Zuck Linn #4: Dani Zuckici

Seriap Zuck Linn

#4 Dani Zuckici

Di teras sebuah rumah sederhana bercat putih, tampak seorang lelaki duduk lesu di kursi dengan kaki kanan menyilang di dengkul kiri. Sikut tangan kanannya bertumpu pada peganggan kursi, sementara lengannya tegak menyangga kepalanya yang miring. Entah kenapa dia duduk dengan gaya seperti itu. Mungkin kepalanya sedang berat akibat banyak pikiran. Atau mungkin tidak kuat menanggung beban jelek di wajahnya, sehingga butuh bantuan tangan untuk menopang. Mungkin!

Tapi sebenarnya jika kita perhatikan secara seksama dan dalam tempo yang agak lama, cowok itu tidak jelek-jelek banget, walau sesungguhnya memang tidak terlalu ganteng. Ganteng pas-pasan; pas di dalam kegelapan, pas menghadap ke belakang atau pas dilihat dari jarak lima ratus meter.

"Zuck!"

Seseorang menyebut namanya. Ia menoleh, dan tampak olehnya seorang pria muda sedang berjalan lancar ke arahnya. Kalau tidak salah namanya Jabon, sahabat Zuck dari jaman SMA hingga jaman sekarang.

"Sori banget tadi pagi lupa bangunin kamu," kata Jabon sambil menduduki kursi di sebelah Zuck.

Zuck tersenyum penuh pengertian. "Tumben main ke sini?"

"Buat nyari alasan. Habis dari sini aku mau ke rumah Nivi. Nanti kalau dia nanya aku tinggal bilang; 'tadi dari rumah Zuck, mampir bentar buat ngasih ucapan selamat ke kamu'. Kabarnya hari ini dia lulus PNS."

Zuck kembali tersenyum, tapi kali ini dengan sangat terpaksa, sekedar menghormati Jabon yang telah memberikan sebuah informasi yang tidak penting. Zuck mengubah gaya duduknya menjadi bersandar. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat.

"Kamu kenapa?" tanya Jabon curiga.

"Aku teringat Wanda, Bon."

"Buset! Sampai kapan kamu mau gitu terus, Zuck?!"

Zuck menggeleng lesu. "Gara-gara barusan nonton TV."

"Pasti TV-nya pemberian Wanda?" tuduh Jabon.

Zuck diam saja.


"Makanya, biar nggak terus keingetan, barang-barang dari mantan itu lebih baik disumbangkan kepada yang lebih membutuhkan. Aku siap menampungnya."

"Enggak gitu. Tadi acara TV-nya tentang alam Indonesia. Kebetulan lagi bahas hutan-hutan di Kalimantan. Hutannya lebat, Bon. Liar, tapi masih perawan. Paru-paru dunia gitulah sebutannya."

"Bentar, bentar. Hutan lebat bikin kamu ingat Wanda?!" Jabon melongo penasaran.

"Bukan hutan lebatnya! Kata-kata Kalimantan itu yang langsung bikin aku ingat mantan," jelas Zuck sendu.

"Jiah!" Jabon buang pandangan ke bak sampah.

Tapi Zuck memang terlihat sedang galau berat. Sorot matanya jauh menembus langit tinggi, dengan tatapan penuh mimpi yang tak pasti.

"Sabar deh, Zuck. Akhir dari sebuah pacaran emang gitu. Kalau nggak jadi manten, ya jadi mantan. Jarang ada yang pacarannya bisa awet sampai 28 tahun," Jabon coba memberi wejangan.

"Sekarang mendingan kamu cari pacar baru."

Pikiran Zuck menerawang. Sejak pisahan dengan Wanda 7 bulan silam, ia memang memilih sendiri. Tak ingin buru-buru mencari pengganti. Zuck takut nantinya menjalani hanya dengan setengah hati. Malahan terkadang, Zuck berharap suatu saat dia dan Wanda bisa balikan lagi.

"Nggak semudah itu, Bon," kata Zuck pelan. Ia tak bisa memungkiri, bahwa Wanda telah menjadi bekas pacar yang paling membekas.

Jabon berdecak geregetan. "Coba buka lebar-lebar hati dan pikiran kamu. Jangan terus berpikir cuma Wanda wanita di dunia ini. Indonesia saja tuh luasnya udah luas banget, Zuck! Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau, dan berjuta cewek hidup tentram di atasnya. Jadi kalau kamu masih sering galau nggak jelas cuma gara-gara seorang Wanda, bener-bener nggak ngerti deh!"

"Ngomongnya kayak emak-emak aja. Lagian aku nggak separah yang kamu pikir. Ya biasalah ingat mantan, sesekali dalam sejam, hee..." Zuck nyengir membela diri.

Di saat itu, Nivi yang tumben berolahraga lari-lari sore melintas di depan rumah Zuck. Jabon langsung berdiri dari duduknya. Matanya tak berkedip mengikuti langkah-langkah lari Nivi. Kepalanya geleng-geleng menahan kagum. Zuck juga geleng-geleng, tapi penampilan Nivi penyebabnya.

"Kalau Nivi gimana?" tanya Zuck ragu-ragu.

Jabon terhenyak. "Eh, dia bagian aku!"

"Kalian nggak jadian-jadian juga?"

"Sabar dong. Cinta sejati itu butuh proses tahap demi tahap."

Zuck melengos. Dia tahu, dari dulu Jabon naksir berat sama Nivi, namun yang ditaksir sampai detik ini masih jinak-jinak merpati.

"Cari siapa gitu temen di kampus. Atau kenalan-kenalan di sosiak media. Pokoknya jangan Nivi!" tegas Jabon memberi peringatkan sambil kembali duduk.

"Iya, deh. Iya."

