Rekomendasi Cerita Fiksi Terbaik di Wattpad

Halo para pecinta fiksi di manapun beradap, terutama penggemar fiksi gratisan di Wattpad versi Bahasa Indonesia. Apa kabar kalian? Semoga selalu sehat dan berbahagia. Salam kenal dari aku sesama pecinta fiksi.

Kalau kamu menemukan tulisan ini karena sedang mencari rekomendasi cerita yang bagus dan rekommended di Wattpad, berikut ini aku tawarkan satu cerita yang cocok untuk kalian baca kapan saja. Terserah. Pokoknya hari ini juga. Tidak boleh besok-besok.

Tahu sendiri kan di Wattpad itu ada buanyak novel dengan berbagai pilihan genre. Mulai dari teen fiction sampai fiksi remaja. Mana dalam satu genre saja bisa hingga ribuan judul lengkap dengan cover yang kece-kece. Kadang kita sampai depresi memilih mana yang mau dibaca lebih dahulu. Ujung-ujungnya paling cuma menjadi hiasan daftar bacaan. Tanpa sempat dibaca sampai kiamat.

Tapi bicara mengenai cover, beberapa kali aku sempat kena sampul PHP. Covernya keren, begitu dibaca eh ternyata isinya keren banget ehehe. Benar kata orang bijak, 'jangan menilai buku cuma dari sampulnya'. Sering terjadi, cerita yang terlanjur diklik ternyata tak sebagus sampulnya. Baru baca beberapa part sudah bikin ngantuk dan bosan.

Sering terjadi juga, padahal novel yang dibuka menempati rangking yang bagus, tapi isi ceritanya ternyata nggak bagus-bagus banget. Kalau ini sih mungkin kena di selera. Selera bacaku berbeda dengan selera mereka.

Dan kalau diperhati-perhatikan, buku-buku yang laris di Wattpad itu kebanyakan karya-karya author yang sudah memiliki basis follower yang banyak. Cerita-cerita mereka yang bolak-balik menguasai rangking.

Sementara penulis-penulis yang miskin pengikut, sebagus apapun ceritanya, rasanya sulit untuk menembus peringkat 100 besar. Yang ada justru karangan mereka tenggelam di dalam sistem perangkingan Wattpad dan tidak banyak diketahui pembaca.

Padahal ada banyak cerita bagus tapi tak mendapat rangking bagus karena penulisnya belum memiliki banyak pengikut. Salah satunya novel yang mau aku rekomendasikan kali ini, yaitu novel Zuck Linn. Genre teen fiction meski sebenarnya juga layak masuk di kategori humor. Di ranking system Wattpad, novel itu lebih sering nangkring di 1000 besar, bahkan kerap tak berangking karena belum banyak dibaca karena belum banyak diketahui masyarakat Wattpad. 
 
Ini dia novelnya! =>> Zuck Linn
 
Silakan dibuka terus dibaca semua. Sangat menggembirakan apabila teman-teman berkenan meninggalkan jejak vote dan komentar. Menurut keluargaku, novel ini bagus, lucu, keren, kocak, romantis dan terbuka untuk umum. Tidak diprivate demi menambah follower. Bercerita tentang kehidupan sehari-hari sejoli salah gaul Dani Zuckici dan Alinna Bilqis Quinova yang penuh warna. Membaca novel Zuck Linn ini dijamin senyum-senyum baper hingga ngakak tak terbantahkan. Buktikan sendiri kalau tak percaya.

Novel Komedi Romantis Zuck Linn Wattpad


Dari tahun 2011, cerita komedi dengan tokoh Zuck dan Linn ini sudah sering aku tulis di Facebook. Kemudian di tahun 2015, cerita Zuck Linn juga beberapa kali saya tulis di blog sebelah. Selain itu, jika mengetik di Google dengan kata kunci 'Zuck Linn', sudah cukup banyak tulisan saya beredar di internet karena dicopy paste oleh banyak pengguna internet.

Benar memang, novel itu karyaku. Mungkin ada yang mual kenapa aku merekomendasikan dan memuji-muji karya sendiri. Yah, biar bagaimana karya sendiri harus dihargai. Bangga dengan kreativitas sendiri itu penting. Kalau menurut permbaca tidak bagus, ya tinggal diberi kritik kurangnya di mana. Namanya juga terus belajar dan menyalurkan hobi. Jadi nggak masalah dikritik. Mau kritik pedas juga ayo sini. Kebetulan aku memang suka kritik. Apalagi kritik pedas mak icih. Halah.

Dan berhubung ini blog pribadiku, rasanya bukan pelanggaran untuk kali ini aku mempromosikan karyaku sendiri. Bisa saja di kali yang lain aku membuat resensi novel-novel milik author lain.

Untuk saat-saat ini, novel komedi Zuck Linn sudah dibaca 94K. Tapi aku yakin setelah membuat rekomendasi ini, jumlahnya akan terus meningkat hingga dibaca jutaan kali. Tinggal menunggu waktu saja, hehe.

Itulah rekomendasi novel terbaik, terbagus, terkeren dan Inshaa Allah terlaris yang ada di Wattpad versi ZUCKICI.COM. Terima kasih sudah meluangkan waktu berharganya demi membaca artikel ini.

*****

Mendaki Gunung Sepikul, Bekas Lokasi Syuting Film Wiro Sableng

Di pelosok kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, ada sebuah destinasi wisata yang belum begitu populer di kalangan traveler. Padahal tempat ini hampir di setiap sudutnya memiliki keindahan yang mengagumkan. Gunung Sepikul namanya.


Gunung Sepikul Sukoharjo Jawa Tengah


Pagi-pagi sekali bersama Josie, patner ngebolang yang suka makan pepaya itu, aku sudah memasuki desa Getan, kelurahan Tiyaran, kecamatan Bulu, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Kedatangan kami untuk mengunjungi kawasan wisata Batu Seribu, dengan destinasi utama ke Gunung Sepikul.

Hari sebenarnya masih terlalu pagi untuk diisi kegiatan wisata. Suasana desa masih berkabut, sepi dan dingin. Para penduduknya mungkin masih banyak yang meringkuk di balik selimut. Di sepanjang jalan perkampungan, hanya sesekali saja kami bertemu warga.

Saat sudah berada di kelurahan Tiyaran, mencari keberadaan Gunung Sepikul tidaklah susah. Bermodal Google Map, diimbangi dengan bertanya kepada warga setempat yang kami jumpai, tak butuh waktu lama kami sudah sampai di tujuan. Ditambah adanya papan penunjuk jalan di persimpangan, membuat perjalanan kami menemukan lokasi Gunung Sepikul semakin gampang.

