Zuck Linn #4: Dani Zuckici

Seriap Zuck Linn

#4 Dani Zuckici

Di teras sebuah rumah sederhana bercat putih, tampak seorang lelaki duduk lesu di kursi dengan kaki kanan menyilang di dengkul kiri. Sikut tangan kanannya bertumpu pada peganggan kursi, sementara lengannya tegak menyangga kepalanya yang miring. Entah kenapa dia duduk dengan gaya seperti itu. Mungkin kepalanya sedang berat akibat banyak pikiran. Atau mungkin tidak kuat menanggung beban jelek di wajahnya, sehingga butuh bantuan tangan untuk menopang. Mungkin!

Tapi sebenarnya jika kita perhatikan secara seksama dan dalam tempo yang agak lama, cowok itu tidak jelek-jelek banget, walau sesungguhnya memang tidak terlalu ganteng. Ganteng pas-pasan; pas di dalam kegelapan, pas menghadap ke belakang atau pas dilihat dari jarak lima ratus meter.

"Zuck!"

Seseorang menyebut namanya. Ia menoleh, dan tampak olehnya seorang pria muda sedang berjalan lancar ke arahnya. Kalau tidak salah namanya Jabon, sahabat Zuck dari jaman SMA hingga jaman sekarang.

"Sori banget tadi pagi lupa bangunin kamu," kata Jabon sambil menduduki kursi di sebelah Zuck.

Zuck tersenyum penuh pengertian. "Tumben main ke sini?"

"Buat nyari alasan. Habis dari sini aku mau ke rumah Nivi. Nanti kalau dia nanya aku tinggal bilang; 'tadi dari rumah Zuck, mampir bentar buat ngasih ucapan selamat ke kamu'. Kabarnya hari ini dia lulus PNS."

Zuck kembali tersenyum, tapi kali ini dengan sangat terpaksa, sekedar menghormati Jabon yang telah memberikan sebuah informasi yang tidak penting. Zuck mengubah gaya duduknya menjadi bersandar. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat.

"Kamu kenapa?" tanya Jabon curiga.

"Aku teringat Wanda, Bon."

"Buset! Sampai kapan kamu mau gitu terus, Zuck?!"

Zuck menggeleng lesu. "Gara-gara barusan nonton TV."

"Pasti TV-nya pemberian Wanda?" tuduh Jabon.

Zuck diam saja.


"Makanya, biar nggak terus keingetan, barang-barang dari mantan itu lebih baik disumbangkan kepada yang lebih membutuhkan. Aku siap menampungnya."

"Enggak gitu. Tadi acara TV-nya tentang alam Indonesia. Kebetulan lagi bahas hutan-hutan di Kalimantan. Hutannya lebat, Bon. Liar, tapi masih perawan. Paru-paru dunia gitulah sebutannya."

"Bentar, bentar. Hutan lebat bikin kamu ingat Wanda?!" Jabon melongo penasaran.

"Bukan hutan lebatnya! Kata-kata Kalimantan itu yang langsung bikin aku ingat mantan," jelas Zuck sendu.

"Jiah!" Jabon buang pandangan ke bak sampah.

Tapi Zuck memang terlihat sedang galau berat. Sorot matanya jauh menembus langit tinggi, dengan tatapan penuh mimpi yang tak pasti.

"Sabar deh, Zuck. Akhir dari sebuah pacaran emang gitu. Kalau nggak jadi manten, ya jadi mantan. Jarang ada yang pacarannya bisa awet sampai 28 tahun," Jabon coba memberi wejangan.

"Sekarang mendingan kamu cari pacar baru."

Pikiran Zuck menerawang. Sejak pisahan dengan Wanda 7 bulan silam, ia memang memilih sendiri. Tak ingin buru-buru mencari pengganti. Zuck takut nantinya menjalani hanya dengan setengah hati. Malahan terkadang, Zuck berharap suatu saat dia dan Wanda bisa balikan lagi.

"Nggak semudah itu, Bon," kata Zuck pelan. Ia tak bisa memungkiri, bahwa Wanda telah menjadi bekas pacar yang paling membekas.

Jabon berdecak geregetan. "Coba buka lebar-lebar hati dan pikiran kamu. Jangan terus berpikir cuma Wanda wanita di dunia ini. Indonesia saja tuh luasnya udah luas banget, Zuck! Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau, dan berjuta cewek hidup tentram di atasnya. Jadi kalau kamu masih sering galau nggak jelas cuma gara-gara seorang Wanda, bener-bener nggak ngerti deh!"

"Ngomongnya kayak emak-emak aja. Lagian aku nggak separah yang kamu pikir. Ya biasalah ingat mantan, sesekali dalam sejam, hee..." Zuck nyengir membela diri.

Di saat itu, Nivi yang tumben berolahraga lari-lari sore melintas di depan rumah Zuck. Jabon langsung berdiri dari duduknya. Matanya tak berkedip mengikuti langkah-langkah lari Nivi. Kepalanya geleng-geleng menahan kagum. Zuck juga geleng-geleng, tapi penampilan Nivi penyebabnya.

"Kalau Nivi gimana?" tanya Zuck ragu-ragu.

Jabon terhenyak. "Eh, dia bagian aku!"

"Kalian nggak jadian-jadian juga?"

"Sabar dong. Cinta sejati itu butuh proses tahap demi tahap."

Zuck melengos. Dia tahu, dari dulu Jabon naksir berat sama Nivi, namun yang ditaksir sampai detik ini masih jinak-jinak merpati.

"Cari siapa gitu temen di kampus. Atau kenalan-kenalan di sosiak media. Pokoknya jangan Nivi!" tegas Jabon memberi peringatkan sambil kembali duduk.

"Iya, deh. Iya."

