Mengenang Hits-nya Cerita Lucu Romantis Zuck & Linn dalam Zukilova di Halaman Facebook Arizuna Zukirama

Tadi malam pas nggak bisa tidur karena masih jam setengah delapan pagi, iseng-iseng aku mengakses halaman Facebook-ku yang sudah jablay akut! Soalnya aku memang sudah jarang banget nulis status di sana. Paling cuma beberapa kali share artikel blog. Jangankan di fanpage, di akun pribadi aja beberapa tahun terakhir ini aku emang hanya sesekali membagikan 'Apa yang Anda Pikirkan' kepada publik dan teman-teman efbi.

Salah satu penyebab aku males nulis di fanpage Facebook karena aturan algoritma FB yang menurutku kurang mengasyikkan. Jadi misalnya sebuah fanpage memiliki 10.000 fans. Ketika FP tersebut membuat postingan, post tersebut tidak akan muncul di beranda atau kabar berita 10.000 fans tadi. Paling cuma beberapa persennya saja. Dan dari beberapa persen tersebut, sudah pasti tidak semuanya aktif. Kalau pengen banyak yang melihat, harus bayar!

Kalau gitu ngapain ngumpulin ribuan penggemar kalau para penggemar tersebut tidak serta merta bisa melihat ketika ada postingan baru? Makanya wajar kalau sekarang banyak fanpage yang jumlah like dan komennya sangat tidak sesui dengan jumlah penggemarnya. Contohnya saja fanpage Mario Teguh, yang memiliki lebih dari 19 juta penggemar! Akan tetapi setiap pak Mario bikin postingan, paling cuma dapat sekitar 5000-an reaksi saja! Bahkan status blio gak pernah lewat di beranda meskipun aku sudah ngelike halamannya.

Tapi itu juga hak Mark Zuckerberg untuk memonetisasi Facebook dengan caranya sendiri. Karena bagaimanapun juga FB butuh pemasukan untuk dana operasional, yang tentu tidak sedikit duit yang dibutuhkan untuk mengelola situs sebesar Facebook tersebut. Selain itu yang pasti, mereka juga ingin mendapatkan keuntungan secara finansial. Jadi ya sah-sah saja jika pemilik fanpage ingin postingannya populer harus bayar terlebih dahulu. Dan juga sah-sah saja jika para content creator gratisan di FP, tidak semangat lagi mengelola fanpage-nya, dan bahkan pindah ke media lain.

Kalau untuk urusan bisnis atau jualan sih emang bagus pakai postingan bersponsor, karena bisa menemukan pengguna FB tertarget yang potensial menggunakan bisnis atau membeli dagangannya. Tapi kalau sekedar FP ecek-ecek kayak punya saya, yang saat itu tidak mengharap keuntungan materi dan mempunyai kepentingan bisnis apapun, tentu jadi berpikir 3x untuk membayar agar sebuah postingan banyak yang lihat.

Tapi dulu banget, sebelum algoritma FB berubah, sekali posting bisa dapat lebih dari 1000 like meski penggemar Facebook saya cuma 40 ribuan. Salah satu jenis postingan yang banyak disukai pembaca adalah cerita Zukilova. Tadi malam aku habis stalking cerita-cerita tersebut, dan kepikiran untuk mengulasnya di blog.

Logo Facebook

Baik, berikut kumpulan cerita lucu Zukilova yang pernah trending di fanpage Arizuna Zukirama. Tanpa edit, jadi masih sama persis dengan aslinya.

Zukilova


Alarm ponsel berdering nyaring, cukup lama sehingga memaksa tidurku terjaga. Mataku perlahan-lahan terbuka, berat rasanya. Tapi hanya sebentar, karena kemudian mataku langsung segar, saat melihat wajah sendu wanita di sebelahku. Dia masih nyenyak, tak terganggu sedikitpun dengan bunyi alarm tadi.

Tadi malam adalah malam pertama, dan pagi ini adalah pagi pertama aku dan dia resmi hidup berumah tangga. Aku tersenyum berdebar menikmati wajahnya yang pulas. Dia terlihat lelah, resepsi pernikahan yang meskipun digelar sederhana, tapi cukup menguras energi. Ditambah tadi malam kami tidur sudah sangat lewat dini hari. Sebenarnya aku tidak tega untuk membangunkannya.