Wisata Hits Solo Raya


Kondisi jalan menuju Gunung Sepikul beraspal bagus walau sedikit menyempit ketika sudah berbelok dari jalan utama. Tapi jalan sempit itu hanya berlangsung sekitar 300 meter saja. Setelah itu kami sudah langsung sampai di kaki gunung. Kendaraan bisa dibawa sampai tepat di pintu pendakian. Di sana tersedia lapangan parkir yang luas.

Tapi saking kepagiannya, saat kami tiba di sana belum ada manusia lain kecuali kami. Warung-warung di areal kaki gunung yang biasa melayani para wisatawan belum ada yang buka. Kamar mandi umum masih terkunci dari luar. Penjaga parkirnya juga belum hadir, sehingga kunjungan kami di Gunung Sepikul kala itu benar-benar tidak dipungut biaya apa-apa.

Kalau melihat pintu masuk yang tak berpalang dan tanpa ada pos loket, sepertinya mengunjungi Gunung Sepikul memang gratis. Hanya terdapat papan informasi biaya parkir Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil. Namun karena saat itu juru parkirnya belum hadir, kami tidak tahu kepada siapa harus membayar ongkos parkir.

Walau bisa masuk gratis, tidak lantas membuat aku senang. Justru muncul perasaan kuatir ringan. Pasalnya harus meninggalkan motor kami sendirian tanpa ada penjagaan. Apalagi suasana di sekitar Gunung Sepikul pagi itu benar-benar sangat sepi. Berada lumayan jauh dari pemukiman penduduk. Di sekitarnya hanya persawahan dan semak belukar. Tidak ada pos polisi atau pun pangkalan militer. Wajar kami kuatir kalau-kalau motor kami diapa-apain oleh pihak tak bertanggungjawab. Misalnya dikencingi kucing atau tombol klaksonnya diganjal benda tak terlihat.

Bukit Sepikul Wisata Batu Seribu


Tapi dari pada menanti tukang parkir yang datangnya belum pasti, aku dan Neng Josie sepakat langsung naik. Kami sudah tidak sabar menyaksikan keindahan puncak Gunung Sepikul yang sebelumnya cuma kami saksikan lewat dunia maya. Kami yakin motor kami akan baik-baik saja.

Selanjutnya, tanpa lupa membaca Basmalah, kami segera memulai langkah menuju puncak. Jalur pendakiannya berupa jalan setapak dengan sudut kemiringan antara 40 - 60 derajat. Rutenya cukup mudah ditempuh. Hanya saja saat menjelang puncak, medannya berubah berbatu dan licin. Jadi harus extra hati-hati.

Naik Gunung Sepikul


Walau secara geografis tempat ini dinamakan gunung, tapi secara fisik lebih tepat disebut bukit. Tingginya tidak seberapa. Bahkan hanya dalam kurun waktu 25 menit saja, kami sudah berhasil mencapai puncak. Padahal langkah kami terbilang santai sembari menikmati segarnya udara pagi pegununungan. Andai lebih cepat, mungkin dalam waktu 15 menit saja kami sudah tiba di tempat. 

Saat kami tiba di atas, angkasa di sekitar bukit Sepikul masih tertutup halimun. Ini juga akibat lain dari terlalu paginya kedatangan kami. Ke arah mana mata memandang, semua view masih terhalang kabut. Kegantengan juga ikut terhalang kabut. Tapi itu tak menghalangi kami untuk tetap menikmati suasana alam di atas bukit Sepikul.

Alhamdulillah, seiring sinar matahari yang semakin ganas, ketebalan kabut berangsur-angsur menipis dan akhirnya benar-benar pudar. Langit menjadi cerah. Panas matahari mulai menyengat. Saat itu, dari ketinggian puncak bukit Sepikul, tampaklah hamparan sawah, perbukitan yang asri, hutan nan menghijau, serta sejuknya panorama desa. Sungguh pemandangan yang membuat tak ingin pulang. Nggak rugi kami jauh-jauh dari Indonesia datang ke sini.

Keindahan Gunung Sepikul


Di seberang bukit yang kami naiki, yang terpisahkan jalan, berdiri satu bukit lagi yang tingginya sama persis. Jadi bisa dikatakan bukit sepikul adalah gunung kembar yang terbelah jalan. Ini pula yang menjadi ikhwal tempat ini dinamakan Gunung Sepikul. Ada dua gunung yang posisinya bersebelahan, mirip barang yang siap dipikul.

Konon, Gunung Sepikul ini juga berkaitan dengan cerita sejarah PHP Roro Jonggrang terhadap Bandung Bondowoso. Di mana saat itu Roro Jonggrang meminta dibuatkan 1000 candi dalam satu malam. Padahal itu cuma modus mbak Roro Jonggrang menolak halus cinta Bandung Bondowoso.

Nah, saat Bandung Bondowoso tengah giat mengumpulkan bebatuan untuk proyek candinya yang hampir rampung, tahu-tahu ada semburat cahaya fajar dari ufuk timur, dan para penduduk sudah mulai sibuk beraktivitas. Itu artinya Bandung Bondowoso gagal menyelesaikan 1000 candi dalam satu malam. Karena kesal, bebatuan tadi ditinggal begitu saja dan jadilah Gunung Sepikul.

Di Gunung Sepikul terdapat banyak spot foto bebatuan yang wajib dijajal semuanya. Antara lain Watu Jaran, Watu Kandang, Watu Tinggik, Watu Pawon, dan Watu Tumpuk. Dan dari beberapa spot tersebut, Watu Tumpuk merupakan lokasi paling favorit para traveler.

Berikut ini beberapa hasil foto kami selama berada di puncak Bukit Sepikul.

Spot Foto Gunung Sepikul

Batu di Bukit Sepikul

Pemandangan dari atas Gunung Sepikul

Gunung Sepikul Lokasi Syuting Sinetron Wiro Sableng

Foto Cantik di Gunung Sepikul

Pemandangan dari puncak Gunung Sepikul

Kece bukan? Saking kecenya, Gunung Sepikul pernah dijadikan lokasi syuting sinetron Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng. Sinetron laga komedi yang sangat populer di tahun 90-an. Tak hanya Wiro Sableng, film Saur Sepuh dan Wali Songo juga mengambil lokasi di sini.

Meski begitu, entah kenapa sampai saat ini Gunung Sepikul belum begitu terkenal secara nasional. Mungkin karena kurangnya promosi. Bisa juga karena letaknya yang di pelosok. Atau mungkin karena bentuk fisiknya cuma sebuah bukit sehingga tidak terlalu menantang.

Tapi dengan hadirnya jejaring sosial Instagram, pesona Gunung Sepikul saat ini telah menjadi salah satu tempat wisata hits di kawasan Solo Raya. Setiap akhir pekan tempat ini banyak dikunjungi wisatawan terutama para penggila selfie.

Idealnya menyambangi bukit Sepikul adalah saat sore hari. Selain cuaca sudah tidak terlalu terik, kita juga berkesempatan melihat sun set alias matahari tenggelam. Dengan jarak pandang ke arah barat yang demikian luas, meskipun tidak sempat mengalaminya, aku bisa membayangkan kalau senja di Bukit Sepikul pastilah benar-benar menakjubkan.




