Cara Untuk Meningkatkan Pola Pikir Bisnis Anda

Banyak orang yang berbicara dan menulis tentang memiliki pola pikir yang solid ketika sudah membicarakan soal bisnis, keluarga, keuangan dan hal-hal serius lainnya dalam hidup. Mengelola bisnis Anda secara serius itu penting karena, kemungkinan besar, orang-orang yang mencari bisnis Anda ingin tahu apa yang Anda tawarkan. Namun ketika saatnya untuk memiliki pola pikir yang solid, hal itu benar-benar perlu bertahan dalam waktu yang lama. Memiliki pola pikir bisnis berarti Anda bersedia melakukan pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan bisnis. Masalahnya ada ketika orang tidak hanya mempertimbangkan bisnis mereka dan apa yang mereka tawarkan. Jika tawaran bisnis mereka tidak jelas, mengapa ada orang yang berbisnis dengan Anda?

Fokus pada alasan Anda. Kenapa Anda terjun dalam dunia bisnis? Apakah Anda seorang pengusaha? Apakah Anda memilih untuk mengambil jalan lain setelah bertahun-tahun bekerja? Apakah Anda membuat keputusan berbeda karena Anda ingin lebih banyak waktu bersama keluarga Anda? Kadang-kadang, ketika melupakan alasan utama mengapa Anda berbisnis, maka pola pikir Anda menjadi sedikit melenceng. Ketakutan menumpuk seperti gunung berapi akan meledak tepat di depan mata Anda. Tujuan yang sangat ingin Anda cari dalam bisnis Anda saat ini, menghilang begitu saja dan itu tidak keren sama sekali. Ingatkan diri Anda setiap hari mengapa Anda berbisnis, mengapa Anda melakukan apa yang Anda lakukan, dan mengapa itu penting bagi Anda.

Memikirkan ide bisnis

Tetap dalam mode pembelajaran. Kedengarannya konyol jika kita mengungkit hal ini. Bagi sebagian orang, mereka masih menggunakan informasi lama atau cara lama dalam berbisnis. Ada banyak sekali informasi di luar sana di internet, di majalah, dan buku yang pasti akan membuat Anda semakin berkembang dalam berbisnis. Setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak.

Jika Anda membaca biograf dari para orang sukeses, mereka adalah orang yang secara konsisten menghabiskan 30 menit setiap hari membaca buku-buku yang berfokus pada bisnisnya, termasuk bagian pola pikir dari semua itu. Fakta ini sangat penting untuk mencoba mempelajari hal-hal baru yang membantu menjaga otak Anda tetap termotivasi. Hal ini membantu pikiran Anda tetap dalam bentuk yang lebih baik. Plus, belajar bisnis tentu saka lebih baok daripada membiarkan Anda dengan TV tanpa berpikir atau browsing internet yang tidak perlu sepanjang waktu.

Aplikasikan teori sehari-hari. Hampir semua orang yang membaca ini memahami proses dasar untuk mempunyai pola pikir seorang pebisnis yang baik. Namun mereka mungkin hanya bangun, menjalani hari-hari seperti biasanya, dan tidur di malam hari. Itu adalah kegiatan dasar sehari-hari yang dapat Anda miliki. Namun orang-orang dalam bisnis mempelajari kekuatan pola pikir, pengembangan diri, dan pemeliharaan bisnis sehari-hari. Mereka adalah orang yang mengaplikasikan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa memulai hari mereka dengan olahraga yang ringan atau yang intens. Ada pula yang memulai hari dengan doa atau meditasi. Sedangkan ada juga yang memulai hari dengan minum secangkir kopi panas, sarapan besar dan menonton TV pagi. Sedanglan oleh banyak orang keren di dunia bisnis yang memulai harinya dengan sesautu yang produktif. Tanpa ragu, produktif di pagi hari dapat membantu memulai pola pikir yang solid dan produktif. Pelajari apa yang berhasil untuk Anda, bersikap fleksibel, dan biarkan praktik-praktik ini membuat Anda tetap di jalan menuju sukses.

Jika Anda sudah mengaplikasikan pola pikir ini untuk bisnis Anda, maka saatnya untuk mencari modal. Modal bisa Anda dapatkan di tempat pinjaman uang cepat tanpa syarat atau bisa juga di http://www.monily.id/pinjaman-uang-tanpa-jaminan-proses-cepat/

Zuck Linn #35: Sepeda Untuk Linn 1

Novel online paling gokil


#35 Sepeda Untuk Linn 1

"Kamu kok hebat banget sih, Mas? Bisa naik RX King sambil lepas tangan gini..." bisik Linn dari boncengan, tangannya terulur ke depan meremas lembut telapak tangan kiri Zuck yang berada di atas tangki.

Sementara tangan kanan Zuck yang asyik menepuk-nepuk pahanya sendiri, langsung terhenti mendengar pujian pujaannya itu. Ia menoleh. Ditatapnya Linn lekat-lekat. Bibirnya tersenyum berusaha tegar dan sabar.

"Makasih banget, Sayang. Tapi bisa nggak sih cerdas sedikit, kita kan lagi kena lampu merah? Kita lagi berhenti! Kalau lagi mandek seperti ini, jangankan melepas tangan, melepas masa lajang juga bisa," jelas Zuck sambil jarinya menunjuk lampu lalu lintas yang sedang menyala merah, tapi dengan wajah tetap memandang Linn.

"Tapi kegantengan kamu kok nggak berhenti?" sahut Linn pilon. Beberapa saat ia balas memandang Zuck, sebelum kemudian mendongak ke traffic light. "Hijau kok. Coba deh dilihat baik-baik."

Zuck ikut mendongak ke lampu lalu lintas. "Mer...

Belum sempat Zuck menyelesaikan protesnya, dari belakang sudah riuh terdengar suara klakson dipencet-pencet tak sabar.

"Sumpah tadi warnanya merah kok. Beneran. Atau aku yang salah lihat ya?" tanya Zuck buru-buru menjalankan motor 2 tak-nya, serentak bersama puluhan pengendara lain.