"Sayang..." aku berbisik dekat telinganya, lebih tepatnya di sebelah pipinya. Kuusap pipi itu, lembut dan hati-hati. "Bangun, Sayang. Sebentar lagi waktunya Shubuhan. Aku butuh kamu jadi makmumku, biar sholat kita berpahala 27 derajat.."

Dia menggeliat manja, membuka mata, sesaat dia tampak terkesiap melihatku seperti melihat orang asing.

Pasti kaget dan aneh, malam-malam sebelumnya tidur sendiri, sekarang begitu bangun tau-tau ada yang menemani.

"Mas udah dari tadi bangunnya?" katanya sedikit malu-malu, ketika sudah menyadari posisinya.

"Belum juga, paling baru lima menitan.."

"Tau ga sih Mas, aku merasa semua ini masih seperti mimpi.." katanya sumringah tak terlukiskan, sambil merubah arah baringnya kepadaku, sehingga aku dan dia berhadap-hadapan.

Aku merapikankan poninya yang acak-acakan. "Istriku baru bangun saja sudah cantik gini, gimana nanti kalo sudah mandi ya?"

"Masih pagi Mas!" dia mencubit pinggangku. "Udah gombal aja.."

Aku nyengir. "Percaya ga Sayang, kalo setiap manusia itu diciptakan dengan tujuan yang telah ditetapkan?"

"Emm.. Masa sih Mas?"

"Iya. Misalnya kamu, diciptakan untuk selalu kupuja untuk setiap hari kupuji..

Dia tersipu. "Ohyeah? Trus Masnya?"

"Oh, kalo aku tercipta untuk mencintaimu. Dan bisa kan mengizinkan aku untuk terus begitu?"

"Prett ah!" dia mengambil bantal, pura-pura dipukulkan ke aku.

Aku terlentang, tangan menutupi muka melindungi dari pukulannya.

"Emang kalo ga ngegombal sejam aja badannya gatel-gatel gitu ya Mas? Dasar ih!"

Aku dipukul pake bantal lagi.

"Hehe.. Terserah kamu mau menyebut itu gombal. Tapi sebenarnya aku hanya berusaha merangkai kata, kata yang pas biar kamu senang mendengarnya..

"Ohyeah?"

"Ohyeah oyeah melulu! Sini deh Sayang.." aku menepuk-nepuk dada, mempersilahkan dia berbaring di sana.

Aku membelai-belai rambutnya. Sebentar-sebentar saling memandang. Tak cuma itu, kami merayakan pagi dengan pelukan, dengan kecupan.

"Kita akan selamanya begini kan Mas? Bukan hanya saat ini ketika kita masih pengantin baru?" bisiknya bertanya.

"Tentu, kita akan sama-sama saling menjaga dan saling mempertahankan.." jawabku singkat. "Eh udah yuk mandi, bentar lagi adzan shubuh..

"Mandiin..." dia menjawab manja.

Aku bangkit. Mengambil dua handuk. Satu kupake sendiri, satunya lagi kukalungkan di lehernya.

"Iya deh aku mandiin, trus ntar sekalian aku sholatin ya? Hehe.." cibirku sambil lari ke kamar mandi, berharap dia akan segera mengejar.

Tapi ternyata dia hanya berjalan pelan, malah kemudian cuma berdiri mematung.

"Kenapa, Sayang?"

"Entahlah Mas, tiba-tiba aku merasa kuatir, membayangkan semakin banyaknya rumah tangga gagal di sekitar kita?"

Aku menghela nafas, lalu mendekatinya. Kudorong pelan hingga bersandar di dinding. Kutatap matanya dalam-dalam, dia tertunduk diam. Dan sebuah kecupan ringan kuhadiahkan di keningnya.

"Kamu hanya melihat mereka yang gagal, Sayang. Kamu tidak melihat mereka yang berhasil, jumlah mereka lebih banyak.."

Dia termenung.

"Lihat saja Ayah Ibuku, mereka sudah 30 tahun bersama mengarungi rumah tangga yang bahagia. Dan mereka akan terus bersama, menyaksikan kita membesarkan cucu-cucu mereka...

"Mas janji akan seperti mereka?"