Tak berapa lama, Nivi kembali melintas di depan mereka. Jabon langsung berdiri lagi dari duduknya kayak menyambut tamu kepresidenan. Kali ini sambil berlari Nivi melempar senyum. Jabon menangkapnya dan menyimpannya dalam hati terdalam. Sedangkan Zuck kembali geleng-geleng melihat penampilan Nivi; dengan sepatu kets putih, celana training, sehelai handuk kecil melingkar di leher, tapi bajunya lengan panjang tebal berwarna cokelat muda, yang di bagian bahunya melekat lambang sebuah instansi pemerintah.

"Pamer banget. Mentang-mentang baru lulus PNS, jogging aja pakai baju dinas!"

Dani Zuckici

--~=00=~--

Malam harinya Zuck terus kepikiran kata-kata Jabon. Jutaan cewek di nusantara ini, untuk apa terus berharap pada seorang Wanda? Jabon benar, ia harus cari pacar baru. Iya.Lalu dari jutaan itu, Zuck mengerucutkan menjadi beberapa orang yang kira-kira memungkinkan untuk ia pacari. Dari beberapa orang itu, setelah dipilah-pilih dan pertimbangkan, hasil akhirnya justru muncul nama Nivi! Dan kalau boleh jujur, sebenarnya Zuck juga menginginkan Nivi. Di matanya, Nivi nyaris sempurna sebagai wanita; cantik, dewasa, anggun, ditambah sekarang sudah menjadi PNS. Kekurangannya cuma satu; Nivi sudah ditaksir Jabon! Dan Zuck tak ingin rebutan gebetan dengan sahabatnya itu. Ia takut menang.

Iseng-iseng Zuck membuka akun Facebook. Sejak putus dengan Wanda, ia memang sudah jarang bersosial media. Seingatnya dalam 2 bulan terakhir ini malah tidak pernah sama sekali. Dan Zuck tak menyangka, setelah sekian lama ditinggalkan, sudah ada satu orang yang ingin menambahkannya sebagai teman. Namanya Scandiva, yang kemudian langsung Zuck konfirmasi tanpa banyak prosedur. Dilihat-lihatnya sebentar akun itu, siapa tahu orangnya menarik dan bisa ditindaklanjuti lebih jauh. Tapi sayang tidak banyak informasi yang Scandiva tampilkan, bahkan foto-foto profilnya saja berisi gambar-gambar kucing.

Zuck mulai meneliti teman-teman Facebook-nya yang lain. Ia ingin coba mengikuti saran Jabon untuk cari pacar lewat jejaring sosial. Matanya tertuju pada sebuah akun berfoto profil wanita ayu dengan senyuman manis berbehel. Zuck langsung naksir, tetapi juga langsung kecewa. Status wanita itu ternyata sudah menikah!


Zuck kembali mencari-cari. Pencariannya terhenti pada sebuah akun dengan foto profil cantik dan yang terpenting masih lajang! Tapi kenapa alamatnya Gorontalo? Pekanbaru - Gorontalo itu kan jauhnya minta ampun?! Zuck kecewa lagi. Ia bukan salah satu penganut LDR. Kekecewaan Zuck berlipat ketika selanjutnya menemukan akun lain yang tinggalnya sekota Pekanbaru dan masih lajang, tapi setelah dilihat baik-baik ternyata namanya Bambang Trianto. Huek!

Tapi kekecewaan Zuck tidak berlangsung lama. Sekali lagi ia menemukan teman Facebook yang kali ini lebih menarik dan cukup potensial. Hijaber, cantik, jenis kelamin perempuan, masih lajang dan tinggalnya sama-sama di kota Pekanbaru. Hmm... Ini baru masuk itungan, pikir Zuck sambil terus membaca data-data cewek itu. Dari info profilnya ia adalah lulusan Universitas Kehidupan tahun 2012 dan saat ini bekerja sebagai menajer PT. Cinta Sejati. Pfft! Zuck menepuk jidat. Ketertarikannya serta merta kandas. Malah akhirnya hampir muntah nanah melihat nama Facebook cewek itu 'Enniieeey Moetzss Chijempolmania Pekandbaroeee (Adek Eni Anaknya H. Imron)'.

Zuck melempar smartphone-nya ke kasur. Tak berminat lagi mencari pacar lewat Facebook. Tidak meyakinkan! Ia memilih menukar posisi tidurnya saja. Kali ini dengan gaya miring, telapak tangannya menyangga kepala, dengan sikut bertumpu pada bantal, mirip putra duyung sedang berpose. Di saat itu, tanpa sengaja matanya melihat dompet di bawah meja belajar. Zuck bangkit dan memungut dompet itu. Dipandanginya beberapa lama. Pikirannya menerawang mencoba mengingat-ingat pemiliknya.

"Pulsa kiloan juga nggak apa-apa, Bang. Yang penting pulsa saya keisi. Butuh cepet nih."

"Lucu juga anak itu," ucap Zuck senyum-senyum sendiri terkenang sang empunya dompet. Wajahnya yang tak sempurna itu juga tiba-tiba tergambar jelas di benak Zuck, muncul lubang kecil di pipinya ketika dia tersenyum. Bagi Zuck, lesung pipit adalah cacat fisik yang indah.

"Tapi sayangnya masih SMA," gumam Zuck sedikit kecewa. Dari dulu ia tidak pernah suka menjalin hubungan dengan ABG, yang menurutnya mayoritas masih labil.

Zuck kemudian memasukan dompet itu ke dalam tas kuliah.

--~=00=~--

Bersambung!

Atlantis Land Kenjeran Park Surabaya Resmi Dibuka Mulai 23 Desember 2017

Kabar gembira bagi warga Surabaya dan sekitarnya, bahwa sejak Sabtu 23 Desember 2017 kemarin, taman rekreasi Atlantis Land di Pantai Ria Kenpark sudah resmi beroperasi dan dibuka untuk wisatawan umum.

Bahkan ini mungkin tak hanya bagi warga kota Pahlawan, penggemar liburan wisata modern dari seluruh Indonesia dan mancanegara kemungkinan juga sangat antusias atas pembukaan taman hiburan satu ini. Pasalnya, Atlantis Land digadang-gadangkan merupakan theme park kelas dunia yang dikonsep mirip Universal Studio yang ada Singapura. Wow!