Bagaimana? Tertarik piknik ke sini?

Kalau teman-teman kebetulan ngetrip ke Surakarta, coba sempatkan mampir ke Gunung Sepikul. Dari kota Solo, jarak ke Bukit Sepikul sekitar 30 km dan bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Kota-kota lain yang dekat dengan lokasi Gunung Sepikul adalah Klaten, Wonogori, dan kota kabupaten di mana Gunung Sepikul berada, Sukoharjo.

Saat itu aku dan Neng Josie start dari kota Bengawan, melalui rute jalan raya Solo - Wonogiri. Untuk titik-titik yang kami lewati aku tidak ingat persis. Yang pasti selama perjalanan, aku memanfaatkan Google Maps sambil sesekali bertanya kepada orang untuk lebih memastikan. Alhamdulillah kami sampai dan kembali dengan selamat tanpa tersesat.

Happy Traveling.

*****

Baca Juga: Monumen Simpang Lima Gumul Kediri Di Malam Hari

Monumen Simpang Lima Gumul Kediri di Malam Hari

Simpang Lima Gumul (SLG), tempat nongkong paling populer di Kediri ini memiliki monumen yang arsistekturnya mirip Arc de Triomphe di Paris. Bedanya, monumen L'Archde Triomphe dibangun untuk mengenang revolusi Perancis, sementara monumen SLG selain untuk daya tarik pariwisata, juga merupakan ikon kebanggan Kota Kediri.


Monumen Simpang Lima Gumul Kediri di malam hari
Hai...

Wira-wiriku kali ini sampai ke Simpang Lima Gumul Kediri, Jawa Timur. Bareng teman-teman dari Komunitas Keluarga Mbah Sangkil (Kabeh Dulur), dengan mengendarai mobil sewaan, kami berangkat dari Surabaya jam 23.00 dan tiba di kota Kediri sekitar pukul 01.00 Waktu Indonesia Barat. Walau terhitung sudah dini hari, jangan mengira pengunjung SLG sudah sepi. Di berbagai sudut, masih banyak kawula pemuda yang lembur nongkrong, bahkan ada beberapa yang asyik berfota-foto tanpa memperdulikan kehadiran rombongan kami.

Sejujurnya di Simpang Lima Gumul malam itu kami hanya mampir beristirahat. Target utamanya adalah ke Pantai Pudak, Blitar. Kebetulan dari kota Surabaya ke Blitar via Kediri memang melewati Monumen SLG. Jelas sayang sekali kalau tidak dihampiri. Terutama untuk aku yang sebelumnya belum pernah sekalipun main ke sini. Jadi moment istirahat tersebut, terang-terangan aku salah gunakan untuk berwisata malam mengitari Monumen SLG.

Traveling Bareng Teman-teman ke Kediri.
Ngetrip keroyokan.

Tak hanya aku, teman-teman serombongan juga kompak melenceng dari tujuan awal. Padahal pada ingin istirahat, tapi ternyata tidak ada yang duduk-duduk, gelar tikar tiduran atau buka rantangan, masing-masing justru sibuk selfie atau minta difoto. Padahal sebagian besar dari mereka sudah pernah ke sini malah ada yang sudah beberapa kali.

Hal itu membuktikan bahwa Monumen Simpang Lima Gumul selalu menarik meski disingahi berulang kali. Termasuk saat malam hari seperti saat itu. Di malam hari, MSLG terlihat semakin tampan diterpa tata lampu yang didominasi warna keemasan. Dipadu dengan sendunya cahaya lampu-lampu jalan, membuat suasana di monumen ini terasa romantis andai datang ke sini bersama kekasih tersayang.

Hal itu yang mungkin menginspirasi Mas Nur Bayan, musisi campursari asal Kediri, membuat lagu Simpang Limo Ninggal Janji. Berikut ini aku nyanyikan lagunya. Tapi sepenggal dan pelan-pelan saja. Kalau keras-keras takut menganggu teman-teman yang sedang tidur.

"Kembangku ayu, lilakno lungoku. Aku ra bakal lali, marang janji sing ketali. Ing simpang limo iki, sing nyekseni sumpahing ati. Janjiku engko mesti tak tepati. Entenono, aku nang simpang limo..."

Lagu tersebut bercerita tentang sepasang kekasih sedang ngedate di Simpang Lima. Dalam pertemuan itu, sang pria berpamitan hendak merantau ke mancanegara menjadi TKI. Ia bersumpah akan kembali lagi, dan meminta wanita-nya untuk menunggu dan bertemu lagi di Simpang Lima.

Wisata Simpang Lima Gumul kota Kediri
Monumen Simpang Lima Gumul Kediri Malam Hari.

Selain terasa lebih romantis, di dini hari seperti itu juga lalu lintas kendaraan sudah sepi, sehingga aku bisa total menikmati suasana malam di Simpang Lima Gumul. Pengunjungnya yang tinggal satu dua itu, membuat kami semua pede berfoto-foto bergaya sesuka-suka.

Tapi sayang karena kelewat malam, sudah tidak ada satu pun pedagang makanan yang tersisa. Semua sudah pulang dan menutup lapak-lapak jualannya. Padahal kata salah satu pengunjung, asal jangan malam-malam banget, di seberang monumen ada pasar malam dan pasar tumpah, yang menjual berbagai makanan dan aneka oleh-oleh khas Kediri.

Monumen yang resmi dibuka sejak tahun 2008 ini, berlokasi di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Dengan tinggi 25 meter serta luas 804 meter persegi, membuat Monumen SLG layak menjadi landmark kebanggaan bagi kota yang dijuluki kota tahu ini. Monumen SLG tampak begitu gagah berdiri tepat di tengah-tengah persimpangan lima jalan dari arah Pare, Pagu, Plosoklaten, Gampingrejo dan Pesantren.

Oh iya, pemilihan tinggi 25 meter dan luas persegi 804 meter tadi bukan asal-asalan dan bukan tanpa alasan. Angka tersebut memiliki makna 25 Maret 804, yang mana merupakan tanggal lahirnya Kabupaten Kediri. Kabarnya pada setiap tanggal 25 Maret, bersempena dengan HUT kabupaten Kediri, Monumen Simpang Lima Gumul akan sangat meriah dengan adanya berbagai acara dan panggung hiburan.

Selain saat dirgahayu Kabupaten Kediri, puncak kemeriahan Simpang Lima Gumul juga bisa terjadi saat malam takbiran dan malam tahun baru. Makanya, kalau ingin merasakan seperti apa ramainya Simpang Lima Gumul Kediri, silakan datang pada malam-malam hari besar.

Sementara kalau ingin belajar sejarah lahirnya Kediri, traveler bisa mengamati pahatan relief di dinding monumen. Di sana terdapat 16 pahatan relief dengan masing-masing 4 relief di setiap sisinya. Tapi selain aku, sepertinya tidak ada pengunjung lain yang serius memperhatikan relief-relief tersebut. Semua sibuk dan asyik mengambil gambar.

Berkunjung ke sini hanya dikenakan biaya parkir kendaraan sebesar Rp 5.000. Tapi karena aku ke sini di dini hari, dengan kondisi lalu lintas sudah lengang, kami cuma memarkirkan mobil secara cuma-cuma di pinggir jalan. Setelah itu kami dengan leluasa masuk ke area monumen.

Spot Foto di Monumen Simpang Lima Gumul Kesiri
Malam-malam tetep pake kacamata! Eh iya sandal jepit juga.

Setelah puas berjalan-jalan di sekitar monumen, foto-foto juga dirasa sudah cukup, kemudian rasa lelah juga telah jauh berkurang, kami segera kembali memasuki mobil dan tancap gas menuju Blitar. Sasaran kami selanjutnya adalah Pantai Pudak. Do'akan kami selamat sampai ke tujuan ya.

Buat teman-teman traveler, kalau suatu hari nanti berdarmawisata ke kota Kediri, atau kebetulan sedang dalam perjalanan melewati kota ini, jangan lupa mampir dan bernarsis ria di Monumen Simpang Lima Gumul. Dijamin seru dan foto-foto yang dihasilkan bisa membuatmu seakan kesasar ke Arc de Triomphe, Paris, Perancis. Mhehehe.

Happy Traveling.

******

Sejuta Pesona Pantai Papuma Jember

Pantai Pasir Putih Malikan atau lebih terkenal dengan sebutan Pantai Papuma, merupakan objek wisata andalan Kabupaten Jember. Saking bagusnya, tak hanya wisatawan lokal, traveller luar negeri juga banyak mendatangi pantai ini.

Pantai Pasir Putih Malikan (Papuma) Jember
 Pantai Papuma.

Perjalanan menjelajah pantai laut selatan wilayah Jember berlanjut. Setelah sebelumnya ke Teluk Love Pantai Payangan dan Pantai Watu Ulo, aku dan tiga teman melanjutkan ke Pantai Papuma. Meski ketiga pantai itu bertetangga, tapi ternyata secara administratif mereka berada di wilayah berbeda. Pantai Watu Ulo dan Pantai Payangan berada kecamatan Ambulu. Sementara Pantai Papuma masuk wilayah kecamatan Wuluhan.

Tepatnya di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Indonesia. Dari pusat kota Jember bisa ditempuh kendaraan dalam waktu kira-kira 45 menit ke arah selatan. Sedangkan kalau dari pantai Watu Ulo, cukup 3 menit saja, kita sudah sampai di gerbang sekaligus tempat penjualan tiket masuk ke Pantai Papuma.

Berhubung kami ke sana saat long week end, kami kena restribusi Rp 15.000 per orang. Padahal kalau hari-hari biasa biaya masuknya cuma Rp 7.000. Tapi tak apa, harga yang agak kemahalan untuk ukuran turis bermodal pas-pasan kayak aku begini, sepadan dengan panorama indah sepanjang pantai Papuma.

Bahkan ketika baru masuk kemudan melewati gerbangnya saja, aku sebagai pihak yang dibonceng, bisa langsung menikmati sejuk hijaunya hutan di kanan kiri jalan. Sementara yang menyetir, mau tak mau memang harus lebih banyak fokus ke depan, tidak boleh ikut larut dalam keindahan di samping kiri atau kanan.

Sebab meskipun sudah beraspal, ukuran jalannya masih tergolong sempit, tanjakannya tinggi-tinggi, turunannya curam disertai tikungan tajam, belum lagi banyaknya lubang-lubang karena aspalnya mulai rusak. Motor harus dalam kondisi prima kalau melewati jalan ini.

Hutan di sepanjang jalan ke pantai Papuma itu namanya hutan Maliki. Di dalam hutan yang didominasi pohon jati ini, kabarnya masih banyak terdapat berbagai flora dan fauna khas Indonesia seperti tupai, biawak, ayam hutan, berbagai jenis burung, celeng, rusa, landak dan trenggiling. Jangan heran, kalau kapan-kapan sobat traveler main ke sini melihat banyak monyet sedang santai nongkrong di pinggir jalan. Jangan lupa sapa mereka ya.

Kalau pengen tahu seperti apa trek dan hutan di sisi kanan kiri jalan menuju Pantai Papuma, silakan tonton videonya di sini.

Sekitar 10 menit melalui jalan naik turun dan penuh liku tadi, akhirnya sampailah kami di destinasi terakhir explore 3 pantai Jember. Pantai Papuma! Sebuah pantai yang untuk beberapa saat benar-benar bikin aku melongo. Ya, aku terkesima. Bahkan mungkin terhipnotis. Betapa tidak, seumur hidup, dari semua pantai yang pernah aku singgahi, Pantai Papuma ini yang keindahannya paling juara.

Spot foto pantai Papuma Jember
 Bukan penjaga pantai.

Jika rata-rata pantai yang pernah kudatangi hanya menyuguhkan ombak dan pasir. Tapi pantai Papuma ini sungguh beda, tingkat keindahannya sudah kelewatan. Tak cuma gulungan ombaknya yang menggelegar serta pasirnya yang putih, di Pantai Papuma ada pemandangan perahu-perahu nelayan berwarna-warni yang terparkir rapi.

Dan yang paling menakjubkan adalah adanya atol atau gugusan batu-batu karang besar dan kecil yang tersebar menghiasi pantai. Terdapat tujuh karang berukuran besar berdiri kokoh seakan menjaga pantai Papuma. Besarnya ukuran tujuh batu karang itu membuat mereka mirip pulau-pulau kecil. Ketujuh karang tersebut telah diberi nama, yaitu pulau Kresna, pulau Batara Guru, pulau Narada, pulau Nusa Barong, pulau Kajang dan pulau Kodok.

Tanjung Papuma Jember
Teman ngetrip.

Jika mau menyaksikan keelokan pantai Papuma dari ketinggian, pengunjung bisa ke atas tebing Siti Hinggil atau Siti Ingil. Tapi saat aku coba ke sana, baru sebentar aku sudah gerah dan nggak betah. Viewnya sebenarnya asli bagus banget. Yang membuat aku nggak betah adalah suasananya. Banyak orang pacaran mojok berduaan! Aku yang sendirian jadi salting kayak orang tersesat di hutan rimba dan dikepung suku primitif. Dipandang dari tebing Siti Hinggil, pantai Papuma memang menghadirkan nuansa yang romantis, cocok untuk orang-orang yang sedang kasmaran.

Kemudian, di sepanjang bentangan laut bagian barat, ada sebuah batu datar mirip kerang raksasa berjajar yang dikenal dengan sebutan Batu Malikan. Konon batu Malikan itu adalah saksi bisu pertarungan sengit antara Raden Mursodo menghadapi Nogo Rojo. Batu Malikan merupakan lokasi memancing Raden Mursodo, kala umpan pancingnya dimakan ikan Raja Mina, seperti yang telah aku tuliskan di artikel sebelumnya.

Batu Malikan itu yang kemudian menjadi inspirasi dan asal muasal nama Pantai Papuma (Pasir Putih Malikan). Pantai Papuma juga sering disebut Tanjung Papuma, karena di beberapa titik posisi daratannya menjorok ke laut, yang kalau dalam ilmu geografi disebut tanjung.


Bisa dikatakan Pantai Pamuma merupakan surganya para penggila foto. Hampir semua sisi pantai ini view-nya tidak ada yang tidak bagus. Seluruhnya keren dan instragramable. Sayangnya, aku sendiri saking bapernya menikmati pemandangan, malah tidak banyak mengambil foto. Hanya beberapa cekrek dengan hasil yang ala kadarnya.

Sebagaimana objek wisata lainnya yang kebanyakan ada tarif parkir kendaraan, pun dengan Tanjung Papuma ini, ada biaya parkir sebesar Rp 5.000 untuk mobil dan Rp 2.000 untuk sepeda motor. Tapi saat aku ke sana kami tidak berhenti di area parkir, akibatnya kami lolos dari ongkos parkir.

Yang kami lakukan saat itu adalah terus menjalankan motor pelan-pelan. Mengitari pantai hingga dua kali dan berhenti di lokasi-lokasi yang agak sepi yang bukan area parkir. Soalnya saat itu sedang tanggal merah dobel, liburnya panjang, pengunjungnya berjibun.

Titik paling ramai ada di sekitar lokasi jajaran kapal-kapal nelayan. Di sanalah pusat fasilitas pariwisata Tanjung Papuma berada. Seperti Musholla, kamar mandi umum, penginapan, aneka kuliner dan oleh-oleh. Di sana juga yang sering dipakai pengunjung pantai untuk berenang. Tapi harap berberhati-hati saat berenang, karena ombak pantai Papuma cukup ganas dan setiap tahun rutin memakan korban.

Berikut ini sedikit gambaran keindahan pantai Papuma.



Terakhir sebelum pulang, kami berempat istirahat di sebuah warung makan. Di warung itu, kami memanjakan lidah dengan ikan bakar dan es degan, sambil memanjakan mata memandang luas ke laut lepas. Diiringi bunyi debur ombak dan terpaan angin pantai Papuma yang berhembus cukup kencang.

Itu lah sedikit kisah perjalananku ke pantai tanjung Papuma. Siapa pun yang pernah main ke sini, dapat dipastikan sependapat kalau pantai Papuma ini indahnya tuh indah banget. Dan buat yang belum pernah, ayo segera rencanakan dan tentukan tanggal baiknya. Percayalah, trip kamu akan menjadi sebuah pengalaman menyenangkan yang suatu saat ingin diulang. Happy Traveling.

Menikmati Debur Ombak dan Mitos-mitos Mistis Pantai Watu Ulo

Pantai Watu Ulo sudah lama menjadi ikon wisata kabupaten Jember. Di pantai ini, terdapat ciri khas berupa batu-batu tersusun memanjang ke arah laut yang strukturnya menyerupai sisik-sisik ular raksasa.

Jauh sebelum aku mengunjungi pantai ini, bahkan sejak aku masih kelas satu SMA di salah satu Madrasah Aliyah di provinsi Riau, aku sudah kerap mendengar tentang keindahan pantai Watu Ulo. Tentang ombaknya yang besar, deretan batu yang persis anatomi tubuh ular besar, ramainya pantai ini saat hari libur lebaran, dan tentang ritual Larung Sesaji di setiap lebaran ketupat. Semua itu kerap diceritakan dengan apik oleh para perantau asal Jember, yang banyak bekerja di perusahaan-perusahaan kelapa sawit di sekitar tempat tinggalku di Riau.

Jalan-jalan ke Pantai Watu Ulo Jember
 Di belakangku itulah wujud Watu Ulo.

Saat itu aku hanya bisa menyimak dengan ekspresi mupeng kurang piknik, tanpa pernah berpikir akan bisa mengunjunginya. Maklumlah, Pekanbaru - Jember bukanlah jarak yang bisa ditempuh hanya dalam durasi sejam dua jam. Dan tentu aku akan berpikir ribuan kali, jika ke Jember hanya untuk urusan liburan. Bukan karena aku nggak suka jalan-jalan. Tapi jarak dan kondisi finansial yang sangat tidak memungkinkan.

Maka ketika beberapa waktu lalu aku bisa menjejakkan kaki di pantai berpasir vulkanis berwarna kehitam-hitaman ini, ada sedikit rasa haru dan rada-rada tak percaya. Akhirnya, sampai juga di tempat yang dulu rajin mereka promosikan.

Aku ke sini bareng tiga teman dari Surabaya dalam rangka explore santai pantai-pantai laut selatan regional Jember. Salah satu dari tiga teman tadi kebetulan asli pemuda Jember. Jadi selama dua hari ngetrip, dia yang menjadi pemandu. Kami juga menginap di rumahnya.

Tiga pantai berhasil kami jelajahi, yaitu Pantai Watu Ulo, Pantai Tanjung Papuma dan Pantai Payangan dengan panorama Teluk Love-nya yang eksotis itu. Kebetulan ketiga pantai tersebut letaknya saling berdekatan. Jadi rugi besar, kalau sudah kadung berkunjung ke salah satunya, tidak sekalian ke dua pantai yang lainnya.

Alamat Pantai Watu Ulo ada di desa Sumber Rejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jatim. Dari pusat kota Jember, butuh waktu tempuh sekitar 45 menit berkendara kuda besi ataupun mobil. Tiket masuk ke pantai Watu Ulo waktu aku ke sana, mungkin karena sedang libur panjang atau memang sudah naik, harganya Rp 10.000 per orang. Padahal menurut teman yang asli Jember, biasanya cuma Rp 7.500. Tapi kalau mau datang setelah jam lima sore, tidak akan dikenakan biaya. Di jam tersebut, loket sudah tutup dan pengunjung bebas masuk gratis.

Harga tadi belum termasuk tiket untuk kendaraan. Besarnya Rp 5.000 untuk sepeda motor dan Rp 10.000 untuk mobil. Dan saat itu aku masih kena biaya parkir lagi sebesar Rp 2.000. Cukup mahal untuk ukuran pantai yang menurutku biasa-biasa saja. Ya, memang biasa saja. Kalau disuruh menilai, dari lima bintang Watu Ulo kuberi tiga bintang.

Pasir Pantai Watu Ulo yang unik berwarna hitam
 Santai kayak di pantai!

Yang membuat pantai ini terkenal adalah adanya tumpukan batu-batu yang memanjang menjorok ke laut. Panjangnya sekitar 500 meter. Begitu rapinya susunan batu tersebut sehingga menyerupai ular raksasa yang terkutuk menjadi batu. Hal itu pula yang membuat pantai ini dinamakan Watu Ulo. Dalam bahasa Indonesia, Watu artinya batu, dan ulo artinya ular.

Seperti berbagai tempat lainnya di tanah air, yang nama tempatnya sering dikaitkan dengan legeda cerita rakyat, pantai Watu Ulo juga demikian. Terdapat berbagai cerita mitos tentang asal-usul Pantai Watu Ulo. Salah satunya tentang pertarungan Raden Mursodo melawan Rojo Nogo (Raja Naga).

Jadi begini ceritanya, alkisah pada zaman dahulu kala jauh sebelum ada acara mancing mania, wilayah laut selatan dikuasai oleh ular raksasa bernama Nogo Rojo. Ikan-ikan dan berbagai biota laut di kawasan tersebut nyaris punah dijadikan makanan sehari-hari oleh sang raja naga. Hal ini menyebabkan masyarakat yang mencari ikan di sana sulit mendapat hasil.

Termasuk dua pemuda bersaudara bernama Raden Mursodo dan Raden Said (Sunan Kalijaga), yang pada suatu hari yang cerah, memancing di tempat itu. Sudah berjam-jam mereka mengail, tapi tak seekor pun mereka dapatkan. Hingga kemudian di saat mereka sudah hampir putus asa, tiba-tiba kail milik Raden Mursodo disambar ikan.

Ikan yang memakan umpan Raden Mursodo disebut ikan raja Mina dan memiliki kemampuan bicara layaknya manusia. Ikan Mina memohon kepada Raden Mursodo agar dilepaskan. Ia tak ingin mati dijadikan sambel. Sebagai imbalannya, ikan Mina akan menghadiahi Raden Mursodo sisik yang bisa berubah menjadi emas. Raden Mursodo tergiur. Dan setelah deal, Raden Mursodo melepas kembali ikan itu ke air laut.

Tapi sayang, baru saja dilepas, ikan Mina langsung disambar dan menjadi santapan empuk Nogo Rojo. Mengetahui hal itu, Raden Mursodo marah bukan kepalang. Sontak ia terjun ke laut. Ia mengamuk dan membacok tubuh ular raksasa itu berkali-kali. Hingga akhirnya, Nogo Rojo tewas dengan badan termutilasi menjadi tiga bagian.

Potongan-potongan tubuh itu kemudian terpencar terbawa gelombang. Bagian kepala nyangkut di Gerajagan Banyuwangi, bagian ekor di Pacitan, sementara bagian badan terdampar di Jember, yang saat ini telah membatu dan menjadi objek wisata.

Tapi ada kisah lain yang hampir mirip tapi dengan tokoh yang sedikit berbeda. Di cerita yang ini, saudara Mursodo bukanlah Raden Said, melainkan Joko Samudera.

Diceritakan Mursodo adalah anak angkat pasangan suami istri, Aki dan Nini Sambi, yang memiliki anak kandung bernama Joko Samudera. Setiap hari Mursodo dan Joko Samudera bergantian memancing ikan untuk kebutuhan lauk sehari-hari.

Suatu hari saat Mursodo memancing, ia mendapat seekor ikan yang dijuluki Raja Mina. Ikan tersebut memelas meminta dilepas. Raja Mina berjanji akan mengabulkan apapun permintaan Mursodo asal ia dibebaskan. Karena kasihan, Mursodo akhirnya mengembalikan ikan Mina ke habitatnya.

Ketika Mursodo pulang dengan tangan hampa dan menceritakan kejadian tadi kepada orang tua angkatnya, Aki Sambi langsung memarahi Mursodo. Aki Sambi menilai Mursodo sangat goblok karena melepas kembali ikan yang telah didapat.

Kasihan melihat saudara angkatnya dimarahi, Joko Samudera bergegas ke laut. Ia ingin memancing untuk mengganti ikan yang Mursodo lepaskan. Berjam-jam memancing, bukan ikan yang Joko Samudera dapatkan, justru seekor ular raksasa. Ular yang kesakitan terkena mata pancing, mengamuk dan menyerang Joko Samudera. Terjadilah perkelahian sengit Joko Samudera VS Ular Raksasa.

Mursodo yang mengetahui saudaranya tengah terdesak diserang naga laut, meminta bantuan ikan Raja Mina. Oleh Raja Mina, Joko Samudera diberi sebuah cemeti. Bersenjatakan cemeti itu, akhirnya Joko Samudera berhasil mengalahkan Nogo Rojo. Cambukan cemeti Joko Samudera, membuat tubuh ular raksasa terbalah menjadi bagian.

Versi lain menceritakan bahwa deretan batu di pantai Watu Ulo adalah jelmaan seekor ular naga, yang diperintahkan oleh Ajisaka untuk bertapa. Suatu saat nanti, naga tersebut akan bangun dari semedinya dan berubah wujud menjadi manusia. Setelah menjadi orang, ia dipercaya akan menjadi pemimpin Indonesia yang adil dan disegani.

Itulah beberapa cerita sejarah asal-usul pantai Watu Ulo. Silakan mau percaya atau tidak.

Objek Wisata Pantai Watu Ulo begitu ramai saat musim libur lebaran
 Bercanda ria bersama sahabat. :)

Di Jember kemarin, hanya sekitar sejam saja aku mampir di Pantai Watu Ulo. Pasirnya berwarna agak kehitam-hitaman. Mungkin karena terlalu berjemur atau entah kenapa. Ombaknya memang cukup ganas, sehingga tak ada pengunjung yang berani mandi, dan memang ada peraturan yang melarang untuk itu. Di tepi pantai, orang-orang hanya bermain kejar-kejaran dengan ombak atau berfoto-foto.

Di atas Watu Ulo-nya, sebenarnya juga ada papan peringatan melarang naik sampai ke ujungnya, tapi orang-orang sepertinya tak mengindahkan peraturan itu. Masih banyak yang nekad berswafoto hingga ke ujung Watu Ulo yang langsung berhadapan dengan ombak laut selatan. Padahal cukup beresiko. Bisa saja tanpa disangka-sangka datang ombak yang besar dan mencelakai mereka.

Selama kurang lebih satu jam itu, kegiatan yang kami lakukan hanyalah ngopi-ngopi ganteng di bawah pohon, sambil menyaksikan ombak bergulung-gulung di kejauhan, ngobrolin pantai Watu Ulo yang menurut penjual kopi kalau malam minggu kerap dijadikan tempat maksiat. Sempat mendekat sebentar ke ujung pantai untuk berfoto-foto dan bikin video ala kadarnya untuk kenang-kenangan di masa-masa mendatang.



Itulah sedikit cerita traveling kami ke Jember saat singgah di Pantai Watu Ulo. Cukup seru walau cuma sebentar. Dengan ini, bertambah satu lagi tempat ternama di tanah air yang pernah aku singgahi. Sekaligus memperkaya pengetahuanku akan cerita-cerita rakyat tentang asal-usul suatu tempat. Setelah itu, perjalanan kami berlanjut ke Tanjung Papuma, yang lokasinya hanya beberapa menit dari Watu Ulo.

Terima buat kasih teman-teman sudah membaca tulisan ini sampai khatam. Ayo main ke sini. Tak perlu kuatir, meski di pantai Watu Ulo bagusnya tidak bagus-bagus banget, di sekitarnya masih ada Tanjung Papuma dan Teluk Love, yang bagusnya bikin tak mau pulang!

Happy Traveling.

*****
Baca Juga: Melihat Langsung Cantiknya Teluk Love Pantai Payangan Jember

Melihat Langsung Cantiknya Teluk Love Pantai Payangan Jember

Di Pantai Payangan, ada sebuah bukit yang cukup ramai dikunjungi wisatawan, namanya bukit domba. Dari puncak salah sisi bukit itu, pengunjung bisa menyaksikan garis pantai yang bentuknya unik mirip simbol hati, sehingga dinamakan Teluk Love.

Spot Foto di Bukit Domba Pantai Payangan
 Gaya pendaki bukit domba.

Teluk Love atau Teluk Cinta, masih tergolong destinasi wisata baru di Kabupten Jember. Lokasinya ada di Pantai Payangan, dusun Payangan, kecamatan Ambulu, kabupaten Jember, Jawa Timur, Indonesia.

Teluknya sendiri tentu sudah lama ada. Mungkin sejak Tuhan menciptakan alam semesta ini. Yang masih baru adalah pemberian nama dan cara menikmatinya. Dulunya, teluk di pantai Payangan ini tak bernama dan tidak menarik wisatawan. Pengunjung lebih memilih ke Pantai Watu Ulo atau Pantai Papuma ketimbang Pantai Payangan. Keeksotisan Teluk Love memang tak akan terbukti jika dilihat mendatar dari pantai.

Di pantai Payangan, ada sebuah bukit tak bertuan yang dulunya dikuasai gerombolan domba untuk mencari makan sehari-hari. Penduduk sekitar memang sengaja melepas liar domba-domba peliharaan mereka di atas bukit. Jadi selama bertahun-tahun, kawanan domba itu yang selalu menikmati keindahan Teluk Love.

Tapi nggak salah juga, secara kalau diaritkan belum tentu rumputnya sesuai dengan selera domba-domba itu. Bisa saja rasa rumputnya kurang mak nyoss mamalia lezatos. Dan dengan diangon di atas bukit, mereka bisa bebas memilih rumput-rumput favorit mereka. Dari hal itu, sudah ketebak kan kenapa bukit ini dinamakan bukit domba?

Indahnya Pantai Payangan Jember
Pantai Payangan dari ketinggian.

Nah di tahun 2015, oleh beberapa warga, bukit domba ini mulai dibangun jalan kecil dan undak-undakan anak tangga menuju puncak. Tujuannya menjadikan bukit domba sebagai tempat wisata baru di kawasan pantai Jember, dengan menawarkan teluk unik berbentuk cinta sebagai sajian utamanya.

Dan mungkin karena nama bukit domba terdengar kurang 'menjual', akhirnya tempat wisata ini lebih dipopulerkan dengan nama Teluk Love. Padahal pada prakteknya, bukan Teluk Love-nya yang ramai didatangi para traveler, melainkankan Bukit Domba. Dari puncak bukit Domba itulah, garis pantai yang lengkungannya menyerupai simbol hati itu akan terlihat.

Karena lokasi Teluk Love masih sekawasan dengan objek wisata ternama di Jawa Timur; Pantai Watu Ulo dan Pantai Pasir Putih Malikan (Papuma), tak butuh waktu lama bagi Teluk Love untuk terkenal di kalangan penggila jalan-jalan. Pengunjung kedua pantai tersebut pasti juga penasaran ingin mendatangi pantai Payangan untuk melihat Teluk Love.

View dari Bukit Domba yang memang instagenic banget itu kemudian banyak dishare para pengguna sosial media dan kerap menjadi viral. Tak ayal, sekarang ini Teluk Love telah menjadi salah satu destinasi wisata populer di Jember. Keindahannya bukan lagi cuma sekawanan domba yang menikmatinya, kita semua yang hobi jalan-jalan juga telah difasilitasi jalan setapak menuju puncak. Kabarnya, pengunjung Teluk Love bukan hanya wisatawan lokal, sesekali juga ada turis asing plesiran ke sini.

Bentuk Teluk Love Pantai Payangan Jember
Seperti inilah bentuk Teluk Love Pantai Payangan.

Beberapa waktu lalu saat mbolang ke Jember, aku berkesempatan menyaksikan langsung keelokan Teluk Love. Hasil pengamatanku dari persentase jumlah pengunjung saat itu, Teluk Love sudah berhasil mengalahkan Pantai Watu Ulo dan menyaingi Pantai Papuma. Padahal kedua pantai itu sudah lebih dulu terkenal.

Untuk menuju kawasan tiga pantai tersebut, dari ibu kota kabupaten Jember butuh waktu sekitar 45 menit arah selatan. Nanti saat tiba di lokasi, ada persimpangan yang jika berbelok kanan arah ke pantai Watu Ulo dan Pantai Papuma. Sementara ke Teluk Love silakan terus lurus ke arah Pantai Payangan.

Nanti begitu memasuki area pantai Payangan, akan banyak penduduk sekitar melambai-lambaikan bendera. Tenang, itu bukan tanda-tanda bahwa di depan sedang ada crash kayak di kontes-kontes balapan. Kibaran bendera itu adalah kode menawarkan jasa parkir. Saran aku, biar tidak terlalu jauh berjalan kaki ke pintu masuk Bukit Domba, pilihlah tempat parkir paling terakhir. Tarif parkirnya Rp 2.000 untuk sepeda motor, sementara untuk mobil pribadi Rp 5.000.

Saat itu setelah memarkir kendaraan, kami langsung bergerak menuju pintu masuk pendakian Bukit Domba. Jaraknya kurang lebih 100 meter asalkan memilih tempat parkir paling ujung. Di pos pintu masuk tersebut, kami membayar lagi tiket naik sebesar Rp 5.000 per orang. Sangat murah untuk objek wisata yang pemandangannya begitu mewah.

View Foto Teluk Love Jember
Udah kayak pendekar dari goa hantu.

