Hal-hal yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Pendakian Gunung Semeru

Kawasan Gunung Semeru, yang meliputi Ranu Pani, Ranu Kumbolo, Oro-oro Ombo, Padang Savana, Hutan Cemara dan puncak Mahamerunya yang dihiasi letusan Jonggring Seloka setiap setengah jam sekali, memang senantiasa menarik hati traveller manapun untuk menjelajahi setiap jengkal keindahannya. Setiap musim pendakian dibuka, pengunjung TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) ini selalu membludak. Padahal untuk ke sini dibutuhkan biaya yang tidak sedikit apalagi bagi wisatawan luar Jawa Timur. Fisik dan mental musti dipersiapkan dengan baik. Selain itu, Gunung Semeru juga memiliki berbagai bahaya dan pantangan yang pantang dilanggar!

Di artikel sebelumnya, aku sudah publish mengenai bahaya-bahaya yang ada di Gunung Semeru. Hari ini giliran pantangan atau hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama melakukan pendakian.


Puncak Gunung Semeru dari kejauhan

Tanah air Indonesia ini memiliki banyak gunung yang mana setiap gunung memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Karena itu, peraturan pendakiannya juga berbeda-beda. Bisa saja aturan yang ada di Gunung Arjuno tidak berlaku di Gunung Rinjani. Sesuatu yang di Gunung Semeru menjadi pantangan, di Gunung Merapi justru boleh dilakukan.

Selain kode etik dasar berpetualang alam yang berbunyi: -Jangan mengambil apa pun kecuali gambar, jangan meninggalkan apa pun kecuali jejak, jangan membunuh apapun kecuali waktu-, mendaki Gunung Semeru masih memiliki banyak pantangan yang harus diketahui dan tentu saja harus wajib musti dipatuhi. Berikut ini penjelasannya:

  • Jangan mendaki Semeru secara ilegal tanpa mendaftar/registrasi dan membeli tiket. Petugas TNBTS tidak akan bertanggung jawab jika pendaki yang nyelonong tanpa mengantongi izin itu mengalami hal-hal yang tak diinginkan.
  • Tidak boleh mendaki melalui jalur lain selain Watu Jereng. Hingga saat ini, Watu Jereng adalah satu-satunya jalur resmi pendakian Semeru. Nggak usah sok-sokan membuka jalur baru atas alasan apapun!
  • Tidak diizinkan mendaki hingga ke puncak Mahameru. Batas akhir pendakian adalah kawasan Kalimati. Pendaki yang nekat sampai puncak, tidak akan mendapat asuransi andai mengalami kecelakaan, luka-luka atau bahkan tewas.
  • Dilarang memulai pendakian dari basecamp Ranu Pani saat malam hari. Maksimal start adalah jam 16.00 alias jam empat sore, bersamaan dengan tutupnya kartor TNBTS resort Ranu Pani.

Padang Savana Gunung Semeru


  • Dilarang berjalan sendirian. Biasanya pendaki yang jalan sendirian itu bukan karena jomblo, tapi karena sengaja memisahkan diri dari rombongan, tidak sabar ingin cepat-cepat sampai tujuan. Bahayanya berjalan sendiri itu kalau tiba-tiba terperosok ke dasar jurang yang dalam siapa yang tahu. Kalau tertimpa batu, batang pohon atau longsoran tanah, tidak akan ada yang segera memberikan pertolongan pertama. Trekking sendirian juga berpotensi diserang hewan buas. Yang paling menyeramkan, saat mengalami disorientasi pandangan karena kelelahan, pendaki yang berjalan sendirian bisa mudah tersesat, mengira jalur yang dilalui adalah jalur yang benar. Atau merasa seolah-olah mengikuti pendaki yang ada di depannya, padahal itu hanya ilusi.
  • Jangan sombong, bangga dengan kemampuan fisik sendiri, apalagi mengganggap Gunung Semeru hanyalah tantangan kecil. Pada saat aku mendaki, ada dua pendaki yang mengalami longsoran batu, yang satu meninggal yang satunya lagi luka berat. Nah kata bapak-bapak yang jualan makanan, pendaki yang mengalami cidera itu, sebelumnya sempat sesumbar akan menakhlukkan puncak Semeru dengan mudah. Nyatanya justru dia sendiri takhluk dipecundangi Semeru. Jangan lupa, alam memiliki caranya sendiri untuk mengalahkan kesombongan manusia.
  • Jangan mengucapkan kata-kata kotor. Bukan berarti tidak boleh ngomong, "Hei itu matrasmu kotor!" Bukan gitu. Maksudnya kata-kata kotor seperti mengumpat, memaki, misuh-misuh. Dan yang paling pantang, jangan berbicara mesum, apalagi berbuat!
  • Selama mendaki, jangan memetik, memutes, memotong dan mencabut tumbuhan-tumbuhan yang ada di kawasan Gunung Semeru.
  • Dilarang berburu, menangkap apalagi melukai satwa-satwa yang ada di kawasan Gunung Semeru.

