Pengalaman Touring Sekaligus Mudik Dari Lampung Ke Riau Pakai Sepeda Motor

Kali ini saya akan berbagi cerita pengalaman touring sendirian lintas Sumatera, start dari kota Sukadana, kabupaten Lampung Timur, hingga ke kota Lipatkain, kabupaten Kampar, provinsi Riau menggunakan sepeda motor lewat Jalur Lintas Barat (Jalinbar) Sumatera, yang saya laksanakan bulan Februari 2020 kemarin. Kebetulan motor yang aku kendarai ialah Yamaha All New R15 atau V3.

Touring Lintas Barat Sumatera Pakai Motor Yamaha R15

Dikatakan touring sebenarnya tidak 100% touring. Soalnya rumah saya dan juga kedua orang tua saya memang berada di Riau, jadi kegiatan turing ini bisa juga dibilang pulang kampung alias mudik. Tapi kalau dibilang mudik, sedikit kurang tepat juga. Pasalnya kalau tujuan utama saya pulkam, pastinya saya akan lebih memilih naik bis atau mobil travel. Tinggal duduk santai di kursi penumpang, nanti dengan sendirinya akan sampai di rumah. Bukan naik motor, yang pastinya akan lebih menguras tenaga dan konsentrasi.

Atau, kalaupun mau pakai motor, pasti trek yang saya ambil bukan jalan lintas barat. Saya akan menempuh jalur lintas tengah atau lintas timur yang jaraknya lebih dekat untuk sampai ke kampung halaman. Cuma sekitar 1000 km. Dengan kondisi jalan yang relatif lebih bersahabat.

Sementara jalur lintas barat yang akan saya lewati ini jauhnya kisaran 1500 km, dengan trek yang turun naik berkelok-kelok tajam di beberapa tempat. Melewati hutan bukit barisan yang sepi, serta tepi-tepi pantai dan juga tebing. Jalan lintas barat juga lebih rawan longsor dan pohon tumbang. Apalagi kegiatan touring sendirian ini saya laksanakan masih dalam suasana musim hujan, sehingga persentase tanah longsor dan pohon tumbang lebih tinggi.

Tapi medan yang berat itu justru yang menjadi motivasi saya memilih mudik via jalur lintas barat. Selain lebih seru, dari hasil saya browsing-browsing di internet, banyak banget pemandangan bagus di sepanjang Jalinbar. Kemudian juga selama ini saya belum pernah lewat lintas barat Sumatera, biasanya kalau kemana-mana lewatnya selalu lintas tengah atau lintas timur. Hal tersebut membuat saya makin semangat, penasaran dan yakin mengambil jalur lintas barat ini untuk mudik ke Riau.

Berhubung ini bukan murni mudik, justru lebih condong ke kegiatan jalan-jalan, saya tidak mematok target harus berapa hari sampai ke rumah. Biasanya sih kalau via lintas Timur atau lintas tengah, 2 hari sudah sampai. Namun karena ini melalui lintas barat yang jaraknya lebih jauh, terus banyak view-view menarik di pinggir jalan, dan motivasi utama saya memang traveling, dapat dipastikan saya akan riding santai-santai saja menikmati perjalanan. Tidak perlu ngebut-ngebut misalnya sampai 158 km/h. Tiap ada destinasi bagus, berhenti, foto-foto. Biarin saja jikalau akan lebih lama sampai ke kampung. Yang penting perjalanan terasa menyenangkan dan berkesan.

Kantor Bupati Pemda kota Sukadana Lampung Timur

Kegiatan touring sendiri dengan sepeda motor ini saya awali dari Sukadana, kabupaten Lamtim atau Lampung Timur. Dan untuk touring edisi hari pertama, planning tujuan saya sampai ke kota Krui, kabupaten Pesbar atau Pesisir Barat dan masih berada di kawasan provinsi Lampung. Berdasarkan Google Map, jaraknya adalah 309 KM.

Daerah-daerah yang akan saya lalui antara lain, Sukadana dan Pekalongan (kab Lampung Timur), Kota Metro, Tegineneng (kab Pesawaran), Natar (kab Lampung Selatan), kota Bandar Lampung, Gedong Tataan (kab Pesawaran), Pringsewu (kab Pringsewu), Kota Agung (Tanggamus), hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Rhino Camp, Bengkunat, Biha dan Krui (kab Pesisir Barat).

Gapura Bambu Selamat Datang ke kabupaten Pringsewu Lampung

Saya berangkat dari Sukadana sekitar jam 7 pagi, tapi harus mampir dulu di kota Metro karena ada sedikit urusan. Lalu bergerak lagi sekitar jam 11 siang. Cuaca saat itu cerah dengan suhu yang lumayan panas hingga ke kota Bandar Lampung.

Namun saat memasuki Gedong Tataan kabupaten Pesawaran, cuaca berubah mendung dan gerimis mulai turun. Dan akhirnya benar-benar hujan pada saat di Pringsewu. Sempat berhenti di rest area Pringsewu, yang terdapat gapura bambu seribu yang melambangkan selamat datang ke kabupaten Pringsewu. Namun hujan tak juga berhenti, akhirnya saya tancap gas menerabas hujan.

Tugu Pringsewu

Hujan sempat reda sesudah melewati Kota Agung. Namun kembali turun deras ketika saya melintasi kawasan Hutan Taman Nasional Bukit Barisan.

Tapi itu benar-benar menjadi pengalaman yang seru dan walau sedikit menegangkan. Bagaimana tidak, motoran sendirian dalam guyuran hujan deras di tengah hutan yang begitu sepi sejauh berpuluh-puluh kilo, melewati banyak tanjakan dan turunan serta tikungan-tikungan tajam, tidak ada satupun rumah penduduk, kendaraan yang lewat juga sangat jarang. Ada bekas pohon ambruk. Ada sisa-sisa tanah longsor juga.

Deg-degan juga ngebayangin harus survive seandainya tiba-tiba motor rusak. Rantai putus, kehabisan bensin, ban bocor, spion konslet. Apalagi kalau sampai dihadang begal payudara atau disapa binatang buas. Siapa yang akan menolong? Amit-amit, ya.

Tapi Alhamdulillah selama melintasi lebatnya hutan lindung bukit barisan, perjalanan lancar aman dan sentosa. Cuma sayang, karena hujan jadi gak bisa mampir buat foto-foto di areal Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Padahal rencananya pengen singgah istirahat di Rhino Camp, kabarnya di sana pengunjung jika beruntung bisa menyaksikan bunga terbesar di dunia yaitu bunga Raflesia atau Rafflesia Arnoldi.

Hujan baru benar-benar reda ketika saya sudah mendekati kota Krui. Dari sini, mulai ada pantai-pantai yang terlihat dari jalan lintas Barat. Beberapa pantai di daerah Krui yang tidak jauh dari jalan lintas barat antara lain pantai Rumput Hijau, pantai Melasti, pantai Pase, pantai Tanjung Setia, pantai Mandiri, pantai Labuhan Jukung, dan masih banyak lagi.

Daerah Krui memang terkenal dengan pantai-pantainya yang bagus dan berombak besar. Cukup banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke pantai-pantai di Krui ini untuk bermain selancar. Beberapa kali saya berpapasan dengan bule yang menenteng alat selancar.

Pasca Ashar saya sampai di kota Krui. Berhenti istirahat di sebuah warung kecil pesan teh panas. Dan sambil ngeteh, saya cari penginapan via salah satu aplikasi penginapan yang terpasang di smartphone saya. Alhamdulillah dapat yang cukup murah dan memang sengaja cari yang termurah. Harga kamarnya cuma Rp 69.000. Penginapan yang saya ambil tersebut adalah hotel syariah, yang memang tarifnya lebih ekonomis.

Bahkan mungkin kalau booking sejak jauh hari bakal dapat yang lebih murah lagi. Tapi saya sengaja pesan di hari yang sama dan ketika sudah mendekati lokasi hotel. Soalnya kalau pesan dari hari-hari sebelumnya, takutnya acara touring saya ini batal. Atau kalaupun acaranya jadi, tapi akibat adanya hal-hal tak terduga, saya tidak bisa sampai ke kota di mana hotelnya sudah terlanjur saya booking. Kalau sudah demikian, tentunya saya harus ribet cancel pesanan dan juga refund pembayaran lagi.

Dan Alhamdulillah walaupun harga kamarnya murah, namun fasilitas yang tersedia cukup memuaskan. Kamar tidur dan kamar mandi bersih, ada AC, TV dan juga free WiFi. Diberikan peralatan mandi berupa odol, sikat gigi, sabun+shampoo. Cuma handuknya sudah sedikit usang, kelihatannya sudah lama banget umurnya, namun tetap bersih dan wangi. Kemudian di toiletnya yang disediakan bukan WC duduk, melainkan WC nongkrong. Tapi tidak menjadi persoalan, soalnya saya justru lebih menyukai WC model seperti itu.

Touring ke Pantai Labuhan Jukung Krui Kabupaten Pesisir Barat Lampung

Setelah meletakkan barang-barang bawaan di hotel, udah gitu mandi dan rebahan sejenak, saya keluar jalan-jalan sore di sekitar kota Krui. Mendatangi pantai Labuhan Jukung yang merupakan destinasi wisata terkenal yang berada di kota Krui. Pengunjungnya cukup banyak sore itu. Sayang banget cuacanya mendung, sehingga tidak ada warna jingga di ufuk barat ketika sang surya tenggelam. Namun kondisi tersebut tidak mengurangi rasa senang saya bisa mengunjungi pantai Labuhan Jukung.

Kira-kira jam delapan malam saya baru kembali ke hotel. Sebab selain main ke pantai, saya juga muter-muter mencoba beberapa kuliner di kota Krui untuk makan malam. Tidak beberapa sih, soalnya cuma makan pecel lele sama ngopi di salah satu warkop di sudut kota Krui. Pecel lelenya sih B aja soalnya di daerah lain juga berjibun, tapi untuk kopinya benar-benar mantap banget! Kopi Lampung asli.

Tidak banyak foto yang saya ambil dalam road trip Lampung - Riau hari pertama. Hujan yang seringkali turun, membuat saya tidak tenang untuk sering-sering mengeluarkan kamera. Tapi untungnya cukup banyak video yang saya hasilkan selama riding hari kesatu ini. Karena untuk video, saya menggunakan kamera aksi GoPro Hero 8 yang sangat aman buat digunakan pada saat hujan.

Apabila teman-teman ingin menyaksikan bagaimana serunya kegiatan solo touring saya tersebut, bisa menonton videonya di bawah ini:


Seperti itulah pengalaman saya di hari pertama mudik sekaligus touring sendirian pakai sepeda motor melewati jalan lintas barat Sumatera atau Jalinbar. Untuk cerita solo touring di hari kedua, akan saya tulis di artikel selanjutnya. Terima kasih sudah membaca, semoga menghibur syukur-syukur bisa menginspirasi.

Penggemar Manchester United kalau pas lagi sering menang.

Jangan Lewatkan

1 komentar:

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.