"Jangan suka nyalahin diri sendiri. Nggak baik. Belum tentu kan salah lihat. Siapa tahu cuma buta warna aja," jawab Linn bijak.

Zuck tak tertarik menanggapi. Ia sedang konsen menyalib sebuah bis yang parkir sembarangan di pinggir jalan.



Sore itu, Zuck baru saja mengajak Linn jalan-jalan manasin RX King kebanggaannya. Seharian ini cuacanya mendung, jadinya Zuck nggak bisa manasin motor dengan cara dijemur kayak biasanya. Cowok ini memang garing banget. Masa manasin motor dijemur. Memangnya gabah?!

Rata-rata orang kalau manasin motor paling cuma dihidupin sambil digeber-geber alakadarnya. Tidak sekaligus dibawa jalan seperti itu. Sama juga bohong kalau begitu caranya. Mungkin Zuck mikirnya mubazir kalau motor dihidupin tapi tidak dijalankan. Pertalite-nya berkurang sia-sia.

Sayangnya, saat panas yang Zuck harapkan belum tercapai, laju motornya mendadak tersendat-sendat seperti kendaraan yang tidak lama lagi akan kehabisan bahan bakar. Malah dua meter kemudian, mesin motor benar-benar mati dengan sendirinya.

Degan gesit Zuck menarik kopling supaya motornya bisa tetap jalan walau mesin mati. Ia arahkan ke pinggir jalan supaya kematian motornya tidak mengganggu ketertiban lalu lintas.

"Kenapa lagi sih ini?" sungut Zuck dengan nada gusar. Diengkolnya kick stater berkali-kali, tapi tetap tak berhasil membuat RX King itu kembali menyala.

"Turun dulu, Sayang," seru Zuck mengetahui Linn yang masih duduk manis tanpa dosa di jok belakang.

"Turun ke mana lagi? Aku kan udah di bumi, Sayang?" tanya Linn yang yakin banget sedang tidak berada di khayangan.

"Turun berok, Beb. Huft!" repet Zuck sekuat tenaga menahan diri tidak mambanting motornya ke trotoar. "Turun dari motor lah. Memangnya mau sampai kapan nangkring di motor mogok terus? Aku mau periksa nih kenapa mati."

Linn nurut turun dari boncengan. Dikuti Zuck beberapa detik kemudian. Selanjutnya Zuck memeriksa mesin motornya.

Dan atas inisiatif sendiri, Linn ikut-ikutan mengamati sekujur body motor Zuck. Siapa tahu bisa membantu mencari tahu penyebab motor itu mati. "Mungkin tutup pentilnya kurang kenceng, Mas?"

Ada hening beberapa saat. Zuck menghela nafas lelah.

"Nutup pentil memang sebaiknya jangan kenceng-kenceng, Sayang. Nanti kamu susah napas," kata Zuck melirik jail ke dada Linn.

"Pentil motor!" seru Linn membekap mata Zuck dengan telapak tangan kirinya yang biasa dipakai untuk cebok. Walaupun Linn nggak kidal, tapi kalau cebok memang selalu menggunakan tangan kiri.

"Lagian kamu aneh. Nggak mungkin banget motor mogok gara-gara tutup pentilnya kurang kenceng. Nggak ada sangkut pautnya," tegas Zuck.

"Terus kenapa ya?"

Zuck mengangkat bahu pertanda bahwa ia juga tak tahu. Tapi kemudian raut wajahnya berubah, seperti teringat sesuatu.

"Jangan-jangan gara-gara STNK-nya nih, udah mati. Bentar aku cek!" Zuck buru-buru mengambil dompetnya yang terselip di antara perut dan bagian depan celananya.

Ilustrasi Gambar sepeda dayung

"STNK itu apa?" Linn ingin tahu.

"STNK itu Selalu Teringat Nama Kamu."

"Hehe masa? Serius dong."

"Surat Tanda Nomor Kendaraan, Sayang," terang Zuck sambil membuka dompetnya yang tebal. Tapi begitu STNK-nya dikeluarkan, dompet itu langsung tepos!

Diamatinya lembaran STNK itu secara seksama. "Iya nih udah mati sebulan."

"Inalillahi," Linn melongo geleng-geleng. "Kenapa nggak diperpanjang sih?"

"STNK-nya yang diperpanjang?" Zuck menatap Linn dengan raut muka tak mengerti.Linn mengangguk lembut.

"Orang segini aja udah menuh-menuhi dompet. Gimana diperpanjang? Nanti nggak muat di dompetku."

Linn nyengir nggak penting. Mempertontonkan sudut bibirnya yang bertaring.

"Yaudah nggak usah diperpanjang. Cukup dengan diisi bensin, aku yakin kok, Mas, motor ini bakalan menyala lagi," kata Linn sembari mengetuk-ngetuk tangki motor Zuck yang jelas banget terdengar kopong tak berisi!

"Masa iya?" Zuck membuka tutup tangki, lalu mengintip ke dalamnya yang kelihatannya memang hanya berisi udara. Digoncang-digoncangnya sebentar. Kering. Tidak terdengar bunyi air bergolak sedikitpun.

"Tuh kan bensinnya habiiis..." seru Linn bangga kecurigaannya terbukti benar.

"Aku tuh herannya kenapa bensin yang habis. Padahal kemarin aku isi pertalite. Bukan bensin?! Kok an...

"Sudahlah, Mas. Intinya motor ini kehabisan bahan bakar! Ngalah kenapa sih?!" seru Linn memenggal penjelasan garing Zuck.

Keduanya membisu. Padahal dalam hati masing-masing sibuk menggurutu dengan suasana tak menyenangkan itu. Untung ini novel. Andai sinetron pasti banyak yang bisa mendengar suara hati mereka.



"Trus gimana ini?" tanya Linn memecah keheningan.

