Zuck Linn #5: Kenalan

Zuck Linn


#5 Kenalan

Senin pagi yang sangat tidak cerah. Matahari yang aslinya sudah benderang, tidak mampu menembus tebalnya awan hitam yang menggelayut di angkasa Pekanbaru. Memang mendung tak berarti hujan, tapi kali ini ketika Linn baru separuh jalan menuju sekolah, mendung itu tiba-tiba berubah menjadi hujan yang serius.

Buru-buru Linn membelokkan motornya ke sebuah ruko yang tampak mangkrak. Dia sempat terkena hujan sedikit, sehingga di beberapa bagian baju seragamnya tercetak bulatan-bulatan basah air hujan.

Tapi Linn bersyukur bisa cepat menemukan tempat berteduh. Bahaya jika sampai basah kuyup, baju putihnya bisa tembus pandang, lalu bekas koreng di punggungnya akan terlihat banyak orang.

Di samping ruko agak ke belakang, ada sebuah cafe kecil. Tadinya Linn ingin ke sana, numpang berteduh sekalian pesan minuman hangat. Tapi menyaksikan pengunjungnya sudah ramai, para pekerjanya nampak sibuk melayani pembeli, Linn tidak tega dan akhirnya menganulir keinginannya.

Beberapa saat kemudian Linn melihat seorang laki-laki keluar dari cafe. Berlari menembus hujan menuju ke tempat Linn berada. Begitu sampai, lelaki itu tersenyum-senyum ke arah Linn seraya mengusap-usap rambutnya yang sedikit kebasahan. Linn membalas seperlunya, lalu berpaling kembali menikmati hujan.

"Ehem hem..."

Terdengar cowok itu mengeluarkan gaya batuk berlendir. Modus mau kenalan. Basi! Batin Linn tak peduli.

"Diem aja sih. Marah, ya, sama aku?"

Linn menoleh. Menatap lelaki itu tanpa minat. Sudut bibirnya melengkung, terseyum geli atau entah jijik dengan sikap cowok itu. Kepedean banget. Kenal juga enggak. Linn mundur sedikit menjauh. Melipat tangannya di dada, kemudian menyandarkan punggungnya di tembok.

"Kok nyender di tembok?" cowok itu berkomentar sambil menatap Linn tanpa kedip.

"Persoalan?!" Akhirnya Linn tidak bisa untuk tidak menanggapi sosok sok akrab itu.

"Ya enggak sih. Kasian aja sama temboknya, kecolok-colok sayapnya kamu."

Kening Linn mengernyit. Siapa sih ini? Berani-beraninya ngatain bersayap. Emangnya pembalut?!

Cowok itu kemudian membuka tas-nya. "Aku punya sesuatu buat kamu."

Linn tertegun semakin heran.

"Nih," cowok itu mengancungkan sesuatu.


Seketika mata Linn berbinar. Wajahnya cerah. Sesuatu yang sudah tiga hari ini membuatnya pusing tujuh trenggiling, ada di tangan cowok itu.

"Matre ih. Begitu diliatin dompet langsung semangat," ledek lelaki itu yang tidak lain adalah Zuck.

"Eh itu kan emang punyakuuu..." Linn langsung merebut dompet dari tangan Zuck. "Udah beberapa hari aku kebingungan nyari ini. Kenapa baru sekarang dibalikin? Teganya."

"Aku juga udah berhari-hari nyariin kamu buat balikin itu, tapi baru hari ini ketemunya."

Linn memeriksa seluruh ruang-ruang di dompetnya. "Ah lipgloss-nya masih ada, duitnya juga masih utuh!" Linn mengeluarkan beberapa lembar uang bergambar duo proklamator, masing-masing lembar dilipat menjadi empat bagian kecil-kecil. "Aku sengaja nyimpan di sisi tersulit. Soalnya kalau kelihatan pasti abis buat jajan. Ini buat jaga-jaga, kalau tiba-tiba terdesak butuh uang cash pas tersesat di pulau nggak berpenghuni yang gak ada ATM-nya."

Zuck melongo.

"Alhamdulillah kalungnya juga masih ada. Di sekolah kadang-kadang ada razia perhiasan. Makanya aku simpan di sini," Linn memperlihatkan sebuah kalung emas.

Zuck semakin melongo dongo. Dalam hati menyumpah-nyumpah atas kekurangtelitiannya kemarin.

Dari beberapa lembar uang di dompetnya tadi, Linn menyisihkan selembar dan diberikan kepada Zuck. "Buat kamu."

"Untuk apa nih?" Zuck menatap Linn dengan tampang pura-pura tak mengerti. "Oh kamu mau nyuap aku, biar aku tutup mulut nggak bilang ke orang-orang, kalau hari ini aku ketemu bidadari?"

"Hahaha bukanlah. Anggap aja ini sebagai ungkapan terima kasih karena udah balikin dompetku. Kenapa? Kurang banyak?"