"Apakah masih kurang sakral janjiku kemarin di depan penghulu? Aku sudah divonis menjagamu Sayang, dari hati hingga mati.."

Dia nyengir ga penting. "Hehe..

"Ah kamu..." rambutnya kuacak-acak, dan dengan gemas kuangkat tubuhnya lalu kulempar ke kasur.

*****

Berdasarkan waktu yang tercantum di postingan tersebut, cerita #Zukilova 1 ini aku publikasikan pada 21 Maret 2013 Jam 22.53. Sudah 7 tahun yang silam! Dan membaca ulang cerita tersebut, asli aku merasa geli banget, bercampur rada-rada malu dan mual. Bisa-bisanya waktu itu aku ngarang cerita sebucin itu.

Tapi status menggelikan tersebut cukup laris di pasaran dan diganjar dengan 3193 Like 734 Komentar 486 Share! Cuma like sih, karena pada jaman itu belum ada pilihan tombol love, tertawa, marah, nangis dan wow.

Zukilova #2

Pulang kerja aku menjemputnya ke tempatnya berkerja. Meski berbeda bidang pekerjaan, sabtu akhir pekan seperti ini kami kerap pulang bersama. Tidak langsung pulang, kami biasanya singgah di pantai Kasih dan baru pulang ke rumah 15 menit sebelum magrib.

Nama sebenarnya bukan pantai Kasih, tapi karena kami merasa dunia ini sudah milik berdua, kami sering sesukanya jika menamai sesuatu.

Tak banyak yang dilakukan di sana. Hanya duduk menanti senja, makan kuaci, minum es kelapa muda, dia bercerita tentang hari-harinya, aku mendengarnya sesekali ikut bercerita. Jika senja tiba, kami akan melepas alas kaki, menggulung celana, lalu berjalan menyusuri bibir pantai.

"Nanti malam kita kemana ya? Nonton bola tapi MU mainnya masih besok..

Dia diam, malah asyik bermain-main dengan ombak. Mengejar ombak yang menjauh, ketika ombak kembali datang, gantian dia yang dikejar. Dia akan lari sambil tertawa keras dan lepas. Aku tersenyum sendiri melihat tingkahnya itu.

"Kamu bukan ABG lagi Mas?" katanya sedikit ngos-ngosan.

"Memangnya kenapa?"

"Udah bukan waktunya lagi Mas sibuk mikirin tujuan malam minggu. Pikirin tuh tujuan hidup. Pikirin juga masa depanmu.."

Aku tersenyum, menatap matanya yang menatapku. Mata yang indah. Begitu indah malah. Sampai sulit aku menilai mana yang lebih indah, matanya dia atau matahari senja di kaki langit sebelah barat sana.

"Setiap hari Beb. Setiap hari aku memikirkan masa depanku..

"Jangan cuma dipikirin, tapi juga harus dikejar!" tegasnya, sambil tangannya sibuk menyingkirkan beberapa helai rambutnya yang tergerai menutupi wajah karena tertiup angin pantai.

Aku membantunya, menyingkirkan rambut dari wajahnya. Rambutnya yang lurus hitam bagus dan lembut itu memang mudah dikibarkan angin.

"Ngapain juga masa depan dikejar?" jawabku kemudian.

"Kok ngapain sih?!!" dia melotot tidak terima.

"Lha iya ngapain dikejar? Masa depanku kan sudah ada di depanku sekarang..."

"Gombaaaallll!" serunya sambil berusaha meninju lenganku. Aku lari menghindar. Dia mengejar. Aku berhenti. Menunggunya.

"Dasar kuman karpet..." katanya cemberut setelah berhasil menyusulku. Lenganku kembali ditinjunya pelan. Kali ini aku pasrah saja.

"Kalo bener aku masa depannya Mas, buktiin dong!" cibirnya.

"Boleh. Caranya?"

Dia tampak memikirkan sesuatu. Lalu memandangku tajam. "Lamar aku!"

"Hah?!" aku tercekat dan langsung terdiam.

"Kita bersama sudah dari 2011, 2012 dan sekarang 2013. Lalu sampai duaribu berapa lagi kita akan gini-gini terus Mas?!"

Aku semakin terdiam.

"Emang Mas ga malu sama keong racun?" dia bertanya.

"Malu kenapa? Kenal aja enggak!"