Lokasi Kampung Ranu Kumbolo


  • Dilarang mendirikan tenda selain di areal-areal kemping yang telah ditentukan. Camp area yang disediakan ialah di sebelah utara dan barat Ranu Kumbolo serta di kawasan Kalimati.
  • Dilarang mandi di Ranu Kumbolo. Baik mandi di pinggiran dengan cara airnya diciduk apalagi mandi langsung jeguran ke dalam danau. Airnya sangat dingin. Kedalamnya juga misterius. Selain demi keselamatan, larangan berenang ini juga demi menjaga ekosistem danau.
  • Selama kemping di tepi danau Ranu Kumbolo, pengunjung dilarang memancing ikan apalagi memancing keributan.
  • Dilarang cuci muka di Ranu Kumbolo menggunakan sabun, facial foam, detergen dan berbagai pembersih yang mengandung bahan kimia. Bahan-bahan kimia yang terkandung dalam busa sabun bisa mencemari air danau. Sekedar membasuh muka masih dibolehkan.
  • Tidak boleh gosok gigi menggunakan odol di tepi Ranu Kumbolo. Kalau mau sikat gigi, lakukan di lokasi yang jauh dari danau.
  • Tidak diizinkan mencuci peralatan masak dan peralatan makan di air danau. Hal ini untuk mencegah semakin tercemarnya air Ranu Kumbolo oleh minyak dan busa sabun dari peralatan yang dicuci.
  • Dilarang membawa tisu basah. Kebanyakan pendaki membuang sembarangan tisu basah sehabis mereka gunakan, tidak dibawa turun kembali, sehingga menyampahi kawasan Semeru.
  • Dilarang membuat api unggun selama pendakian. Sisa kayu, arang dan abu api unggun akan mengotori kawasan Gunung Semeru. Peraturan ini juga untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan.
  • Bagi perokok, jangan membuang putung rokok sembarangan. Selain mengotori lingkungan, sembrono membuang potong rokok bisa mengakibatkan kebakaran hutan, terutama jika mendaki saat musim kemarau panjang.
  • Dilarang membawa minuman keras dan obat-obatan terlarang misalnya cukrik, ciyu, ganja, shabu, pil PCC, lem kambing oplos bensin, ekstasi, pil anjing dan semacamnya. Mendaki dalam kondisi ngeflay itu sama dengan sedang berusaha bunuh diri.
  • Dilarang membawa senjata seperti pisau, badik, golok, arit, pedang, samurai, keris, tombak, senapan angin, AK 47 dan sebagainya. Benda tajam yang boleh dibawa hanyalah pisau perlengkapan masak.
  • Pantang membawa alat musik. Terkadang traveller kalau pergi kemping suka bawa gitar, harmonika dan gamelan. Trus malamnya gitaran sambil nyanyi-nyanyi. Kegiatan ini memang seru. Tapi hal itu tidak boleh dilakukan di kawasan Gunung Semeru.
  • Dilarang mengambil video menggunakan drone tanpa surat izin dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS).
  • Dilarang membawa spidol, tipe-x, cat, stiker dan pilok. Hal ini untuk menghindari pendaki alay melakukan tindakan vandalisme. Jika ingin membuat tulisan-tulisan di kertas untuk ditunjukkan saat foto-foto, lakukan saat di basecamp Ranu Pani, kemudian titipkan spidol pada petugas.
  • Dilarang membuang sampah baik sembarangan maupun tidak. Semua sampah yang dihasilkan selama pendakian wajib dikumpulkan dalam kantong sampah dan dibawa turun kembali ke basecamp Ranu Pani.
  • Saat summit attack, batu-batu di lereng Semeru tidak boleh digunakan untuk pegangan, dijadikan pijakan dan diduduki pas istirahat. Kultur pasir lereng Semeru yang begitu labil, bisa membuat batu terbongkah saat menerima beban lain. Selanjutnya batu akan menggelinding deras dan membahayakan pendaki-pendaki lain di bawahnya. Sudah ada beberapa pendaki Semeru yang menjadi korban tertimpa batu karena kecerobohan pendaki di atasnya. Sewaktu aku mendaki saja, ada orang mengalami kecelakaan ini. Satu orang mengalami cidera serius. Satunya lagi harus pulang dengan diantar mobil jenazah.
  • Tidak boleh memakai earphone atau pun headset saat summit attack. Supaya bisa mendengar jika ada teriakan batu jatuh atau aba-aba bahaya lainnya dari pendaki-pendaki lain.
  • Saat berada di puncak, jangan coba-coba mendekati kawah Jonggring Seloka. Gas yang keluar dari kawah mengandung racun yang sangat mematikan jika terhirup manusia. Jarak aman yang direkomendasikan adalah 1 kilometer dari bibir kawah.
  • Dilarang masih berada di puncak setelah jam 9 pagi. Di siang hari Mahameru harus steril dari aktivitas manusia.
  • Dilarang mengganggu alat pendeteksi gempa yang terdapat di puncak Mahameru. Kata petugas SaVer (Sahabat Volunter Semeru), alat itu sangat sensitif mencatat gerakan. Jadi kalau ada pendaki yang iseng menyentuh apalagi mengoyang alat tersebut, kantor TNBTS bisa geger, masyarakat Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang bisa kalang kabut mengira Semeru akan meletus.

Para Pendaki Gunung Semeru yang begitu keren membawa keril

Demikianlah larangan-larangan yang ada di Gunung Semeru. Cukup banyak memang. Tapi kalau mengaku sebagai pecinta alam garis keras, sudah seharusnya tidak keberatan mematuhi segala larangan tersebut.

Tapi percayalah, meskipun banyak peraturan yang melarang ini itu, tidak akan ada petugas yang mengawasi dan memastikan pendaki tidak melanggar larangan-larangan itu. Di sini dibutuhkan kesadaran hati nurani para pendaki itu sendiri, bahwa semua larangan itu adalah demi kebaikan dirinya sendiri, keselamatan pendaki-pendaki lain, dan juga demi kelestarian alam Semeru milik anak cucu kita di masa depan. Karena itu, sesama pendaki wajib mengingatkan jika ada pendaki lain yang melanggar peraturan! Happy Trekking. ^^

Jangan Lewatkan

2 comments:

  1. open travel kesana dong mas :( , lagi cari open trip nih ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kalau aku nggak bisa Gan. Lagi di luar Jawa. Cari di Instagram, banyak kok Open Trip ke Semeru. :)

      Delete

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.