"Eng... Nggak, enggak. Nggak usah. Aku tulus kok balikin itu. Nggak ngarep imbalan," kata Zuck menolak halus, meskipun dalam hati sebenarnya mau banget. Gengsinya yang gede telah mengalahkan kemauannya. Aslinya ia hanya butuh sedikit pemaksaan, supaya tidak malu-malu lagi menerima uang itu. Tapi sepertinya Linn tidak peka akan kelemahannya itu.

"Yaudah kalau nggak mau," Linn memasukan kembali uang itu ke dalam dompet.

Glek! Zuck menelan ludah. Pait!

"Makasih banget ya," tutur Linn sambil tersenyum tipis. Raut wajahnya yang tadi kurang suka dengan kehadiran Zuck, sekarang tampak lebih bersahabat.

Zuck menahan napas menyaksikan senyum itu. Manis sekali. Lesung pipi yang waktu itu ia lihat dari kejauhan, kali ini bisa ia saksikan dari jarak hanya satu gapaian.

"Lain kali hati-hati," sahut Zuck sedikit telat.

Linn tersenyum semakin lebar sambil memandang Zuck. Nafas Zuck seakan terhenti. Ia baru sadar, selain berlesung pipi, senyum Linn juga memiliki pesona lain berupa barisan gigi kelinci yang lucu-lucu. Duh.

"Kalau boleh tau nemuin dompetnya di mana?" tanya Linn.

"Emm... Di sebuah toko kecil di daerah Kubang."

"Udah duga sih ketinggalan di sana. Cuma kemarin pas dicek ke sana udah nggak ada. Kirain diambil sama pemilik toko."

"Eh nggak boleh su'udzon gitu."

Linn kembali menatap Zuck. Dalam hati bersyukur dompetnya ditemukan Zuck, kalau orang lain belum tentu bisa kembali utuh seperti ini. "Kamu baik ya?"

"Bukan, bukan!" Zuck menggeleng kuat-kuat.

"Kok bukan?"

"Aku bukan baik. Kenalin, aku Zuck. Dani Zuckici," Zuck mengulurkan tangan.

Linn tertawa kecil. Untuk beberapa saat ia hanya mengamati uluran tangan itu. Setelah yakin tangan Zuck tidak mengandung listrik, Linn menyambutnya dan menjabat erat. "Aku...

"Udah tau kok. Kamu Alinna kan?" potong Zuck. "Lengkapnya Alinna Bilqis Quinova."

"Lho, kamu tau-nya dari TV mana?" balas Linn sok ngartis.

"Baca di situ," dengan gerakan wajah, Zuck menunjuk ke arah dada kanan Linn.

Linn melengos. Dengan sedikit kikuk ia melirik dadanya sendiri. Di baju seragam sekolah yang ia pakai memang tertulis nama lengkapnya. Cepat-cepat Linn menarik tangannya dari genggaman Zuck, kemudian berpaling ke arah lain.

"Harus, ya, dari situ taunya?! Huft!" Linn merengut. Dasar mata nggak senonoh. Pasti belum pernah ngerasain kelilipan sepatu Kopassus nih orang! Batin Linn emosi.

Tetesan Air Hujan di Kelopak Bunga

"Soriii... Kebetulan aja terteranya emang di situ kan?" Zuck berusaha mencari pembenaran. "Lain kali coba ditulis di kening aja, biar aku ngeliatnya ke wajah kamu terus."

Linn semakin berpaling dan tertunduk, tak ingin Zuck melihat wajahnya yang sebenarnya sedang senyum-senyum sebal. Selain itu, Linn juga sedang merogoh tas mengambil ponselnya yang baru saja berdering nada pesan.

'Sekolah nggak?' sebuah Facebook Masengger dari Yonah.

'Udah berangkat sih. Tapi masih kejebak ujan di jalan. Kamu?' balas Linn, juga melalui pesan Facebook.

"Maaf atas becandaan bodohku tadi," Zuck yang merasa dirinya sedikit ditelantarkan buru-buru meminta maaf.

"Nggak apa-apa kok. Tapi jangan diulangi lagi."
Zuck tersenyum sambil mengangguk-angguk anggun. "Tapi kamu kelihatannya masih kesel?"

"Kesel gara-gara hujan ini. Nggak berhenti-berhenti. Padahal aku udah kangen banget sama upacara hari senin. Udah seminggu nggak ikut upacara."

"Kan emang seminggu sekali? Gimana sih?"

"I hate monday!" desis Linn.

"Eh jangan gitu dong. Sebenarnya senin itu hari baik lho. Hari di mana kita memulai segala aktivitas dengan penuh semangat setelah hari minggunya libur."

"Ah gaya aja," Linn tersenyum meledek.

"Beneran. Apalagi sebagai umat muslim. Di hari isnin kita bisa melaksanakan puasa sunnah. Udah gitu Nabi besar Muhammad SAW dulu lahirnya juga pada hari senin."

Linn takjub. Memandang Zuck dari ujung rambut sampai ujung gang.