"Tak kasih tau deh Mas. Keong racun itu, baru kenal udah ngajak tidur. Nah mas Zuki, udah 3 tahun kenal, ngelamar aja ga berani!"

Cetaaannn! Jleb! Rasanya kayak terhempas nyungsep ke dalam pasir! Dalem banget nih. Dalem! Seorang Zuki yang keren keparat ini ternyata derajatnya masih di bawah keong racun!

"Diem aja sih Mas?"

"Baiklah Beb, aku akan lamar kamu..." kataku tanpa pikir panjang.

Dia kembali menatapku, kali ini dengan sorot lembut dan cukup lama. Aku tau, dia sedang mencari keseriusan atas pernyataanku barusan.

Aku berpaling. Tidak kuat walau untuk sedetik lagi. Tatapan seperti itulah selalu meluluhkan hatiku setiap dia meminta sesuatu. Dan sepertinya dia sudah hapal kelemahanku satu ini.

"Udah dong Beb biasa aja natapnya, ini serius, aku akan melamarmu...

"Kapan Mas?" tanyanya semangat.

"Sekarang!"

"Hah?!"

Gantian dia yang terkejut dan terdiam. Rasain!

*****

Geli banget, cuy! Wkwk. Udah gitu nggak nyambung juga dengan Zukilova part sebelumnya. Kayaknya seingatku waktu itu memang cerita ini bukan cerita bersambung. Pokoknya asal nulis aja!

Anehnya, Zukilova episode kedua ini kok tanggal postingannya lebih dahulu ketimbang yang pertama. Tercantum di sana tanggal publishnya yaitu 26 Januari 2013 15.44.

Meski dalam cerita ini nama tokohnya Zuki, tapi itu nggak menceritakan tentang aku sih. Ini hanya cerita karangan belaka. Murni fiksi 24 karat! Jadi aku nggak tersinggung meski ada kesamaan nama. 1994 Like 311 Komentar 71 Bagikan.

Zukilova #6


Sebuah cerita ringan tentang rumah tangga baru.

Ruang tamu sebuah rumah kecil yang sederhana. Malam itu malam jum'at, yang bertepatan dengan peringatan 40 hari menikahnya mereka. Linn terlihat sedang menyetrika pakaian, sementara Zuck yang melipat dan menyusunnya ke dalam lemari.

Begitulah mereka setiap harinya, berusaha kompak di setiap kesempatan dan kegiatan. Kalo Linn belanja ke pasar, Zuck yang bertugas membawa barang belanjaan. Saat masak, Linn yang mengulek bumbu, Zuck yang mengirisi sayuran atau marut kelapa. Waktu makan, Linn yang mengunyah makanan, Zuck yang menelan.

"Ternyata semua tetek bengek rumah tangga, kalo dilakukan sama-sama terasa menyenangkan ya, Mas?"

"Yaiya dong. Tapi menurutku kamu jangan terlalu sibuk deh, Sayang..

"Lho kenapa?"

"Ntar kamunya capek. Aku aja males mikirin tetek bengek rumah tangga, mending mikirin tetek kam...

"Heh!" Linn mendelik. Menodongkan setrikaan panas.

Zuck tertawa tanpa suara. "Udah deh, yuk. Nyetrikanya dilanjutin besok. Capek

"Tinggal dikit lagi lho ini, Mas."

"Mangkanya jangan dihabisin. Udah tau tinggal dikit. Pengiritan, Sayang, pengiritan. Hih.." Zuck mencabut colokan setrika. Lalu menarik tangan Linn, dibawanya duduk di sofa.

"Pinjam hape dong, Sayang, bentar.

Mau update status: 'Mau bobo sama istri', hihihii..

Zuck mengambil hape Linn dan segera log in akun facebooknya, tapi ternyata tidak bisa. Dicoba sekali lagi. Masih juga tidak bisa. Entah kenapa.

"Duh. Susah banget, Beb, masuknya..

"Coba diludahin, Mas," usul Linn sambil mengedip genit.

"Cuih!" Zuck meludahi hape Linn.

"Ya Alloh, hapekuu! Hapekuu!" Linn meratapi hapenya. Diraihnya bantal sofa, dilemparkan ke arah Zuck.

