Selasa, 27 Desember 2016

Cara Menghubungkan Akun Instagram Dengan Blog Menggunakan Lightwidget

Hai semua! Kali ini aku akan sharing tentang cara memasang widget Instagram di halaman blog. Ini tentu berguna buat kamu yang demen Instagraman sekaligus punya blog, terus ingin menampilkan akun Instagram di blog tapi belum tahu caranya. Nah, sebentar lagi aku akan berbaik hati membagi tahu caranya step by step.

Manfaat menampilkan widget Instagram di blog, selain untuk mempromosikan profil Instagram kita kepada pengunjung blog, juga bisa membuat tampilan blog jadi lebih menarik. Apalagi buat blogger-blogger yang pinter menghasilkan foto-foto bagus, sayang banget kalau galeri Instagramnya tidak dihubungkan ke blog.
Instagram Arizuna Zukirama
Instagram @zuckici
Tapi memasang widget Instagram di blog kemungkinan juga bisa membuat loading blog menjadi lebih berat. Sebab ukuran widget-nya lumayan memakan tempat. Apalagi kalau blog sudah dihiasi banyak widget-widget lainnya, bisa-bisa loadingnya benar-benar akan terganggu. Jadi kalau di blog kamu widgetnya sudah banyak, ada baiknya dikurangi untuk memberi ruang Lightwidget.

Sebenarnya ada banyak penyedia widget Instagram untuk blog dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti Instagme, SnapWidget, Websta Widgets, Lightwidget dan mungkin masih ada lagi. Aku sendiri setelah menjajal beberapa widget, akhirnya memilih Lightwidget untuk blog ZUCKICI.COM ini. Lightwidget yang paling sesuai dengan keinginanku.

Yang jelas Lightwidget tampilannya sudah responsive. Jadi ukurannya akan menyesuaikan saat blog dilihat melalui desktop, tablet maupun layar ponsel ukuran berapapun. Foto-foto kita yang ada di Lightwidget juga ketika dibuka akan terhubung langsung menuju website asli Instagram, bukan ke situs penyedia widget yang kadang-kadang banyak iklannya. Selain itu fitur-fitur di Lightwidget cukup banyak dan cara setting-nya juga sangat gampang.

Tapi selain kelebihan-kelebihan di atas, Lightwidget juga memiliki sedikit kekurangan. Saat kita apload foto di Instagram, foto tersebut tidak akan langsung tampil di widget yang ada di blog. Terkadang butuh waktu sampai berjam-jam fotonya muncul. Kalau mau yang cepat tampil setelah mengunggah foto baru, bisa menggunakan Light Widget versi premium alias berbayar. Cukup bayar sekali seharga $10, Lightwidget Pro sudah bisa digunakan selamanya.

Baiklah, tanpa memperpanjang lagi kata-kata sambutan, berikut ini cara memasang widget Instagram di blog menggunakan Lightwidget.

Langkah pertama masuk ke situs Light Widget (lightwidget.com), klik Created Widget. Kemudian untuk menghubungkan Lightwidget dengan akun Instagram klik Log In yang berwarna hijau. Masukkan nama pengguna beserta kata kuncinya. Setelah berhasil masuk ke Instagram, klik Authorize sebagai syarat bahwa kita mengizinkan Lightwidget terhubung dengan akun Instagram kita. Oh iya, saat proses redirect ini privasi akun Instagram kita harus diatur untuk umum, jangan diprivat hanya untuk pengikut.

Setelah kembali berada di beranda Lightwidget, di kolom di bawah keterangan INSTAGRAM USERNAME masukkan nama pengguna kita. Kalau di widget hanya ingin menampilkan foto dengan hastag tertentu, tuliskan nama hastagnya di kolom di bawah keterangan FILTER PHOTOS BY HASTAGS. Kalau ingin semua foto ditampilkan, abaikan saja kolom tersebut. Setelah itu silakan coba klik PREVIEW.

Sampai di sini proses redirect akun Instagram ke Lightwidget sudah selesai. Selanjutnya tinggal mengatur bentuk tampilan Lightwidget yang nantinya akan mejeng di blog kita. Pengaturan yang bisa dilakukan meliputi:

TYPE OF WIDGET

Di type of widget ini kita bisa mengatur model galeri foto yang akan tampil di blog. Ada tiga pilihan yang tersedia:

1. Grid

Tampilan grid seperti kisi pada album foto di galeri ponsel. Panjang dan lebar semua foto akan terlihat sama dan rapi meskipun ketika diposting di Instagram ukurannya berbeda-beda.

2. Slide Show

Kalau ingin tampilan fotonya bergerak, pilih saja no 2, Jokowi JK, eh Slide Show.

3. Columns (Pinterest Style)

Di tipe ini, seluruh tulisan keterangan foto (caption) akan terpampang tepat di bawah foto.

NUMBER OF COLUMNS

Number of columns adalah jumlah foto yang ingin ditampilkan secara mendatar.

NUMBER OF ROWS

Number of rows adalah jumlah foto yang ingin ditampilkan secara menurun.

NUMBER OF PHOTOS

Number of photos adalah jumlah foto yang ingin ditampilkan saat memilih tipe Slide Show.

IMAGE HOVER EFFECT

Fitur ini untuk memberi efek pada foto saat kursor menunjuk salah satu foto yang ada di widget Instagram di blog. Efek-efek yang bisa dipilih antara lain:

1. Fade In

Kalau memilih Fade In, ketika kursor mengarah ke salah satu foto, foto tersebut akan langsung tampak memudar. Seakan-akan ada yang menambah brightness-nya secara misterius.

2. Fade Out

Fade Out kebalikan dari Fade In. Di widget semua foto akan tampak memudar, tapi begitu kursor menunjuk salah satu foto, foto tersebut langsung terlihat jernih sesuai aslinya.

3. Zoom In

Zoom In memberikan efek membesar pada foto saat foto ditunjuk kursor. 