Bangunan utama Atlantis Land Kenjeran Park Surabaya mirip negeri dongeng

Nah buat sobat traveler khususnya yang menyukai objek wisata berupa taman hiburan modern, sudah bisa nih mengajak keluarga mengisi hari libur Natal dan akhir tahun atau juga liburan tahun baru 2018 dengan mengunjungi Atlantis Land. Dari pengamatan aku, destinasi dengan maskot raja kodok mengacungkan tombak trisula tengah mengendarai kura-kura raksasa ini memang sangat cocok untuk tamasya keluarga.

Baca Juga: Ngadem di Surabaya Zoo, Kebun Binatang Terbesar di Asia Tenggara


Lokasi Atlantis Land terletak di Jalan Sukolilo, Pantai Ria Kenjeran Park (Kenpark), kawasan Bulak, Kota Surabaya, Jawa Timur. Tidak terlalu jauh dari pusat kota dan cuma sepuluh menit dari Jembatan Baru Kenjeran Surabaya. Bagi traveler luar Surabaya yang tidak membawa kendaraan sendiri, kalau mau trip ke sini sebaiknya pakai taksi atau ojol (Ojek Online). Angkutan umum sangat susah.

Foto keren di depan tulisan dan maskot Atlantis Land KenPark

Untuk informasi harga tiket masuk ke Atlantis Land; bagi pengunjung dewasa dan anak-anak dengan tinggi badan di atas 85 cm, harga karcisnya adalah Rp 125.000. Untuk anak-anak yang bertinggi badan kurang dari 85 cm, dikenakan tiket masuk sebesar Rp 100.000. Sementara bagi bayi berumur di bawah 2 tahun yang dibawa orang tuanya, boleh diajak masuk gratis tanpa dikenakan biaya tambahan.

Cukup mahal memang apalagi untuk masyarakat kecil. Rp 125 ribu untuk dewasa dan 100 ribu bagi anak-anak. Tapi dengan harga segitu, sebenarnya masih cukup setimpal dengan berbagai fasilitas hiburan yang disediakan di lokasi Atlantis Land. Wisatawan bebas mengexplore semua objek hiburan dan berfoto-foto di kawasan seluas 15 hektar ini. Di dalamnya ada museum, pusat kuliner, aneka wahana permainan air, berbagai model kolam renang unik dan juga pertunjukkan-pertunjukkan menarik.

Selain itu, dengan harga tiket tersebut pengunjung akan diberi voucher makan senilai Rp 25.000. Dan juga sudah digratiskan menjelajahi semua objek wisata yang terdapat di Pantai Ria Kenjeran Park.

Sebab selain Atlantis Land yang merupakan wahana terbaru di KenPark, di komplek pariwisata ini juga masih banyak objek wisata lainnya yang sayang banget untuk dilewatkan. Misalnya saja ikon-ikon bangunan dunia seperti Pagoda Tian Ti yang merupakan duplikat dari Temple Of Heaven (Tian Tan) yang ada di Beijing, China. Lalu Patung Buddha 4 Wajah yang mirip Patung Maha Brahma di Bangkok, Thailand. Ada juga patung sepasang Naga Raksasa dan Dewi Kwan Im yang begitu megah dan instagramable itu.

Jadi sebelum masuk ke Atlantis Land, kita bisa keliling-keliling dulu menikmati objek-objek wisata di Kenpark yang lainnya itu. Jam operasional Atlantis Land sendiri buka setiap hari mulai dari jam 10 pagi hingga tutup jam 10 malam.

Bangunan Unik di Atlantis Land Surabaya

Itulah kabar terbaru tentang mulai beroperasionalnya Themepark Atlantis Land Kenjeran mulai Sabtu, 23 Desember 2017 kemarin. Untuk informasi lebih jelas mengenai Atlantis Land dan cerita perjalananku jalan-jalan ke sana, boleh disimak di artikel yang sebelumnya.

Baca Juga: Kenalkan, Atlantis Land, Wahana Terbaru di Kenjeran Park Surabaya


Yang pasti, dengan mulai dibukanya taman hiburan bertema air ini, bisa menjadi destinasi yang pas untuk menghilangkan gerah dari hawa panasnya kota Surabaya. Happy Travelling.

TV LED Kualitas Terbaik Persembahan Dari Panasonic

Panasonic merupakan perusahaan elektronik yang sudah berkiprah lama di tanah air kita Indonesia. Perusahaan elektronik yang unggul ini memang sudah sejak lama yang telah berpengalaman dalam bidangnya sehingga banyak sekali orang untuk memilih produk dari panasonic sebagai salah satu merk yang dipilih untuk peralatan rumah tangga. Banyak sekali produk yang telah dikeluarkan oleh panasonic untuk alat elektronik rumah tangga seperti mesin cuci, setrika, kulkas, radio, hingga tv telah diproduksi oleh panasonic.


Seperti salah satunya adalah produk televisi yang memang terus berkembang pesat dari tahun ke tahun dengan menggunakan teknologi mutakhir. Panasonic telah merilis tv LED terbaik yang menawarkan banyak sekali kemudahan serta kecanggihan kualitas gambar yang di dapat contohnya dalam ketahanan kontras dan pencahayaannya dan juga hemat listrik. Pemakaian listrik mencapai 20-30% pada setiap pemakaian LED tv panasonic, sehingga listrik pun terasa akan hemat sekali dibandingkan dengan tv lain yang memang boros terhadap listrik.

Apabila Anda membeli panasonic untuk tv LED Anda di rumah, tentu Anda akan mendapatkan banyak sekali kemudahan serta kepuasan terhadap tv LED panasonic serta berbagai fitur canggih di dalamnya yang telah menggunakan teknologi mutakhir dengan berbagai fitur yang dapat dinikmati bersama keluarga di rumah. Harga LED tv dari panosonic pun terbilang mahal tidak murah pun tidak, namun dapat dikatakan harganya pertengahan. Namun bayangkan saja dengan produk tv LED yang lain memang harganya akan mahal-mahal. Namun produk tv LED dari panasonic memberikan harga yang pas dan cocok bagi keuangan Anda.