"Haha!" Zuck menghindar, sambil tertawa ia berlari ke kamar. Ia berharap Linn akan mengejar. Tapi apa, sudah hampir 10 menit Linn belum juga menyusul.

"Sayang..." Zuck memanggil-manggil.

Tak ada sahutan. Hening. Zuck yang penasaran akhirnya keluar kamar. Dicarinya Linn di ruang tamu, dapur, kamar mandi, di atas genteng, tapi Linn tidak ada.

"Sayang, kamu dimana? Tadi tuh ngeludahnya tuh ga beneran. Cuma suara doang. Duh, kamu ini. Ayo dong keluar. Ga lucu tau udah suami istri gini masih main petak umpet?"

Tetap hening.

"Okay, kuhitung sampai tiga nih, kalo masih ga mau keluar juga, kuhitung sampai sepuluh!" ancam Zuck.

Linn yang bersembunyi di belakang lemari ngikik dalam hati. Hihihi. Rasain.

Zuck ga kehilangan akal. Dengan gesit dia mematikan seluruh lampu. Seisi rumah tiba-tiba gelap gulita. Dan taktik itu cukup berhasil.

"Maass!" Linn berteriak ketakutan.

"Hahaha.." Zuck buru-buru kembali menyalakan lampu. Terlihat Linn berdiri merengut di sudut ruangan. Sambil tersenyum, Zuck melangkah menghampiri istrinya itu.

"Jahat banget," Linn merajuk.

"Jahat kenapa sih?"

"Pake nanya lagi. Gelap tau ga sih Mas. Mana malam jum'at.."

Kedua tangan Zuck memegang kepala Linn. Ditatapnya dalam-dalam. "Seperti itu juga rasanya kalo kamu jauh dariku, Sayang. Gelap."

"Gombal!" Linn buang muka.

"Duarius, Sayang, haha" goda Zuck mengacak-ngacak rambut lurus Linn.

Linn tergadah, menatap wajah Zuck yang 7 centi lebih tinggi dari dirinya. Disentuhnya wajah itu penuh perasaan. Zuck mendorong tubuh Linn, dipepetkannya ke dinding. Pelan tapi pasti wajahnya mendekati wajah Linn, yang sudah menanti berdebar sekaligus tak sabar. Semua titik diserangnya, kening, kuping, bibir, semuanya. Tangan kiri memegang kepala belakang Linn, sementara tangan kanan sudah seperti lagunya Ayu Ting Ting, kemana kemana kemaana.

"Kok rambutnya kamu jadi enggak lurus gini sih, Sayang?"

"Aduh, Mas. Kayaknya kamu salah pegang rambut deh ah. Rambut ketek atau rambut apa?" desah Linn.

"Ah sudahlah..." Zuck ga peduli dan meneruskan kegiatannya.

Linn menggeliat.

"Kenyal, Bebi..." Zuck berbisik lembut.

Linn merangkul erat. Badannya agak membukuk menahan letupan. "Kurawat Mas, biar Mas-nya sayang terus sama Linn...

"Oh yah?"

"Iyah. Kan pribahasa bilang 'tak kenyal maka tak sayang'?"

"Hsshahh.."

*****

Ceritanya makin aneh dan rusak. Masa dari Zukilova #2 tahu-tahu sudah Zukilova #6. Dan sudah saya cari-cari yang episode 3, 4 dan 5 memang nggak ada. Entah hilang atau memang sebenarnya belum aku publikasikan. Lupa! Soalnya sudah lama banget. Zukilova bagian 6 ini aja di-posting pada tanggal 12 Mei 2013 jam 07.05.

Letak kerusakan berikutnya ada di sudut pandang ceritanya. Di mana di edisi Zukilova 1 dan 2, menggunakan POV atau sudut pandang orang pertama, tiba-tiba di Zukilova 6 ini pakai sudut pandang orang ketiga. Tapi meskipun rusak, cerita ini panen 1783 like 270 koment 66 share. Ntaps!

Zukilova #7


Sore semakin habis. Malam mulai menjelang. Zuck dan istrinya sedang menonton TV acara Adzan magrib untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.

"Mas Zuck, Linn mau nanya dong,"

"Nanya apa, Beb?"

"Teks adzan kalo di layar TV kan Ashadu Anlailahaillah gitu, ya kan Mas ya? Tapi kok pelafalannya jadi Ashadu Alailahailallah gitu sih? Beda.."

