Merayakan Hari Kemerdekaan di Gunung Bromo

Cerita tentang pengalaman berkunjung ke Gunung Bromo ini kalau tidak males seharusnya sudah ditulis sejak dua bulan lalu. Soalnya sekarang sudah bulan November, bulan depan Desember, bulan depannya lagi sudah tahun baru 2017. Yeiy! -malah ngitung bulan-. Sementara kunjungan ke Bromo itu terlaksana pada bulan Agustus lalu. Jadi sebenarnya sudah basi untuk diceritakan.

Tapi tak apa, menilik sebuah pepatah kekinian 'lebih baik telat dari pada telat banget', maka kenangan keren itu tetap akan aku bagikan gratis meskipun sudah telat tiga bulan. Siapa tahu ada di antara pembaca yang berencana liburan tahun baru ke Bromo, tulisan ini bisa sedikit dijadikan bahan renungan.

Asal tahu saja, sudah lama aku bercita-cita suatu saat bisa berwisata ke gunung yang konon kabarnya memiliki panorama sun rise terkeren sedunia itu. Dan mumpung sedang bermukim di Surabaya yang cuma berjarak 112 km dari gunung Bromo, sejak beberapa bulan sebelumnya aku sudah mencari hari baik dan tanggal baik untuk mewujudkan cita-cita itu.

Dan akhirnya, hari baik yang terpilih jatuh pada 17 Agustus 2016! Bertepatan dengan dirgahayu Republik Indonesia ke 71.

Merayakan 17 Agustus di Gunung Bromo
Yang kami pegang ini adalah bendera Indonesia.
Waktu terbaik mengunjungi gunung Bromo adalah saat musim kemarau, kira-kira antara bulan April - September. Kalau musim hujan, bisa-bisa tidak bisa menikmati mentari terbit karena tertutup mendung atau air hujan yang biasanya turunnya keroyokan.

Dan pada malam H, setelah sejak maghrib mengikuti acara syukuran hari kemerdekaan dilanjut dengan nobar layar tancap film perjuangan bersama warga, -di sekitar kosan aku di daerah Setro, Surabaya, selalu ada kegiatan seperti ini setiap memperingati hari kemerdekaan-, kira-kira pukul 00:00 dini hari, aku bersama teman-teman dari Kadal Community yang berjumlah 8 personel, mulai bergerak meninggalkan Kota Pahlawan menuju kabupaten Probolinggo menggunakan sepeda motor.

Untuk menuju Bromo sebenarnya ada empat pintu masuk, sesuai dengan letak geografis gunung Bromo itu sendiri yang berada di perbatasan empat kabupaten; Malang, Lumajang, Pasuruan dan Probolinggo. Tapi kami berdelapan, yang kesemuanya belum pernah ke Bromo, memilih masuk melalui Probolinggo yang merupakan jalur masuk paling banyak dipilih para wisatawan maupun wisatawati.

Melalui Probolinggo, jalannya cukup bagus dan beraspal. Hanya saja menjelang tiba di lokasi, layaknya daerah-daerah pegunungan lainnya, bentuk jalannya banyak yang berupa turunan dan tanjakkan curam. Tikungannya juga tajam-tajam. Jadi dalam menyetir harus extra hati-hati dan motor wajib dalam kondisi prima. Terutama rem, depan belakang harus berfungsi maksimal. Kalau sepeda motor remnya rem sendal, mending nggak usah sok antimainstream dibawa ke Bromo.

Kurang lebih jam 02:30 WIB kami tiba di gardu penjualan tiket masuk ke lokasi wisata gunung Bromo. Di situ aku merasa beruntung banget menjadi orang Indonesia, pasalnya untuk pribumi harga tiket masuknya cuma Rp. 32.500. Coba saja andai aku orang Korea atau Zimbabwe, biaya masuknya Rp. 317.500! Beda tebel!

Harga tiket ke Bromo untuk wisatawan mancanegara pada hari libur memang segitu, Rp. 317.500. Sementara kalau bukan hari libur cuma Rp. 217.000. Cuma selisih cepek saja. Sedangkan untuk turis lokal kayak aku, pada hari-hari kerja harga tiketnya Rp. 27.500. Dan karena waktu itu aku ke sana bersempena dengan hari libur kemerdekaan, jadi tiket yang harus dibayar adalah Rp. 32.500. Itu belum termasuk tiket sepeda motor Rp. 5000 per motor.

Semua alat transportasi yang dibawa masuk ke objek wisata Bromo memang dikenakan tiket. Harganya berbeda-beda tapi tetap bayar. Untuk mobil Rp. 10.000. Sepeda motor Rp. 5.000. Sepeda pancal Rp. 2500. Terus buta yang ngebromo menunggang kuda, tiket masuknya Rp. 2000. Seperti itulah rincian harga tiket untuk semua jenis kendaraan. Tidak ada yang gratis. Kecuali entah kalau naik elang Indosiar.

