Zuck Linn #34: Baikan

Novel online Zuck dan Linn


#34 Baikan

Akhirnya berkat mediasi Yonah, Zuck dan Linn bisa kembali baikan. Sore itu, untuk pertama kalinya mereka jalan-jalan mengitari Taman Kota dengan perasaan lebih senang dan dengan pikiran lebih tenang. Tidak was-was lagi akan kepergok Yonah, Dewik ataupun personil-personil band Gebrack.

"Umur berapa pertama kali kamu pakai bra?" tanya Zuck tiada hujan tiada badai.

Langkah Linn terhenti. Dipegangnya lengan Zuck supaya ikut terhenti. "Nggak ada pertanyaan lain yang lebih cerdas?"

"Banyak. Tapi aku pengennya nanya itu. Hehe, nggak bisa jawab ya?"

"Kelas 2 SMP. Sekitar tigabelasan. Kenapa?" jawab Linn tak ikhlas. Dilepasnya lengan Zuck, lalu melanjutkan langkah.

Zuck mensejajari langkah Linn. "Masih ada nggak sekarang?"

"Masih dong disimpen di brankas. Itu kan salah satu benda legendarisnya aku." Linn menjawab asal.

"Coba deh nanti sepulang dari sini kamu pakai lagi."

"Buat apa?!" Linn menoleh sebentar. "Kayak nggak ada kutang lain!"

"Ya dicoba aja."

"Kurang kerjaan. Udah kekecilan. Dan pasti udah nggak nyaman."

"Sesek?" Zuck memandang Linn minta penjelasan lebih jelas.



"Yaiyalah. Secara isinya kan semakin berkembang! Penting emang bahas ginian?"

"Berarti sama dong kayak yang kurasain kemarin."

Mata Linn membola. "Kamu kemarin pakai bra? Astaga...

"Bukan! Maksudku, seperti itulah rasanya waktu kemarin aku ngelihat kamu jalan sama Rein. Nyesek!"

Gambar romantis pohon cinta

"Hahaha... Dasar jelek!" seru Linn meninju lengan Zuck.

Tapi di saat yang bersamaan, Zuck sedang menundukkan badan hendak membenahi tali sepatu. Tak ayal, tinjuan Linn gagal mengenai sasaran, justru mendarat telak pada tulang pipi Zuck. DEG! Begitu bunyinya. Cukup bertenaga. Rasanya mungkin tak seberapa jika benar mengenai lengan, tapi untuk ukuran tulang pipi, itu cukup menyakitkan!

Zuck sampai kaget. Badannya agak oleng. Linn juga kaget. Spontan telapak tangannya menutup mulut dengan wajah begitu bersalah.
"Aduh, Mas. Maaf, Linn nggak sengaja."

"Nggak sengajanya kok pas banget," sungut Zuck mengusap-usap pipinya.

"Beneran, Mas, nggak sengaja. Tadi tujuannya mukul lengan kayak biasanya."

Zuck memangap-mangapkan mulut, memastikan tulang pipinya tidak cidera.

"Sakit ya, Mas?" Linn menyentuh pipi Zuck.

Zuck menggeleng tampan. "Enggak."

"Serius nggak ngerasain sakit?! Soalnya tadi lumayan keras sih?"

Zuck memegang tangan Linn yang sedang menempel di pipinya, diremasnya pelan, mata Linn ditatapnya lembut, "Serius, Sayang. Lagian kamu juga aneh, pipi udah kena tinju, masih ditanya apa aku ngerasain sakit? Jelas aja enggak. Karena gini, kalau ada kamu, aku nggak bisa ngerasin hal lain, selain rasa sayangku ke kamu."

"Arghh!" pekik Linn. Tangannya yang masih berada di pipi Zuck langsung dicubitkan tepat di tempat yang tadi sudah terkena jap kanannya.

"Aduduh..." Zuck meringis benar-benar kesakitan.

"Rasain!"

"Muehehe..." Meskipun sedang kesakitan, Zuck tidak bisa menahan tawa melihat wajah Linn yang kesal bercampur malu-malu.

Zuck menghadap Linn, kedua bahu Linn dipegangnya. Mata Linn ditatapnya dalam-dalam. "Kita ulangi semuanya dari awal."

"Maksudnya kamu mau menyamar lagi jadi pengemis?"

"Ya nggak perlu sampai sejauh itu juga. Huft!" repet Zuck. Tangannya yang tadi memegang bahu Linn, ditariknya dan beralih memegang bahu jalan.

"Ya dijelasin baik-baik dong, Mas. Jangan marah-marah. Nanti cepet tua, cepet mati."

Benar juga pikir Zuck. Punya pacar yang lemotnya sama kayak dirinya, apa-apa memang sebaiknya dijelaskan sejelas-jelasnya.

"Maksudnya, anggap saja sebelumnya kita nggak saling kenal. Sore ini pertemuan pertama kita, dan aku langsung jatuh cinta pandangan pertama...

"Ah kamu bisa aja," kata Linn sambil refleks mau mukul lengan Zuck, tapi tak jadi, takut salah sasaran lagi. Akhirnya kepalan tangannya yang sudah menggantung di udara itu diturunkan kembali.

"Hahaha... Bukan, bukan!" Zuck tertawa lagi melihat itu, sambil melambai-lambaikan telapak tangannya di depan Linn.

"Bukan apaan?" tanya Linn tak mengerti.

"Aku bukan bisa aja. Kenalin, aku Zuck. Dani Zuckici," Zuck mengulurkan tangan.

Linn langsung tertawa. Begitu pun Zuck. Beberapa saat keduanya tertawa begitu lepas. Terkenang saat pertama kali kenalan di toko kosong saat hujan deras. Setelah itu hening. Linn memandangi uluran tangan Zuck, lalu pandangannya perlahan naik dan tanpa sengaja matanya dan mata Zuck bertemu. Sekian detik mereka saling pandang, saling menahan senyum, dan tiba-tiba tawa mereka meledak sekali lagi. Lebih keras. Lebih lepas.



"Hahahaha...

Setelah itu tanpa ragu-ragu Linn menyambut uluran tangan Zuck. Digenggamnya lembut. "Aku...

"Udah tau kok. Kamu Linn. Alinna Bilqis Quinova lengkapnya," potong Zuck.

Linn menunduk. Ia sembunyikan senyumnya dengan pura-pura memperhatikan baju yang dipakainya.

"Padahal ini bukan seragam sekolah. Nggak ada namaku tertulis di sini. Kok kamu bisa tau?" tanya Linn tergadah menatap wajah Zuck yang 10 senti lebih tinggi di atasnya. Tangan mereka masih bersalaman.

"Karena nama kamu sudah tertulis di sini," tangan kiri Zuck menyentuh dadanya sendiri. "Di hatiku...

Eaaa...

--~=00=~--


Penggemar Manchester United kalau pas lagi sering menang.

Jangan Lewatkan

0 komentar:

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.