4. Zoom Out

Sebaliknya Zoom Out, foto akan terlihat mengecil/menjauh ketika disentuh kursor.

5. Zoom and Rotate

Sementara kalau Zoom dan Rotate, saat ditunjuk kursor, foto akan membesar dan sedikit memutar.

6. Icon Overlay

Pilih ini kalau ingin menunjukkan overlay. Overlay adalah suatu gambar putih yang ber-background warna hitam.

7. Show Caption

Jika memilih efek Show Caption, saat kursor diarahkan ke foto, di dalam foto bagian bawah akan terlihat keterangan foto tersebut. Tapi hanya terlihat beberapa potong saja. Kalau ingin seluruh caption terlihat, ceklis pada tulisan Show Captions yang ada di bawah Padding.

Itulah beberapa efek foto yang terdapat di Light Widget. Kalau tidak ingin memberi efek apapun, pilih saja None.

PADDING

Padding adalah jarak antara foto satu dengan foto yang lainnya, baik jarak mendatar maupun menurun. Isi saja 0 kalau tak ingin memberi jarak.
Widget Instagram Untuk Blog
Setting Lightwidget
Klik Preview untuk melihat-lihat contoh widget Instagram yang nanti akan tampil di blog. Kalau masih ada yang kurang sreg silakan diubah-ubah lagi. Kalau dirasa sudah memuaskan, langsung saja klik Get Code. Copy semua kode yang muncul jangan sampai ada yang ketinggalan sehuruf pun.

Selanjutnya masuk ke Dashboard blog. Pilih Tata Letak, pilih Tambahkan Gadget, kemudian pilih HTML/JavaScript. Tulis judulnya Instagram atau terserah kamu mau diberi judul apa, kemudian pastekan kode tadi di dalam kolom Konten. Terakhir klik Simpan.

Dengan demikian segala proses pemasangan widget Instagram telah rampung. Coba cek blog kamu sekarang. Foto-foto keren kamu di Instagram juga terpampang nyata di blog. Tinggal atur saja letak Lightwidget enaknya di mana.

Seperti itulah cara memasang widget Instagram di blog menggunakan Lightwidget. Untuk widget-widget lainnya seperti Instagme, Websta Widget dan Snapwidget, cara pasangnya sebenarnya tidak jauh berbeda. Hampir sama. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Terakhir kalau ingin berteman secara Instagram dengan aku, follow saja akun @zuckici kemudian kirim pesan jika ingin difollow balik.

Selasa, 29 November 2016

Merayakan Hari Kemerdekaan di Gunung Bromo

Cerita tentang pengalaman berkunjung ke Gunung Bromo ini kalau tidak males seharusnya sudah ditulis sejak dua bulan lalu. Soalnya sekarang sudah bulan November, bulan depan Desember, bulan depannya lagi sudah tahun baru 2017. Yeiy! -malah ngitung bulan-. Sementara kunjungan ke Bromo itu terlaksana pada bulan Agustus lalu. Jadi sebenarnya sudah basi untuk diceritakan.

Tapi tak apa, menilik sebuah pepatah kekinian 'lebih baik telat dari pada telat banget', maka kenangan keren itu tetap akan aku bagikan gratis meskipun sudah telat tiga bulan. Siapa tahu ada di antara pembaca yang berencana liburan tahun baru ke Bromo, tulisan ini bisa sedikit dijadikan bahan renungan.

Asal tahu saja, sudah lama aku bercita-cita suatu saat bisa berwisata ke gunung yang konon kabarnya memiliki panorama sun rise terkeren sedunia itu. Dan mumpung sedang bermukim di Surabaya yang cuma berjarak 112 km dari gunung Bromo, sejak beberapa bulan sebelumnya aku sudah mencari hari baik dan tanggal baik untuk mewujudkan cita-cita itu.

Dan akhirnya, hari baik yang terpilih jatuh pada 17 Agustus 2016! Bertepatan dengan dirgahayu Republik Indonesia ke 71.

Merayakan 17 Agustus di Gunung Bromo
Yang kami pegang ini adalah bendera Indonesia.
Waktu terbaik mengunjungi gunung Bromo adalah saat musim kemarau, kira-kira antara bulan April - September. Kalau musim hujan, bisa-bisa tidak bisa menikmati mentari terbit karena tertutup mendung atau air hujan yang biasanya turunnya keroyokan.

Dan pada malam H, setelah sejak maghrib mengikuti acara syukuran hari kemerdekaan dilanjut dengan nobar layar tancap film perjuangan bersama warga, -di sekitar kosan aku di daerah Setro, Surabaya, selalu ada kegiatan seperti ini setiap memperingati hari kemerdekaan-, kira-kira pukul 00:00 dini hari, aku bersama teman-teman dari Kadal Community yang berjumlah 8 personel, mulai bergerak meninggalkan Kota Pahlawan menuju kabupaten Probolinggo menggunakan sepeda motor.

Untuk menuju Bromo sebenarnya ada empat pintu masuk, sesuai dengan letak geografis gunung Bromo itu sendiri yang berada di perbatasan empat kabupaten; Malang, Lumajang, Pasuruan dan Probolinggo. Tapi kami berdelapan, yang kesemuanya belum pernah ke Bromo, memilih masuk melalui Probolinggo yang merupakan jalur masuk paling banyak dipilih para wisatawan maupun wisatawati.

Melalui Probolinggo, jalannya cukup bagus dan beraspal. Hanya saja menjelang tiba di lokasi, layaknya daerah-daerah pegunungan lainnya, bentuk jalannya banyak yang berupa turunan dan tanjakkan curam. Tikungannya juga tajam-tajam. Jadi dalam menyetir harus extra hati-hati dan motor wajib dalam kondisi prima. Terutama rem, depan belakang harus berfungsi maksimal. Kalau sepeda motor remnya rem sendal, mending nggak usah sok antimainstream dibawa ke Bromo.