Zuck terdiam cukup lama. Lalu nyengir, "Hehe...

"Ga tau, ya? Katanya lulusan Aliyah.."

"Bukan ga tau, Sayang. Cuma sedang mengingat-ingat. Iya gini kalo ilmu jarang diterapkan, jadinya lupa. Bentar, bentar..." Zuck mengetuk-ngetukkan jari ke dengkul, berusaha mengoptimalkan otaknya mengingat ilmu-ilmu agama yang pernah dipelajarinya.

"Gayamu, Mas, Mas," ledek Linn.

"Aku ingat!" Seru Zuck menghadap istrinya. "Itu karena idghom bilagunnah. Iya idghom bilagunnah. Idghom bilagunnah itu ada dua huruf, 'lam' dan 'ro'. Dua huruf tersebut akan menghilangkan bunyi huruf 'n' jika bertemu nun mati, atau semua huruf yang dibaca 'an', 'in', 'un' tanwin," jelas Zuck penuh percaya diri.

"Beneran gitu?" kata Linn dengan tatapan takjub.

"Iya. Contohnya di lafadz adzan tadi, di kalimah syahadat juga. Bunyi huruf 'nun' melebur menjadi huruf 'lam'. Peraturan Idghom bilagunnah adalah 1 harokat pada saat peleburan..."

Linn mesem. "Pinter ya?"

"Ganteng juga...

Linn memencengin bibir. "Jadi pengen muntah-muntah gini sih, Mas? Padahal belum hamil...

"Hahaha... Dasar!" Zuck mendekap geram Linn.

Linn meronta. "Jangan kenceng-kenceng gini kenapa sih meluknya. Istrinya kamu jadi ga bisa napas nih. Uff...

"Tapi aku berharap, hubungan kita bisa seperti idghom bilagunnah itu, Sayang," bisik Zuck kemudian, perlahan-lahan dan penuh perasaan.

"Maksudnya apa, Mas?" Linn memandang ga ngerti.

Zuck balas memandang Linn. "Idghom Bilagunnah itu selamanya cuma ada lam dan ro'. Begitupun hubungan kita selamanya, cuma aku dan kamu...

"Aduh, Mas..." rintih Linn, mendusel-dusel di dada Zuck.

"Udah ah. Ga usah lebay. Kita magriban dulu ya?"

"Tapi kan baru wilayah Jakarta, untuk wilayah rumah tangga Zuck Linn belum?"

"Ya kita siap-siap dulu, Sayang. Sholat itu lebih keren kalo dikerjakan tepat waktu," Zuck berdiri. Siap-siap ke kamar mandi untuk berwudhu.

Linn merentangkan tangan. "Gendong...

"Ya Allah. Manja banget sih?" Zuck geleng-geleng.

Linn bales menggeleng-geleng. "Manja sama suami sendiri masa ga boleh? Cuma minta gendong ke kamar mandi ini, bukan minta gendong kemana-mana kayak mbah Surip. Pelit banget..."

"Yaudah, yaudah. Dasar kamu..." Zuck akhirnya ngalah walau rada-rada jengkel.

"Muahaha..." Linn ngakak melihat tampang suaminya yang merengut ikhlas ga ikhlas.

Sampai di kamar mandi, Linn berwudhu duluan. Kemudia menengadahkan tangan membaca doa selesai berwudhu. Zuck hanya memandangi penuh kagum dan bangga. Wajah istrinya, ketika basah air wudhu begitu, kecantikannya meningkat 15%. Subhanallah.

"Bangga punya istri kamu, Sayang." goda Zuck sambil meraba wajah Linn.

"Hah! Kan Linn jadi batal lagi? Sengaja nih pasti. Aaa... Mas jahat!" Linn ngamuk-ngamuk manja. Kakinya menghentak-hentak jalan di tempat ga beraturan.

"Duh, iya, iya. Maap, Sayang, maap. Cepetan wudhu lagi gih."

"Enggak! Mas aja yang wudhu duluan..."

"Enggak mau. Pasti kamunya nanti mau bales dendam batalin aku kan? Iya kan? Hahaha. Kebaca...

