Zuck Linn #33: Persahabatan Sejati

Novel Wattpad yang diterbitkan menjadi buku


#33 Persahabatan Sejati

Di sekolah beberapa hari ini Linn barubah menjadi sosok pendiam dan penyendiri. Ia juga sudah tidak aktif ke kantin bareng Yonah dan Dewik. Apalagi ke kantin bersama, di kelas saja mereka sudah tidak lagi saling sapa.

Pun jam istirahat siang ini, Linn memilih menyepi di belakang perpustakaan tua. Ia ingin menikmati kegalauannya seorang diri.

Pagi tadi ia sudah mencoba SMS Zuck meminta maaf, tapi sehingga hari sudah sesiang ini belum juga ada balasan. Saat ini cuma SMS yang bisa Linn andalkan sebagai satu-satunya sarana berkirim pesan. Setelah kejadian di cafe itu, WhatsApp Zuck yang sekarang DP-nya bergambar mengiris nadi pakai sisir itu sudah tidak aktif. Pesan-pesan yang Linn kirimkan terus memperlihatkan ceklis satu.

Linn sadar ia salah, tapi jika permintaan maafnya tak ditanggapi, penjelasan-penjelasannya tak didengar, harus bagaimana lagi? Selain bersikap terserah, membiarkan dulu semuanya, sambil berharap mereka sadar bahwa kemelut ini bukan murni salahnya sendiri. Zuck, Yonah dan Dewik sedikit banyak ikut tersangkut paut. Terutama Dewik, bagi Linn, Dewik sudah bagaikan musuh dalam selimut, diam-diam menikam dari dalam. Gara-gara itu semalam Linn sampai tidak mau tidur selimutan. Trauma!

Kegalauan Linn sedikit terusik. Ada suara langkah-langkah kaki manusia dari arah belakangnya. Linn menoleh ingin tahu siapa gerangan yang datang, oh ternyata Yonah dan Dewik. Okay cukup tau! Linn tak berniat menyapa mereka, malah buru-buru mengembalikan wajah ke arah normal.



Tapi Linn tak menyangka Yonah justru duduk di samping kirinya, disusul Dewik di sebelah kanan. Diapit oleh dua orang yang sedang memusuhinya itu, muncul perasaan tak nyaman dalam diri Linn. Ia hendak berdiri dan bermigrasi ke tempat yang lebih tenang.

"Jangan pergi, Linn," cegah Yonah memegang pundak Linn.

"Saya mau kalian apain?" Linn yang sudah setengah berdiri bertanya canggung.

"Aku mau minta maaf. Sekarang aku sudah mengerti dan menyadari semuanya," sahut Yonah pelan.

Merasa nyawanya tak terancam, perlahan Linn kembali duduk.

"Aku minta maaf karena pernah menghalang-halangi hubungan kalian."

Dalam hati Linn sedikit terkejut mendengar perkataan Yonah itu, tapi ia berusaha terlihat tenang-tenang saja.

"Tadinya aku memang kecewa banget mengetahui kamu dan Mas Zuck ternyata tetap jadian tanpa sepengetahuanku. Tapi sekarang aku justru seneng. Aku seneng karena meski aku berusaha ngelarang, kalian juga berusaha jadian. Aku berusaha menjauhkan, tapi kalian malah semakin mendekat. Paling nggak itu membuktikan kalau kalian benar-benar saling cinta..."

Yonah menelan ludah, seolah bercerita barusan telah membuat tenggorokannya haus.
"Dan, kuharap kamu juga mau memaafkan Dewik. Kalaupun dia pernah menggoda Mas Zuck dengan akun Scandiva itu, karena dia nggak tau kalian pacaran," lanjut Yonah.

Ilustrasi Gambar Cewek di tepi pantai

Linn menoleh kepada Dewik. Cewek itu sedang mendongak ke atas entah memandang apa. Mulutnya terlihat bergerak-gerak, seperti sedang memilih kata-kata yang tepat untuk diutarakan. "Waktu kamu marah-marah di Facebook dan ngaku-ngaku pacarnya Mas Zuck, aku sempat nggak percaya. Aku mulai curiga ketika kita mau ngerjain PR akutansi, terus kamu nggak datang dengan alasan jam 4 ada acara keluarga, dan di jam yang sama ternyata Mas Zuck juga pergi. Aku sampai membututi kalian ke kuburan. Setelah melihat kamu dan Mas Zuck berduaan di kuburan, di situ aku baru percaya kalian memang diam-diam pacaran. Sejak itu aku nggak pernah mengganggu Mas Zuck lagi. Aku juga tutup mulut nggak ngasih tau Yonah. Aku biarin kamu dan Mas Zuck bahagia..."

Untuk beberapa saat Dewik diam memandang langit, sebelum kemudian menoleh ke arah Linn, yang ternyata juga sedang menatapnya berkaca-kaca. Dewik memaksakan seulas senyum di bibirnya.

