Membedah Kelebihan dan Kekurangan Antara Penerbit Mayor dengan Penerbit Indie

Untuk menerbitkan buku yang berkelas ada dua cara yang bisa digunakan; melalui penerbit Mayor atau penerbit Indie. Kenapa berkelas? Ya kalau cuma sekedar 'buku’ saja, tukang cetak buku Yasin juga bisa. Atau ngeprint sendiri terus dijilid sendiri juga sudah bisa disebut buku. Berkelas maksudnya memiliki tampilan elegan, cover yang artistik, jenis kertas yang bagus serta memiliki ISBN (International Standar Book Number). Dan hal itu tentu harus diserahkan kepada ahlinya, yaitu penerbit Mayor maupun penerbit Indie.

Secara fisik, kualitas buku baik dari penerbit Mayor maupun penerbit Indie tidak terlalu ada bedanya. Pengelola penerbit Indie biasanya sudah memiliki skil mendesain cover dan isi buku. Jenis kertasnya juga sama-sama bagus. Buku-buku Indie juga ber-ISBN selayaknya buku cetakan penerbit Mayor. Kalaupun ada Indie Publishing yang mencetak buku asal-asalan, itu pasti penerbit yang tak bertanggung jawab.

Baik penerbit Indie maupun penerbit Mayor memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Menerbitkan buku di dua penerbit tersebut ada keuntungan dan kerugiannya sendiri-sendiri. Karena itu ada penerbit Mayor yang juga sekaligus memiliki penerbit Indie.

Lalu apa sih sebenarnya bedanya penerbit Indie dengan penerbit Mayor?

Buku-buku Penerbit Indie

Nah untuk mengetahui perbedaan antara penerbit Mayor dengan penerbit Indie, baca saja kelebihan dan kekurangannya yang akan diuraikan berikut ini.

Kelebihan Penerbit Mayor

Menerbitkan buku di Penerbit Mayor 100℅ gratis! Biaya produksi, distribusi dan promosi sepenuhnya ditanggung pihak penerbit.

Promosi yang dilakukan penerbit Mayor jauh lebih menjanjikan. Mereka sangat gencar promo di sosial media, yang mana sosial media penerbit Mayor rata-rata memiliki pengikut yang besar. Ketika menerbitkan buku baru, penerbit Mayor juga kerap mengadakan blog tour, kuis-kuis, give away, bahkan launching buku dengan menghadirkan langsung penulisnya.

Dalam sekali terbit, sebuah judul buku di Penerbit Mayor akan dicetak dalam jumlah banyak. Biasanya antara 2.000 hingga 5.000 eksemplar pada cetakan pertama. Selanjutnya kalau habis/best seller, akan diterbitkan lagi cetakan kedua, ketiga, dan seterusnya.

Sistem penjualan buku pada penerbit Mayor lebih bervariasi. Selain dijual di toko-toko buku ternama di seluruh Indonesia, penjualan juga dilakukan secara online, baik dengan cara order pada toko-toko buku online yang banyak beredar di dunia maya, ataupun memesan langsung kepada penerbit. Malah untuk penulis-penulis ternama, buku bisa diorder sebelum beredar di toko buku. Buku-buku produksi penerbit Mayor juga ada yang dijual dalam bentuk ebook di play store.

Kekurangan Penerbit Mayor

Prosesnya cukup lama! Untuk mendapat jawaban apakah naskah yang kita kirim diterima atau ditolak saja, kita harus menunggu antara empat hingga enam bulan. Sudah begitu kalau diterima, pihak penerbit juga masih butuh waktu lagi untuk mengedit naskah tersebut.

Royalti kecil. Royalti bagi penulis di penerbit Mayor tergolong rendah. Hanya 10℅ dari harga buku. Kalau bukumu dibanderol Rp 50.000, maka kamu sebagai pengarang yang sudah siang malam susah payah mengumpulkan ide, hanya mendapat bagian Rp 5.000. Royalti dibayar setiap 6 bulan dihitung dari total buku yang terjual. Dan jangan lupa, dari royalti 10℅ itu nanti masih akan dipotong pajak penghasilan. Agak memprihatinkan ya? Tapi memang begitulah. Makanya penulis sekaliber Darwis Tere Liye sampai menyetop kontrak penerbitan buku-buku karyanya.

Di penerbit Mayor kreatifitas penulis dibatasi. Jumlah maksimum dan minimum halaman harus sesuai aturan. Kalau ada bagian di dalam naskah yang tidak diinginkan penerbit, bagian tersebut akan diubah bahkan dihapus oleh editor.