"Dan pada hari senin juga, yaitu hari ini, kamu bisa kenal aku. Kurang bagus apa lagi coba?" tambah Zuck.

Linn tertawa di dalam hati. Menurutnya yang terakhir tadi itu maksa banget. Kemudian kembali melihat monitor androidnya, ada balasan pesan dari Yonah.

'Sekolah. Aku sama Dewik udah di kelas.'

"Lagi Facebook-an ya?" tanya Zuck pengen tahu banget.

"Iya, hehe," jawab Linn singkat sambil tertawa garing.

"Pasti update status 'Lagi berteduh di emper toko, sama cowok ganteng'?" tuduh Zuck semena-mena.

Linn sontak memandang Zuck, kemudian menutup mulut dengan ponsel menyembunyikan tawanya. Beruntung di rumah tadi Linn tidak sarapan banyak, sehingga tidak sampai muntah-muntah.

Setelah itu sama-sama terdiam. Dalam diam, diam-diam Linn mencuri pandang ke arah Zuck, memandangi wajah cowok itu yang begitu sempurna. Dagu, bibir, pipi, sepasang mata, bulu mata, alis, jidat, hidung, komedo, semuanya lengkap tanpa kurang satupun. Iya, sempurna!

Zuck yang merasa curiga dirinya tengah diperhatikan, diam-diam melirik Linn untuk membuktikan kecurigaannya. Dan glotak! Beberapa detik tatapan mereka bertabrakan. Linn gelagapan malu dan buru-buru mengalihkan matanya.

Sambil senyum-senyum senewen, Zuck juga kembali memandang hujan. Hujan yang terlihat mulai mereda. Tapi Zuck tidak suka. Nanti begitu hujannya berhenti, pasti masing-masing akan kembali melanjutkan perjalanan. Dan pertemuan ini akan berakhir begitu saja. Sebelum perpisahan itu benar-benar terjadi, Zuck ingin memperoleh nomor HP Linn. Harus! Bagaimanapun caranya.

"Eh, kamu punya obeng nggak?" pancing Zuck.
"Enggak. Aku punyanya nomer HP. Mau?"

"Mm... Boleh, boleh." Dengan penuh semangat Zuck mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik angka-angka yang disebutkan Linn.

"Coba di-misscall," perintah Linn.

Zuck memencet tombol panggilan, lalu mendekatkan handphone ke telinga. "Haloh. Emm... Iya, iya. Oh gitu. Yaudah. Terima kasih ya, Mbak?"

"Ngobrol sama siapa? Salah nomer tuh pasti, nggak masuk kok?" Linn bingung.

"Tau nih siapa. Suaranya sih perempuan."

"Masa sih? Dia ngomong apa?" Linn serius bingung.

"Pertamanya dia minta maaf. Udah gitu bilang 'pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini, segera lalukan pengis...

"Iih!" Dengan geram yang tak tertahankan, Linn mendorong Zuck keluar teras. Tapi dengan cepat Zuck meraih tangan Linn, sehingga gadis itu ikut tertarik bersamanya. Untuk beberapa saat keduanya sama-sama terguyur hujan. Zuck tertawa, kemudian berlari mengandeng tangan Linn kembali masuk ke teras toko.

"Jahat," ucap Linn, wajahnya yang sedikit basah tampak merona.

Zuck belum bisa berhenti tertawa. "Kan kamu yang berusaha mencelakaiku duluan. Muahaha...


Dan akhirnya hujan benar-benar reda. Gerimis pun sudah tiada. Linn bersiap-siap melanjutkan perjalanan.

"Kamu sendiri mau ke mana?" tanya Linn.

"Ke kampus. Aku kuliah, jurusan sastra mesin," jelas Zuck tanpa diminta.

"Hahaha emang ada?!"

"Nanti kalau ada telepon dari nomor baru yang awalnya +62, itu aku," pesan Zuck.

Linn tersenyum tipis sambil memasang helmnya. "Sekali lagi terima kasih, udah ngembaliin dompetku."

"Sama-sama."

Tiba-tiba Linn teringat sesuatu. Buru-buru ia kembali melepas helm-nya. "Eh tapi gimana caranya kamu bisa tau kalau ini dompetku?"

"Eh. Mmm..." Zuck garuk-garuk kepala. Ia sama sekali tidak menyangka akan ada pertanyaan seperti ini.

"Secara di dompetku gak ada kartu identitasnya. Trus perasaan, pagi itu di sana cuma ada dua orang. Pemilik toko sama... Ada sih seorang pengemis yang menprihatinkan banget. Saking kasihannya aku beri dia uang seribu. Kalau pemilik toko, pas aku datangin dia gak tau menahu. Jadi jangan-jangan...

Zuck tidak berani melihat Linn. Ia pura-pura serius memandang langit. "Eh coba deh lihat ke langit. Mendungnya keren ya, bisa jalan sendiri...

--~=00=~--


Penggemar Manchester United kalau pas lagi sering menang.

Jangan Lewatkan

0 komentar:

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.