Kurang lebih jam 02:30 WIB kami tiba di gardu penjualan tiket masuk ke lokasi wisata gunung Bromo. Di situ aku merasa beruntung banget menjadi orang Indonesia, pasalnya untuk pribumi harga tiket masuknya cuma Rp. 32.500. Coba saja andai aku orang Korea atau Zimbabwe, biaya masuknya Rp. 317.500! Beda tebel!

Harga tiket ke Bromo untuk wisatawan mancanegara pada hari libur memang segitu, Rp. 317.500. Sementara kalau bukan hari libur cuma Rp. 217.000. Cuma selisih cepek saja. Sedangkan untuk turis lokal kayak aku, pada hari-hari kerja harga tiketnya Rp. 27.500. Dan karena waktu itu aku ke sana bersempena dengan hari libur kemerdekaan, jadi tiket yang harus dibayar adalah Rp. 32.500. Itu belum termasuk tiket sepeda motor Rp. 5000 per motor.

Semua alat transportasi yang dibawa masuk ke objek wisata Bromo memang dikenakan tiket. Harganya berbeda-beda tapi tetap bayar. Untuk mobil Rp. 10.000. Sepeda motor Rp. 5.000. Sepeda pancal Rp. 2500. Terus buta yang ngebromo menunggang kuda, tiket masuknya Rp. 2000. Seperti itulah rincian harga tiket untuk semua jenis kendaraan. Tidak ada yang gratis. Kecuali entah kalau naik elang Indosiar.

Setelah semua urusan tiket beres, kami singgah di warung makan di sebelah loket untuk urusan perut. Awalnya karena kuatir harga makanan di situ mahal karena berada di lokasi pariwisata, aku cuma pesan nasi rawon sama white coffie. Tapi ternyata saat pembayaran harganya standar saja. Nasi rawon Rp 10.000 dan Rp. 2.500 untuk kopi luwak-nya.

Dan demi mengejar sun rise, setelah pembayaran, nggak pake lama kami langsung bergegas meninggalkan warung. Alhasil kami justru kecepetan tiba di spot menyaksikan matahari terbit. Tentang lokasi nobar sun rise itu kami peroleh dari penduduk setempat yang sepertinya juga menjadi petugas wisat. Saat kami bertanya, beliau malah langsung mengantar kami ke TKP beserta beberapa rombongan lain.

Jalan menuju lokasi melihat sun rise tidak susah tapi juga tidak bisa dibilang mudah. Masih berupa jalan tanah yang agak licin dan sedikit berbatu. Tapi untuk sepeda motor benar-benar bisa sampai ke lokasi. Karena saat itu libur kemerdekaan, di lokasi sudah ramai pengunjung yang sama-sama menanti terbitnya matahari dari timur.

Sayangnya, lokasi itu ternyata bukanlah lokasi favorit melihat matahari terbit. Hal ini kusadari beberapa hari kemudian. Setelah membandingkan hasil foto kami, dengan foto orang-orang yang beredar di internet, kok terlihat beda jauh.

Dari hasil searching itu juga akhirnya aku tahu bahwasannya ternyata ada banyak spot untuk melihat sun rise di Bromo. Yang paling terkenal tentu saja Penanjakan. Kemudian ada Penanjakan 2, Bukit Kingkong, Bukit Cinta dan yang terbaru Bukit Mentingen. Dari hasil menghitung-hitung dan mengamati peta Bromo di Google Maps, sepertinya view kami pada saat itu adalah dari perbukitan Cemoro Wulan.
Baru terbit dari timur.
Kalau di lokasi yang biasa digunakan tadi, saat pengunjung menghadap ke Gunung Bromo, posisi terbitnya matahari ada di sebelah kiri. Tempatnya juga lebih tinggi dibanding gunung Bromo, jadi keindahan detik-detik matahari terbit menyinari gunung Bromo dan Gunung Batok benar-benar sempurna. Sedangkan lokasi kami waktu itu lebih rendah. Saat menghadap ke Bromo, posisi matahari ada di belakang.

Tapi rapopo, aku ambil hikmahnya saja. Mungkin karena waktu itu sedang hari libur, pengunjungnya membludak, semua spot yang biasa digunakan sudah macet, sehingga kami yang belum berpengalaman ini diarahkan ke perbukitan Cemoro Wulan.

Karena waktu itu aku belum tahu kalau sebenarnya tempat itu bukanlah tempat melihat sun rise yang semestinya, aku tetap terpaku dan terpukau saat menyaksikan detik demi detik terbitnya matahari dari belahan bumi sebelah timur. Aku tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata. Pokoknya sungguh menakjubkan alam semesta ciptaan Allah ini. Subhanallah. Tidak lupa, di 17 Agustus 2016 tersebut, kami berdelapan memanjatkan do'a untuk kebaikkan Republik tercinta ini.

Ketika matahari sudah setinggi tiang listrik, kami segera meninggalkan bukit Cemoro Lawang. Kami turun ke Lautan Pasir atau sering disebut juga Segoro Wedi. -Segoro Wedi diambil dari bahasa Jawa. Segoro artinya laut. Wedi artinya takut. Jadi Segoro Wedi artinya Lauatan Pasir-. Lautan Pasir pagi itu cuacanya dingin banget kayak di daerah pegunungan. Kabutnya juga pekat. Ngomong saja sampai berasap saking dinginnya.

Lautan Pasir Bromo
Gampang kalau mau pup. Banyak pasir.
Namun seiring dengan sang mentari yang semakin tinggi, perlahan tapi pasti ketebalan kabut semakin menipis, menipis, menipis, menipis dan menipis. Jarak pandang tadinya terbatas menjadi bebas dan jelas. Hingga akhirnya tampak di depan mata kami panorama hamparan pasir yang begitu luas. 

Setelah puas bermain-main di lautan pasir. Kemudian mengingat, menimbang serta memperhatikan udara yang semakin terik, kami berdelapan segera bergegas menuju destinasi selanjutnya yang merupakan menu utama dari paket jalan-jalan saat itu, yaitu ke kawah Bromo.