"Gimana lagi. Mau nggak mau kita harus nuntun motor tua ini sampai ketemu penjual bensin," jawab Zuck lesu. "Tapi kayaknya susah nyari penjual bensil eceran di jalan utama begini," lanjut Zuck semakin lesu.

"Kalau nggak salah di deket rumah sakit Santa Maria ada SPBU. Kita ke sana aja. Nggak jauh kok."

"Masa sih?" Zuck coba mengingat-ngingat.

"Iya, Mas. Ada kok," Linn meyakinkan.

Zuck tersenyum lega. Rumah Sakit Santa Maria tidak jauh dari posisi mereka saat ini. Itu artinya ia tidak perlu membeli bensin eceran. Masalahnya Zuck walaupun ganteng, tapi punya sikap tak ingin mendekati hal-hal yang berbau narkoba dan miras. Makanya ia tidak ingin membeli bensin eceran kemasan botol topi miring.

"Nanti di SPBU, kita bisa nanya ke petugas, penjual bensin terdekat di mana," sambung Linn.

Senyum lega di wajah Zuck sirna. Berubah melongo.

Saat itu, ada sepasang lelaki dan perempuan naik sepeda melintasi mereka. Entah masih pacaran entah sudah pasutri Zuck Linn tak tahu dan memang tak mau tahu. Yang pasti keduanya terlihat mesra.

Sang lelaki mendayung santai, menjaga sang perempuan yang duduk menyamping di palang tengah sepeda. Perempuan yang tampak tenang duduk diapit kedua lengan lelakinya itu, tersenyum kepada Linn. Linn membalas kecut.

"Harusnya tadi manasin motornya naik sepeda kayak gitu, biar nggak kehabisan bensin kayak gini," gerutu Linn setelah pengendara sepeda dayung itu menjauh.

Zuck belum berhenti melongo.

--=00=~--

Bersambung!

Zuck Linn #34: Baikan

Novel online Zuck dan Linn


#34 Baikan

Akhirnya berkat mediasi Yonah, Zuck dan Linn bisa kembali baikan. Sore itu, untuk pertama kalinya mereka jalan-jalan mengitari Taman Kota dengan perasaan lebih senang dan dengan pikiran lebih tenang. Tidak was-was lagi akan kepergok Yonah, Dewik ataupun personil-personil band Gebrack.

"Umur berapa pertama kali kamu pakai bra?" tanya Zuck tiada hujan tiada badai.

Langkah Linn terhenti. Dipegangnya lengan Zuck supaya ikut terhenti. "Nggak ada pertanyaan lain yang lebih cerdas?"

"Banyak. Tapi aku pengennya nanya itu. Hehe, nggak bisa jawab ya?"

"Kelas 2 SMP. Sekitar tigabelasan. Kenapa?" jawab Linn tak ikhlas. Dilepasnya lengan Zuck, lalu melanjutkan langkah.

Zuck mensejajari langkah Linn. "Masih ada nggak sekarang?"

"Masih dong disimpen di brankas. Itu kan salah satu benda legendarisnya aku." Linn menjawab asal.

"Coba deh nanti sepulang dari sini kamu pakai lagi."

"Buat apa?!" Linn menoleh sebentar. "Kayak nggak ada kutang lain!"

"Ya dicoba aja."

"Kurang kerjaan. Udah kekecilan. Dan pasti udah nggak nyaman."

"Sesek?" Zuck memandang Linn minta penjelasan lebih jelas.



"Yaiyalah. Secara isinya kan semakin berkembang! Penting emang bahas ginian?"

"Berarti sama dong kayak yang kurasain kemarin."

Mata Linn membola. "Kamu kemarin pakai bra? Astaga...

"Bukan! Maksudku, seperti itulah rasanya waktu kemarin aku ngelihat kamu jalan sama Rein. Nyesek!"

Gambar romantis pohon cinta

"Hahaha... Dasar jelek!" seru Linn meninju lengan Zuck.

Tapi di saat yang bersamaan, Zuck sedang menundukkan badan hendak membenahi tali sepatu. Tak ayal, tinjuan Linn gagal mengenai sasaran, justru mendarat telak pada tulang pipi Zuck. DEG! Begitu bunyinya. Cukup bertenaga. Rasanya mungkin tak seberapa jika benar mengenai lengan, tapi untuk ukuran tulang pipi, itu cukup menyakitkan!

Zuck sampai kaget. Badannya agak oleng. Linn juga kaget. Spontan telapak tangannya menutup mulut dengan wajah begitu bersalah.
"Aduh, Mas. Maaf, Linn nggak sengaja."

"Nggak sengajanya kok pas banget," sungut Zuck mengusap-usap pipinya.

"Beneran, Mas, nggak sengaja. Tadi tujuannya mukul lengan kayak biasanya."

Zuck memangap-mangapkan mulut, memastikan tulang pipinya tidak cidera.

"Sakit ya, Mas?" Linn menyentuh pipi Zuck.

Zuck menggeleng tampan. "Enggak."

"Serius nggak ngerasain sakit?! Soalnya tadi lumayan keras sih?"

Zuck memegang tangan Linn yang sedang menempel di pipinya, diremasnya pelan, mata Linn ditatapnya lembut, "Serius, Sayang. Lagian kamu juga aneh, pipi udah kena tinju, masih ditanya apa aku ngerasain sakit? Jelas aja enggak. Karena gini, kalau ada kamu, aku nggak bisa ngerasin hal lain, selain rasa sayangku ke kamu."

"Arghh!" pekik Linn. Tangannya yang masih berada di pipi Zuck langsung dicubitkan tepat di tempat yang tadi sudah terkena jap kanannya.

"Aduduh..." Zuck meringis benar-benar kesakitan.

"Rasain!"

"Muehehe..." Meskipun sedang kesakitan, Zuck tidak bisa menahan tawa melihat wajah Linn yang kesal bercampur malu-malu.

Zuck menghadap Linn, kedua bahu Linn dipegangnya. Mata Linn ditatapnya dalam-dalam. "Kita ulangi semuanya dari awal."

