ke puncak dengan selamat...

    ReplyDelete
  3. Ya ampun hobimu luar biasa ya, kalau Maya lihat orang ditandu karena terluka mungkin tidak hanya menipis tapi milih pulang deh hehe ...
    salut sama hobi mu

    ReplyDelete
  4. kebanggaan kita jika telah menginjakkan kaki di gunung yang tinggi 3676 Semeru namanya serta keagungan Tuhan mengecilkan arti kita di hadapan-Nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini yang juga pernah di tuliskan oleh anak saya ketika sampai puncak gunung (saya lupa namanya) berada di puncak gunung membuat kita merasa kecil dihadapan-Nya

      Delete
  5. Kenapa saya lebih focus ke gerbang selamat datangnya ya ? kenapa petugasnya tidak diphoto dan kenapa itu jalannya sungguh indah ditengah gerbangnya.

    ReplyDelete
  6. Padahal saya seneng sekali kalau naik gunung..sayang sekarang kaga ada waktu lagi...hik..hik..

    ReplyDelete
  7. Wah petualangan yang cukup menantang ya mas

    ReplyDelete
  8. Wah petualangan yang cukup menantang ya mas

    ReplyDelete
  9. mantaps mas. kirain saya beneran bawa kulkas

    ReplyDelete
  10. mas di danaunya itu banyak ikan ga, kalo banyak ikan asik di pancing

    ReplyDelete
  11. Ceritanya panjang dan mendebarkan tapi pasti kepuasan batinnya tak bisa diucapkan Selamat Mas sudah menaklukan semeru ditunggu pendakian gunung lainnya

    ReplyDelete
  12. jadi kangen mau kesana lagi :D, turut prihatin atas kecelakaan yang menimpa pendaki Semeru

    hasil jepretannya keren" euy, khususnya di Ranu kumbolo & di summit attack nya

    ReplyDelete
  13. Mantaaab bang! Ini aku jg lagi nabung dan ngumpulin nyali buat ke puncaknya para dewa muhehehe gegara kmrn hbs dr puncak tertinggi ke 2 pulau jawa jd ketagihan muncak

    ReplyDelete

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.