Widget HTML #1

Zuck Linn #23: Scandiva

Dani Zuckici dan Alinna Bilqis Quinova


#23 Scandiva

Sebagai pasangan yang baru jadian, sejatinya malam minggu ini Linn bisa seneng. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, ia manyun seorang diri di kamar. Zuck tidak datang, malam minggunya bentrok dengan jadwal nge-band. Linn marah, permintaan maaf serta bujuk rayu Zuck lewat pesan WA tidak Linn hiraukan saking marahnya.

Lebih-lebih saat ini Linn stalkqueen wall Facebook Zuck, dan membaca ulang komen Scandiva di status-status Zuck siang tadi. Genit banget dan tampak nyata sedang cari perhatian.

FB aku kenapa ya? Tiap bikin status pake privasi hanya saya, kok nggak ada yang nge-like apalagi komen. Padahal statusnya bagus. Kan sayang banget.

Scandiva dengan genitnya berkomentar:

Iya. Aku juga sayang banget, sama kamu.

Zuck membalas komen Scandiva dengan enam emot tertawa.

Si Scandiva komen lagi:

FB aku juga kayaknya rusak. Dari kemarin mau nyolek akun sendiri gak bisa-bisa.

Zuck balas:

Mungkin akibat pergaulan bebas?

Si Scandiva masih saja coba melucu:

Bisa jadi. Tapi bagus sih di Facebook ada fitur 'buat halaman'. Bikin yuk, biar rumah kita kelak punya halaman.

Linn benci! Di status publik saja obrolan mereka intim banget, bagaimana di pesan-pesan pribadi?! Saking bencinya Linn ingin meng-unfriend Scandiva, sayangnya tidak bisa, ia belum berteman dengan cewek itu. Akhirnya, yang bisa Linn lakukan hanyalah mengirimi Scandiva pesan:

'Kamu siapa sih sok akrab banget sama Zuck?!'

Bukan siapa-siapa. Kenapa?

Nggak usah genit-genit ke Zuck!

Biasa aja kok.

Biasa aja gigimu benjut! Itu komen 'aku juga sayang banget sama kamu' maksudnya apa?

Kok kamu marah-marah? Kamu sendiri siapanya dia?

'Aku pacarnya!!!'

Untuk beberapa lama tidak ada balasan.

Masa sih? Tapi di status hubungan Zuck masih 'lajang'?

Penting gitu status pacaran dipajang?!!!



Scandiva tak membalas lagi. Padahal Linn belum puas chat war dengan dia. Karena tak kunjung dibalas, akhirnya Linn mencoba add friend Scandiva dan kembali berkirim pesan:

'Scandiva, konfirmasi aku dong.'

Tak butuh waktu lama, Scandiva sudah menerima permintaan pertemanan Linn. Dia juga membalas pesan Linn:

'Tadi ngamuk-ngamuk kok sekarang mau-maunya berteman sama aku?'

'Siapa yang mau berteman? Ge'er! Aku tuh nge-add kamu semata-mata biar bisa nge-remove kamu tau nggak?! Makanya jangan suka godain pacar orang! PAHAM!!!!!'

Sengaja Linn memakai huruf besar disertai tanda seru lima lonjor, biar Scandiva bisa mendengar dengan jelas. Setelah itu Linn langsung me-remove friend cewek itu!

"Rasain!" maki Linn sambil menyeringai puas.

Scandiva

--~=00=~--

Siang harinya, berlokasi di warung es campur depan rumah Linn, tampak dua orang sedang marahan. Zuck Vs Linn. Metode marahan yang mereka gunakan adalah diam-diaman. Sudah setengah jam aksi itu berlangsung dan belum ada tanda-tanda ada yang mau mengalah. Bukan hanya saling diam, bahkan duduk mereka saja saling berjauhan. Zuck duduk di ujung bangku sebelah kanan, sementara Linn duduk di parkiran.

Ngambeknya Linn karena tadi malam tidak diapelin, plus melihat dengan kepalanya sendiri keakraban Zuck dan Scandiva di Facebook. Sementara Zuck ngambek karena Linn tidak mau mengerti dengan kondisinya tadi malam, yang memang harus latihan ngeband.

Akhirnya Zuck tidak kuat! Ia keluar mendatangi Linn yang sedang duduk ngurek-ngurek tanah.

