Zuck Linn #8: Ternyata Yonah

#8 Ternyata Yonah

Di atas motor sepanjang lanjutan perjalanan menuju rumah Yonah, Linn terus kepikiran pertemuannya dengan Zuck yang sehari sudah dua kali, dua-duanya secara tidak sengaja dan dua-duanya juga Zuck datang memberikan pertolongan. Sungguh kebetulan yang sangat aneh.

Hingga tahu-tahu Linn sudah sampai di depan kediaman Yonah, yang memang tidak susah menemukannya. Hanya berjarak lima rumah saja dari rumah Dewik.

Setelah parkir motor, Linn mendekati pintu rumah Yonah dan mengetuknya dari luar. Ternyata Dewik yang membukakan. Linn kemudian masuk sambil memperagakan wajah berseri-seri penuh senyum.

"Habis putus rantai malah bahagia?" protes Yonah.

Linn cuek dan duduk di sofa di samping Yonah. Sementara di meja sudah terhidang 3 gelas sirup jeruk dan 2 piring cemilan biji nangka rebus. Tanpa menunggu dipersilahkan, Linn mengambil salah satu gelas yang isinya masih penuh, diseruputnya hingga habis tiga perempat.


"Kalian percaya nggak tentang keberadaan malaikat-malaikat yang menyamar jadi pengemis?" tanya Linn sambil meletakkan gelas.

"Yang kalau kita menolong pengemis itu, pengemis yang sebenarnya malaikat itu akan balas menolong kesusahan kita?" tebak Yonah.

"Tepat!"

"Ah itu kan cuma dongeng!"

"Fiktif belaka," Dewik yang duduk lesehan dekat pintu ikut menambahi.

"Tapi aku udah mengalami sendiri. Beberapa hari lalu aku memberikan uang kembalian beli pulsa kepada seorang pengemis yang lusuh banget. Dan ternyata, pengemis itu adalah jelmaan malaikat. Dia lah penyelamatku. Dia yang mengembalikan dompetku pagi tadi. Dia juga hadir ketika tadi rantai motorku putus."

"Masa sih?" Dewik sangat tidak percaya.

"Buat apa aku bohong?"

"Yang kamu bilang orangnya ganteng itu?" Yonah penasaran.

"Iya. Kami udah kenalan. Dia tadinya nanyain obeng, tapi kukasih nomer HP aja. Semoga setelah ini aku dan dia bisa kenal lebih dekat. Rasanya jadi pengen kembali ke jaman Siti Nurbaya, terus dijodohin sama lelaki malaikat itu. Hahaha..."

"Dasar! Trus Evan gimana? Rein gimana?"

"Evan udah aku putusin. Kalau Rein sih rencananya untuk pacar khusus di sekolah aja. Trus mahasiswa itu untuk pacar cadangan. Hahaha," jawab Linn ngasal. "Soalnya sulit kalau disuruh milih salah satu."

"Padahal baru sebulan jadian sama Evan, udah putus aja?"

"Abis gimana, dia nggak mau nolong rantai motorku putus, yaudah aku putusin juga sekalian. Untung nggak lama kemudian datang malaikat berkuda besi menolongku. Tanpa aku minta dia langsung turun tangan benerin rantai motorku. Tangannya hitam-hitam belepotan oli. Badannya sampai keringetan. Laki banget!"

"Namanya siapa?" Yonah akhirnya penasaran.

"Namanya...." Linn urung meneruskan jawaban pertanyaan Yonah, karena kemudian terdengar ada tamu mengetuk pintu, dan perhatian Yonah pun langsung beralih ke sana.

Alinna Bilqis Quinova

"Tolong bukain dong, Wik," titah Yonah, mengingat Dewik yang keberadaannya paling dekat dengan pintu.

Dewik mendekati pintu dan memutar kuncinya. Kenop pintu diputar dari luar, kemudian terbuka perlahan.

"Namanya siapa tadi?" Yonah kembali bertanya.

"Zuck?" kata Linn dengan mimik kaget memandang ke arah pintu.

"Siapa?!" Yonah menoleh ke arah Linn ingin lebih memastikan.

"Dani Zuckici," gumam Linn.

"Alinna?!" dari arah pintu, Zuck terbengong memandang Linn.

Yonah memandang Zuck yang baru datang, kemudian kembali memandang Linn curiga. "Jadi dia yang nolong-nolong kamu seharian ini?"

Linn mengangguk pelan dengan wajah super duper bingung. Ini sudah lebih dari aneh. Ia benar-benar bertemu Zuck lagi!

"Maksud kamu Mas Zuck? Kakak aku?" tanya Yonah.

"Hah?! Kakak kamu?!" wajah Linn langsung memucat. "Kamu nggak lagi ngaku-ngaku kan, Yonah?"

"Emang dari tadi kamu nggak liat foto itu?" jari telunjuk Dewik menuding ke foto keluarga di dinding.


Linn memandang foto yang dimaksud Dewik. Di sana ada Zuck dan Yonah tengah tersenyum bahagia diapit kedua orang tuanya.

"Kalian berteman sama Linn?!" tanya Zuck yang baru pulang kuliah berjalan kaki. Tadi RX King-nya yang memang boros BBM itu kehabisan bensin di ujung gang, dan terpaksa Zuck titipkan di sana di rumahnya Nivi.

"Iya, Mas. Kami bertiga sekelas," Dewik yang beri jawaban.

"Jadi, yang kamu bilang pengemis lusuh banget itu Mas Zuck?" tanya Yonah memandang Linn serius.

Linn tersenyum kecut. Wajahnya tampak grogi. Tangannya bergerak-gerak salah tingkah. Dan Linn benar-benar mati gaya saat Zuck memilih duduk di sampingnya.

"Yang rencananya mau kamu jadiin pacar cadangan?" tanya Yonah sekali lagi.

Dengan gugup tak menentu, Linn meraih sirup jeruk miliknya. Isinya yang tinggal seperempat itu dihabiskan dalam sekali tenggak.

"Err... Tadi tuh... Tadi tuh cuma bercanda, Yonah," jelas Linn sedikit tergagap-gagap, kemudian meletakkan gelas yang telah kosong dengan tangan sedikit gemetar.

Zuck buru-buru mengambil gelas itu. Dipandanginya sambil senyum-senyum.

"Ini pasti gelas cantik, yang tadi kamu bilang hadiah kalau sehari kita bertemu tiga kali itu kan?" tanya Zuck kepada Linn. Kemudian dengan norak 24 karat, disimpannya gelas itu ke dalam tas kuliahnya.

Linn tertunduk dalam-dalam, malu, seperti daun putri malu tersenggol roda excavator.

--~=00=~--


Penggemar Manchester United kalau pas lagi sering menang.

Jangan Lewatkan

0 komentar:

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.