Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Zuck Linn #37: Sepeda Untuk Linn 3


Cerita Lucu Sepeda Untuk Linn

#37: Sepeda Untuk Linn 3

"Beli bensinnya nanti aja. Kita jalan-jalan dulu," ajak Zuck sesaat setelah menstater motor.

Linn mengangguk-angguk semangat.

"Tapi gak usah jajan," sambung Zuck mengingatkan.

Linn langsung sedikit patah semangat. Tapi kemudian dia punya usul, "Nonton aja yuk."

"Nonton apa lagi sih? Tiga bulan lalu kan kita udah nonton," sahut Zuck tidak terima. Laju motor ia pelankan agar ngobrolnya nyambung.

"Ada tuh filmnya Vino Bastian, pas tiga bulan lalu kita ke bioskop, aku lihat posternya. Judulnya Coming Soon."

Zuck pengen nangis. Atau minimal menabrakan diri ke mobil tangki Pertamina di depannya seandainya tak ingat yang ia tunggangi ini bukan motornya sendiri! Linn memang gitu, suka aneh kalau nonton di bioskop. Membuat Zuck jadi trauma mendalam untuk nonton bareng Linn lagi.

Pernah dulu saat pertama kali nonton, pas film mau diputer, Linn nyeletuk kenceng: "Ini kenapa lampunya dimatiin sih, Mas? Kita kan mau nonton?!"

Beberapa penonton menahan tawa mendengar itu. Tentu saja Zuck yang harus menanggung malu.

Terus pas film udah sampai pertengahan lagi seru-serunya, Linn ngomel kenceng lagi: "Ini kapan iklannya? Udah kebelet pipis banget!"

Beberapa penonton tak sanggup lagi menahan tawa. Kayaknya mereka justru terhibur dengan tingkah Linn daripada filmnya.

Dan gak cuma sampai di situ saja, pas film udah selesai, Linn berkomentar dengan suara cempreng tanpa dosa: "Kok penerjemahnya bukan Lebah Ganteng ya, Mas?!"

Seantero bioskop ngakak mengetahui Linn ternyata kaum rebahan penonton ilegal streaming.

Dari beberapa tragedi tersebut, Zuck jadi berpikir seribu satu kali kalau mau nonton sama Linn.

"Gak minat kalau yang main dia."

"Kenapa? Cemburu, ya, aku ngefans Vino Bastian? Ciee...

"Ciye gigimu benjut itu!" repet Zuck.

"Trus kenapa nggak mau?"

"Kenapa ya?" Zuck garuk-garuk helm Honda jatah dari dealer yang dipakainya, bingung menentukan alasan.

"Trauma aja. Soalnya dulu pernah ketipu mentah-mentah sama film dia yang Serigala Terakhir. Judulnya Serigala Terakhir, tapi dari awal film sampai selesai, blas nggak ada serigala-serigalanya sama sekali. Pembohongan banget kan?" jelas Zuck mencoba memberi alasan yang mudah dipahami oleh Linn. "Jangan-jangan yang ini nipu lagi. Judulnya coming soon, tapi nanti nggak ada coming soon-nya sama sekali."

"Apaan sih? Nggak ngerti banget aku."

Sedang asyik mengobrol nggak bermutu, tiba-tiba di kejauhan mereka melihat ada kerumunan massa. Spontan Zuck semakin memelankan laju motor pinjamannya.

"Ada apa ya, Mas?" tanya Linn penasaran.

"Gak tau, Beb," jawab Zuck singkat.

"Jangan-jangan paman Ben tertembak?" lanjut Zuck kerasukan Spiderman.

"Kamu kenapa sih, Mas?!" Linn berusaha sabar.

"Mungkin ada orang kecelakaan, Beb. Nonton itu aja yuk. Pasti gratis."

Tanpa menunggu persetujuan Linn, Zuck sudah mengarahkan motor ke arah kerumunan. Sesampainya di lokasi, mereka disambut seseembak SPG.

"Selamat siang, Mas, Mbak, ini ada acara lounching produk kuaci. Silakan dicoba dulu," rayu mbak SPG sambil tersenyum simpul.

Ternyata kerumunan orang-orang itu dalam rangka event peluncuran produk kuaci. Bukan nobar orang kecelakaan.

"Berapa ini, Mbak, harganya?" tanya Linn.

"Oh kalo yang di dalam kotak ini gratis, Mbak. Silakan ambil untuk dicicipi."

"Grtatis?!" Zuck kayak nggak percaya. "Boleh diambil semua, Mbak?"

"Beb, ih jangan malu-maluin gitu sih," sergah Linn.

"Iya, gratis. Tapi kalau beli, satu bungkus, dapat 1 kupon undian yang hadiahnya lumayan. Hadiah pertama mobil, hadiah kedua motor, dan hadiah ketiga sepeda," promo mbak SPG sambil terus mengumbar senyum penuh kepalsuan.

"Sepeda?!" seru Linn dengan mata berbinar-binar.

"Betul, Mbak. Dan akan diundi setengah jam lagi. Sayang lho kalau nggak nyoba, siapa tahu dapat hadiahnya."

"Wah kebeneran banget saya lagi pengen sepeda. Bisa pas gini. Jadi nggak perlu nungguin Pak Jokowi," kata Linn langsung memborong beberapa bungkus kuaci agar kesempatan dapat sepeda semakin besar.

"Nggak usah kepedean gitu sih, Beb?" Zuck berusaha mengingatkan.

"Udah nggak usah rewel. Namanya juga ikhtiar. Nih," bantah Linn seraya menyodorkan beberapa bungkus kuaci kepada Zuck.

Lalu dengan penuh semangat, Linn menulis namanya di beberapa kertas undian hasil membeli beberapa bungkus kuaci tadi. Nggak tahu entah dapat pulpen darimana dia untuk mengisi formulir undian tersebut. Saya males mencari informasi. Dan setelah seluruh karcis undian ditulisi namanya dan dilinting kecil-kecil, Linn memasukkannya ke dalam box kaca undian yang telah disediakan di dekat panggung. Setelah itu ia dan pacarnya menepi duduk di pinggir lapangan, asyik ngemil kuaci sambil menunggu waktunya pengumuman pemenang undian.

"Enak banget kuacinya, dari tadi aku makannya nggak berhenti-berhenti," testimoni Linn sambil memandang Zuck.

Zuck balas menatap Linn. "Sama kayak cintaku ke kamu, Beb. Nggak berhenti-berhenti."

Linn yang sedang tekun mengupasi kuaci, spontan melempar Zuck dengan biji kuaci. "Gombal ah!"

"Haha!" Zuck tertawa.

"Cuih-cuih!" Linn meludah-ludah. Ia salah memakan kulit kuaci, yang isinya malah ia gunakan untuk menyambit Zuck tadi.

Zuck makin ngakak terlunta-lunta. Baru bisa berhenti ketawa ketika tiba-tiba dari atas panggung terdengar pengumuman agak penting.

"Baiklah saudara-saudara. Tibalah pada acara puncak dan paling-paling ditunggu-tunggu, yaitu pencabutan undian. Terima kasih sudah mengikuti acara ini dari pagi hingga sore ini."

Zuck dan Linn bangkit dari duduknya agar bisa melihat dan mendengar pengumuman dengan lebih jelas. Tampak di atas panggung, si MC mengaduk-aduk gulungan-gulungan kecil kertas undian di dalam kotak undian yang terbuat dari kaca transparan, mengambilnya satu saja kemudian membuka gulungannya dengan hati-hati.

"Langsung saja saya umumkan pemenang ke tiga, dengan hadiah sebuah sepeda. Pemenang ketiga jatuh kepada...."

Si MC dengan seenaknya sendiri menghentikan pengumuman.

"Jatuh kepadaaa...

Sang MC sengaja menghentikan pengumuman lagi untuk mendramatisir keadaan.

"Pemenang ketiga jatuh kepada...

Sekali lagi MC itu menghentikan perkataannya. Dia senyum-senyum menggoda rasa penasaran penonton yang bersorak-sorak tak sabar.

"Bgsd! Belum pernah ngerasain kelilipan helm bawaan Honda nih kayaknya nih orang," Zuck mencopot helm dari kepalanya, mulai emosi dengan sikap MC.

Linn memiting leher Zuck dari belakang agar pacarnya itu tidak berbuat anarkis. "Sabar dong. Tapi iya sih, memang jingan banget! Ngapain pakai diulur-ulur kayak gitu. Woy buruan!"

Bukan cuma Zuck dan Linn, beberapa pengunjung lain juga terdengar mulai menggerutu jengkel dengan sikap MC yang pantasnya di-sniper pakai sumpit Dayak itu.

"Baik, baik. Tenang saudara-saudara. Sekarang akan benar-benar saya umumkan pemenang undiannya. Pemenang hadiah ke-tiga, jatuh kepada nomor undian, 1865, atas nama Roni Hardianto! Selamat kepada pemenang."

Akhirnya keluar juga nama pemenangnya. Dan seketika Linn lemas dan kembali terduduk mendengar pengumuman tersebut. Hatinya hancur. Jantungnya bocor. Impiannya untuk memiliki sepeda telah musnah segalanya. Benar-benar drama banget!

"Pulang aja yuk, Mas," Linn mulai terisak. Lubang hidungnya berkaca-kaca. Tak lama kemudian ia benar-benar terisak-isak sambil sesekali menyedot ingusnya agar tidak menetes membasahi bumi.

"Sabar ya, Sayang," Zuck memeluk Linn, berusaha menenangkan gadis cantik blasteran Melayu, Nias dan Syurga itu.

Linn kemudian berdiri dari duduknya, "Ayuk pulang."

Zuck nurut saja.

"Pemenang undian kedua, dengan hadiah berupa sepeda motor jatuh kepada nomor undian 0751 atas nama Meta Arvianti!"

Linn sudah tak peduli lagi ketika MC mencabut undian dan mengumumkan pemenang kedua tersebut.

"Dan, inilah pemenang pertama undian, dengan hadiah utama berupa mobil mewah. Pemenangnya adalah nomor undian 9644, atas nama Alinna Bilqis Quinova! Yeay! Selamat kepada pemenang."

Linn yang sedang kecewa berat sudah tidak peduli lagi dengan acara cabut undian bahkan cabut nyawa sekalipun, sehingga ia tidak mendengar pengumuman barusan yang mengumumkan bahwa dia terpilih menjadi pemenang hadiah utama. Dia terus melangkah. Meninggalkan Zuck yang justru spontan terhenti mendengar pengumuman itu. Dia sama sekali tidak menyangka Linn yang memenangkan mobil.

"Beb. Tunggu!" seru Zuck melihat Linn yang masih ngeloyor pergi.

Linn tak menggubris panggilan Zuck. Ia terus melangkah ke depan.

Akhirnya Zuck mengejar dan berdiri merentangkan kedua tangan di depan Linn untuk menghentikan langkah Linn secara paksa. "Berhenti dulu, Sayang! Stop! Hop, hop!"

"Ada apa sih, Mas?"

"Kamu nggak denger kamu yang memenangkan hadiah utama? Mobil, Beb, mobil!"

"Masa sih?"

"Iya! Bohong itu dosa, Sayang."

"Ah, gak mungkin. Sepeda aja gak dapet. Apalagi mobil."

"Ya ampun anak ini. Susah banget dibilangin," Zuck menggaruk-garuk helm Hondanya yang tidak gatal.

"Udah ayuk pulang aja udah sore. Bentar lagi waktunya masukin semut ke kandang."

"Sekali lagi kami umumkan para pemenang undian. Pemenang ketiga dengan hadiah sepeda jatuh kepada Roni Hardianto. Hadiah kedua berupa motor dimenangkan oleh Meta Arvianti. Dan hadiah utama berupa mobil, jatuh kepada pemenang atas nama Alinna Bilqis Quinova," dari atas panggung MC membacakan ulang nama-nama pemenang.

"Tuh, Beb, dengerin, dengerin!" Zuck gregetan sendiri.

Sesaat Linn terbengong mendengar namanya disebut sebagai pemenang mobil, tapi dua detik kemudian kembali muram.

"Kepada seluruh pemenang dipersilakan naik ke panggung dengan membawa kartu identitas untuk klaim hadiahnya. Ayo kami tunggu 15 menit dari sekarang," lanjut MC.

"Ayo, Beb, kutemani ke panggung."

Linn menggeleng lemah. "Enggak, Mas."

Zuck terbelalak. "Enggak?! Maksud lo?!"

"Males aja. Cuma mobil ini. Ayo pulang," desak Linn teringat semut peliharaan.

"Itu mobil, Beb!" teriak Zuck frustasi sambil membanting upil.

"Ya terus apa masalahnya kalau mobil?! Di rumah udah ada tiga!" seru Linn membalas bentakan Zuck.

Mulut spontan Zuck terkunci. Sombong banget! Batin Zuck menyadari dirinya cuma sobat missqueen kelas bawah.

"Aku tuh maunya sepeda. Aku ingin dibonceng tengah kayak cewek yang kita temui tadi."

Zuck menarik napas. "Iya, Beb, aku juga tahu itu cuma mobil. Maksud aku gini lho. Denger baik-baik, hadiah mobilnya kita ambil, abis itu kita jual buat beli sepeda."

Linn memandang Zuck takjub, lalu tersenyum lebar sampai ke kuping. "Iya, juga, ya, Mas? Kok aku nggak kepikiran sampai ke situ."

"Makanya jangan emosional dulu," kata Zuck. "Kepasan banget Jabon punya tabungan 1 juta dan katanya buat beli mobil. Jadi kita jual aja ke Jabon, trus duitnya kita beliin sepeda."

"Iya, Mas, setuju. Mas Zuck sumpah pinter banget. Yess, akhirnya kita punya sepeda!" seru Linn loncat-loncat kegirangan, kemudian sekonyong-konyong memeluk Zuck erat-erat. "I love you!"

****

Sampai jumpa di cerita-cerita Zuck Linn episode selanjutnya. Oia, biar gampang kalau mau baca serial ini dari part-part sebelumnya, kamu bisa klik kategori Serial Zuck Linn, lalu pilih episode yang pengen kamu baca. Dan kalau suka dengan serial ini, bisa kali BAGIKAN ARTIKEL INI dengan cara klik lambang Facebook, Twitter atau WhatsApp yang ada di bawah ini, biar banyak yang baca dan saya semangat melanjutkan cerita ini hehe.

2 komentar untuk "Zuck Linn #37: Sepeda Untuk Linn 3"

Berlangganan via Email