Viera HD Black 32 Inch

Cukup dengan uang 2-3 juta Anda sudah bisa mendapatkan tv LED terbaik dari panasonic. Seperti tv LED terbaik Panasonic tipe Viera HD Black dengan ukuran 32 inchi dihargai sebesar Rp. 2.850.000, harga tersebut terbilang cukup murah, karena tv LED dengan ukuran 32 inchi jarang sekali dengan harga seperti demikian. Untuk itu, bagi Anda yang ingin mendapatkan tv LED dengan harga terjangkau, maka tv LED dari panasonic adalah pilihan yang sangat tepat.

Zuck Linn #3: Dompet PHP

Zuck Linn


#3 Dompet PHP

Sesampainya di rumah, Zuck segera masuk kamar dan mengunci diri. Dompet yang tadi diselipkan di celana diambilnya dengan dada deg-degan. Diamati sebentar, lalu dengan tangan kanan mencoba menimbang-nimbang isinya. Lumayan berat. Pasti isinya jutaan nih! Batin Zuck penuh harap dan tak sabar membelanjakannya. Dengan uang itu, Zuck berencana membeli sepatu baru dan mengganti ban motornya. Kalau masih ada sisa akan Zuck gunakan untuk umroh.

"Jangan lakukan! Itu bukan milikmu!" sisi hati baiknya tiba-tiba mencegah.

"Buka saja. Kamu yang menemukannya, berarti sudah menjadi milikmu," lalu setan memprovakasi.

Zuck terdiam bimbang.

"Kembalikanlah kepada yang berhak," bisik malaikat di kuping kanan Zuck.

"Udah cepat buka aja! Kalau nggak sekarang kapan lagi? Kalau bukan kamu siapa lagi?!" di kuping kiri setan terus memanasi.

"Jangan dengarkan dia. Anggap saja itu suara setan!"

"Justru dia yang nggak usah kamu dengerin. Lanjutkan!"

"Jangan!"

"Lanjutkan!"

"Bukan urusan saya!" geram Zuck di dalam benak.

Di saat sisi jahat dan sisi baik hatinya terus bergejolak, Zuck sudah membuka dompet itu lebar-lebar. Seketika matanya membelo. Mulutnya ternganga. Kepalanya gatal.

Ternyata, isi dompet itu berbeda jauh dari angan-angannya. Sangat jauh! Tidak ada uang sepeser pun di dalamnya. Dilihatnya sekali lagi lebih teliti hingga ke sudut-sudut dompet paling terpencil. Tapi tetap tidak ada uang bergambar apapun. Zuck tidak menyerah, ditutupnya dompet itu beberapa saat, lalu kembali dibuka. Sama saja! Masih tidak ada uang. Hanya terdapat sebujur lipgloss.

Dan masih belum percaya dompet semewah itu isinya cuma lipgloss, Zuck membalikkan posisi dompet, digerak-gerakkan ke bawah, berharap ada rupiah ataupun benda berharga runtuh dari dalamnya. Tapi sama saja. Nihil!

"Anjerid! Dompet PHP!" damprat Zuck mencampakkan dompet itu ke dinding, terpental mengenai pojokan lemari, lalu terjun bebas membentur lantai, sebelum akhirnya terpeleset beberapa senti ke bawah meja belajar.

"Mampus!" maki Zuck kepada dompet sekaligus pada dirinya sendiri. Jarum jam di dinding sudah berada di 07.50. Itu artinya ia hanya punya kesempatan 10 menit untuk sampai ke kampus. Dengan panik tak menentu, Zuck berlari ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan cuci ketek.

Ilustrasi gambar dompet keren

--~=00=~-- 

Ayah Rein memang berasal dari pulau Timor. Dulu semasa Timor Timur masih dilanda perang suadara, ia diungsikan ke rumah kerabatnya di pulau Lombok. Beberapa bulan di sana, ayah Rein yang pada masa itu masih pemuda kecil, nekat ikut orang-orang Sasak merantau ke Malaysia. Dan ia bekerja di negeri jiran tersebut hampir sepriode presiden lamanya.

Namun karena datang tanpa dokumen resmi, suatu hari ia kejaring razia Polis Diraja Malaysia dan dideportasi ke Indonesia melalui kepulauan Riau. Di beberapa wilayah propinsi Riau memang kerap menjadi tempat pembuangan TKI ilegal. Makanya jika bertemu orang dari Lombok di sana, kemungkinan besar mereka adalah eks TKI di Malaysia.

Selanjutnya karena tidak memiliki uang untuk kembali ke pulau Timor, ayah Rein terpaksa bertahan di Pekanbaru. Pada akhirnya ia justru betah dan bertemu jodoh di sana. Pun setelah Timor Timur pisahan dengan NKRI dan berubah nama menjadi Timor Leste, ayah Rein memilih menetap di Pekanbaru, walau sesekali jika ada uang dan waktu luang, ia akan pulang ke tanah leluhurnya.

"Tahun 2012 kemarin, ayah meninggalkan Indonesia. Pulang ke Dilly. Setahun kemudian aku disuruh nyusul ke sana," jelas Rein. Ia sedang singgah ke kelas 3 IPS A, kelasnya Linn. Rein sendiri ditempatkan di 3 IPA B.

"Oh iya aku ingat, tahun 2012 di Indonesia emang lagi ramai isu mau kiamat. Pasti keluargamu takut trus pindah ke luar negeri?" tebak Linn.

"Nggak gitu, Linn!" bantah Rein sedikit keki dengan tuduhan Linn. "Kebetulan Ayah emang asli orang Dilly, Ibuku yang dari Dumai."