"Iih... Dasar Masnya mau menang sendiri. Dasar! Dasar!" Linn mencripati Zuck dengan air bertubi-tubi. 

Zuck ga terima. Sambil tertawa ia bales mencripati Linn. Akhirnya mereka saling ciprat-cipratan ga penting hingga pakaian keduanya basah. Dan terlanjur basah, yasudah mandi bareng sekalian.

Dan setelah mandi dengan durasi yang ga wajar, adzan magrib mulai bersahut-sahutan dari masjid-masjid di sekitar kediaman mereka. Linn segera mengenakan mukenanya. Zuck menggelar sajadah, satu untuk dirinya, satu istrinya. Lalu tersenyum memandang Linn yang telah lengkap berbusana sholat.

Linn tersipu. "Udah ah, Mas. Ntar ga khusuk lho kita sholatnya?"

Zuck mengucap istighfar dalam hati.

*****


Tercatat Zukilova #7 dipublish pada tanggal 15 Mei 2013 pukul 19.35. Alur ceritanya tak kalah menggelikan dengan part-part sebelumnya. Namun demikian, Zukilova 7 sukses meraup 2231 like 403 koment 156 share! Ramai sekali. Coba kalau sekarang memposting lagi, mustahil dapat reaksi sebanyak itu. Bisa dapat setengahnya saja sudah luar biasa.

Zukilova #8

"Bangun Mas..." Linn mengguncang-guncang tubuh Zuck.

Zuck membuka mata. Diliriknya jam dinding, masih seperti kemarin, jam 03.40. Ia segera bangkit dari tempat tidur, mengambil handuk dan bersiap ke kamar mandi. Tapi dilihatnya Linn justru tertidur kembali.

"Duh. Kok malah tidur lagi sih?" Zuck geleng-geleng ga ngerti. "Bangun, Sayang. Sahur."

Linn menggeliat manja. "Linn kan nungguin dibangunin sama Mas."

"Lah bukannya tadi udah bangun duluan?"

"Hooaammm..." Linn menguap lebar. Kelelawar berterbangan dari dalamnya. Aroma naga memenuhi seantero kamar.

Zuck menutup mulut.

Linn bangkit dari tidurnya. Duduk ditepi ranjang. "Tadi aku bangunin Mas supaya Mas bangunin aku. Kan biasanya Mas yang bangunin aku. Yee.. Pura-pura lupa nih..."

"Hadeh... Mending berantem aja yuk. Ga usah sahur!"

"Kan? Dikit dikit ngambek. Ga dewasa. Berubah dong, Mas. Temen-temennya Mas aja udah pada berubah...

"Bisa ga sih ga usah banding-bandingin gitu?!" penggal Zuck dengan wajah bete.

Linn tertunduk. "Tapi emang bener kok. Jabon sekarang udah berubah jadi alim. Sudrun juga udah jadi caleg. Nah Mas..." Linn mengangkat wajah, menatap sendu suaminya. "Dari dulu ga pernah berubah, selalu aja ganteng..."

"Ya Alloh! Pagi-pagi..." Zuck buang muka menyembunyikan wajah sumringahnya. "Aku juga heran sih, Mbal. Biasanya, bayi-bayi itu kalo lahir langsung nangis ya kan, Beb, kan? Lhah aku, begitu dilahirkan langsung ganteng masa?"

Linn meletin lidah ke arah Zuck. Zuck ngakak berderai. Pagi yang dingin. Namun tetap hangat.

*****

Sorenya. Selepas sholat ashar.

"Kita ga usah masak ya, Mas. Tadi temen sekolahku nelpon, ngundang kita buka bersama di restoran Karomah?" kata Linn sambil menyisir rambutnya di depan meja rias.

"Ga usah deh. Ga penting juga," jawab Zuck singkat.

"Kenapa sih? Sekalian silaturrahmi lho, Mas."

"Silaturrahminya ntar aja pas lebaran."

Linn diam dengan muka menyungut. Ia terlihat kecewa atas keputusan Zuck. Sisir diletakannya dengan gerakan serampangan.

Zuck mendekati Linn. Dipeluk isrinya itu dari belakang. Terseyum geli melihat wajah istrinya yang merengut di cermin.

"Sayang merengut aja tetep manis. Ga takut, kalo ikut buka bersama ntar dimakan sama mereka?"