Pos terakhir sebelum ke kawah Bromo adalah di sekitar Pura Luhur Poten yang sekaligus tempat parkir bagi yang membawa motor. Tarif parkirnya Rp. 10. 000. Di sana banyak penjual aneka makanan, minuman, kaos Bromo dan bunga Endelweis. Juga sudah tersedia fasilitas toilet umum. Jadi di pos terakhir ini pengunjung bisa beristirahat sejenak menghimpun tenaga sebelum menuju puncak Bromo.

Menahlukkan puncak Bromo tidaklah sesusah mendaki puncak Semeru apalagi Puncak Jaya Wijaya. Cabe-cabean dan anak rumahan juga sanggup. Yang penting kondisi fisik fit. Cukup membawa air minum sebotol dan kamera buat foto-foto, kamu sudah memenuhi syarat untuk ke puncak Bromo.

Kenapa ke puncak Bromo itu mudah? Pertama pengunjung dimanjakan dengan adanya alat transportasi kuda. Jadi buat kamu yang takut kurus karena berjalan kaki, bisa naik kuda dengan harga antara Rp. 60.000 sampai Rp. 100.000. Tergantung kepinteran kamu dalam melobi harga.

Kalau aku memilih jalan kaki saja. Selain aroma petualangannya lebih berasa, dengan jalan kaki bisa menghemat biaya. Lagipula tidak terlalu jauh. Cuma kira-kira 3 Km sampai ke bandan gunung dengan track menanjak landai. Yang naik kuda juga hanya sampai ke sini.

Untuk sampai ke puncak mau tak mau memang musti berjalan kaki. Jalan yang dilalui menanjak dengan kemiringan 45 derajat. Tapi tidak perlu kuatir, sudah disediakan anak tangga yang akan memudahkan langkah-langkah kita. Juga tidak perlu kuatir terjadi tabrakan, karena anak tangganya sudah terbagi dalam dua jalur, ada jalur naik dan tepat di sebelahnya ada jalur untuk turun.

Jumlah anak tangganya ada 250 buah. Versi lain mengatakan jumlahnya 200 buah. Entah mana yang salah aku tak sempat menghitungnya. Konon kabarnya kalau datang ke Bromo bersama pacar, terus bersama-sama menghitung anak tangga dan hasilnya sama, maka hubungan mereka akan langgeng. Tapi tentu saja itu cuma mitos yang tidak perlu dipercaya, apalagi buat kamu-kamu yang masih jomblo.

Tangga Menuju Kawah Bromo
Orang lain naik lewat tangga. Aku memilih jalanku sendiri.
Sesampainya di puncak, kita bisa melihat langsung kawah gunung Bromo dari tepiannya. Yang mana terus menerus mengepulkan asap putih. Sungguh pemandangan yang keren. Sesekali aroma belerang menguar saat ada angin lewat.

Dari ketinggian itu kita juga bisa menyaksikan Pura Luhur Poten, hamparan luasnya Lautan Pasir, serta pegunungan yang mengelilinginya. Tak hanya itu, kita juga menyaksikan lebih dekat gunung Batok, tetangganya gunung Bromo yang juga tak kalah mengagumkan. 

Kala itu, dari ketinggian itu juga aku melihat beberapa pengunjung lain yang masih berada di bawah tampak kecil-kecil. Dan setelah mereka sampai di atas, ternyata mereka memang anak-anak kecil yang dibawa orang tuanya liburan ke Bromo. Njir!

Meskipun di pinggir kawah Gunung Bromo dipagari beton setinggi seperempat badan, tidak ada salahnya kalau kamu berkunjung ke sana tetap hati-hati dan jangan sembrono saat melongok ke bawah. Terutama saat sesi foto-foto dan bernarsis ria. Jangan sampai demi mendapat view terbaik untuk dipamer di jejaring sosial, justru mengalami nasib sial. Kalau sudah begitu, bukannya muncul di media sosial, tapi di media massa.

Kawah Gunung Bromo
Muncul dari kawah. Berarti Wedhus Gembel. #lah
Demikian sepenggal kisah perjalanku ke gunung Bromo. Secara umum liburan waktu itu cukup menyenangkan. Namun ada beberapa penyesalan yang mengganjal di hati hingga saat ini.

Pertama, karena saat itu sudah pada capek dan ngantuk berat, begitu turun dari kawah teman-teman langsung mengajak pulang, sehingga tidak sempat ke Pasir Berbisik dan Padang Savana alias Bukit Teletubies yang padahal lokasinya masih di kawasan wisata Bromo Tengger. Penyesalan selanjutnya adalah melihat sun rise bukan dari Penanjakan. Semoga di lain hari aku bisa menebus penyesalan itu.

Jumat, 21 Oktober 2016

Belajar dari Ditutupnya MyWapBlog

25 November 2016 MyWapBlog tutup! Sebuah kabar yang tentu saja sangat mengagetkan bagi para blogger yang menggunakan platform ini untuk aktivitas ngeblog sehari-hari.

"Aa-pah?!! Tu.. tup?!!" Mungkin begitu reaksi yang timbul saat pertama mengetahui berita itu, lengkap dengan mimik wajah tegang dan mata melotot kayak adegan di sinetron-sinetron TV 21 Inch.

Tapi sepertinya itu berlebihan. Buktinya aku juga punya blog di MyWapBlog tapi aku tidak terkejut. Aku biasa-biasa saja. Tidak ganteng dan juga bukan anak orang kaya. Masalahnya mungkin karena sudah lama tidak aktif di MWB, sehingga aku bisa lebih tegar atas penutupan platform blog yang sudah beroperasi sejak 2008 itu.

MyWapBlog tutup pada 25 November 2016
Blog aku di MyWapBlog

Beda dengan yang dirasakan teman-teman yang aktif menggunakan MWB, mereka pasti kaget dan tidak rela. Terlihat dari reaksi mereka di artikel pengumuman akan berhentinya layanan MyWapBlog yang dibanjiri lebih dari 700 komentar. Ada yang sedih, kecewa, tidak terima, protes, memaki marah-marah, bahkan sekarang kolom komentarnya sudah ditutup demi mencegah kerusuhan yang lebih anarkis.

Awalnya Arvind Gusta, pemilik MWB, menyatakan penutupan itu karena adanya masalah pribadi. Masalah pribadi seperti apa tidak disebutkan secara spesifik. Entah baru putus sama pacarnya atau mungkin sering ditanya 'kapan nikah?' sama penggemarnya, sehingga dia kesal dan tidak mood lagi mengurus MyWapBlog.

Sementara itu di antara blogger sempat timbul gosip kalau penutupan itu karena MWB bangkrut. Ada juga yang mengatakan MWB bermasalah karena penggunanya banyak yang menerbitkan konten yang melanggar hak cipta. Entah mana yang benar.

Tapi kemudian Arvind Gusta mengklarifikasi pernyataannya. Menurutnya, alasan penutupan MWB bukanlah masalah pribadi, tapi keputusan pribadi. Dalam satu tahun terakhir telah terjadi situasi yang benar-benar tidak kenal kompromi, yang menghisap semangat, gairah, motivasi, dan inspirasi, sehingga dengan sangat berat hati beliau memang harus menutup MyWapBlog.com. Padahal bulan November tersebut, MWB tepat berulang tahun yang ke-delapan. Dan di Indonesia sendiri, penggunanya sudah sangat banyak.

Penutupan itu sendiri dilakukan secara berkala:

Tanggal 5 dan 6 Oktober 2016 penutupan pendaftaran blog baru, tapi blog-blog yang sudah terdaftar masih bisa memposting konten.

Tanggal 15 Oktober 2016 disediakan alat migrasi alias pemindahan konten dari MyWapBlog ke platform Blogger atau Wordpress.

Tanggal 25 Oktober 2016 penutupan alat penerbitan konten. Jadi mulai tanggal ini sudah tidak bisa lagi mempublikasikan postingan baru. Mulai tanggal ini juga kolom komentar di MWB ditutup. Hmm... Bakalan tidak lagi kata-kata 'Nais info. Rateback, Bro. Kunbal, Gan. Dan sebagainya' mewarnai hari-hari.

Tanggal 31 Oktober 2016 disediakan alat URL Forwarding. Hal ini supaya nanti ketika ada pembaca mengakses blog MWB, akan teralih ke blog yang baru di Blogger ataupun WP.

Tanggal 15 November 2016 pemberitahuan terakhir bahwa terhitung mulai 25 November 2016 MyWapBlog benar-benar akan tutup. Bukan becanda semacam November Mop atau apalah. Jadi kalau sayang dengan konten yang sudah diterbitkan di MyWapBlog, segeralah dimigrasikan. 

Tanggal 24 November 2016 hari terakhir untuk mendapatkan file cadangan. Jika di tanggal ini konten belum dipindahkan ke Blogger atau Wordpress, maka akan terhapus dari dunia maya.

Tanggal 25 November 2016. Hiks! Hari yang menyedihkan itu akhirnya tiba. MyWapBlog.com yang biasanya buka 24 jam, resmi tutup dan tidak bisa diakses lagi! Hilang dari peredaran dunia maya!

Selamat tinggal MyWapBlog.com. Terima kasih Mr. Arvind Gupta. Meskipun aku tidak terlalu aktif, tapi sebuah kebanggaan pernah menjadi bagian dari keluarga besar MWB. Tetap ada rasa sedih di hati ini mendengar berita ini.

Dari penutupan ini, satu pelajaran bagi aku sebagai orang yang suka ngeblog, bahwa platform blogging itu bisa tutup sewaktu-waktu. Bisa jadi suatu saat nanti dengan alasan-alasan tertentu, giliran Blogger, Wordpress, Tumblr, Wattpad dan sebagainya yang menutup layanannya. Beberapa tahun lalu, platform blogging sebesar Multiply saja bisa tutup kan?

Tapi hal tersebut jangan sampai menyurutkan semangat kita untuk ngeblog. Apalagi kalau memakai platform Blogger, kita tidak perlu kuatir. Blogger dimiliki oleh raksasa internet Google, jadi kemungkinan tutupnya sangat kecil.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Yang Sering Hilang Saat Dibutuhkan

Rasanya pasti jengkel banget kalau kita sedang butuh sesuatu, tapi sesuatu tersebut malah hilang. Bukan hanya jengkel, bahkan mungkin ada yang sampai uring-uringan dan tak mau berhenti sebelum yang hilang itu ketemu.

Marah dan Kesal

Dan di hari yang baik ini, ZUCKICI.COM akan membahas beberapa hal yang justru menghilang saat dibutuhkan. Apa saja itu? Cekidot!


REMOTE TV

Remote TV merupakan perlengkapan hiburan keluarga yang peranan dan keberadaannya sangat penting tapi justru jarang mendapat perhatian. Remot kerap diperlakukan semena-mena, kadang sambil nonton dipukul-pukulkan ke dengkul, kalau sudah ngantuk digeletakkan sembarangan, terus kena injak, ketendang, ketindih pas ketiduran, bahkan kadang digunakan untuk menyambit adik yang bandel.

Padahal dengan remote kita bisa nonton TV sambil bebaringan santai, tanpa harus hilir mudik mendatangi TV untuk mengganti saluran ketika lagi iklan. Tapi karena tidak dijaga dengan baik, remote sering menghilang justru pada saat-saat krusial. Misalnya sedang buru-buru mau nonton acara Adzan Maghrib untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, remote kontrolnya malah hilang. Akhirnya biar tetap bisa nonton santai, nontonnya selonjor di depan TV, nanti kalau mau pindah channel tinggal pencet-pencet pakai jempol kaki.

Penyebab raibnya remot biasanya karena lupa ditaruh di mana. Bisa juga sengaja disembunyikan karena sirik melihat Emak yang setiap malam berkuasa penuh atas remote demi menonton Uttaran.

Remote TV bagi beberapa ibu-ibu memang sudah dianggap seperti anak sendiri, kalau hilang beliau yang paling kebingungan dan sibuk mencari-cari. Tapi meski seperti bagian dari keluarga, remote TV sering dianaktirikan. Ada yang sampai tutup baterainya disolasi, bahkan ada yang tega cuma dikaretin karet gelang biasa.


KOREK API

Saat tidak butuh-butuh banget, korek api bisa berserakan di mana-mana. Di atas meja ada 4, di bawah kasur ada 13, buka laci nemu korek, masukin tangan ke kantong nggak sengaja kepegang korek, bersin keluar korek api.

Tapi suatu saat sedang butuh banget, korek api bisa menghilang tak terlihat sebijipun. Sudah dicari-cari sampai jelek tetap tidak ketemu. Kalau pun ketemu dapatnya korek yang sudah rusak. Entah minyaknya yang habis, rodanya copot atau batu pemercik api-nya sudah aus. Untuk mendapatkan api sering diakali dengan mengkombinasikan antara korek yang satu dengan korek api yang rusak lainnya. Kalau bahkan bangkai korek api saja tidak ada, solusi terakhir biasanya mencari sumber api dari kompor gas!

Korek Api Unik


Di Indonesia korek api memang salah satu benda yang rawan hilang. Paling banyak kasus kehilangan korek api adalah akibat ditikung teman sendiri. Biasanya ini terjadi saat acara kumpul-kumpul. Awalnya dipinjam misalnya untuk menyalakan rokok, kemudian saat kita meleng sedikit saja, korek api yang malang itu sudah berpindah kantong.

Kalaupun kemudian besoknya kita yakin banget itu korek milik kita, si pencuri tak akan mau mengaku.

"Ini warna pink pasti korek gue kemarin?"

"Lo pikir pabrik korek ngeluarin warna pink cuma satu doang?!!"

Begitulah.

Selain karena ditilep teman, korek api sering hilang akibat keteledoran sendiri. Lupa meletakkannya di mana, lupa memasukkan kembali ke saku, ketinggalan di suatu tempat dan sebagainya. Hal itu terjadi karena untuk memiliki korek api bukan perkara susah, gampang banget malah, baik secara halal maupun haram -nilep punya temen-, sehingga kita kurang menjaganya dengan baik. Sesuai dengan rumus kehidupan, 'sesuatu yang mudah didapat, akan mudah pula hilang'.


GUNTING KUKU

Selanjutnya gunting kuku. Ketika sedang tidak diperlukan, benda itu sering terlihat di depan mata. Namun begitu dibutuhkan, dia malah hilang entah di mana. Seisi kamar sudah dicari-cari, orang seisi rumah sudah diintrogasi, tapi tak ada yang tahu keberadaan si gunting kuku. Dicari di Google juga cuma ketemu gambarnya saja.

Akhirnya karena risih dengan kuku kaki yang sudah hitam-hitam panjang menjuntai-juntai, terpaksa beli gunting kuku baru. Nah biasanya beberapa hari kemudian saat sudah tak butuh lagi, gunting kuku yang sebelumnya hilang, tanpa sengaja ketemu sedang anteng tergeletak di kolong meja.


TEMAN!

Ketika kita sedang senang, biasanya yang namanya teman itu suka dekat-dekat dengan kita. Apalagi kalau senang itu karena kita sukses secara materi, mereka akan ngariung sok akrab di sekitar kita.

"Sebagai temen, asli gue ikut bangga usaha warnet lo rame, Bro!" Teman memberi pujian dengan senyum penuh modus, biar diberi waktu gratis main dota.

"Kita berteman sudah lama sekali ya? Nggak nyangka sekarang kamu sudah diangkat jadi menager. Selamat ya, Sob." Ucapan gombal yang aslinya sambil cari-cari lowongan kerja.

"Denger-denger empat angka yang lo pasang kemarin tembus. Emang warbyasah temen gue satu ini." Ini sebenarnya rayuan minta bagi-bagi rezeki haram.

Begitu contoh kecilnya. Di kala kita sedang senang, memang teman-teman palsu akan berdatangan membawa 'ada maunya' masing-masing.

Ilustrasi Teman Palsu

Tapi!!

Tapi giliran kita susah dan butuh teman untuk sekedar berbagi cerita, mereka justru menghilang bagai ditelan tsunami.

"Kemana aja, Bro, susah banget sih nyari lo sekarang? Warnet gue udah bangkrut nih. Gue butuh bantuan lo sejuta aja buat tambahan modal buka wartel."

"Anu, Bro. Duit gue udah abis buat cicilan mobil, bayar arisan, biaya kuliah adik-adik, nyantunin panti jomblo...." dan berbagai alasan lainnya. Teman berbulu domba seperti ini, biarpun punya pasti ngakunya nggak, lalu akan semakin menghilang karena takut dimintai bantuan.

"Halo, Sob. Aku baru aja dipecat dari perusahaan. Ada waktu nggak? Aku butuh teman...

"Eh... Eng, anu. Sori, aku lagi di jalan, nanti aja deh aku telepon balik."

Tapi boro-boro menelepon balik, ditelepon ulang saja tak pernah mau mengangkat. Bahkan saat bertemu di jalan saja seolah-olah tidak kenal. Kan kampret!

"Teman-teman, aku ketangkep polisi nih." Kirim pesan ke banyak teman berharap mereka mau jenguk. Tapi kebanyakan cuma dibaca saja kayak koran sore. Beberapa bahkan tidak di-read padahal sering online. Sekalinya ada yang balas, 'Makanya jangan suka judi togel. Urusannya sama polisi kan?' Padahal ketika dulu menang, oknum teman ini sok akrab dan ikut menikmati.

Begitulah 'teman', suka menghilang saat dibutuhkan. Memang tidak semua tapi banyak.

Itu saja. Kalau pembaca ada lagi ide mengenai sesuatu yang sering hilang saat dibutuhkan, silakan sampaikan lewat kolom komentar. Trims.

Kamis, 13 Oktober 2016

Jalan-jalan ke Blitar Bersama Wong Crewchild

Pasti teman-teman sudah tahu atau paling jelek pernah mendengar tentang kabupaten Blitar. Kalau ada yang bahkan mendengarnya saja belum pernah, sepertinya perlu diselidiki waktu sekolah dulu guru Penjakes-nya siapa. Sebabnya Blitar selalu masuk buku sejarah atas peristiwa heroik pembrontakan PETA yang dikomandoi Supriyadi di masa penjajahan Jepang. Belum lagi Ir. Soekarno, proklamator kemerdekaan yang sekaligus Presiden pertama Indonesia itu makamnya juga berada di Blitar.

Koruptor yang terkenal dengan slogan '1 rupiah saja saya mengambil duit negara, saya siap digantung di Monas' Anas Urbaningrum berasal dari Blitar. Aku sendiri juga keturunan bangsa Blitar. Selain itu tempat-tempat wisata di Blitar seperti makam Bung Karno, Pantai Serang, Kampung Cokelat, Pantai Tambak Rejo, Pantai Pudak, Perkebunan Sirah Kencong, Rambut Monte dan lain sebagainya sudah sering diliput oleh para pengguna Instagram. Jadi, memang sudah seharusnya Blitar diketahui oleh banyak orang.

Dan Alhamdulillah beberapa hari lalu, selama dua hari aku dan teman blogger wongcrewcild.com dan juga teman-teman dari Komunitas Lintas Agama, berkesempatan jalan-jalan tampan merayakan week end ke Blitar.

Liburan Bersama Sahabat
Sebelum berangkat berfoto dulu di belakang Alphard
Jadwal kunjungan yang kami rencanakan sebelumnya adalah sabtu pagi ziarah ke makam Bung Karno, dilanjut ke Istana Gebang yang merupakan tempat tinggal Bung Karno di masa kecil sehingga ABG. Setelah itu siangnya meluncur ke Blitar selatan menuju Pantai Pangi dan bermalam di sana. Kemudian besoknya sebelum kembali ke kediaman masing-masing, singgah ke Air Terjun Tirto Galuh.

Begitulah rencananya. Tapi manusia cuma bisa berencana, sementara Tuhan yang menentukan. Sabtu pagi itu, kami yang berangkat dari titik kumpul di rumah Wong Crewchild di kota Malang, terjebak kemacetan parah hampir di separuh perjalanan Malang - Blitar. Mobil hanya bisa maju mandek maju mandek cantik. Maju lima meter, mandeknya sampai bermenit-menit. Akibatnya kami memasuki kabupaten Blitar saat hari sudah di ambang sore. Sangat terlambat dan sudah tidak ada waktu lagi mengunjungi tempat pertama dan kedua di dalam rencana. Terpaksa jadwal kunjungan kami ubah menjadi kemping ke Pantai Pangi dulu, baru besoknya ke makam.

Dan pasca sholat Maghrib, di bawah guyuran hujan air dari angkasa, kami meneruskan perjalanan langsung ke pantai Pangi yang ternyata lokasinya masih cukup jauh. Menjelang tiba di tujuan, kondisi jalannya bahkan cukup menantang: gelap, sempit, banyak turunan dan tanjakan tajam, ditambah hujan yang tak reda-reda, membuat perjalanan kami terasa seru dan ngeri-ngeri sedap.

Kurang lebih dua jam kemudian akhirnya kami tiba di lokasi. Sayangnya kendaraan tidak bisa langsung parkir di pantai. Untuk benar-benar sampai ke bibir pantai harus melewati jalan setapak sekitar 200 meter dengan berjalan kaki. Jalannya masih alami berupa jalan tanah. Kalau saja Cinta Laura ikut, pasti dia sudah mengeluh, "Mana ujan, nggak ada ojeks, beceks."

Saat kemping pun kami tidak bisa berbuat banyak. Hujan yang tadi sempat berhenti walau tak ada yang memanggil, tiba-tiba turun lagi lebih lebat. Beruntung tenda-tenda yang kami gunakan bukan tenda murahan, sehingga aman dari kebocoran. Tapi sayang tetap tidak bisa mencegah dinginnya malam, juga tidak mampu meredam gemuruh ombak yang semakin malam terdengar semakin ribut, malah lantai tenda lama-lama terasa lembab saking derasnya hujan. Dengan situasi dan kondisi seperti itu, jangan heran kalau sampai pagi aku kesulitan tidur.

Paginya dengan tampang kuyu mirip orang kekurangan tidur, kami berfoto-foto ala kadarnya untuk kenang-kenangan. Setelah itu meluncur ke kota Blitar mengunjungi makam Bung Karno.

Pantai Pangi Blitar

Demikian sinopsis jalan-jalan ke Blitar kemarin. Versi lengkapnya akan kutulis di lain kesempatan. Walau pada kenyataannya acara tersebut tidak sesuai rencana, tapi itu tidak menghalangiku untuk berbahagia dan menikmati perjalanan. Hal-hal tidak terduga seperti hujan yang tak henti-henti, kemacetan parah dan medan yang sulit, bagi aku sudah semacam surprise. Kejutan-kejutan dalam sebuah perjalanan. Semesta menginginkan cerita yang berbeda dari yang sebelumnya sudah terbayang di kepala.

Aku yakin, rasa lelah, jenuh, ngantuk dan gigil kedinginan dalam perjalanan kemarin, di hari-hari mendatang akan menjadi kenangan manis yang sangat ingin diulang kembali.

Berwisata ke Pantai Pangi

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah menyisihkan waktu berharganya demi membaca tulisan ini. Terima kasih paling banyak untuk Wong Crewchild yang sudah men-sponsori trip dua hari ke Blitar kemarin. Kapan-kapan ajak lagi, haha.

Minggu, 02 Oktober 2016

Memperingati Setahun di Surabaya


Pernah ada yang bilang bila kita sedang bahagia, hari-hari terasa cepat berlalu, waktu seakan berjalan begitu buru-buru. Dan itu yang terjadi dalam hidupku, tanpa terasa awal Oktober ini aku sudah satu tahun berada di Surabaya. Asli nggak nyangka banget sudah selama itu, padahal rasanya kayak baru dua belas bulan aja.

Tahun lalu, aku masih ingat waktu itu akhir September, Pekanbaru sedang parah-parahnya dilanda bencana kabut kebakaran hutan dan lahan. Entah aku salah apa, sehingga asap yang sudah ada sejak berbulan-bulan sebelumnya itu tidak juga mau pergi. Akhirnya aku memutuskan aku saja yang mengalah, aku yang pergi meninggalkan asap.

Awalnya aku ingin ke Palembang yang dekat, tapi di sana asap juga sama pekatnya. Sama saja bohong kan? Akhirnya Surabaya lah yang beruntung kupilih menjadi tujuanku.

Hari itu juga aku beli tiket Bus Handoyo jurusan Pekanbaru - Surabaya. Terbatasnya jarak pandang di udara akibat bencana asap, membuat aku punya alasan kuat jika ada yang bertanya kenapa aku tidak naik pesawat saja. Menutupi kenyataan bahwa sebenarnya aku orang yang phobia naik pesawat. Serem aja membayangkan ketika di angkasa tiba-tiba pesawat kehabisan bahan bakar. Jangankan naik, menyaksikan pesawat landing saja bulu hidungku sudah merinding.

Aku kalau bepergian jauh ya naik mobil travel, bus AKAP, kereta api atau kapal laut. Seumur hidup aku naik pesawat cuma sekali pada saat masih kecil, itupun kemudian kena omel sama Ibuk, soalnya yang aku naiki waktu itu pesawat radio. Haha! -anggap saja lucu-

Perjalanan dari Pekanbaru ke Surabaya aku tempuh selama sebulan. Berangkat September, Oktober baru sampai. Dari Pekanbaru 28 September, tiba di Surabaya 2 Oktober. 4 hari 4 malam. Buat yang tak terbiasa perjalanan jauh naik bus pasti rasanya menjemukan.

Kalau aku sih enjoy saja. Apalagi yang kunaiki adalah bus executif class. Busnya wangi ber-AC dan ada toiletnya di dalam. Kursinya bisa di-set setengah ambruk, dilengkapi dengan bantal dan selimut, sehingga memanjakan penumpang yang ingin bobo selama di perjalanan.

Gerbang Kenjeran Park Surabaya
Mirip orang nggak berguna.
Foto di atas adalah bukti aku sedang di Surabaya. Foto itu dijepret di Ken Park, atau kalau diperpanjang namanya adalah Kenjeran Park. Tempat yang bernama asli Kenjeran Baru itu merupakan lokasi wisata yang cukup termasyhur di Surabaya. Foto sengaja diambil dengan kamera beresolusi rendah biar kerutan-kerutan di wajah tak tertangkap kamera.

Foto dengan pose pura-pura bahagia melihat HP itu sebenarnya cuma tipuan kamera. Aslinya itu kalkulator, sedang menghitung antara pemasukan dan pendapatan, kira-kira tekor atau tidak. Dan setelah dihitung-hitung ternyata hasilnya tidak menggembirakan, akhirnya rencana masuk ke KenPark yang karcis masuknya sebesar Rp. 15.000 itu aku cancel. Cuma foto di depan gerbangnya saja. Kemudian pulang.

Sementara kalau foto yang di bawah ini dicekrek di bawah Jembatan Nasional Suramadu yang sangat terkenal itu. Di bagian lorongnya. Bagaimana? Megah banget bukan? Foto ala-ala pengedar kecubung menunggu pelanggan itu lebih keren bila dilihat ketika layar android dalam kondisi blank. Abaikan saja orang di belakang yang sengaja numpang nampang itu.

Lorong Jembatan Suramadu Surabaya
Gaya seperti ini yang menyebabkan sayapku patah.
Aku menulis catatan ini sebagai perayaan kecil memperingati satu tahun keberadaanku di Surabaya. Meski sebenarnya tak begitu penting, tapi setahun di Surabaya ini juga sebuah perolehan yang layak disyukuri. Setidaknya aku masih lebih beruntung ketimbang Bimbo, yang cuma 'Semalam di Malaysia'.

Sebelumnya aku memang pernah beberapa kali di Surabaya. Tapi yang tinggal hingga lama baru yang sekarang ini. Dan selama setahun di kota Pahlawan ini setiap hari aku selalu berusaha bahagia. Hidup nomaden dari kontrakan yang satu ke kontrakan yang lain. Mendapat teman-teman baru. Ngetrip kesana kemari bareng mereka. Gegokilan bersama mereka. Ngegaringin mereka kemudian ngakak bersama-sama.

Tak mengapa meski banyak yang menuduh, kalau orang yang paling banyak tertawa dan membuat orang lain tertawa dialah yang sebenarnya kesepian dan butuh untuk dihibur. Yang sering tertawa biasanya sering disakiti. Yang suka pamer-pamer kebahagian biasanya justru orang yang banyak menyembunyikan kepedihan hidup. Andai pun itu benar biar saja, tidak ada yang dirugikan karena seseorang yang pura-pura bahagia.

Ya sudah, dari pada tulisan ini semakin ke bawah justru merembet ke hal-hal yang tidak relevan, sebaiknya aku akhiri saja. Yang jelas Surabaya itu seru! Meskipun panas tapi kotanya sudah maju. Jalan-jalannya sudah di aspal, sudah ada listrik dan sinyal HP penuh.

Pokoknya maju terus buat Surabaya. Salam bahagia!