Widget HTML #1

Zuck Linn #7: Tragedi Rantai Motor

Zuck dan Linn


#7 Tragedi Rantai Motor

Untuk mempercepat perjalanan jika Linn hendak berpergian, orang tua Linn telah menyediakan beberapa alternatif alat transportasi yang bisa Linn pilih sesukanya. Ada dua motor dan sebuah mobil. Yang motor, satunya motor matic, sementara sisanya bukan motor matic. Namun sehari-hari Linn lebih sering menggunakan yang matic, soalnya tidak perlu capek-capek oper porsneling.

Untuk mobil, Linn belum pernah menggunakannya. Ia belum punya SIM A, tidak ingin menambah macet, lebih praktis pakai motor, takut dibilang pamer harta orang tua, dan yang terpenting karena Linn memang tidak bisa nyetir mobil!

Meskipun lebih demen memakai yang matic, bukan berarti motor yang satunya sama sekali tidak terpakai. Sesekali Linn masih menggunakannya. Contohnya sore ini, Linn memilih motor yang bukan matic untuk ke rumah Yonah. Yang sayangnya pilihannya kali ini ternyata salah besar. Saat masih dalam perjalanan, tiba-tiba rantainya putus!

"Aduh... Ada-ada aja sih motor ini. Padahal kalau pakai yang matic nggak pernah putus rantai kayak gini?!" ratap Linn. Kepalanya bergerak ke kanan kiri mencari bengkel. Tapi jangankan bengkel, gubuk derita saja tidak terdapat di sana. Jalan itu cukup sepi berada di pinggiran kota.

Linn mengeluarkan ponsel dari jok motor, mengontak pacarnya minta pertolongan pertama. "Evan ke sini dong, aku lagi di jalan sepi nih."

"Ngapain?! Baru juga beberapa jam yang lalu ketemu, masa udah kangen lagi?"

"Ini bukan untuk kangen-kangenan! Rantai motorku putus. Tolongin."

Tidak ada jawaban.

"Van. Halo."

"Iya. Halo juga."

"Kamu dengerin aku ngomong nggak sih?"

"Denger kok. Tapi aku sambil nonton DVD ya? Emang di sekitar kamu nggak ada bengkel?"

"Kalau ada aku nggak akan minta bantuan kamu!"

"Kamu juga sih, tadi diajak jalan nggak mau. Giliran kena apa-apa baru ngehubungin aku."

"Mau nolongin nggak sih?"

"Iya, iya. Tapi bentar."

"Bentar kapan?"

"Bentar lagi."

"Kamu lagi di mana sih? Suriah? Kayak ada suara-suara tembakan?"

"Tadi kan aku udah bilang, lagi nonton DVD. Nih lagi seru-serunya adegan perang. Tadi penjahatnya nembak polisi, trus...

"Gak penting, Van! Gak pentiiing!" Linn berteriak fals. Mau nembak polisi kek, paranormal, pengacara, dukun beranak, bodo amat! Yang penting kalau ditolak jangan sakit hati. Batin Linn gondok berat.

"Jadi kapan kamu berangkat nyusul?!"

"Sabar. Bentar lagi...

"Dari tadi bentar lagi, bentar lagi. Bentar lagi kapan?! Nunggu adzan maghrib untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya?" cecar Linn makin kesal dengan sikap Evan yang lebih mementingkan nonton DVD.

Tapi tak ada tanggapan apapun dari Evan. Sepertinya ia lebih konsen ke film yang ditontonnya. Kekesalan Linn akhirnya mencapai puncak.

"Van! Dengerin baik-baik, aku mau ngomong penting banget!"

"Ngomong deh. Aku sambil nonton ya, Sayang?"

"Sekarang juga, kita puu.. tus! Putus!"

"Oh. Yaudah."

"Evan sialaaan!" Linn mematikan telepon dengan sebuah pencetan kejam. Pengen rasanya nangis sambil nyakar-nyakar aspal. Sudah rantai motornya putus, sekarang pacarannya juga putus. Tapi putus rantai ini yang paling bikin sedih. Mending tali sandalnya yang putus, bisa langsung Linn buang ke tempat sampah. Kalau rantai motor yang putus, Linn jelas tidak kuat mengangkat motornya ke tempat sampah.

Linn kembali menghubungi seseorang. Sambil berharap yang kali ini lebih peduli dengan penderitaannya.

"Halo, Linn. Udah nyampe mana?" tanya Yonah lebih dulu menyapa.

"Masih di jalan. Rantai motorku putus," jelas Linn dengan suara sedih.

"Yaudah kamu cepetan ngebut aja. Cuma rantai putus ini, ntar sesampainya di rumahku disambung lagi."

"Yonaaah!!!" pekik Linn geregetan, pengen rasanya menyobek-nyobek mulut cewek itu. Rantai putus bagaimana caranya mau ngebut?! Ternyata Yonah sama tak pedulinya! Huh!

"Eh, iya, Linn. Ya ampun. Oke, oke, kamu jangan ke mana-mana. Tetap tenang, jangan membuat gerakan-gerakan mencurigakan. Aku segera ke sana."

"Cepetan," harap Linn mengakhiri pembicaraan.

Berbarengan dengan itu, tiba-tiba ada motor dengan kecepatan tinggi meraung melewati Linn begitu saja. Kekesalan Linn semakin tak terperi. "Dasar nggak sopan! Mudah-mudahan putus rantai kayak gini biar tau rasa!"