"Maksudnya kamu mau menyamar lagi jadi pengemis?"

"Ya nggak perlu sampai sejauh itu juga. Huft!" repet Zuck. Tangannya yang tadi memegang bahu Linn, ditariknya dan beralih memegang bahu jalan.

"Ya dijelasin baik-baik dong, Mas. Jangan marah-marah. Nanti cepet tua, cepet mati."

Benar juga pikir Zuck. Punya pacar yang lemotnya sama kayak dirinya, apa-apa memang sebaiknya dijelaskan sejelas-jelasnya.

"Maksudnya, anggap saja sebelumnya kita nggak saling kenal. Sore ini pertemuan pertama kita, dan aku langsung jatuh cinta pandangan pertama...

"Ah kamu bisa aja," kata Linn sambil refleks mau mukul lengan Zuck, tapi tak jadi, takut salah sasaran lagi. Akhirnya kepalan tangannya yang sudah menggantung di udara itu diturunkan kembali.

"Hahaha... Bukan, bukan!" Zuck tertawa lagi melihat itu, sambil melambai-lambaikan telapak tangannya di depan Linn.

"Bukan apaan?" tanya Linn tak mengerti.

"Aku bukan bisa aja. Kenalin, aku Zuck. Dani Zuckici," Zuck mengulurkan tangan.

Linn langsung tertawa. Begitu pun Zuck. Beberapa saat keduanya tertawa begitu lepas. Terkenang saat pertama kali kenalan di toko kosong saat hujan deras. Setelah itu hening. Linn memandangi uluran tangan Zuck, lalu pandangannya perlahan naik dan tanpa sengaja matanya dan mata Zuck bertemu. Sekian detik mereka saling pandang, saling menahan senyum, dan tiba-tiba tawa mereka meledak sekali lagi. Lebih keras. Lebih lepas.



"Hahahaha...

Setelah itu tanpa ragu-ragu Linn menyambut uluran tangan Zuck. Digenggamnya lembut. "Aku...

"Udah tau kok. Kamu Linn. Alinna Bilqis Quinova lengkapnya," potong Zuck.

Linn menunduk. Ia sembunyikan senyumnya dengan pura-pura memperhatikan baju yang dipakainya.

"Padahal ini bukan seragam sekolah. Nggak ada namaku tertulis di sini. Kok kamu bisa tau?" tanya Linn tergadah menatap wajah Zuck yang 10 senti lebih tinggi di atasnya. Tangan mereka masih bersalaman.

"Karena nama kamu sudah tertulis di sini," tangan kiri Zuck menyentuh dadanya sendiri. "Di hatiku...

Eaaa...

--~=00=~--

Zuck Linn #33: Persahabatan Sejati

Novel Wattpad yang diterbitkan menjadi buku


#33 Persahabatan Sejati

Di sekolah beberapa hari ini Linn barubah menjadi sosok pendiam dan penyendiri. Ia juga sudah tidak aktif ke kantin bareng Yonah dan Dewik. Apalagi ke kantin bersama, di kelas saja mereka sudah tidak lagi saling sapa.

Pun jam istirahat siang ini, Linn memilih menyepi di belakang perpustakaan tua. Ia ingin menikmati kegalauannya seorang diri.

Pagi tadi ia sudah mencoba SMS Zuck meminta maaf, tapi sehingga hari sudah sesiang ini belum juga ada balasan. Saat ini cuma SMS yang bisa Linn andalkan sebagai satu-satunya sarana berkirim pesan. Setelah kejadian di cafe itu, WhatsApp Zuck yang sekarang DP-nya bergambar mengiris nadi pakai sisir itu sudah tidak aktif. Pesan-pesan yang Linn kirimkan terus memperlihatkan ceklis satu.

Linn sadar ia salah, tapi jika permintaan maafnya tak ditanggapi, penjelasan-penjelasannya tak didengar, harus bagaimana lagi? Selain bersikap terserah, membiarkan dulu semuanya, sambil berharap mereka sadar bahwa kemelut ini bukan murni salahnya sendiri. Zuck, Yonah dan Dewik sedikit banyak ikut tersangkut paut. Terutama Dewik, bagi Linn, Dewik sudah bagaikan musuh dalam selimut, diam-diam menikam dari dalam. Gara-gara itu semalam Linn sampai tidak mau tidur selimutan. Trauma!

Kegalauan Linn sedikit terusik. Ada suara langkah-langkah kaki manusia dari arah belakangnya. Linn menoleh ingin tahu siapa gerangan yang datang, oh ternyata Yonah dan Dewik. Okay cukup tau! Linn tak berniat menyapa mereka, malah buru-buru mengembalikan wajah ke arah normal.



Tapi Linn tak menyangka Yonah justru duduk di samping kirinya, disusul Dewik di sebelah kanan. Diapit oleh dua orang yang sedang memusuhinya itu, muncul perasaan tak nyaman dalam diri Linn. Ia hendak berdiri dan bermigrasi ke tempat yang lebih tenang.

"Jangan pergi, Linn," cegah Yonah memegang pundak Linn.

"Saya mau kalian apain?" Linn yang sudah setengah berdiri bertanya canggung.

"Aku mau minta maaf. Sekarang aku sudah mengerti dan menyadari semuanya," sahut Yonah pelan.

Merasa nyawanya tak terancam, perlahan Linn kembali duduk.

"Aku minta maaf karena pernah menghalang-halangi hubungan kalian."

Dalam hati Linn sedikit terkejut mendengar perkataan Yonah itu, tapi ia berusaha terlihat tenang-tenang saja.

"Tadinya aku memang kecewa banget mengetahui kamu dan Mas Zuck ternyata tetap jadian tanpa sepengetahuanku. Tapi sekarang aku justru seneng. Aku seneng karena meski aku berusaha ngelarang, kalian juga berusaha jadian. Aku berusaha menjauhkan, tapi kalian malah semakin mendekat. Paling nggak itu membuktikan kalau kalian benar-benar saling cinta..."