Di pos ini, kami dan para pengunjung lain ditawari tongkat kayu untuk pegangan selama pendakian. Tongkat tersebut dipinjami secara gratis. Karena aku yakin kakiku masih cukup kuat, serta memperhatikan sudut kemiringan Bukit Domba yang tidak terlalu ekstrem, di saat temen-temen yang lain rebutan tongkat, aku dengan pede-nya malah menolak baik-baik tawaran petugas.

Aku nggak mau nantinya tokat kayu tersebut malah merepotkan. Tangan kanan membawa tongkat narsis, tangan kiri menenteng botol air mineral. Oh iya, kalau mau naik jangan lupa membawa air minum kemasan minimal yang ukuran 600 ml. Syukur-syukur bisa membawa yang 1500 ml. Berjalan kaki dengan rute menanjak nan panjang, sakti banget kalau tidak sampai kehausan. Makanya, membawa banyak bekal air minum sangat penting dan perlu. Tapi bukan berarti harus bawa yang akua galon, nanti malah merepotkan.

Ramainya Pengunjung Teluk Love
 Pada buru-buru nggak sabar melihat Teluk Love dari puncak Bukit Domba.

Meskipun pengunjung Teluk Love sudah cukup ramai, entah kenapa di atas tidak ada penjual makanan dan minuman. Padahal kalau ada cafe-cafe, aku yakin suasananya bakal semakin seru. Nikmat mana yang mau didustakan, misalnya ngopi sambil melihat pemandangan indah, dan merasakan sensasi diterpa angin laut selatan yang kencang.

Tapi tak perlu kuatir walau belum ada warung, setiap beberapa meter disediakan gubuk yang dilengkapi tempat duduk kayu. Pengunjung bisa berhenti untuk istirahat, atau berhenti untuk lebih khusyuk menikmati keelokan pantai Payangan dari ketinggian yang memang tidak bisa dipungkiri begitu menakjubkan!

Spot Foto di Sekitar Teluk Love
Capek mendaki, bisa istirahat di dalam gubuk sambil nonton pemandangan.

Saat mendaki pakailah pakaian yang tidak tebal. Kalau kamu tergolong turis takut hitam, gunakan atasan lengan panjang, kaos tangan dan topi. Jangan mengenakan jaket. Percayalah, mengexplore Bukit Domba bakal menguras keringat. Apalagi kalau naiknya di siang bolong dalam cuaca yang panas.

Jenis alas kaki juga perlu diperhatikan baik-baik. Sepatu gunung, sepatu kets, sandal gunung atau bahkan sandal jepit justru lebih disarankan. Itu akan membuat langkah-langkah kita lebih enteng. Memang, sepatu berhak tinggi atau sepatu boot bisa membuat penampilan terlihat lebih gaya, tapi dijamin itu akan menyusahkan perjalanan.

Sistem darmawisata yang disajikan tempat ini adalah berjalan menyusuri jalan kecil buatan warga. Start dari pintu masuk, naik hingga ke puncak, lalu turun lagi kembali ke pintu masuk tapi melalui jalan yang berbeda. Jadi beberapa meter setelah melewati gerbang, akan ada jalan yang bercabang dua. Kalau naik lewat jalan yang sebelah kanan, nanti saat turun munculnya dari jalan sebelah kiri. Begitu sebaliknya.

Jalur naik Bukit Domba untuk menyaksikan Teluk Love
Jalur naik ke Bukit Domba. Ada bendera Indonesia-nya.

Jalan itu sebenarnya memang dibuat memutar, ditelusuri mulai dari pintu masuk, nanti ujung-ujungnya akan tembus di pintu masuk lagi. Tapi kebanyakan pengunjung naiknya melalui jalur yang sebelah kanan. Petugas juga menyarankan seperti itu. Jalan yang sebelah kiri tingkat kemiringan lebih extrem. Selain itu, kalau lewat yang jalur kanan, pemandangan Teluk Love akan tersaji di akhir penjelajahan sambil turun dari puncak. Jadi semacam happy ending gitulah.

Aku kemarin, lebih tiga jam mengitari Bukit Domba mulai dari naik sampai turun lagi. Bukan medannya yang membuat lama. Tapi karena view yang bagus-bagus di sepanjang jalan. Hampir di setiap langkah mata ini dimanjakan dengan panorama yang sayang sekali jika dilewatkan begitu saja. Aku sadar belum tentu bisa ke sini lagi, jadi perjalanan itu harus dinikmati sebaik-baiknya. Sebentar-sebentar berhenti, menghayati alangkah indahnya alam Indonesia ini, sambil sesekali mengabadikanya ke dalam jepretan kamera.

Lokasi Selfie Teluk Love Pantai Payangan Jember
Perusak pemandangan!

Ada dua mitos cukup so sweet berkembang di Teluk Love ini. Pertama, bagi yang sedang PDKT dan membawa gebetannya jalan-jalan ke Teluk Love, lalu menyatakan cinta di tempat itu, konon cintanya akan diterima dan hubungan mereka akan awet kayak mumi di Mesir.

Diterimanya itu entah karena memang saling cinta, atau karena saking senengnya diajak jalan ke tempat seindah itu, atau entah karena takut kalau ditolak nanti didorong diceburin ke laut, atau karena faktor lain-lainnya belum ada yang pernah menelitinya.

Jika mitos pertama untuk orang pacaran, maka mitos yang ke dua diperuntukkan bagi pasangan yang statusnya sudah menikah. Konon kalau suami istri liburan ke Teluk Love, lalu di sana mereka berciuman, katanya hubungan rumah tangga mereka bakal langgeng sampai maut yang memisahkan.

Aku hanya tersenyum geli mengetahui itu. Motivasiku ke sini bukan karena mitos-mitos itu. Bisa saja, mitos yang berkembang itu memang sengaja dikembangkan, sebagai strategi untuk menarik banyak kunjungan ke Teluk Love. Aku pribadi kalau bertamasya ke suatu daerah, ya memang karena ingin melihat keindahannya, bukan untuk membuktikan mitos-mitos yang melegenda di tempat tersebut.

Itulah sepotong kisah kunjunganku ke Pantai Payangan menyaksikan cantiknya Teluk Love dari bukit domba. Asli bagus banget. Nggak menyesal aku jauh-jauh ngebolang ke sini. Buat teman-teman yang penasaran seperti apa cantiknya, silakan datang dan buktikan sendiri. Berikut ini ada video sederhana tentang bagaimana bentuk Teluk Cinta.



Sedikit tambahan, waktu terbaik berkunjung ke sini adalah sore hari, saat-saat di mana Teluk Love tengah dibingkai cahaya senja yang menawan. Kemudian kalau enggan turun selepas senja, boleh sekalian camping di atas bukit asal sudah meminta izin ke petugas.

Happy Travelling.

*****
 Baca Juga: Jalan Gula Surabaya, Spot Foto Unik Bertema Bangunan Tua