Setelah semua urusan tiket beres, kami singgah di warung makan di sebelah loket untuk urusan perut. Awalnya karena kuatir harga makanan di situ mahal karena berada di lokasi pariwisata, aku cuma pesan nasi rawon sama white coffie. Tapi ternyata saat pembayaran harganya standar saja. Nasi rawon Rp 10.000 dan Rp. 2.500 untuk kopi luwak-nya.

Dan demi mengejar sun rise, setelah pembayaran, nggak pake lama kami langsung bergegas meninggalkan warung. Alhasil kami justru kecepetan tiba di spot menyaksikan matahari terbit. Tentang lokasi nobar sun rise itu kami peroleh dari penduduk setempat yang sepertinya juga menjadi petugas wisat. Saat kami bertanya, beliau malah langsung mengantar kami ke TKP beserta beberapa rombongan lain.

Jalan menuju lokasi melihat sun rise tidak susah tapi juga tidak bisa dibilang mudah. Masih berupa jalan tanah yang agak licin dan sedikit berbatu. Tapi untuk sepeda motor benar-benar bisa sampai ke lokasi. Karena saat itu libur kemerdekaan, di lokasi sudah ramai pengunjung yang sama-sama menanti terbitnya matahari dari timur.

Sayangnya, lokasi itu ternyata bukanlah lokasi favorit melihat matahari terbit. Hal ini kusadari beberapa hari kemudian. Setelah membandingkan hasil foto kami, dengan foto orang-orang yang beredar di internet, kok terlihat beda jauh.

Dari hasil searching itu juga akhirnya aku tahu bahwasannya ternyata ada banyak spot untuk melihat sun rise di Bromo. Yang paling terkenal tentu saja Penanjakan. Kemudian ada Penanjakan 2, Bukit Kingkong, Bukit Cinta dan yang terbaru Bukit Mentingen. Dari hasil menghitung-hitung dan mengamati peta Bromo di Google Maps, sepertinya view kami pada saat itu adalah dari perbukitan Cemoro Wulan.
Baru terbit dari timur.
Kalau di lokasi yang biasa digunakan tadi, saat pengunjung menghadap ke Gunung Bromo, posisi terbitnya matahari ada di sebelah kiri. Tempatnya juga lebih tinggi dibanding gunung Bromo, jadi keindahan detik-detik matahari terbit menyinari gunung Bromo dan Gunung Batok benar-benar sempurna. Sedangkan lokasi kami waktu itu lebih rendah. Saat menghadap ke Bromo, posisi matahari ada di belakang.

Tapi rapopo, aku ambil hikmahnya saja. Mungkin karena waktu itu sedang hari libur, pengunjungnya membludak, semua spot yang biasa digunakan sudah macet, sehingga kami yang belum berpengalaman ini diarahkan ke perbukitan Cemoro Wulan.

Karena waktu itu aku belum tahu kalau sebenarnya tempat itu bukanlah tempat melihat sun rise yang semestinya, aku tetap terpaku dan terpukau saat menyaksikan detik demi detik terbitnya matahari dari belahan bumi sebelah timur. Aku tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata. Pokoknya sungguh menakjubkan alam semesta ciptaan Allah ini. Subhanallah. Tidak lupa, di 17 Agustus 2016 tersebut, kami berdelapan memanjatkan do'a untuk kebaikkan Republik tercinta ini.

Ketika matahari sudah setinggi tiang listrik, kami segera meninggalkan bukit Cemoro Lawang. Kami turun ke Lautan Pasir atau sering disebut juga Segoro Wedi. -Segoro Wedi diambil dari bahasa Jawa. Segoro artinya laut. Wedi artinya takut. Jadi Segoro Wedi artinya Lauatan Pasir-. Lautan Pasir pagi itu cuacanya dingin banget kayak di daerah pegunungan. Kabutnya juga pekat. Ngomong saja sampai berasap saking dinginnya.

Lautan Pasir Bromo
Gampang kalau mau pup. Banyak pasir.
Namun seiring dengan sang mentari yang semakin tinggi, perlahan tapi pasti ketebalan kabut semakin menipis, menipis, menipis, menipis dan menipis. Jarak pandang tadinya terbatas menjadi bebas dan jelas. Hingga akhirnya tampak di depan mata kami panorama hamparan pasir yang begitu luas. 

Setelah puas bermain-main di lautan pasir. Kemudian mengingat, menimbang serta memperhatikan udara yang semakin terik, kami berdelapan segera bergegas menuju destinasi selanjutnya yang merupakan menu utama dari paket jalan-jalan saat itu, yaitu ke kawah Bromo.

Pos terakhir sebelum ke kawah Bromo adalah di sekitar Pura Luhur Poten yang sekaligus tempat parkir bagi yang membawa motor. Tarif parkirnya Rp. 10. 000. Di sana banyak penjual aneka makanan, minuman, kaos Bromo dan bunga Endelweis. Juga sudah tersedia fasilitas toilet umum. Jadi di pos terakhir ini pengunjung bisa beristirahat sejenak menghimpun tenaga sebelum menuju puncak Bromo.