Yonah menelan ludah, seolah bercerita barusan telah membuat tenggorokannya haus.
"Dan, kuharap kamu juga mau memaafkan Dewik. Kalaupun dia pernah menggoda Mas Zuck dengan akun Scandiva itu, karena dia nggak tau kalian pacaran," lanjut Yonah.

Ilustrasi Gambar Cewek di tepi pantai

Linn menoleh kepada Dewik. Cewek itu sedang mendongak ke atas entah memandang apa. Mulutnya terlihat bergerak-gerak, seperti sedang memilih kata-kata yang tepat untuk diutarakan. "Waktu kamu marah-marah di Facebook dan ngaku-ngaku pacarnya Mas Zuck, aku sempat nggak percaya. Aku mulai curiga ketika kita mau ngerjain PR akutansi, terus kamu nggak datang dengan alasan jam 4 ada acara keluarga, dan di jam yang sama ternyata Mas Zuck juga pergi. Aku sampai membututi kalian ke kuburan. Setelah melihat kamu dan Mas Zuck berduaan di kuburan, di situ aku baru percaya kalian memang diam-diam pacaran. Sejak itu aku nggak pernah mengganggu Mas Zuck lagi. Aku juga tutup mulut nggak ngasih tau Yonah. Aku biarin kamu dan Mas Zuck bahagia..."

Untuk beberapa saat Dewik diam memandang langit, sebelum kemudian menoleh ke arah Linn, yang ternyata juga sedang menatapnya berkaca-kaca. Dewik memaksakan seulas senyum di bibirnya.

"Tapi aku kecewa ngeliat kamu beberapa ini seperti deket-deket dengan Rein. Bahkan kecewa sekali saat malam minggu kemarin, kamu bilang pengen di rumah, nyatanya kamu jalan sama Rein. Aku lapor ke Mas Zuck pakai akun Scandiva. Maafin aku...

Dewik tertunduk, tapi raut lega tampak di wajahnya setelah mengatakan unek-unek itu.

"Tapi bener kok, waktu Yonah nelepon, aku memang masih di rumah dan nggak pengen ke mana-mana. Kemudian Rein telepon ngajak nonton. Tadinya aku juga nggak mau. Terus Rein bilang mau cerita tentang band anti pacaran. Karena aku lagi butuh informasi itu, akhirnya aku mau. Tapi beneran, aku sama dia nggak punya perasaan apa-apa. Dia udah kuanggap seperti paman, entah kalau dia mengganggapku lain," sahut Linn menjelaskan sejujurnya.

"Iya. Paman Rein tadi juga bilang gitu," kata Yonah manggut-manggut.

Sebelum menemui Linn sekarang ini, dari tadi malam Yonah sudah menemui pihak-pihak yang terkait dalam persoalan ini. Yonah ingin semuanya menjadi jelas. Berbicara dari hati ke hati dengan Zuck, meminta keterangan Rein, ditambah pengakuan Dewik tadi pagi bahwa akun Scandiva itu adalah dia adminnya, membuat Yonah sadar bahwa akar dari konflik ini hanyalah persoalan sepele, yang akhirnya menjadi drama yang lebay kayak cerita dalam novel-novel.

"Aku nggak berniat menghianati Mas Zuck, aku hanya sebel seperti nggak diperhatiin. Tiap malam minggu selalu mentingin band. Tadinya aku nggak percaya dia melakukan itu karena band-nya memang melarang personilnya punya pacar. Kayaknya nggak masuk akal. Aku baru percaya setelah dengar cerita dari Rein. Sayangnya disaat aku sudah menyadari kesalahanku, Mas Zuck sudah terlanjur marah dan gak mau memaafkanku lagi," lanjut Linn. Suaranya semakin sedih.

"Nanti aku akan kasih penjelasan sama Mas Zuck," kata Yonah menenangkan.

Linn menatap Yonah terharu. "Terima kasih, Yonah."

Senyum lembut Yonah tersungging di bibirnya. Sekarang ia akan mendukung penuh hubungan Zuck dan Linn. Meski kemarin mereka pacarannya sembunyi-sembunyi, tapi Yonah merasa hubungan itu telah membawa perubahan positif pada diri masing-masing. Semenjak kenal Zuck, Linn sudah tidak pernah lagi kegenitan jika ada cowok ganteng, tidak lagi putus ganti-putus ganti pacar seperti dulu. Dia sekarang lebih anteng. Sementara Zuck, kehadiran Linn sepertinya telah berhasil membuatnya melupakan Wanda. Yonah sudah tidak pernah lagi mendengar abangnya itu curhat-curhat tentang mantannya itu. Mereka cocok dan saling melengkapi. Dan Yonah, yang merasa bersalah pernah menghalangi-halangi hubungan mereka, berjanji dalam hati akan menebus kesalahannya dengan mengawal hubungan kakaknya dan sahabatnya itu hingga ke jenjang yang lebih serius. Kapanpun itu!

"Aku tau kita semua menyayangi Mas Zuck. Aku dan Dewik juga sayang kamu, Linn. Kami sedih melihat kamu beberapa hari ini sedih," ucap Yonah pelan.

"Aku juga sayang kalian. Sayaaang banget," sahut Linn sedikit terisak, dipeluknya tubuh Yonah beberapa saat.

Setelah itu diraihnya tangan Dewik ke dalam genggamannya, dipeluknya juga sahabatnya itu. "Dewik maafin aku..."



Tangis Linn pecah dalam pelukan Dewik. Ia merasa telah melukai Dewik. Walaupun sebenarnya tidak ada hubungan lebih dari teman antara Dewik dan Zuck, tapi tetap ada rasa bersalah dalam hati Linn, ia merasa telah merebut Zuck dari Dewik yang sudah lebih dulu mengenal Zuck bahkan sejak kecil.

"Enggak apa-apa, Linn. Mas Zuck sangat menyayangi kamu," Dewik membalas dengan rangkulan Linn lebih hangat. Diusap-usapnya pungung Linn.