Penerbit Mayor hanya menerima naskah dengan genre-genre tertentu. Bahkan untuk penulis pemula, naskah kumpulan cerpen atau naskah puisi tidak akan diterima.

Beberapa penerbit Mayor mewajibkan naskah dikirim dalam bentuk hard copy dan dijilid rapi. Hal ini tentu membuat penulis merasa agak ribet, di era internet seperti yang kita rasakan saat ini, kenapa tidak dikirim via email saja? Belum lagi harus keluar duit untuk biaya ngeprint dan ongkir ke penerbit.

Kelemahan Penerbit Indie

Menerbitkan buku di penerbit Indie, biaya produksi ditanggung oleh penulis. Setiap penerbit Indie memiliki tarif berbeda-beda dan mungkin masih bisa dinegosiasikan.

Penerbit Indie tidak menyetok buku karena tidak mencetak buku secara massal. Buku hanya akan dicetak ketika ada yang memesan. Sistem ini dikenal dengan nama POD (Print on Demand).

Promosi yang dilakukan penerbit Indie hanya sekedarnya saja. Paling hanya dipajang di websitenya dan di-share di sosmed. Sementara sosial-sosial media milik penerbit Indie biasanya cuma sosmed semenjana yang hanya memiliki pengikut sedikit. Jadi meskipun gencar dipromosikan tidak akan terlalu efektif. Kalau ingin bukunya laku, mau tidak mau penulis yang harus giat berpromosi sendiri.

Buku-buku keluaran penerbit Indie tidak dijual di toko-toko buku besar seperti Gramedia, Toko buku Gunung Agung, dan sebagainya. Buku Indie hanya dipasarkan secara online.

Keunggulan Penerbit Indie

Naskah dijamin diterima dan pasti dibukukan. Tentu saja dengan syarat isi naskahnya tidak melanggar hukum dan melanggar hak cipta, misalnya hasil copy paste, plagiat, hate speech, menyinggung sara, pornografi dan hal-hal yang melanggar hukum lainnya.

Bebas menerbitkan buku bergenre apa saja. Mau buku pertanian, kisah nyata bertemu gendruwo, kumpulan puisi, cerpen, primbon dan yang lain sebagainya Penerbit Indie siap memfasilitasinya, sepanjang tidak melanggar hukum dan isinya bisa dipertanggung jawabkan.

Jumlah halaman buku-buku terbitan penerbit Indie tidak dibatasi. Penulis diberi ruang yang seluas-luasnya. Mau menulis buku setebal bantal atau setipis selaput dara dipersilakan. 

Proses cepat. Hari ini dikirim, besok atau lusa sudah bisa langsung terbit. Kalaupun tidak secepat itu, tapi percayalah tidak akan sampai berhari-hari apalagi berbulan-bulan kayak penerbit sebelah.

Naskah cukup dikirim via surel alias surat elektronik alias email. Tidak perlu dalam bentuk print out. Penerbit Indie sangat paham penulis jaman now pasti maunya yang praktis-praktis.

Royalti besar! Menerbitkan buku di Penerbit Indie, penulis akan mendapat bagian yang lebih besar. Bisa hingga 70℅ bahkan 100℅.

Itulah perbedaan antara Penerbit Mayor dan Penerbit Indie dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kalau demikian, jadi pilih penerbit Mayor apa penerbit Indie?

Menurut aku, kalau tujuan menulis buku adalah materi dan ketenaran, penerbit Mayor adalah media yang tepat. Biarpun royaltinya terbilang kecil, kalau best seller pasti total pendapatannya sangat besar. Tapi kalau tujuannya adalah idealisme karya dan sekedar kebanggan pribadi, penerbit Indie bisa dijadikan alternatif. Happy Writing.

Jangan Lewatkan

3 comments:

  1. kalau penerbit mayor ya enaknya bisa dapat promosi gratis, kalo saya lebih suka penerbit indie. tapi ya dua-duanya ga ada yg pernah nawarin saya wahahahaha

    *disemprot kecap*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nunggu penerbit yang jemput bola ya Mas? Hmm.. Boleh juga. ๐Ÿ˜ƒ

      Delete
    2. Wkwkwkw, saya ga pernah mikir jadi penulis mas. Tapi kalau ada penawaran ya jangan ditolak :))

      Delete

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.