Mengenal Kelapa Sawit, Komoditas Ekonomi yang Mensejahterakan Masyarakat Pedesaan di Riau

Saya tinggal di sebuah desa di kecamatan Kampar Kiri, kabupaten Kampar, provinsi Riau. Di daerah tempat tinggal saya ini, kelapa sawit merupakan komoditas pertanian yang paling berperan dalam mensejahterakan masyarakat pedesaan. Hampir semua penduduk memiliki kebun kelapa sawit. Baik itu kebun milik pribadi maupun kebun plasma yang dikelola oleh perusahaan. Dan desa-desa yang maju di provinsi Riau ini, pasti mayoritas penduduknya adalah petani kelapa sawit.

Jika kalian jalan-jalan ke Riau, pasti akan dengan mudah menemukan pohon kelapa sawit di mana-mana. Saking banyaknya kebun kelapa sawit, ada yang menyebut provinsi Riau ini sangat kaya karena buminya memiliki minyak baik di dalam maupun di permukaannya. Minyak di bawah dan minyak di atas. Minyak di bawah adalah minyak bumi, sementara minyak di atas adalah minyak yang dihasilkan dari buah kelapa sawit.

Gambar TBS (Tandan Buah Segar) Kelapa sawit
TBS (Tandan Buah Segar)

Sekarang ini, memiliki kebun kelapa sawit telah menjadi impian banyak orang bahkan bukan hanya bagi penduduk Riau saja. Buktinya banyak orang luar daerah yang berinvestasi membuka bisnis perkebunan kelapa sawit di bumi lancang kuning ini.

Di daerah saya dulu sebenarnya perkebunan kelapa sawit cukup bersaing dengan perkebunan karet. Namun pada beberapa tahun terakhir, kelapa sawit lebih unggul dan diminati. Terbukti dari banyaknya perkebunan karet yang ditebang dan digantikan dengan menanam kelapa sawit.

Banyaknya orang yang menyukai menanam kelapa sawit karena mudahnya perawatan tanaman tersebut. Kita hanya perlu menanam satu kali, kemudian setelah berumur 3 tahun, kelapa sawit sudah bisa dipetik hasilnya hingga kurang lebih 25 tahun ke depan. 

Panennya pun tidak perlu setiap hari, bisa seminggu sekali atau dua minggu sekali dan tidak tergantung cuaca. Berbeda dengan karet yang harus disadap setiap hari. Kemudian jika musim hujan tidak bisa disadap sehingga petani tidak mendapat penghasilan.

Selain perawatan yang mudah, harga kelapa sawit juga cenderung lebih stabil dibanding harga karet. Harga sawit kalaupun turun tidak terlalu anjlok banget. Sementara karet, sudah hampir 8 tahun ini harganya sangat mengecewakan para petani. Makanya saat ini banyak ladang-ladang karet penduduk di Riau yang sudah berubah menjadi ladang kelapa sawit.

Saya sedang memanen kelapa sawit

Memiliki kebun kelapa sawit merupakan investasi yang sangat menjanjikan. Bisa menjadi aset yang mendatangkan passive income dalam kurun waktu yang panjang. Bahkan cukup memiliki kebun kelapa sawit 2 hektar saja, asalkan dirawat dengan baik, seseorang sudah bisa pensiun.

Contohnya ayah saya, beliau memiliki kebun kelapa sawit sekitar 2 hektar. Penghasilan dari kebun tersebut sudah sangat cukup bagi ayah saya tanpa perlu beliau bekerja lagi. Ibaratnya  beliau tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah, tetap akan mendapatkan uang setiap minggunya. Pasalnya, untuk mengurus perkebunan tersebut dikerjakan oleh orang lain. Mulai dari pemupukan, membersihkan areal perkebunan, perawatan, hingga memanen buah kelapa sawit, ayah saya mempekerjakan beberapa pemuda setempat.

Kebun-kebun kelapa sawit milik masyarakat di daerah tempat tinggal saya, selain mensejahterakan pemiliknya, juga terbukti membuka lapangan pekerjaan. Ayah saya yang memiliki 2 hektar saja sudah bisa mempekerjakan beberapa orang meskipun cuma sebagai pekerja lepas. Bagaimana mereka yang memiliki perkebunan yang lebih luas. Di daerah saya ada yang memiliki kebun kelapa sawit 3 hektar, 5 hektar, 10 hektar, bahkan lebih. Tentunya akan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak.

Buah kelapa sawit siap dijual

Dan di daerah saya, perkebunan kelapa sawit bukan hanya dikelola masyarakat, tapi juga oleh perusahaan-perusahaan. Baik itu perusahaan perkebunan kelapa sawit, maupun perusahaan pengolahan buah kelapa sawit atau PKS (Pabrik Kelapa Sawit).

Hadirnya perusahaan-perusahaan tersebut tentu berhasil membuka lapangan kerja yang banyak, bukan hanya bagi penduduk desa sekitar, tapi juga pekerja-pekerja dari daerah lain. Banyak pekerja di perusahaan-perusahaan sawit di daerah saya yang berasal dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Lampung bahkan perantau-perantau dari pulau Jawa.

Bukan hanya menghadirkan lapangan kerja, perusahaan-perusahaan sawit di daerah saya juga kerap membantu pendanaan ketika ada kegiatan-kegiatan sosial budaya, turnamen olahraga, dan juga pembangunan tempat ibadah.

Penggemar Manchester United kalau pas lagi sering menang.

Jangan Lewatkan

0 komentar:

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.