Air mata Linn semakin deras, membasahi lesung pipitnya, juga baju seragam Dewik.

Yonah menghela napas. Batinnya geli bercampur sebal. "Huh dasar alay, urusan pacaran aja tangis-tangisannya kayak ditinggal mati keluarga!"

--~=00=~--

Selanjutnya Zuck Linn #34: Baikan

Zuck Linn #32: Maaf Yang Tak Sampai

Baca gratis novel Komedi online


#32 Maaf Yang Tak Sampai

Senin paginya, Linn menyusuri koridor sekolah dengan langkah kurang gairah kayak orang kena anemia stadium 4. Dan langkah itu semakin memelan ketika melewati depan kelasnya sendiri. Dari kaca jendela ia memperhatikan situasi di dalam. Yonah dan Dewik terlihat sedang berbicara serius entah membahas apa. Linn memasuki kelas dan sedikit ragu-ragu menggabungkan diri dengan mereka.

Mengetahui kedatangan Linn, Yonah dan Dewik serempak menghentikan pembicaraan. Beberapa saat keheningan menyelimuti ketiganya.

"Aku minta maaf," Linn buka suara.

Yonah menghela napas. Membuang pandangan ke luar kelas. Sementara Dewik tak ingin ikut campur, pura-pura serius membaca kamus bahasa Thailand.



"Yonah," panggil Linn pelan.

"Kamu udah sangat ngecewain aku, Linn. Jadi maaf, aku nggak bisa begitu saja maafin kamu."

"Iya, aku maafin," Linn duduk di sebelah Yonah. "Kamu juga maafin aku kan?"

"NGGAK USAH BECANDA! NGGAK LUCU!!!" Yonah spontan membentak keras sekali.

Linn terkejut. Tidak menyangka Yonah akan sekasar itu padanya. Duduknya beringsut menjauh.

"Kamu udah bohongi aku, bohongi Dewik. Mas Zuck kamu permainkan! Dan secara nggak langsung kamu juga mempermainkan Rein. Kamu bener-bener jahat tau nggak?!"

Mata Yonah melotot marah. Linn tertunduk bisu. Dewik menatap iba ke arah keduanya. Ia meremas pundak Yonah. Berharap sahabatnya itu bisa lebih bersabar.

"Dulu aku udah kuatir, kalau kamu jadian sama Mas Zuck, trus di saat hubungan kalian berakhir, akan mengakhiri juga persahabatan kita. Sekarang terbukti. Iya, sekarang terbukti. Gara-gara semua itu persabatan kita rusak!"

Linn sesenggukan. Menatap Yonah berkaca-kaca. "Tapi hubunganku sama Mas Zuck belum berakhir...

"Tapi akan segera berakhir! Aku nggak sudi Mas Zuck punya pacar pembohong kayak kamu!" sela Yonah, masih dengan nada keras yang sama.

"Aku tidak bermaksud seperti itu...

"Argh bodo! Empet aku sekarang sama kamu!" Yonah berdiri dan bergegas keluar kelas.

Dewik berdiri berniat menyusul Yonah, tapi niatnya tertahan melihat air mata Linn mulai menetes satu-satu.

"Aku nggak tau harus gimana, Linn," ucapnya serak, dipegangnya pundak Linn.

Linn menggerakkan badan, mengusir cantik tangan Dewik dari pundaknya.

"Maafin aku..." sambung Dewik.

"Ngapain kamu minta maaf sama dia?!" teriak Yonah dari luar. Dia belum terlalu jauh dari kelas, sehingga apa yang dikatakan Dewik barusan terdengar cukup jelas.

Dewik hanya diam. Kemudian menyusul Yonah dengan langkah berat.

Ilustrasi Gambar untuk karya sastra

--~=00=~--

Dering nada panggilan yang tak henti-henti, sudah berubah fungsi seperti alarm yang membuat Zuck terbangun dari tidur siangnya yang kepagian. Karena tidak ada kuliah, tadi sekitar jam 10-an dia memutuskan untuk tidur. Membayar kekurangan tidur dua hari ini. Sayangnya baru saja ia mulai terlelap, kebisingan dering telepon yang terus menerus itu membuat tidurnya terusik.

Dengan rasa kesal bercampur malas Zuck mengambil ponselnya. Dan sesuai dugaannya, Linn-lah yang menelepon. Tapi Zuck tak berminat mengangkatnya. Ia masih sakit hati. Dibiarkannya saja berdering sampai capek sendiri.

Lalu ada pesan WhatsApp, juga dari Linn. Zuck melihat di layar androidnya-nya sudah ada 12 pesan WhatsApp berikut 5 panggilan tak terjawab semuanya dari Linn. Zuck membuka WhatsApp-nya. Bukan untuk membaca apalagi membalas pesan-pesan Linn. Hanya menulis sebuah status;

'Aku emang gak pantes bahagia kayak orang-orang. Tapi beginilah aku, biarpun miskin, tapi jelek, jadi masuk akal banget dia giniin aku!'

Dan biar genre galaunya semakin terasa, Zuck melengkapi tulisan tersebut dengan lima butir emoticon mewek. Terakhir setelah menganti foto profilnya dengan foto sedang mengiris-ngiris nadi pake sisir, Zuck mencopot aplikasi WhatsApp dari androidnya. Ia benar-benar tidak ingin Linn menganggu hidupnya lagi. Ia ingin tenang di alam sini.

Namun keinginannya ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Hanya berselang setengah menit, ponselnya kembali mengeluarkan dering. Kali ini Zuck melihat bukan Linn yang mengontaknya, melainkan sebuah nomor lain yang ujungnya cantik 696969.

"Mau nipu pakai nomor lain? Huh males banget! Daripada mengangangkat telepon kamu, mending mengangkat derajat orang tua!" omel Zuck sendiri yang yakin banget bahwa nomor lain itu sebenarnya Linn.