"Tapi aku kecewa ngeliat kamu beberapa ini seperti deket-deket dengan Rein. Bahkan kecewa sekali saat malam minggu kemarin, kamu bilang pengen di rumah, nyatanya kamu jalan sama Rein. Aku lapor ke Mas Zuck pakai akun Scandiva. Maafin aku...

Dewik tertunduk, tapi raut lega tampak di wajahnya setelah mengatakan unek-unek itu.

"Tapi bener kok, waktu Yonah nelepon, aku memang masih di rumah dan nggak pengen ke mana-mana. Kemudian Rein telepon ngajak nonton. Tadinya aku juga nggak mau. Terus Rein bilang mau cerita tentang band anti pacaran. Karena aku lagi butuh informasi itu, akhirnya aku mau. Tapi beneran, aku sama dia nggak punya perasaan apa-apa. Dia udah kuanggap seperti paman, entah kalau dia mengganggapku lain," sahut Linn menjelaskan sejujurnya.

"Iya. Paman Rein tadi juga bilang gitu," kata Yonah manggut-manggut.

Sebelum menemui Linn sekarang ini, dari tadi malam Yonah sudah menemui pihak-pihak yang terkait dalam persoalan ini. Yonah ingin semuanya menjadi jelas. Berbicara dari hati ke hati dengan Zuck, meminta keterangan Rein, ditambah pengakuan Dewik tadi pagi bahwa akun Scandiva itu adalah dia adminnya, membuat Yonah sadar bahwa akar dari konflik ini hanyalah persoalan sepele, yang akhirnya menjadi drama yang lebay kayak cerita dalam novel-novel.

"Aku nggak berniat menghianati Mas Zuck, aku hanya sebel seperti nggak diperhatiin. Tiap malam minggu selalu mentingin band. Tadinya aku nggak percaya dia melakukan itu karena band-nya memang melarang personilnya punya pacar. Kayaknya nggak masuk akal. Aku baru percaya setelah dengar cerita dari Rein. Sayangnya disaat aku sudah menyadari kesalahanku, Mas Zuck sudah terlanjur marah dan gak mau memaafkanku lagi," lanjut Linn. Suaranya semakin sedih.

"Nanti aku akan kasih penjelasan sama Mas Zuck," kata Yonah menenangkan.

Linn menatap Yonah terharu. "Terima kasih, Yonah."

Senyum lembut Yonah tersungging di bibirnya. Sekarang ia akan mendukung penuh hubungan Zuck dan Linn. Meski kemarin mereka pacarannya sembunyi-sembunyi, tapi Yonah merasa hubungan itu telah membawa perubahan positif pada diri masing-masing. Semenjak kenal Zuck, Linn sudah tidak pernah lagi kegenitan jika ada cowok ganteng, tidak lagi putus ganti-putus ganti pacar seperti dulu. Dia sekarang lebih anteng. Sementara Zuck, kehadiran Linn sepertinya telah berhasil membuatnya melupakan Wanda. Yonah sudah tidak pernah lagi mendengar abangnya itu curhat-curhat tentang mantannya itu. Mereka cocok dan saling melengkapi. Dan Yonah, yang merasa bersalah pernah menghalangi-halangi hubungan mereka, berjanji dalam hati akan menebus kesalahannya dengan mengawal hubungan kakaknya dan sahabatnya itu hingga ke jenjang yang lebih serius. Kapanpun itu!

"Aku tau kita semua menyayangi Mas Zuck. Aku dan Dewik juga sayang kamu, Linn. Kami sedih melihat kamu beberapa hari ini sedih," ucap Yonah pelan.

"Aku juga sayang kalian. Sayaaang banget," sahut Linn sedikit terisak, dipeluknya tubuh Yonah beberapa saat.

Setelah itu diraihnya tangan Dewik ke dalam genggamannya, dipeluknya juga sahabatnya itu. "Dewik maafin aku..."



Tangis Linn pecah dalam pelukan Dewik. Ia merasa telah melukai Dewik. Walaupun sebenarnya tidak ada hubungan lebih dari teman antara Dewik dan Zuck, tapi tetap ada rasa bersalah dalam hati Linn, ia merasa telah merebut Zuck dari Dewik yang sudah lebih dulu mengenal Zuck bahkan sejak kecil.

"Enggak apa-apa, Linn. Mas Zuck sangat menyayangi kamu," Dewik membalas dengan rangkulan Linn lebih hangat. Diusap-usapnya pungung Linn.

Air mata Linn semakin deras, membasahi lesung pipitnya, juga baju seragam Dewik.

Yonah menghela napas. Batinnya geli bercampur sebal. "Huh dasar alay, urusan pacaran aja tangis-tangisannya kayak ditinggal mati keluarga!"

--~=00=~--

Selanjutnya Zuck Linn #34: Baikan

Penggemar Manchester United kalau pas lagi sering menang.

Jangan Lewatkan

0 komentar:

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.