"Jadi selama ini kamu blasteran?!" Linn mendelik menatap Rein tak percaya. Tiba-tiba ia merasa bagaikan KD dan Rein Raul Lemos-nya.

"Begitulah kira-kira," Rein nyengir bangga sambil memperhatikan Linn dengan seksama. Dua tahun berpisah, ternyata tidak banyak perubahan pada dirinya. "Kamu orangnya monoton ya? Dari dulu gitu-gitu aja. Nggak jelek-jelek."

Linn mesam-mesem malu-malu. "Daripada kamu, nggak konsisten! Perasaan dulu kamu ganteng deh, Rein. Sekarang kok ganteng banget?"

Rein tertawa. Linn turut tertawa. Tidak jauh dari mereka, Yonah dan Dewik seperti menahan muntah menyaksikan tingkah norak Linn.

Bayangan Linn mundur ke masa dua tahun silam, saat awal-awal menjadi murid di SMA Khatulistiwa ini. Pertama kali melihat Rein di MOS, ia langsung suka. Selain ganteng, Rein adalah sosok pemuda pemberani. Berani membantah perintah kakak-kakak senior, bahkan Linn pernah menyaksikan dengan kepalanya sendiri Rein berani menerobos lampu merah. Linn memang unik. Keunikannya itu yang membuat Rein juga menyukai Linn. Sayangnya, belum sempat hubungan mereka lebih dekat, Rein keburu hengkang ke luar negeri.

"Nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi," kata Linn. Suaranya terdengar begitu girang.

"Sama. Aku malah sempat mengira nggak bakal kembali lagi ke tanah air."

"Trus apa yang akhirnya membuat kamu kembali ke Indonesia?"

Rein diam sejenak. "Tapi janji ya jangan bilang siapa-siapa?"

Linn mengangguk-angguk.

"Sebenarnya, aku pulang ke Indonesia hanya demi kamu, Linn," kata Rein dengan suara berbisik.

"Ah masa?" Linn tersenyum kege-eran. Tubuhnya seakan melayang menembus mega-mega.

"Iya. Aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi."

"Aku juga, Rein. Seneng banget."

Keduanya saling senyum.

"Hati-hati sama Linn. Dia udah punyanya Evan!" Yonah yang berada di deretan bangku belakang berteriak memprovokasi.

"Yonah apaan sih?!" Linn menoleh sambil merengut.

"Ciee... Siapa Evan? Pacar, ya?" Rein penasaran dan sedikit cemburu.

"Calon mantan!"


--~=00=~--

Bel pertanda bubaran sekolah berbunyi, yang disambut dengan helaan nafas lega dan sorak-sorak kecil dari berbagai kelas. Tidak sampai semenit, para murid sudah berduyun-duyun keluar kelas lewat pintu-pintu yang telah disediakan.

Di parkiran sekolah, tampak Evan berdiri mondar-mandir menanti pacarnya.

"Alinna!" teriaknya.

Linn yang sedang berjalan bersebelahan dengan Rein itu menoleh, menghadiahi Evan dengan senyum berlesung pipit kebanggaannya. Tapi Evan tidak peduli. Ia lebih peduli dengan cemburu di hatinya melihat Linn bersama Rein. Dan menyadari ada gelagat tidak baik, Rein buru-buru pamit menyingkir.
"Ganjen banget sih jalannya pakai deket-deket dia!" Evan to the point.

"Dia murid baru, sebagai murid lama aku cuma mau membantunya beradaptasi."

"Murid baru dari Hongkong! Kamu pikir aku nggak tau dia dulu pernah sekolah di sini?!" debat Evan sengit.

"Dari Timor Leste, Van. Bukan dari Hongkong!" balas Linn tidak mau kalah sengit.

Evan membuang muka dengan perasaan dongkol. "Tadi pagi kalian akrab banget. Ngobrolin apa aja?"

"Saling tanya kabar."

"Cuma itu?"

"Iya."

"Bohong! Pasti bohong."

"Ada sih. Aku nanya kenapa kembali, trus kata Rein aku mggak boleh bilang ke siapa-siapa, kalau dia sekolah di sini lagi hanya demi aku, Van. Gitu," kata Linn sambil tersenyum tanpa dosa.

Wajah Evan bertambah masam. Kemudian tanpa sepatah kata, bergegas meninggalkan Linn dengan langkah-langkah menghentak.

"Dasar jailangkung, semaunya aja datang dan pergi!" gerutu Linn mengiringi kepergian Evan.

"Evan kenapa? Kayaknya kesel banget?" tanya Yonah yang baru saja tiba di parkiran bersama Dewik.

"Tau tuh. Cemburuan banget!"

"Kamunya juga sih seharian deket-deket Rein terus. Wajarlah dia cemburu."

"Nah udah tau kenapa masih nanya?" Linn balik bertanya. "Lagian emang jauh lebih nyaman sama Rein."

Yonah menggeleng-gelengkan kepala. "Diputusin baru tau rasa kamu, Linn!"

"Iya. Dan rasanya itu pasti plong banget diputusin manusia posesif kayak dia," sahut Linn enteng. Aslinya ia memang sudah tidak betah berpacaran dengan cowok yang galaknya nyaingin ikan hiu itu.

"Curiga ini nanti ending-nya bakal mirip dua bulan kemarin. Kamu diputusin Bang Rudi tukang antar galon, gara-gara kamu kecantol si Andre, tukang antar galon baru."

"Ya ampun, Yonah, kamu masih ingat mereka? Aku aja udah lupa. Move on dong, move on! Hahaha," kata Linn sambil tertawa keras.

"Dasar!" semprot Yonah menoyor bahu Linn. Kadang Yonah tidak habis pikir, sahabatnya satu ini bisa bentar-bentar ganti pacar. Mantan pacarnya banyak. Entah apa motivasinya. Padahal mantan yang banyak juga tidak akan dibawa mati.