Ciiitt... Bunyi gesekan ban dan aspal, mirip jeritan tikus kejepit jendela. Motor itu mengerem mendadak dan ngepot akrobatik berputar arah, setelah itu tancap gas mendekati Linn.

Linn deg-degan. Jangan-jangan sumpahannya tadi terdengar orang itu dan dia datang untuk bikin perhitungan. Deg-degan Linn kian menjadi manakala motor itu berhenti hanya dua meter di depannya. Meski masih memakai helm, Linn sadar orang itu tengah mengamati dirinya beserta motornya.

Zuck

Orang itu mematikan mesin. Linn mundur beberapa langkah siap siaga dengan segala kemungkinan. Dilihat dari motornya, orang itu sepertinya bukanlah orang baik-baik.



"Kayak pernah lihat kamu?" kata orang itu sambil mencopot helm.

Linn memperhatikan wajah orang itu baik-baik. Beberapa saat Linn tercengang, setelah itu senyumnya merekah lega. "Eh, iya, benar. Ini Linn. Lengkapnya Alinna Bilqis Quinova. Yang tadi pagi neduh bareng di emper toko."

"Rantainya putus?" basa basi Zuck turun dari motor.

"Iya. Putus sendiri tadi."

"Yaialah. Masa kamu yang mutusin. Dia kan bukan pacar kamu?"

"Ehehe...." Linn tersenyum. Entah kenapa kehadiran Zuck serta merta membuat dirinya merasa aman dan terlindungi.

Zuck mendekat, lalu jongkok di sebelah motor Linn memperhatikan rantainya yang berantakan. "Mungkin kekencengan nih tadi, makanya putus."

Linn diam saja. Dia tidak mengerti seluk beluk dunia otomotif. Apalagi rantai, sekedar mengatur posisi spion aja sering nggak bener.

"Nyetel rantai itu harus pas. Kalau terlalu kuat, ya putus."

"Berarti kayak pacaran, kalau diikat terlalu kuat malah jadinya putus?" tanya Linn. Di benaknya terbayang sosok Evan.

Zuck menoleh. "Curhat?"

"Enggak, enggak," Linn buru-buru menggeleng.

Zuck berdiri lagi. Kembali ke motornya sebentar untuk mengambil kunci-kunci yang selau dibawanya di bawah jok. Setelah itu, dengan cekatan Zuck mulai membongkar rantai motor Linn. Tangannya hitam-hitam ternoda kotoran rantai. Linn hanya menonton dengan tatapan kagum.

"Lucu juga ya, nggak sengaja ketemu kamu sampai sehari dua kali?" tutur Linn ikut jongkok di samping Zuck.

"Kalau sehari tiga kali itu minum obat."

"Kalau sampai tiga kali ntar dapat gelas cantik."

"Gelas cantik?" Zuck menoleh.

"He'em," Linn mengangguk-angguk sambil tersenyum centil.

Zuck memandangi lesung pipi di senyum Linn sampai hilang. "Berarti gelas yang habis dipegang kamu."

"Ah apaan sih, baru kenal udah gombal mulu?"

"Mending. Bandingin sama keong racun, baru kenal udah ngajak tidur?"

"Hahaha..."

Zuck mengambil batu, kemudian digunakannya untuk memukul-mukul potongan paku yang ditancapkan ke sambungan rantai. Gerakannya sudah begitu terlatih. Linn tetap hanya menonton. Ingin turun membantu tapi tak tahu apa yang musti diperbuat.

"Motor kamu motor apaan sih? Berisik banget. Udah gitu kayak motor-motor penjahat di sinetron Indosiar. Tadi aku takut," kata Linn sengaja terus mengajak Zuck ngobrol, biar bisa kenal lebih dekat.

Zuck tertawa mendengar penuturan Linn. "Itu motor RX King. Wajar juga kamu takut, soalnya memang banyak yang bilang RX King itu motornya jambret."

Linn manggut-manggut berusaha mengerti.

Meski sering diledek sebagai motornya para kriminal, Zuck bangga dengan motor yang sudah bersamanya sejak dari 2008 itu. Motor itu sudah mengantarkannya meraih ijazah SMP dan SMA. Dan sekarang juga masih setia menemaninya untuk mengejar gelar S.Kom.



Tiba-tiba Handphone Linn berdering. Yonah yang menelepon.

"Halo, Linn. Ini aku udah berangkat mau nyelametin kamu. Tapi tadi lupa nanya posisi kamu di jalan mana?"

Linn memandang sekeliling. "Enggak tau. Entah jalan apa nih namanya."

"Bisa jelasin ciri-cirinya?"

"Emm... Bisa, bisa. Aspalnya berwarna hitam, keras, trus di pinggir jalan tiang listriknya tinggi-tinggi."

"Linn, andaikata kamu dibunuh orang di sana jangan hantui aku ya?"

Linn tertawa terbahak-bahak. Rasanya puas sekali berhasil membalas perbuatan Yonah yang tadi sudah membuatnya kesal. "Enggaklah, mana mungkin hantu menghantui hantu. Udah ah. Kamu gak usah ke sini. Basi. Udah ada yang duluan nolong."

"Serius?!"

"Banget. Kamu tunggu aja di rumah."

"Siapa yang nolong? Dari nada kamu ngomong kayaknya orangnya ganteng."

"Hahaha... Ada deh. Ntar aku ceritain."

Selesai berteleponan, ternyata Zuck juga telah selesai menyambungkan rantai motor Linn.

--~=00=~--

Posting Komentar untuk "Zuck Linn #7: Tragedi Rantai Motor"