"Maafin aku, Beb," pinta Zuck memelas.

Linn mendongak. "Selama kita pacaran, Mas nggak pernah malam mingguin aku. Aku sebel!"

"Yaelah... Kita kan jadian baru beberapa hari? Tadi malam juga baru malam minggu pertama?"

"Nah itu, baru malam minggu pertama aja udah nggak datang, gimana nanti malam minggu keseribu? Orang juga kalau baru jadian itu masih sayang-sayangnya."

"Kan aku udah jelasin aku ngeband. Nggak enak sama teman-temanku," kata Zuck parau sambil duduk di sebelah Linn. Wajahnya tertunduk dalam-dalam. Mengambil ranting kayu dan ikut ngurek-ngurek tanah.

Linn terenyuh melihat itu. Tiba-tiba ia merasa bersalah, baru jadian saja sudah banyak menuntut dan mengekang.

"Aku minta maaf, Mas."

"Aku yang salah, Beb. Aku yang minta maaf."

"Aku yang salah, nggak bisa ngertiin kamu."

"Buktinya udah jelas, aku nggak ngapelin kamu. Dibawa ke KPK juga pasti aku yang salah."

"Enggak, Mas. Ini aku yang salah."

"Nggak apa-apa kok aku aja yang salah."

"Aku aja ya, Mas. Plis."

"Yaudah, kamu aja," Zuck akhirnya mengalah.

Linn tersenyum lega. Begitupun Zuck. Dengan demikian, marahan mereka telah resmi selesai.
Zuck melemparkan ranting yang tadi digunakan untuk ngurek-ngurek bumi. "Sekarang aku mau main bola."

"Aku ikut," sahut Linn cepat.

"Ngapain ikut? Yang main cuma cowok-cowok lho, Sayang."

"Aku nggak ikut main. Aku ikut kamu. Ntar kita mojok di lapangan."

"Mana boleh. Pojok lapangan itu buat corner kick. Bukan lokasi pacaran."

Linn terdiam dengan raut wajah kecewa.

"Ngak usah ikut aja ya, Sayang. Aku takut nanti mainnya makin semangat gara-gara ditonton kamu," gombal Zuck.

"Udah malam minggu nggak ditemenin. Sekarang mau ikut ke lapangan aja nggak boleh," Linn tertunduk sedih. Ia kembali ngurek-ngurek tanah dengan gerakan lebih serampangan.

"Yaudah, yaudah. Kamu boleh ikut," Zuck akhirnya tidak tega.

Wajah Linn langsung sumringah. "Beneran boleh ikut ke lapangan?!"

"Iya. Tapi harus janji, rumputnya jangan dimakan?"

Linn merengut lagi. Bibirnya maju dua senti. "Emangnya Linn sapiii..."

"Hahaha..." Zuck mengucek-ucek rambut Linn.
"Kebiasaan!" Linn menghindar. "Baru di-smothing udah diacak-acak lagiiii....



Tawa Zuck semakin kencang, setelah itu dibelai-belainya rambut Linn hati-hati, membantu merapikan poni-nya.

"Udah yuk berangkat," ajak Zuck melangkah ke arah motornya.

"Ntar bikinin gol buat aku ya, Mas?" pinta Linn.
"Aku usahain."

"Kamu kalau main bola di posisi apa?"

"Striker."

"Stiker?!"

"Striker. Bolot terus sih!"

"Potlot kurus?"

"Sebenarnya aku pemain serba bisa sih, Beb. Dimainkan di posisi mana aja bisa."

"Wuih!" Linn memandang kekasihnya dengan tatapan bangga. "Tapi yang paling sering dimainkan di posisi mana?"

"Pemain cadangan," jawab Zuck lemes, sambil naik ke motornya. Ia menduga Linn ini calon orang pintar. Hasrat ingin tahunya begitu besar. Suka bertanya!

Linn menaiki jok belakang. "Cadangan kan sama aja pilihan kedua. Itu kan posisi nggak bagus?"

"Siapa bilang? Pemain cadangan bukan berarti tidak diutamakan, bisa jadi dia disimpan untuk pertandingan besar," jelas Zuck entah didapat dari situs sepakbola mana. Setelah itu, ia segera melarikan RX King-nya menuju lapangan bal-balan di tepian kota.

--~=00=~--

Posting Komentar untuk "Zuck Linn #23: Scandiva"