Panggilan pertama tak ditanggapi, nomor itu kembali melakukan panggilan untuk kali kedua. Tapi Zuck tetap bergeming. Setelah empat kali memanggil tak satu pun mendapat jawaban, akhirnya nomor itu kirim pesan singkat.

'Angkat telepon aku plis...'

Zuck hanya membaca SMS itu di dalam hati. "Nggak mandiri banget nih cewek, masa ngangkat telepon sendiri aja nyuruh-nyuruh orang lain. Dasar manja!"



Sambil menyeringai jijik, Zuck meletakkan androidnya di meja belajar, lalu kembali ke kasur untuk melanjutkan tidur. Dan Zuck baru setengah memejamkan matanya, ketika kemudian ponselnya kembali menjerit.

"Kampret Kroasia!" damprat Zuck buru-buru bangkit dari tidur dan meraih smartphone-nya. Di layar terlihat nomor berujung 696969 itu yang kembali memanggil. Dengan perasaan kesal yang sedikit lagi mencapai klimaks, Zuck me-reject panggilan itu mentah-mentah. Kemudian mengatur nada dering ponselnya ke volume terendah biar nanti tidak mengganggu tidurnya lagi.

"Dikecilin gini nanti kalau ada temen kampus nelepon terus nggak kedengeran gimana hayoo?" batin Zuck ragu dengan keputusannya sendiri. Karena takut nanti kalau ada yang menghubungi tidak kedengaran, akhirnya Zuck tidak jadi mengecilkan volume nada dering, ia hanya mengubah mode ponselnya menjadi silent.

--~=00=~--

Zuck Linn #31: Siapa Scandiva?


#31 Siapa Scandiva?

Dari malam hingga shubuh menjelang, Zuck sama sekali tidak bisa tidur memikirkan Linn. Ternyata, selain meninggalkan rasa sakit yang mendalam, kebohongan Linn juga memberikan rasa pahit yang sangat lumayan, yang dampaknya melebihi kafein, membuat Zuck melek semalam suntuk! Andai tadi malam masih musimnya menggombal versi 'papa kamu', Zuck pasti sudah mendatangi Linn, "Papa kamu suka minum kopi ya? Bilang sama Papa, hati-hati ada sianidanya!"

Zuck baru bisa tertidur ketika adzan shubuh berkumandang, lalu sudah dibangunkan paksa oleh ibunya pada saat iqamah. Dalam sepanjang hidup Zuck, itulah rekor tidur tersingkat yang berhasil diraihnya.

Tapi tak mengapa pikir Zuck. Hari ini hari minggu, nanti ia bisa balas dendam tidur siang sampai sebangunnya. Justru menurutnya, Linn sendiri yang rugi. "Gara-gara tadi malam aku nggak tidur, dia jadi nggak bisa hadir ke mimpiku. Rasain..." gumam Zuck tersenyum. Getir.

Dan sudah hampir satu jam ini Zuck berada di teras. Duduk termenung sambil menikmati sinar matahari yang masih hangat. Kebetulan teras rumah yang sebelah timur dibangun menghadap ke matahari terbit, sehingga kalau pagi langitnya cerah, cahaya matahari bisa leluasa masuk. Sengaja Zuck menduduki wilayah teras yang terkena sinar matahari penuh. Siapa tahu dengan berjemur seperti itu, luka di hatinya bisa lebih cepat mengering.

Tidak melulu soal sakit hati, segalanya tentang Linn terus memenuhi pikiran Zuck hingga pagi ini. Lesung pipinya, tawanya yang bergigi kelinci, Linn yang dulu mengiranya pengemis, terkecoh dompet Linn, mengembalikan dompet itu di saat hujan air di depan toko yang mangkrak, jadian diam-diam, adu cuek selama seminggu, pertengkaran kemarin dan yang menakutkan bagi Zuck, di pikirannya sudah muncul kebimbangan tentang masa depan hubungannya dengan Linn. Apakah dilanjutkan atau sebaiknya diakhiri?!

Yonah kemudian muncul membawa dua gelas teh hangat. Yang segelas untuk dirinya sendiri, sementara yang segelas lagi untuk dirinya juga jika nanti yang satunya habis tapi masih kurang. Beberapa saat ia memandangi Zuck dengan tatapan kasihan. Rambut lepek, mata merah, serta muka yang kusam berminyak akibat tadi malam kalah melawan insomnia.



"Sekarang tau sendiri kan? Bandel sih dulu dibilangin!" kata Yonah.

Zuck masih mematung. Tak bergerak apalagi bersuara. Hanya dadanya yang terlihat kembang kempis menandakan bahwa ia masih bernyawa. Sebagai pihak yang bersalah, Zuck memang memilih untuk diam tak ingin membantah.

"Ujung-ujungnya seperti yang udah aku khawatirkan. Mas putus sama dia, dan sekarang persahabatanku sama dia juga resmi rusak!"

"Yang penting persaudaraanku sama kamu baik-baik saja," Zuck akhirnya bersuara, meskipun lemah.

Yonah menyeruput teh manisnya. Di benaknya terbayang Linn. Ia masih tak mengira sahabatnya itu tega membohongi dirinya, Dewik dan juga Zuck. Lebih-lebih tadi malam, sampai bersumpah ada di rumah, katanya Rein tidak penting! Tapi apa?! Nyatanya dia pergi berdua dengan cowok itu. Munafik! Yonah sangat kecewa dan sulit memaafkan itu.

"Oh, ya, Mas Zuck tau dari mana kalau tadi malam Linn ada kafe?"

Zuck terperangah, seperti baru menyadari sesuatu. "Astaga. Aku sampai lupa ngucapin terima kasih. Ada seseorang di Facebook, namanya Scandiva. Dia yang ngasih tau."

"Scandiva? Siapa dia?"

"Nggak tau. Temen Facebook-ku kan banyak, dari mancanegara aja ada," pamer Zuck sambil mengeluarkan ponsel dari saku. Ia membuka Facebook ingin berterima kasih kepada Scandiva.

