Zuck Linn #31: Siapa Scandiva?


#31 Siapa Scandiva?

Dari malam hingga shubuh menjelang, Zuck sama sekali tidak bisa tidur memikirkan Linn. Ternyata, selain meninggalkan rasa sakit yang mendalam, kebohongan Linn juga memberikan rasa pahit yang sangat lumayan, yang dampaknya melebihi kafein, membuat Zuck melek semalam suntuk! Andai tadi malam masih musimnya menggombal versi 'papa kamu', Zuck pasti sudah mendatangi Linn, "Papa kamu suka minum kopi ya? Bilang sama Papa, hati-hati ada sianidanya!"

Zuck baru bisa tertidur ketika adzan shubuh berkumandang, lalu sudah dibangunkan paksa oleh ibunya pada saat iqamah. Dalam sepanjang hidup Zuck, itulah rekor tidur tersingkat yang berhasil diraihnya.

Tapi tak mengapa pikir Zuck. Hari ini hari minggu, nanti ia bisa balas dendam tidur siang sampai sebangunnya. Justru menurutnya, Linn sendiri yang rugi. "Gara-gara tadi malam aku nggak tidur, dia jadi nggak bisa hadir ke mimpiku. Rasain..." gumam Zuck tersenyum. Getir.

Dan sudah hampir satu jam ini Zuck berada di teras. Duduk termenung sambil menikmati sinar matahari yang masih hangat. Kebetulan teras rumah yang sebelah timur dibangun menghadap ke matahari terbit, sehingga kalau pagi langitnya cerah, cahaya matahari bisa leluasa masuk. Sengaja Zuck menduduki wilayah teras yang terkena sinar matahari penuh. Siapa tahu dengan berjemur seperti itu, luka di hatinya bisa lebih cepat mengering.

Tidak melulu soal sakit hati, segalanya tentang Linn terus memenuhi pikiran Zuck hingga pagi ini. Lesung pipinya, tawanya yang bergigi kelinci, Linn yang dulu mengiranya pengemis, terkecoh dompet Linn, mengembalikan dompet itu di saat hujan air di depan toko yang mangkrak, jadian diam-diam, adu cuek selama seminggu, pertengkaran kemarin dan yang menakutkan bagi Zuck, di pikirannya sudah muncul kebimbangan tentang masa depan hubungannya dengan Linn. Apakah dilanjutkan atau sebaiknya diakhiri?!

Yonah kemudian muncul membawa dua gelas teh hangat. Yang segelas untuk dirinya sendiri, sementara yang segelas lagi untuk dirinya juga jika nanti yang satunya habis tapi masih kurang. Beberapa saat ia memandangi Zuck dengan tatapan kasihan. Rambut lepek, mata merah, serta muka yang kusam berminyak akibat tadi malam kalah melawan insomnia.



"Sekarang tau sendiri kan? Bandel sih dulu dibilangin!" kata Yonah.

Zuck masih mematung. Tak bergerak apalagi bersuara. Hanya dadanya yang terlihat kembang kempis menandakan bahwa ia masih bernyawa. Sebagai pihak yang bersalah, Zuck memang memilih untuk diam tak ingin membantah.

"Ujung-ujungnya seperti yang udah aku khawatirkan. Mas putus sama dia, dan sekarang persahabatanku sama dia juga resmi rusak!"

"Yang penting persaudaraanku sama kamu baik-baik saja," Zuck akhirnya bersuara, meskipun lemah.

Yonah menyeruput teh manisnya. Di benaknya terbayang Linn. Ia masih tak mengira sahabatnya itu tega membohongi dirinya, Dewik dan juga Zuck. Lebih-lebih tadi malam, sampai bersumpah ada di rumah, katanya Rein tidak penting! Tapi apa?! Nyatanya dia pergi berdua dengan cowok itu. Munafik! Yonah sangat kecewa dan sulit memaafkan itu.

"Oh, ya, Mas Zuck tau dari mana kalau tadi malam Linn ada kafe?"

Zuck terperangah, seperti baru menyadari sesuatu. "Astaga. Aku sampai lupa ngucapin terima kasih. Ada seseorang di Facebook, namanya Scandiva. Dia yang ngasih tau."

"Scandiva? Siapa dia?"

"Nggak tau. Temen Facebook-ku kan banyak, dari mancanegara aja ada," pamer Zuck sambil mengeluarkan ponsel dari saku. Ia membuka Facebook ingin berterima kasih kepada Scandiva.

Sementara Yonah tampak termenung serius, memikirkan siapa dibalik akun Scandiva. Ia coba menduga-duga, tapi sampai kepalanya pening, tetap tidak menemukan sosok yang tepat untuk sekedar dicurigai.

"Weh... Dia langsung bales!"

"Sebenarnya dia siapa? Kok bisa tau Linn sama Rein ada di kafe? Kok bisa tau juga kamu dan Linn diam-diam pacaran?"

"Iya, yah. Kok bisa tau?" Zuck terperangah sekali lagi.

"Tanyain dong. Jangan plonga-plongo terus!" seru Yonah gondok banget melihat Zuck yang dalam waktu semenit saja sudah terperangah dua kali.