Menahlukkan puncak Bromo tidaklah sesusah mendaki puncak Semeru apalagi Puncak Jaya Wijaya. Cabe-cabean dan anak rumahan juga sanggup. Yang penting kondisi fisik fit. Cukup membawa air minum sebotol dan kamera buat foto-foto, kamu sudah memenuhi syarat untuk ke puncak Bromo.

Kenapa ke puncak Bromo itu mudah? Pertama pengunjung dimanjakan dengan adanya alat transportasi kuda. Jadi buat kamu yang takut kurus karena berjalan kaki, bisa naik kuda dengan harga antara Rp. 60.000 sampai Rp. 100.000. Tergantung kepinteran kamu dalam melobi harga.

Kalau aku memilih jalan kaki saja. Selain aroma petualangannya lebih berasa, dengan jalan kaki bisa menghemat biaya. Lagipula tidak terlalu jauh. Cuma kira-kira 3 Km sampai ke bandan gunung dengan track menanjak landai. Yang naik kuda juga hanya sampai ke sini.

Untuk sampai ke puncak mau tak mau memang musti berjalan kaki. Jalan yang dilalui menanjak dengan kemiringan 45 derajat. Tapi tidak perlu kuatir, sudah disediakan anak tangga yang akan memudahkan langkah-langkah kita. Juga tidak perlu kuatir terjadi tabrakan, karena anak tangganya sudah terbagi dalam dua jalur, ada jalur naik dan tepat di sebelahnya ada jalur untuk turun.

Jumlah anak tangganya ada 250 buah. Versi lain mengatakan jumlahnya 200 buah. Entah mana yang salah aku tak sempat menghitungnya. Konon kabarnya kalau datang ke Bromo bersama pacar, terus bersama-sama menghitung anak tangga dan hasilnya sama, maka hubungan mereka akan langgeng. Tapi tentu saja itu cuma mitos yang tidak perlu dipercaya, apalagi buat kamu-kamu yang masih jomblo.

Tangga Menuju Kawah Bromo
Orang lain naik lewat tangga. Aku memilih jalanku sendiri.
Sesampainya di puncak, kita bisa melihat langsung kawah gunung Bromo dari tepiannya. Yang mana terus menerus mengepulkan asap putih. Sungguh pemandangan yang keren. Sesekali aroma belerang menguar saat ada angin lewat.

Dari ketinggian itu kita juga bisa menyaksikan Pura Luhur Poten, hamparan luasnya Lautan Pasir, serta pegunungan yang mengelilinginya. Tak hanya itu, kita juga menyaksikan lebih dekat gunung Batok, tetangganya gunung Bromo yang juga tak kalah mengagumkan. 

Kala itu, dari ketinggian itu juga aku melihat beberapa pengunjung lain yang masih berada di bawah tampak kecil-kecil. Dan setelah mereka sampai di atas, ternyata mereka memang anak-anak kecil yang dibawa orang tuanya liburan ke Bromo. Njir!

Meskipun di pinggir kawah Gunung Bromo dipagari beton setinggi seperempat badan, tidak ada salahnya kalau kamu berkunjung ke sana tetap hati-hati dan jangan sembrono saat melongok ke bawah. Terutama saat sesi foto-foto dan bernarsis ria. Jangan sampai demi mendapat view terbaik untuk dipamer di jejaring sosial, justru mengalami nasib sial. Kalau sudah begitu, bukannya muncul di media sosial, tapi di media massa.

Kawah Gunung Bromo
Muncul dari kawah. Berarti Wedhus Gembel. #lah
Demikian sepenggal kisah perjalanku ke gunung Bromo. Secara umum liburan waktu itu cukup menyenangkan. Namun ada beberapa penyesalan yang mengganjal di hati hingga saat ini.

Pertama, karena saat itu sudah pada capek dan ngantuk berat, begitu turun dari kawah teman-teman langsung mengajak pulang, sehingga tidak sempat ke Pasir Berbisik dan Padang Savana alias Bukit Teletubies yang padahal lokasinya masih di kawasan wisata Bromo Tengger. Penyesalan selanjutnya adalah melihat sun rise bukan dari Penanjakan. Semoga di lain hari aku bisa menebus penyesalan itu. Happy Travelling. ^^

Baca Juga: Jalan-Jalan Ke Blitar Bersama Wong Crewchild



Jangan Lewatkan

3 comments:

  1. Aku bingung bacanya, ada tarif ini dan itu. Yang gratis terbang, tapi sayang tidak punya sayap. wah, jadi malas kesana. Ongkos belum mencukupi.
    Jangan terlalu asek berselfi, keselamatan harus tetap diperhatikan. jangan sampai masuk media massa. Wasslam namanya.

    ReplyDelete
  2. Hehe gokil banget cerita perjalanannya. Sumpah!

    ReplyDelete

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.