"Eh temenin ke pasar pusat dong. Tadi pagi Ibu nitip beliin sapu ijuk," Dewik mengubah topik.

"Ke pasar Sail aja. Kemarin aku shopping ke sana sama Mbak Uci, sumpah ada tukang parkirnya yang ganteng banget!" sahut Linn penuh gairah.

Yonah menepok jidat. Dewik melirik Linn sebentar, kemudian menggeleng sambil tersenyum-senyum tipis.

"Tapi lipgloss aku mana nih?" Linn sibuk mengobok-obok isi tas. "Kok nggak ada?"

"Emang kamu taruh di mana?" tanya Yonah.

"Di dompet."

"Kok nyarinya di tas?"

"Dompetnya di dalam tas. Beneran ilang nih lipgloss aku. Mamaa..." Linn mulai panik, tangannya terus mengobok-obok, matanya ikut melongok ke dalam tas. "Gimana nanti ketemu abang tukang parkir kalau bibir kering begini?"

"Kalau cuma bibir biar keliatan basah, gampanglah ntar di jalan makan gorengan dulu," kata Yonah memberikan solusi.

"Yonaaah!!" teriak Linn ngamuk. Sudah tahu situasi lagi genting masih saja mencari gara-gara.


Yonah tertawa sebentar. "Gini deh, Linn. Menurutku, kalau kamu tadi naruh lipgloss-nya di dompet, sebaiknya nyarinya juga di dompet, jangan di tas."

"Dompetnya nggak ada!"

"Berarti lipgloss-nya nggak ilang, dompet kamu tuh yang ilang?!"

"Ha!" Linn memandang Yonah kaget. Seperti tersadar dari mimpi buruk. "Iya dompetku?! Ya ampun dompetku!" Linn kembali mengubek-ngubek isi tas dengan gerakan lebih gegabah. Tapi dompetnya memang tak ada.

"Nah kan?"

"Aduh... Dompet itu berarti banget buatku, Yonah. Udah kuanggap seperti adik kandungku sendiri, kalau hilang pasti aku dimarahin Mama karena dianggap nggak bisa menjaganya dengan baik."

"Tenang dulu, Linn, tenang. Nggak usah drama. Coba diingat-ingat kapan terakhir kali kamu bersamanya?"

"Tadi pagi aku masih ketemu dia. Aku masukin baik-baik ke dalam tas ini."

"Terus?"

"Terus nggak tau, kalau ingat ngapain aku sepanik gini?!" kata Linn hampir menangis.

"Pantesan gampang banget ngelupain mantan, dompet sendiri aja bisa lupa!" sesal Yonah melirik Linn. Kasihan. Cantik, muda, anak orang kaya, tapi pikun!

"Di jalan tadi, nggak mampir-mampir beli sembako atau apa gitu?" tanya Dewik.

Linn diam termenung. Menyandarkan keningnya ke tembok. Berharap dengan ritual tersebut bisa mengingat keberadaan dompetnya. Dan ternyata manjur! "Ah, iya! Di sebuah toko di daerah Kubang. Tadi pagi beli pulsa, kayaknya belum aku masukan lagi?"

"Yaudah, sekalian ke pasar, kita samperin ke sana. Ayok berangkat sekarang juga. Mumpung Linn masih ingat!" seru Yonah memberi komando.

--~=00=~--

Zuck Linn #2: Alinna Bilqis Quinova


#2 Alinna Bilqis Quinova

SMA Khatulistiwa. Begitu yang tertulis di tembok papan nama. Sekolahnya sudah maju. Bangunannya kokoh, atapnya tak ada yang bocor, ada kantinnya, muridnya banyak dan semuanya memakai sepatu. Seluruh ruang-ruang kelas dibangun sama, dari ukuran, bentuk, jumlah jendela hingga model pintu tidak ada yang dibeda-bedakan demi mencegah timbulnya kecemburuan sosial antar kelas.

Yang kelihatan berbeda adalah bangunan kantor, aula, lab, mushalla dan perpustakaan. Ukuran mereka lebih besar dibanding bangunan kelas-kelas. Sedangkan yang paling berbeda cuma ruang keamanan di samping gerbang. Bentuknya kecil dan terasing mirip pos satpam.

Di koridor kelas pagi itu, tampak seorang siswi sedang berjalan ke depan. Langkahnya teratur dari kanan kemudian yang kiri dengan kaki menapak tanah.

"Linn!"

Langkah siswi cantik yang ternyata bernama Linn itu terhenti. Meski sudah hapal siapa yang memanggilnya barusan, cewek yang bernama komplit Alinna Bilqis Quinova itu tetap memutar badan untuk melihat dua sahabatnya melangkah menyusulnya. Dari dua orang sahabat itu, yang di sebelah kirinya Yonah bernama Dewik, sementara yang di sebelah kanannya Dewik namanya Yonah. Mereka merupakan sahabat baik Linn, baik di sekolah maupun di manapun.

Mereka bertiga telah berteman sejak saling kenal. Karena bertetangga, Yonah dan Dewik sudah saling kenal sejak kecil. Kalau Linn, baru pada kelas 3 ini kenal dekat dengan Yonah dan Dewik. Dulu ketika kelas 1 dan 2 ketiganya tidak sekelas.

Alinna Bilqis Quinova

Di antara mereka Linn yang paling cantik. Tampangnya semi oriental dan cover girl banget. Berambut panjang hitam dan bagus, cocok jadi bintang iklan shampo pembasmi kutu rambut. Kalau lagi senyum, wajahnya yang sudah cantik itu akan semakin menawan dengan munculnya lesung pipi di pipinya. Tapi meskipun yang paling cantik, dari ketiganya Linn lah yang paling tajir. Punya orang tua yang kaya. Bapaknya seorang pengusaha sukses, sementara Ibunya istri seorang pengusaha sukses.

"Denger-denger ada murid baru?" tanya Linn begitu Yonah dan Dewik berhasil menyusulnya.

"Bukannya banyak? Itu anak-anak kelas satu murid baru semua," jawab Yonah berdasarkan fakta ini baru saja memasuki tahun ajaran baru.

"Serius kenapa sih? Masih pagi gini," sungut Linn atas sikap Yonah yang pagi-pagi sudah berupaya memancing keributan.

"Kabarnya sih iya, pindahan dari luar negeri," celetuk Dewik, menatap dua temannya itu sebentar.

Yonah dan Linn saling pandang antusias.

"Dari Timor Leste," lanjut Dewik.

Linn melengos. Yonah tertawa entah kenapa.


Dan walaupun baru, sepertinya murid yang tengah mereka perbincangkan akan berumur panjang. Sosoknya tiba-tiba muncul dari dalam kantor kepala sekolah. Ia tampak menoleh ke sana kemari mengamati keadaan, sebelum kemudian berjalan menyebrangi lapangan. Di tengah lapangan, mendadak perjalanannya terhenti, tatapannya tepat ke arah Linn dan dua rekannya berada. Linn memperhatikan baik-baik. Kening mulusnya berkerut, seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu.

"Dia kayak Rein, yang dulu kelas satunya di sini? Iya, Rein! Ah itu sih bukan murid baru!" seru Linn gembira.

"Iya, bener. Pasti masih ada kotaknya kalau baru," jelas Yonah nggak jelas.

Tapi tidak ada yang memperdulikan becandaan garing Yonah. Terutama Linn, perhatiannya tertuju sepenuhnya ke arah murid baru, yang untuk beberapa saat masih berdiri mematung di tengah lapangan mirip orang-orangan sekolah, sebelum akhirnya kembali meneruskan perjalanan dengan langkah lebih cepat. Dari kejauhan, ia sudah tersenyum lebar seraya melambaikan tangan. Linn langsung membalasnya. Dewik menoleh ke kanan kiri dan belakang, khawatir lambaian itu bukan dipersembahkan untuk mereka.

"Alinna!" seru Rein sesampainya di depan Linn.

"Rein?! Kamu sekolah di sini lagi?" sambut Linn dengan wajah sukacita.

Rein mengangguk-angguk sambil mengulum senyum. Dipandangnya Yonah dan Dewik sebentar, juga menganggukkan kepala untuk memberi salam.

--~=00=~--

Zuck Linn #1: Bangun Siang Kepagian


#1 Bangun Siang Kepagian

07:26

Mata Zuck yang tadinya menyipit-nyipit menahan kantuk, langsung terbelalak begitu melihat angka itu di jam tangan digital-nya. Bergegas ia singkirkan selimut dan duduk dari tidurnya. Ia kesiangan! Ini gara-gara tadi malam nonton bareng liga Champions Afrika sampai jam dua pagi. Sudah begitu karena malas pulang, ia terpaksa menginap di rumah Jabon.

Padahal tadi malam sebelum tidur, Jabon sudah setuju saat Zuck meminta dibangunkan jam enam. Tapi bahkan sampai lebih jam tujuh saat ini, sahabatnya itu masih terlelap sambil mengeloni guling.

"Bon! Bangun," Zuck mengguncang badan Jabon berulang-ulang.

Perlahan badan Jabon bergerak. Posisi tidurnya berubah telentang, kemudian mengulet tapi dengan mata masih terpejam.

"Bangun, Bon. Mana nih janjinya mau bangunin aku? Ayo cepet bangunin!" tagih Zuck kembali mengguncang-guncang tubuh Jabon lebih bertenaga.

"Apaan sih? Gangguin orang aja," protes Jabon setengah sadar, memancal selimut dan menariknya hingga menutup sekujur tubuh, lalu tak bergerak lagi persis jenazah.

"Bon...." Zuck melongo tak percaya. "Gara-gara kamu nggak bangunin aku jadi kesiangan bangun pagi."

"Justru gara-gara kamu hari ini aku jadi bangun siang kepagian!" balas Jabon mengeluarkan protes dari dalam selimut.

"Huh! Dasar nggak bisa diandelin. Tau gini mending tadi malam nge-set alarm aja!" omel Zuck melempar Jabon dengan sarung bantal beserta isinya, kemudian tergopoh-tergopoh meninggalkan kamar.

Ilustrasi gambar Matahari tersenyum

Pagi yang telah benderang menyambut Zuck begitu ia membuka pintu. Suasana sudah cukup sibuk. Dari tetangga kanan kiri terdengar suara-suara mesin kendaraan tengah dipanasi. Di jalan juga sudah banyak orang berlalu lalang dengan urusan masing-masing.

Tergesa Zuck mengeluarkan RX-King-nya dari garasi rumah Jabon. Tergesa juga ia mengengkol-engkol motor itu dan baru hidup pada engkolan kedelapan belas. Lalu tanpa sempat dipanasi, langsung dipacunya pulang dengan kecepatan tinggi. Ia harus menang melawan waktu. Setelat-telatnya setengah jam dari sekarang, ia harus sudah berada di kampus. Ada kuliah algoritma dan pemograman yang dibawakan Pak Kamal, dosen yang tak pernah mengampuni mahasiswa yang jika masuk kelas lebih terlambat darinya!

Dalam perjalanan, di tengah konsentrasinya menyetir, Zuck merasa mendadak ban belakang motornya berat dan sedikit oleng. Dengan perasaan was-was Zuck menginjak rem dan melepas tarikan gas.

Dan benar saja, saat ia turun untuk memeriksa, ia menemukan sebuah paku tertancap di ban!

Bugh! Spontan Zuck menendang ban motornya saking kesalnya. Motornya diam saja tak melawan, justru ujung sepatu Zuck yang sukses jebol menganga.

"Sial!" Emosi Zuck bertambah parah. Kali ini jok motor yang jadi sasaran. Ditamparnya keras hingga meninggalkan bekas tangan.

"Huft!"