"Dia nggak mau bilang! Ini apaan malah pamitan mandi?" kata Zuck. "Tapi sedikit info, dia nih dulu rajin komen di statusku, tapi udah lama ngilang. Tadi malam tiba-tiba muncul lagi, itupun cuma ng-inbox ngasih tau kalau Linn sedang di kafe sama cowok lain."

Yonah bertambah pusing. Dan akhirnya persetan siapa Scandiva. Toh menurutnya itu bukan urusannya!

Gambar ilustrasi cewek main laptop untuk cerpen

--~=00=~--

Di tempat yang lain, Linn sedang mendatangi rumah Dewik. Linn yakin, Dewik lah satu-satunya sahabat yang netral atas masalah yang dialaminya saat ini. Kepadanya Linn ingin curhat dan berbagi cerita.

"Dewik ada, Bu?" tanya Linn kepada bundanya Dewik.

"Ada tuh di kamarnya. Susul aja ke sana."

"Makasih, Ibu."

Linn segera menuju ke kamar Dewik yang pintunya dalam kondisi terbuka setengah. Linn nyelonong saja masuk tanpa Assalamu'alaikum. Namun Dewik tidak ada di tempat. Hanya pemandangan sprei acak-acakan, bulatan basah di bantal, serta guling yang terbujur tak berdaya di lantai. Pertanda kalau kamar ini belum lama digunakan oleh pemiliknya.

Selain guling, berbagai barang lain seperti kaleng minuman, plastik snack, tisu second, buku-buku, cas-casan, kutang berenda, obeng bunga dan sebagainya berserak di lantai, membuat kamar Dewik terlihat berantakan mirip kapal yang baru dibombardir bajak laut.

Sejenak Linn melirik genangan iler Dewik yang mulai mengering. Linn bergidik. Beberapa rahasia cewek memang kerap terungkap lewat kamar tidurnya. Dewik yang pendiam itu, ternyata tidak rajin menata kamar dan kalau tidur masih suka ngiler.

"Ke mana Dewik?" batin Linn bertanya-tanya, kepalanya melongok ke kolong tempat tidur. Tapi Dewik tak ada di situ.

Sementara di meja belajar, komputer dibiarkan menyala. Linn mendekat ke sana. Layar monitor menampilkan jejaring sosial Facebook. Di sudut kanan bawah, ada jejak terakhir Dewik chatt dengan seseorang.

'Terima kasih ya tadi malam. Karena kamu, aku jadi tau siapa Linn sebenarnya.'

'Hehe. Nggak perlu terima kasih, Mas.'

'Kamu sebenarnya siapa sih?'

'Ntar lagi chatt-nya ya, Mas. Aku mau mandi. Jangan ngintip, hehe...'

Jantung Linn berdegup kencang. Tangannya gemetar. Mukanya panas. Awalnya tadi Linn hanya iseng ingin baca-baca saja, tapi sekarang ia ingin tahu lebih banyak.

Tidak salah lagi, lawan chatting Dewik adalah Dani Zuckici. Dan yang lebih mengagetkan lagi, ini bukan akun Facebook Dewik yang Linn tahu selama ini.

"Linna!"

Linn tersentak. Dewik yang baru pulang dari kamar mandi tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan nanar.

"Iya. Scandiva," sahut Linn sinis.

"Nggak sopan banget sih kamu, sembarangan masuk kamar orang lain!" Dewik merebut mouse dari tangan Linn, lalu buru-buru mematikan komputer.

Linn menggeleng lemah. "Orang lain?! Maaf. Kupikir selama ini kita sahabatan? Ternyata aku salah..."

Dewik tertunduk diam.



"Bener-bener pendiam banget kamu ya? Sampai-sampai merebut pacar temen pun secara diam-diam."

Dewik mendongak. Ia tidak suka dengan kata-kata Linn barusan. "Siapa yang ngerebut? Aku kan nggak tau kalau kalian pacaran!"

"Tapi buktinya kamu tau!"

"Ya. Lama-lama aku memang tau."

"Trus kenapa masih mengganggu?" Linn terus menyudutkan. "Oke, kalau nggak suka dibilang perebut, kuganti sebutan itu dengan perusak!"

"Linn!" sentak Dewik. Menatap Linn garang. "Kamu jangan hanya nyalahin aku! Apa kamu nggak mikir, kalau tindakanmu menghianati Mas Zuck itu juga sebuah kesalahan?!"

"Aku nggak menghianati dia!"

"Kamu deket-deket sama Rein. Kamu tadi malam diam-diam jalan sama dia."

Linn menarik napas panjang. "Itu urusanku, Wik!"

"Apa? Urusan kamu?!" Dewik menggeleng-geleng, sama sekali tak menyangka. "Urusan itu udah menjadi urusanku juga. Karena aku nggak suka ada yang membohongi Mas Zuck. Dia baik. Tetanggaku sejak kecil dan aku lebih dulu kenal dia dari pada kenal kamu."

"Selain itu, sebenarnya kamu diam-diam suka sama dia. Ngaku aja!" pungkas Linn pedas. Dan tanpa menunggu reaksi Dewik, ia segera beranjak pulang. Air matanya muncrat tanpa sempat diketahui Dewik.

--~=00=~--


Penggemar Manchester United kalau pas lagi sering menang.

Jangan Lewatkan

0 komentar:

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.