Ga ngaruh. Linn masih cemberut di tempatnya.

Zuck melepas pelukannya. Diambilnya sisir yang tadi dipakai Linn, kemudian rambut istrinya disisirin hati-hati. "Sayang.... Maaf, aku emang kurang suka acara-acara seperti itu. Sering gara-gara mengutamakan hal yang ga penting, hal yang penting justu terabaikan. Pernah lho Sayang, aku buka puasa bareng di sebuah restoran gitu, iuarannya mahal, menunya enak-enak, makan sekenyangnya, habis makan masih ngemil, sambil asik ngobrol-ngobrol, hingga tau-tau udah adzan isya! Jadinya sholat magrib terabaikan. Percuma kan puasa, kalo seperti itu? Jadi ga usah aja ya, Beb. Lagian aku ga punya duit."

Linn tersenyum kesal. "Dasar ih. Ngomong ga punya duit aja pake muter-muter."

"Mendingan sekarang kita masak. Masak nasi aja. Sayur sahurnya kan masih ada, tinggal dipanasin."

"Dibantuin kan, Mas?"

"Iya. Sayang bagian nyuci beras trus masukin ke mejikom. Aku bagian nyolokin listriknya."

Linn melirik tajam. "Ntar abis buka puasa berantem ya. Catet!"

"Oke, oke. Aku goreng telur deh. Telur mata sapi spesial buat Sayang. Mau?"

"Hehe.. Mau banget, Mas. Kalo bisa telur mata sapinya yang tatapannya lembut, trus ga juling."

Zuck garuk-garuk rambut. Kepalanya tiba-tiba serasa banyak ketombenya. "Kayaknya berantem beneran deh nanti ini."

"Hehee. Yaudah, aku minta telur mata hati saja."

"Kalo sambil ditemani Sayang, goreng telurnya pasti nanti berbentuk hati."

Acara masak memasakpun berlangsung lama dan ga manusiawi. Kebanyakan becandanya sih. Sampai-sampai sayur sisa sahur yang belum diangetin, panas sendiri menyaksikan kemesraan mereka. Dan tanpa terasa bedug buka puasa telah berbunyi.

"Alhamdulillah udah buka. Diawali dengan yang manis-manis dulu ya, Mas." ucap Linn sambil menuangkan es sirup dan disodorkan segelas untuk suaminya. 

"Bukan, Sayang. Yang benar tuh diawali dengan do'a dulu."

"Terserah Masnya aja deh. Cape ngomong sama tutup limun."

Zuck menengadahkan kedua tangan, membaca do'a berbuka puasa. Sementara Linn meng-Aamiin-kan perlahan.

Berdoa selesai. Tapi Zuck tak menghiraukan es sirup di hadapannya. Ia menoleh ke arah Linn, wajah istrinya itu dipandanginya dengan lembut dan cukup lama.

"Norak ih Mas," seru Linn tertunduk malu-malu.

Zuck tertawa kecil. Kemudian meraih gelas sirup di hadapannya dan diteguknya hingga setengah. Baginya, semanis-manisnya sirup buka puasa, tak akan bisa menandingi manisnya wajah Linn.

*****

Yang edisi puasa Ramadhan ini agak mendingan lah, tidak terlalu menggelikan seperti yang sebelum-sebelumnya. Dan cerita yang aku post pada 23 Juli 2013 jam 17.45 dan berhasil mendapatkan 1900 Like 294 Komen 197 Share ini juga kayaknya menjadi Zukilova terakhir. Soalnya aku cari-cari sudah nggak ada lagi. Tapi bukan berarti nggak ada lagi cerita Zuck Linn di sana. Masih banyak terutama yang cerita-cerita singkat hanya berupa percakapan. Silahkan cek aja ke Official Facebook Fanpage Arizuna Zukirama terutama di tahun 2014 ke bawah, saat aku masih rajin fesbukan.

Atau kalau mau baca yang lebih panjang, yang saat ini sudah mencapai part #37, teman-teman bisa cari di blog ini pada kategori Serial Komedi Zuck dan Linn.

Belum ada Komentar untuk "Mengenang Hits-nya Cerita Lucu Romantis Zuck & Linn dalam Zukilova di Halaman Facebook Arizuna Zukirama"

Posting Komentar

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel