Menikmati Debur Ombak dan Mitos-mitos Mistis Pantai Watu Ulo

Pantai Watu Ulo sudah lama menjadi ikon wisata kabupaten Jember. Di pantai ini, terdapat ciri khas berupa batu-batu tersusun memanjang ke arah laut yang strukturnya menyerupai sisik-sisik ular raksasa.

Jauh sebelum aku mengunjungi pantai ini, bahkan sejak aku masih kelas satu SMA di salah satu Madrasah Aliyah di provinsi Riau, aku sudah kerap mendengar tentang keindahan pantai Watu Ulo. Tentang ombaknya yang besar, deretan batu yang persis anatomi tubuh ular besar, ramainya pantai ini saat hari libur lebaran, dan tentang ritual Larung Sesaji di setiap lebaran ketupat. Semua itu kerap diceritakan dengan apik oleh para perantau asal Jember, yang banyak bekerja di perusahaan-perusahaan kelapa sawit di sekitar tempat tinggalku di Riau.

Jalan-jalan ke Pantai Watu Ulo Jember
 Di belakangku itulah wujud Watu Ulo.

Saat itu aku hanya bisa menyimak dengan ekspresi mupeng kurang piknik, tanpa pernah berpikir akan bisa mengunjunginya. Maklumlah, Pekanbaru - Jember bukanlah jarak yang bisa ditempuh hanya dalam durasi sejam dua jam. Dan tentu aku akan berpikir ribuan kali, jika ke Jember hanya untuk urusan liburan. Bukan karena aku nggak suka jalan-jalan. Tapi jarak dan kondisi finansial yang sangat tidak memungkinkan.

Maka ketika beberapa waktu lalu aku bisa menjejakkan kaki di pantai berpasir vulkanis berwarna kehitam-hitaman ini, ada sedikit rasa haru dan rada-rada tak percaya. Akhirnya, sampai juga di tempat yang dulu rajin mereka promosikan.

Aku ke sini bareng tiga teman dari Surabaya dalam rangka explore santai pantai-pantai laut selatan regional Jember. Salah satu dari tiga teman tadi kebetulan asli pemuda Jember. Jadi selama dua hari ngetrip, dia yang menjadi pemandu. Kami juga menginap di rumahnya.

Tiga pantai berhasil kami jelajahi, yaitu Pantai Watu Ulo, Pantai Tanjung Papuma dan Pantai Payangan dengan panorama Teluk Love-nya yang eksotis itu. Kebetulan ketiga pantai tersebut letaknya saling berdekatan. Jadi rugi besar, kalau sudah kadung berkunjung ke salah satunya, tidak sekalian ke dua pantai yang lainnya.

Alamat Pantai Watu Ulo ada di desa Sumber Rejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jatim. Dari pusat kota Jember, butuh waktu tempuh sekitar 45 menit berkendara kuda besi ataupun mobil. Tiket masuk ke pantai Watu Ulo waktu aku ke sana, mungkin karena sedang libur panjang atau memang sudah naik, harganya Rp 10.000 per orang. Padahal menurut teman yang asli Jember, biasanya cuma Rp 7.500. Tapi kalau mau datang setelah jam lima sore, tidak akan dikenakan biaya. Di jam tersebut, loket sudah tutup dan pengunjung bebas masuk gratis.

Harga tadi belum termasuk tiket untuk kendaraan. Besarnya Rp 5.000 untuk sepeda motor dan Rp 10.000 untuk mobil. Dan saat itu aku masih kena biaya parkir lagi sebesar Rp 2.000. Cukup mahal untuk ukuran pantai yang menurutku biasa-biasa saja. Ya, memang biasa saja. Kalau disuruh menilai, dari lima bintang Watu Ulo kuberi tiga bintang.

Pasir Pantai Watu Ulo yang unik berwarna hitam
 Santai kayak di pantai!

Yang membuat pantai ini terkenal adalah adanya tumpukan batu-batu yang memanjang menjorok ke laut. Panjangnya sekitar 500 meter. Begitu rapinya susunan batu tersebut sehingga menyerupai ular raksasa yang terkutuk menjadi batu. Hal itu pula yang membuat pantai ini dinamakan Watu Ulo. Dalam bahasa Indonesia, Watu artinya batu, dan ulo artinya ular.

Seperti berbagai tempat lainnya di tanah air, yang nama tempatnya sering dikaitkan dengan legeda cerita rakyat, pantai Watu Ulo juga demikian. Terdapat berbagai cerita mitos tentang asal-usul Pantai Watu Ulo. Salah satunya tentang pertarungan Raden Mursodo melawan Rojo Nogo (Raja Naga).

Jadi begini ceritanya, alkisah pada zaman dahulu kala jauh sebelum ada acara mancing mania, wilayah laut selatan dikuasai oleh ular raksasa bernama Nogo Rojo. Ikan-ikan dan berbagai biota laut di kawasan tersebut nyaris punah dijadikan makanan sehari-hari oleh sang raja naga. Hal ini menyebabkan masyarakat yang mencari ikan di sana sulit mendapat hasil.

Termasuk dua pemuda bersaudara bernama Raden Mursodo dan Raden Said (Sunan Kalijaga), yang pada suatu hari yang cerah, memancing di tempat itu. Sudah berjam-jam mereka mengail, tapi tak seekor pun mereka dapatkan. Hingga kemudian di saat mereka sudah hampir putus asa, tiba-tiba kail milik Raden Mursodo disambar ikan.

Ikan yang memakan umpan Raden Mursodo disebut ikan raja Mina dan memiliki kemampuan bicara layaknya manusia. Ikan Mina memohon kepada Raden Mursodo agar dilepaskan. Ia tak ingin mati dijadikan sambel. Sebagai imbalannya, ikan Mina akan menghadiahi Raden Mursodo sisik yang bisa berubah menjadi emas. Raden Mursodo tergiur. Dan setelah deal, Raden Mursodo melepas kembali ikan itu ke air laut.

Tapi sayang, baru saja dilepas, ikan Mina langsung disambar dan menjadi santapan empuk Nogo Rojo. Mengetahui hal itu, Raden Mursodo marah bukan kepalang. Sontak ia terjun ke laut. Ia mengamuk dan membacok tubuh ular raksasa itu berkali-kali. Hingga akhirnya, Nogo Rojo tewas dengan badan termutilasi menjadi tiga bagian.

Potongan-potongan tubuh itu kemudian terpencar terbawa gelombang. Bagian kepala nyangkut di Gerajagan Banyuwangi, bagian ekor di Pacitan, sementara bagian badan terdampar di Jember, yang saat ini telah membatu dan menjadi objek wisata.

Tapi ada kisah lain yang hampir mirip tapi dengan tokoh yang sedikit berbeda. Di cerita yang ini, saudara Mursodo bukanlah Raden Said, melainkan Joko Samudera.

Diceritakan Mursodo adalah anak angkat pasangan suami istri, Aki dan Nini Sambi, yang memiliki anak kandung bernama Joko Samudera. Setiap hari Mursodo dan Joko Samudera bergantian memancing ikan untuk kebutuhan lauk sehari-hari.

Suatu hari saat Mursodo memancing, ia mendapat seekor ikan yang dijuluki Raja Mina. Ikan tersebut memelas meminta dilepas. Raja Mina berjanji akan mengabulkan apapun permintaan Mursodo asal ia dibebaskan. Karena kasihan, Mursodo akhirnya mengembalikan ikan Mina ke habitatnya.

Ketika Mursodo pulang dengan tangan hampa dan menceritakan kejadian tadi kepada orang tua angkatnya, Aki Sambi langsung memarahi Mursodo. Aki Sambi menilai Mursodo sangat goblok karena melepas kembali ikan yang telah didapat.

Kasihan melihat saudara angkatnya dimarahi, Joko Samudera bergegas ke laut. Ia ingin memancing untuk mengganti ikan yang Mursodo lepaskan. Berjam-jam memancing, bukan ikan yang Joko Samudera dapatkan, justru seekor ular raksasa. Ular yang kesakitan terkena mata pancing, mengamuk dan menyerang Joko Samudera. Terjadilah perkelahian sengit Joko Samudera VS Ular Raksasa.

Mursodo yang mengetahui saudaranya tengah terdesak diserang naga laut, meminta bantuan ikan Raja Mina. Oleh Raja Mina, Joko Samudera diberi sebuah cemeti. Bersenjatakan cemeti itu, akhirnya Joko Samudera berhasil mengalahkan Nogo Rojo. Cambukan cemeti Joko Samudera, membuat tubuh ular raksasa terbalah menjadi bagian.

Versi lain menceritakan bahwa deretan batu di pantai Watu Ulo adalah jelmaan seekor ular naga, yang diperintahkan oleh Ajisaka untuk bertapa. Suatu saat nanti, naga tersebut akan bangun dari semedinya dan berubah wujud menjadi manusia. Setelah menjadi orang, ia dipercaya akan menjadi pemimpin Indonesia yang adil dan disegani.

Itulah beberapa cerita sejarah asal-usul pantai Watu Ulo. Silakan mau percaya atau tidak.

Objek Wisata Pantai Watu Ulo begitu ramai saat musim libur lebaran
 Bercanda ria bersama sahabat. :)

Di Jember kemarin, hanya sekitar sejam saja aku mampir di Pantai Watu Ulo. Pasirnya berwarna agak kehitam-hitaman. Mungkin karena terlalu berjemur atau entah kenapa. Ombaknya memang cukup ganas, sehingga tak ada pengunjung yang berani mandi, dan memang ada peraturan yang melarang untuk itu. Di tepi pantai, orang-orang hanya bermain kejar-kejaran dengan ombak atau berfoto-foto.

Di atas Watu Ulo-nya, sebenarnya juga ada papan peringatan melarang naik sampai ke ujungnya, tapi orang-orang sepertinya tak mengindahkan peraturan itu. Masih banyak yang nekad berswafoto hingga ke ujung Watu Ulo yang langsung berhadapan dengan ombak laut selatan. Padahal cukup beresiko. Bisa saja tanpa disangka-sangka datang ombak yang besar dan mencelakai mereka.

Selama kurang lebih satu jam itu, kegiatan yang kami lakukan hanyalah ngopi-ngopi ganteng di bawah pohon, sambil menyaksikan ombak bergulung-gulung di kejauhan, ngobrolin pantai Watu Ulo yang menurut penjual kopi kalau malam minggu kerap dijadikan tempat maksiat. Sempat mendekat sebentar ke ujung pantai untuk berfoto-foto dan bikin video ala kadarnya untuk kenang-kenangan di masa-masa mendatang.

Itulah sedikit cerita traveling kami ke Jember saat singgah di Pantai Watu Ulo. Cukup seru walau cuma sebentar. Dengan ini, bertambah satu lagi tempat ternama di tanah air yang pernah aku singgahi. Sekaligus memperkaya pengetahuanku akan cerita-cerita rakyat tentang asal-usul suatu tempat. Setelah itu, perjalanan kami berlanjut ke Tanjung Papuma, yang lokasinya hanya beberapa menit dari Watu Ulo.

Terima buat kasih teman-teman sudah membaca tulisan ini sampai khatam. Ayo main ke sini. Tak perlu kuatir, meski di pantai Watu Ulo bagusnya tidak bagus-bagus banget, di sekitarnya masih ada Tanjung Papuma dan Teluk Love, yang bagusnya bikin tak mau pulang!

Happy Traveling. ^^

Baca Juga: Melihat Langsung Cantiknya Teluk Love Pantai Payangan Jember

Jangan Lewatkan

6 comments:

  1. lokasinya Instagramable banget nih buat spot foto ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan, Gan. Tergantung skil motretnya juga sih. 😁

      Delete
  2. Inilah kelemahan pengelolahan tempat wisata dinegara kita. Kadang tidak ada patokan resmi harga tiket masuknya. Warga setempat atau pengelolanya asal ketok harga. Kalau ditempatku, wisata pantai masuk gratis hanya bayar uang parkir saja lima ribu rupiah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Gan. Padahal yang rugi mereka sendiri kalau begitu caranya. Jadi tidak mau berkunjung lagi...

      Delete
  3. Ternyata jaman dulu mancing gak segampang jaman Mancing Mania.
    Kalau dilihat dari fotonya, terlihat pantainya bersih gak ada sampah. Keren..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Pantainya lumayan bersih, Mas. Ayo berkunjung. πŸ˜‰

      Delete

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.