Sementara Yonah tampak termenung serius, memikirkan siapa dibalik akun Scandiva. Ia coba menduga-duga, tapi sampai kepalanya pening, tetap tidak menemukan sosok yang tepat untuk sekedar dicurigai.

"Weh... Dia langsung bales!"

"Sebenarnya dia siapa? Kok bisa tau Linn sama Rein ada di kafe? Kok bisa tau juga kamu dan Linn diam-diam pacaran?"

"Iya, yah. Kok bisa tau?" Zuck terperangah sekali lagi.

"Tanyain dong. Jangan plonga-plongo terus!" seru Yonah gondok banget melihat Zuck yang dalam waktu semenit saja sudah terperangah dua kali.

"Dia nggak mau bilang! Ini apaan malah pamitan mandi?" kata Zuck. "Tapi sedikit info, dia nih dulu rajin komen di statusku, tapi udah lama ngilang. Tadi malam tiba-tiba muncul lagi, itupun cuma ng-inbox ngasih tau kalau Linn sedang di kafe sama cowok lain."

Yonah bertambah pusing. Dan akhirnya persetan siapa Scandiva. Toh menurutnya itu bukan urusannya!

Gambar ilustrasi cewek main laptop untuk cerpen

--~=00=~--

Di tempat yang lain, Linn sedang mendatangi rumah Dewik. Linn yakin, Dewik lah satu-satunya sahabat yang netral atas masalah yang dialaminya saat ini. Kepadanya Linn ingin curhat dan berbagi cerita.

"Dewik ada, Bu?" tanya Linn kepada bundanya Dewik.

"Ada tuh di kamarnya. Susul aja ke sana."

"Makasih, Ibu."

Linn segera menuju ke kamar Dewik yang pintunya dalam kondisi terbuka setengah. Linn nyelonong saja masuk tanpa Assalamu'alaikum. Namun Dewik tidak ada di tempat. Hanya pemandangan sprei acak-acakan, bulatan basah di bantal, serta guling yang terbujur tak berdaya di lantai. Pertanda kalau kamar ini belum lama digunakan oleh pemiliknya.

Selain guling, berbagai barang lain seperti kaleng minuman, plastik snack, tisu second, buku-buku, cas-casan, kutang berenda, obeng bunga dan sebagainya berserak di lantai, membuat kamar Dewik terlihat berantakan mirip kapal yang baru dibombardir bajak laut.

Sejenak Linn melirik genangan iler Dewik yang mulai mengering. Linn bergidik. Beberapa rahasia cewek memang kerap terungkap lewat kamar tidurnya. Dewik yang pendiam itu, ternyata tidak rajin menata kamar dan kalau tidur masih suka ngiler.

"Ke mana Dewik?" batin Linn bertanya-tanya, kepalanya melongok ke kolong tempat tidur. Tapi Dewik tak ada di situ.

Sementara di meja belajar, komputer dibiarkan menyala. Linn mendekat ke sana. Layar monitor menampilkan jejaring sosial Facebook. Di sudut kanan bawah, ada jejak terakhir Dewik chatt dengan seseorang.

'Terima kasih ya tadi malam. Karena kamu, aku jadi tau siapa Linn sebenarnya.'

'Hehe. Nggak perlu terima kasih, Mas.'

'Kamu sebenarnya siapa sih?'

'Ntar lagi chatt-nya ya, Mas. Aku mau mandi. Jangan ngintip, hehe...'

Jantung Linn berdegup kencang. Tangannya gemetar. Mukanya panas. Awalnya tadi Linn hanya iseng ingin baca-baca saja, tapi sekarang ia ingin tahu lebih banyak.

Tidak salah lagi, lawan chatting Dewik adalah Dani Zuckici. Dan yang lebih mengagetkan lagi, ini bukan akun Facebook Dewik yang Linn tahu selama ini.

"Linna!"

Linn tersentak. Dewik yang baru pulang dari kamar mandi tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan nanar.

"Iya. Scandiva," sahut Linn sinis.

"Nggak sopan banget sih kamu, sembarangan masuk kamar orang lain!" Dewik merebut mouse dari tangan Linn, lalu buru-buru mematikan komputer.

Linn menggeleng lemah. "Orang lain?! Maaf. Kupikir selama ini kita sahabatan? Ternyata aku salah..."

Dewik tertunduk diam.



"Bener-bener pendiam banget kamu ya? Sampai-sampai merebut pacar temen pun secara diam-diam."

Dewik mendongak. Ia tidak suka dengan kata-kata Linn barusan. "Siapa yang ngerebut? Aku kan nggak tau kalau kalian pacaran!"

"Tapi buktinya kamu tau!"

"Ya. Lama-lama aku memang tau."

"Trus kenapa masih mengganggu?" Linn terus menyudutkan. "Oke, kalau nggak suka dibilang perebut, kuganti sebutan itu dengan perusak!"

"Linn!" sentak Dewik. Menatap Linn garang. "Kamu jangan hanya nyalahin aku! Apa kamu nggak mikir, kalau tindakanmu menghianati Mas Zuck itu juga sebuah kesalahan?!"

"Aku nggak menghianati dia!"

"Kamu deket-deket sama Rein. Kamu tadi malam diam-diam jalan sama dia."

Linn menarik napas panjang. "Itu urusanku, Wik!"

"Apa? Urusan kamu?!" Dewik menggeleng-geleng, sama sekali tak menyangka. "Urusan itu udah menjadi urusanku juga. Karena aku nggak suka ada yang membohongi Mas Zuck. Dia baik. Tetanggaku sejak kecil dan aku lebih dulu kenal dia dari pada kenal kamu."

"Selain itu, sebenarnya kamu diam-diam suka sama dia. Ngaku aja!" pungkas Linn pedas. Dan tanpa menunggu reaksi Dewik, ia segera beranjak pulang. Air matanya muncrat tanpa sempat diketahui Dewik.

--~=00=~--