Zuck Linn #2: Alinna Bilqis Quinova


#2 Alinna Bilqis Quinova

SMA Khatulistiwa. Begitu yang tertulis di tembok papan nama. Sekolahnya sudah maju. Bangunannya kokoh, atapnya tak ada yang bocor, ada kantinnya, muridnya banyak dan semuanya memakai sepatu. Seluruh ruang-ruang kelas dibangun sama, dari ukuran, bentuk, jumlah jendela hingga model pintu tidak ada yang dibeda-bedakan demi mencegah timbulnya kecemburuan sosial antar kelas.

Yang kelihatan berbeda adalah bangunan kantor, aula, lab, mushalla dan perpustakaan. Ukuran mereka lebih besar dibanding bangunan kelas-kelas. Sedangkan yang paling berbeda cuma ruang keamanan di samping gerbang. Bentuknya kecil dan terasing mirip pos satpam.

Di koridor kelas pagi itu, tampak seorang siswi sedang berjalan ke depan. Langkahnya teratur dari kanan kemudian yang kiri dengan kaki menapak tanah.

"Linn!"

Langkah siswi cantik yang ternyata bernama Linn itu terhenti. Meski sudah hapal siapa yang memanggilnya barusan, cewek yang bernama komplit Alinna Bilqis Quinova itu tetap memutar badan untuk melihat dua sahabatnya melangkah menyusulnya. Dari dua orang sahabat itu, yang di sebelah kirinya Yonah bernama Dewik, sementara yang di sebelah kanannya Dewik namanya Yonah. Mereka merupakan sahabat baik Linn, baik di sekolah maupun di manapun.

Mereka bertiga telah berteman sejak saling kenal. Karena bertetangga, Yonah dan Dewik sudah saling kenal sejak kecil. Kalau Linn, baru pada kelas 3 ini kenal dekat dengan Yonah dan Dewik. Dulu ketika kelas 1 dan 2 ketiganya tidak sekelas.

Alinna Bilqis Quinova

Di antara mereka Linn yang paling cantik. Tampangnya semi oriental dan cover girl banget. Berambut panjang hitam dan bagus, cocok jadi bintang iklan shampo pembasmi kutu rambut. Kalau lagi senyum, wajahnya yang sudah cantik itu akan semakin menawan dengan munculnya lesung pipi di pipinya. Tapi meskipun yang paling cantik, dari ketiganya Linn lah yang paling tajir. Punya orang tua yang kaya. Bapaknya seorang pengusaha sukses, sementara Ibunya istri seorang pengusaha sukses.

"Denger-denger ada murid baru?" tanya Linn begitu Yonah dan Dewik berhasil menyusulnya.

"Bukannya banyak? Itu anak-anak kelas satu murid baru semua," jawab Yonah berdasarkan fakta ini baru saja memasuki tahun ajaran baru.

"Serius kenapa sih? Masih pagi gini," sungut Linn atas sikap Yonah yang pagi-pagi sudah berupaya memancing keributan.

"Kabarnya sih iya, pindahan dari luar negeri," celetuk Dewik, menatap dua temannya itu sebentar.

Yonah dan Linn saling pandang antusias.

"Dari Timor Leste," lanjut Dewik.

Linn melengos. Yonah tertawa entah kenapa.


Dan walaupun baru, sepertinya murid yang tengah mereka perbincangkan akan berumur panjang. Sosoknya tiba-tiba muncul dari dalam kantor kepala sekolah. Ia tampak menoleh ke sana kemari mengamati keadaan, sebelum kemudian berjalan menyebrangi lapangan. Di tengah lapangan, mendadak perjalanannya terhenti, tatapannya tepat ke arah Linn dan dua rekannya berada. Linn memperhatikan baik-baik. Kening mulusnya berkerut, seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu.

"Dia kayak Rein, yang dulu kelas satunya di sini? Iya, Rein! Ah itu sih bukan murid baru!" seru Linn gembira.

"Iya, bener. Pasti masih ada kotaknya kalau baru," jelas Yonah nggak jelas.

Tapi tidak ada yang memperdulikan becandaan garing Yonah. Terutama Linn, perhatiannya tertuju sepenuhnya ke arah murid baru, yang untuk beberapa saat masih berdiri mematung di tengah lapangan mirip orang-orangan sekolah, sebelum akhirnya kembali meneruskan perjalanan dengan langkah lebih cepat. Dari kejauhan, ia sudah tersenyum lebar seraya melambaikan tangan. Linn langsung membalasnya. Dewik menoleh ke kanan kiri dan belakang, khawatir lambaian itu bukan dipersembahkan untuk mereka.

"Alinna!" seru Rein sesampainya di depan Linn.

"Rein?! Kamu sekolah di sini lagi?" sambut Linn dengan wajah sukacita.

Rein mengangguk-angguk sambil mengulum senyum. Dipandangnya Yonah dan Dewik sebentar, juga menganggukkan kepala untuk memberi salam.

--~=00=~--

Penggemar Manchester United kalau pas lagi sering menang.

Jangan Lewatkan

1 komentar:

  1. Ceritanya bersambung, sementara baru nyimak kalo Linn itu… cewek paling cantik, juga tajir.. Selanjutnya, tunggu aza Episode berikutnya ya bang, hehe.. .

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.