Sesaat Zuck menghela napas panjang. Tiba-tiba ia merasa kasihan. Ini bukan salah motornya. Ini resmi salah Jabon! "Kenapa dia ingkar sama janjinya bangunin aku? Kenapa dia nggak melarangku nginep di rumahnya?! Kenapa?!" omel Zuck mendongak ke langit.

Setelah mengusap-usap bekas tamparan di jok dengan perasaan haru, Zuck menuntun motor malang itu berjalan di sisinya. Ia berharap ada tukang tambal ban yang sudah buka praktek sepagi itu. Beruntung tidak terlalu jauh dari TKP, ia menemukan apa yang diharapkannya tersebut.

"Enggak, enggak! Jelas-jelas ban udah bocor begini masa masih merasa beruntung?! Apaan?! Ini tetap sial. Apes!" Zuck terus mengoceh menyalahkan keadaan. Malah sempat muncul pikiran buruk, bahwa tukang tambal ban itu yang sengaja tebar paku di jalanan.

Baca Juga: Hiroshima Hancur Karena Bom, Warung Hancur Karena Bon

Dan menunggu ban motornya ditambal, Zuck pergi ke sebuah toko di sebelah bengkel. Kondisi keuangannya yang sangat payah, membuatnya hanya mampu membeli sebiji air minum kemasan gelas. Plastik penutupnya Zuck sobek lebar-lebar, lalu memanfaatkan sebagian besar isinya untuk cuci muka, sementara sisanya Zuck minum hingga tetes terakhir. Setelah itu ia duduk di trotoar depan toko. Wadah air minum yang telah kosong diletakkan begitu saja di depan kakinya.

Tapi kurangnya tidur, kegelisahan diburu waktu, serta perasaan kecewa akibat kekalahan tim jagoannya tadi malam, membuat tampang Zuck tetap berantakan dan tak sedap dipandang meski sudah dicuci dengan air mineral. Lusuh!

Tampang lusuh itu masih ditambah dengan cara berpakaiannya yang sangat tidak modis. Berupa jaket hitam kekuning-kuningan karena kusam, serta bawahan celana jeans lecek yang pada bagian dengkulnya sengaja disobek-sobek. Sepatunya juga sudah usang dan tampak koyak hasil dari menyepak ban motor tadi. Dengan tampang dan penampilan seperti itu, sebenarnya Zuck lebih terlihat seperti gelandangan kepagian daripada seorang manusia biasa. Serius. Ngakunya saja mahasiswa!

Tak lama berselang, Zuck melihat sebuah motor matic berhenti di depan toko. Pengendaranya yang seorang cewek berbusana SMU itu turun mendatangi toko.

"Bang, ada pulsa?"

"Tapi yang elektrik habis. Tinggal yang vouceran."

"Nggak masalah, Bang. Pulsa kiloan juga nggak apa-apa, yang penting pulsa saya keisi. Butuh cepet nih," kata remaja paruh baya itu tersenyum begitu manis.

"Ck! Udah cantik, ada cacatnya pula," Zuck sampai berdecak kagum dan bergumam tanpa sadar menyaksikan senyum itu. Selain manis, dilengkapi juga dengan lesung pipi yang imut dan menggemaskan.

Si cantik mengeluarkan dompet mewah dari dalam tas sekolah. Dibuka perlahan dan matanya tampak mencari-cari sesuatu di dalamnya. Tapi ia menggeleng. Zuck menduga mungkin isinya poundsterling semua, sehingga tidak laku digunakan di toko kecil seperti itu. Dompet itu kembali ditutup dan diletakkan begitu saja di antara tumpukan snack. Cewek itu merogoh tas sekali lagi mengambil dompet cadangan. Dari dompet ke dua itulah, ia berhasil mengambil selembar uang dan diserahkan ke pemilik toko.

Setelah pulsanya terisi, ia tampak menghubungi seseorang, berbicara, tertawa-tawa, dan Zuck tidak sudi memperhatikannya lagi. Bodo amat! Nasibnya sendiri masih belum jelas. Waktu kuliah tinggal tidak sampai setengah jam, sementara ia masih bengong di pinggir jalan menanti ban bocornya ditambal.

"Arghhh..." Zuck tertunduk lesu mengacak-acak kepalanya menumpahkan kekesalan. Rambutnya semakin semrawut. Ada yang mencuat ke langit, ada yang ambruk menutupi wajah, ada juga yang rontok bersama ketombe ke permukaan tanah.

KLIK!

Zuck sedikit kaget. Menengok ke sumber suara. Mendadak ia merasa hina. Ia tersinggung. Ingin marah. Gelas kosong bekas air minumnya tadi, baru saja dijatuhi dua buah koin limaratusan oleh seseorang! Zuck mendongak, ingin tahu siapa yang barusan telah dengan kejam menganggapnya sebagai pengemis! Terlihat, cewek yang tadi membeli pulsa pergi dari arah dirinya. Pasti dia!

Tapi belum sempat Zuck berbuat sesuatu untuk mengembalikan nama baiknya, cewek itu sudah melesat pergi dengan motor matic-nya.

Tanpa sengaja mata Zuck melihat dompet cewek tadi masih tertinggal di antara tumpukan snack. Zuck deg-degan. Setelah celingak-celinguk memastikan tak ada orang melihat, Zuck memungut uang santunan di dalam gelas, kemudian dibawanya kembali ke toko.

"Bang, beli ketumbar seribu," kata Zuck modus mengalihkan perhatian sang pemilik toko.

Si Abang menuju rak rempah-rempah. Di saat itulah, dengan gesit Zuck menyambar dompet cewek tadi yang tertinggal. Lima detik kemudian barang tersebut telah aman di balik bajunya.

"Nih, Bang," Zuck membayar pembelian ketumbar.

Entah karena curiga duit receh dari Zuck uang palsu atau apa, si pemilik toko tampak mengamati uang itu cukup lama.

"Ini kok mirip duit kembalian saya untuk anak SMA tadi?"

Zuck pura-pura tak mendengar dan buru-buru pergi.
--~=00=~--