Tak berapa lama, Nivi kembali melintas di depan mereka. Jabon langsung berdiri lagi dari duduknya kayak menyambut tamu kepresidenan. Kali ini sambil berlari Nivi melempar senyum. Jabon menangkapnya dan menyimpannya dalam hati terdalam. Sedangkan Zuck kembali geleng-geleng melihat penampilan Nivi; dengan sepatu kets putih, celana training, sehelai handuk kecil melingkar di leher, tapi bajunya lengan panjang tebal berwarna cokelat muda, yang di bagian bahunya melekat lambang sebuah instansi pemerintah.

"Pamer banget. Mentang-mentang baru lulus PNS, jogging aja pakai baju dinas!"

Dani Zuckici

--~=00=~--

Malam harinya Zuck terus kepikiran kata-kata Jabon. Jutaan cewek di nusantara ini, untuk apa terus berharap pada seorang Wanda? Jabon benar, ia harus cari pacar baru. Iya.Lalu dari jutaan itu, Zuck mengerucutkan menjadi beberapa orang yang kira-kira memungkinkan untuk ia pacari. Dari beberapa orang itu, setelah dipilah-pilih dan pertimbangkan, hasil akhirnya justru muncul nama Nivi! Dan kalau boleh jujur, sebenarnya Zuck juga menginginkan Nivi. Di matanya, Nivi nyaris sempurna sebagai wanita; cantik, dewasa, anggun, ditambah sekarang sudah menjadi PNS. Kekurangannya cuma satu; Nivi sudah ditaksir Jabon! Dan Zuck tak ingin rebutan gebetan dengan sahabatnya itu. Ia takut menang.

Iseng-iseng Zuck membuka akun Facebook. Sejak putus dengan Wanda, ia memang sudah jarang bersosial media. Seingatnya dalam 2 bulan terakhir ini malah tidak pernah sama sekali. Dan Zuck tak menyangka, setelah sekian lama ditinggalkan, sudah ada satu orang yang ingin menambahkannya sebagai teman. Namanya Scandiva, yang kemudian langsung Zuck konfirmasi tanpa banyak prosedur. Dilihat-lihatnya sebentar akun itu, siapa tahu orangnya menarik dan bisa ditindaklanjuti lebih jauh. Tapi sayang tidak banyak informasi yang Scandiva tampilkan, bahkan foto-foto profilnya saja berisi gambar-gambar kucing.

Zuck mulai meneliti teman-teman Facebook-nya yang lain. Ia ingin coba mengikuti saran Jabon untuk cari pacar lewat jejaring sosial. Matanya tertuju pada sebuah akun berfoto profil wanita ayu dengan senyuman manis berbehel. Zuck langsung naksir, tetapi juga langsung kecewa. Status wanita itu ternyata sudah menikah!


Zuck kembali mencari-cari. Pencariannya terhenti pada sebuah akun dengan foto profil cantik dan yang terpenting masih lajang! Tapi kenapa alamatnya Gorontalo? Pekanbaru - Gorontalo itu kan jauhnya minta ampun?! Zuck kecewa lagi. Ia bukan salah satu penganut LDR. Kekecewaan Zuck berlipat ketika selanjutnya menemukan akun lain yang tinggalnya sekota Pekanbaru dan masih lajang, tapi setelah dilihat baik-baik ternyata namanya Bambang Trianto. Huek!

Tapi kekecewaan Zuck tidak berlangsung lama. Sekali lagi ia menemukan teman Facebook yang kali ini lebih menarik dan cukup potensial. Hijaber, cantik, jenis kelamin perempuan, masih lajang dan tinggalnya sama-sama di kota Pekanbaru. Hmm... Ini baru masuk itungan, pikir Zuck sambil terus membaca data-data cewek itu. Dari info profilnya ia adalah lulusan Universitas Kehidupan tahun 2012 dan saat ini bekerja sebagai menajer PT. Cinta Sejati. Pfft! Zuck menepuk jidat. Ketertarikannya serta merta kandas. Malah akhirnya hampir muntah nanah melihat nama Facebook cewek itu 'Enniieeey Moetzss Chijempolmania Pekandbaroeee (Adek Eni Anaknya H. Imron)'.

Zuck melempar smartphone-nya ke kasur. Tak berminat lagi mencari pacar lewat Facebook. Tidak meyakinkan! Ia memilih menukar posisi tidurnya saja. Kali ini dengan gaya miring, telapak tangannya menyangga kepala, dengan sikut bertumpu pada bantal, mirip putra duyung sedang berpose. Di saat itu, tanpa sengaja matanya melihat dompet di bawah meja belajar. Zuck bangkit dan memungut dompet itu. Dipandanginya beberapa lama. Pikirannya menerawang mencoba mengingat-ingat pemiliknya.

"Pulsa kiloan juga nggak apa-apa, Bang. Yang penting pulsa saya keisi. Butuh cepet nih."

"Lucu juga anak itu," ucap Zuck senyum-senyum sendiri terkenang sang empunya dompet. Wajahnya yang tak sempurna itu juga tiba-tiba tergambar jelas di benak Zuck, muncul lubang kecil di pipinya ketika dia tersenyum. Bagi Zuck, lesung pipit adalah cacat fisik yang indah.

"Tapi sayangnya masih SMA," gumam Zuck sedikit kecewa. Dari dulu ia tidak pernah suka menjalin hubungan dengan ABG, yang menurutnya mayoritas masih labil.

Zuck kemudian memasukan dompet itu ke dalam tas kuliah.

--~=00=~--

Selanjutnya Zuck Linn #5: Kenalan

Penggemar Manchester United kalau pas lagi sering menang.

Jangan Lewatkan

0 komentar:

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.