Widget HTML #1

Zuck Linn #3: Dompet PHP

Zuck Linn
#3 Dompet PHP

Sesampainya di rumah, Zuck segera masuk kamar dan mengunci diri. Dompet yang tadi diselipkan di celana diambilnya dengan dada deg-degan. Diamati sebentar, lalu dengan tangan kanan mencoba menimbang-nimbang isinya. Lumayan berat. Pasti isinya jutaan nih! Batin Zuck penuh harap dan tak sabar membelanjakannya. Dengan uang itu, Zuck berencana membeli sepatu baru dan mengganti ban motornya. Kalau masih ada sisa akan Zuck gunakan untuk umroh.

"Jangan lakukan! Itu bukan milikmu!" sisi hati baiknya tiba-tiba mencegah.

"Buka saja. Kamu yang menemukannya, berarti sudah menjadi milikmu," lalu setan memprovakasi.

Zuck terdiam bimbang.

"Kembalikanlah kepada yang berhak," bisik malaikat di kuping kanan Zuck.

"Udah cepat buka aja! Kalau nggak sekarang kapan lagi? Kalau bukan kamu siapa lagi?!" di kuping kiri setan terus memanasi.

"Jangan dengarkan dia. Anggap saja itu suara setan!"

"Justru dia yang nggak usah kamu dengerin. Lanjutkan!"

"Jangan!"

"Lanjutkan!"

"Bukan urusan saya!" geram Zuck di dalam benak.

Di saat sisi jahat dan sisi baik hatinya terus bergejolak, Zuck sudah membuka dompet itu lebar-lebar. Seketika matanya membelo. Mulutnya ternganga. Kepalanya gatal.

Ternyata, isi dompet itu berbeda jauh dari angan-angannya. Sangat jauh! Tidak ada uang sepeser pun di dalamnya. Dilihatnya sekali lagi lebih teliti hingga ke sudut-sudut dompet paling terpencil. Tapi tetap tidak ada uang bergambar apapun. Zuck tidak menyerah, ditutupnya dompet itu beberapa saat, lalu kembali dibuka. Sama saja! Masih tidak ada uang. Hanya terdapat sebujur lipgloss.

Dan masih belum percaya dompet semewah itu isinya cuma lipgloss, Zuck membalikkan posisi dompet, digerak-gerakkan ke bawah, berharap ada rupiah ataupun benda berharga runtuh dari dalamnya. Tapi sama saja. Nihil!

"Anjerid! Dompet PHP!" damprat Zuck mencampakkan dompet itu ke dinding, terpental mengenai pojokan lemari, lalu terjun bebas membentur lantai, sebelum akhirnya terpeleset beberapa senti ke bawah meja belajar.

"Mampus!" maki Zuck kepada dompet sekaligus pada dirinya sendiri. Jarum jam di dinding sudah berada di 07.50. Itu artinya ia hanya punya kesempatan 10 menit untuk sampai ke kampus. Dengan panik tak menentu, Zuck berlari ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan cuci ketek.

Ilustrasi gambar dompet keren

--~=00=~-- 

Ayah Rein memang berasal dari pulau Timor. Dulu semasa Timor Timur masih dilanda perang suadara, ia diungsikan ke rumah kerabatnya di pulau Lombok. Beberapa bulan di sana, ayah Rein yang pada masa itu masih pemuda kecil, nekat ikut orang-orang Sasak merantau ke Malaysia. Dan ia bekerja di negeri jiran tersebut hampir sepriode presiden lamanya.

Namun karena datang tanpa dokumen resmi, suatu hari ia kejaring razia Polis Diraja Malaysia dan dideportasi ke Indonesia melalui kepulauan Riau. Di beberapa wilayah propinsi Riau memang kerap menjadi tempat pembuangan TKI ilegal. Makanya jika bertemu orang dari Lombok di sana, kemungkinan besar mereka adalah eks TKI di Malaysia.

Selanjutnya karena tidak memiliki uang untuk kembali ke pulau Timor, ayah Rein terpaksa bertahan di Pekanbaru. Pada akhirnya ia justru betah dan bertemu jodoh di sana. Pun setelah Timor Timur pisahan dengan NKRI dan berubah nama menjadi Timor Leste, ayah Rein memilih menetap di Pekanbaru, walau sesekali jika ada uang dan waktu luang, ia akan pulang ke tanah leluhurnya.

"Tahun 2012 kemarin, ayah meninggalkan Indonesia. Pulang ke Dilly. Setahun kemudian aku disuruh nyusul ke sana," jelas Rein. Ia sedang singgah ke kelas 3 IPS A, kelasnya Linn. Rein sendiri ditempatkan di 3 IPA B.

"Oh iya aku ingat, tahun 2012 di Indonesia emang lagi ramai isu mau kiamat. Pasti keluargamu takut trus pindah ke luar negeri?" tebak Linn.

"Nggak gitu, Linn!" bantah Rein sedikit keki dengan tuduhan Linn. "Kebetulan Ayah emang asli orang Dilly, Ibuku yang dari Dumai."

"Jadi selama ini kamu blasteran?!" Linn mendelik menatap Rein tak percaya. Tiba-tiba ia merasa bagaikan KD dan Rein Raul Lemos-nya.

"Begitulah kira-kira," Rein nyengir bangga sambil memperhatikan Linn dengan seksama. Dua tahun berpisah, ternyata tidak banyak perubahan pada dirinya. "Kamu orangnya monoton ya? Dari dulu gitu-gitu aja. Nggak jelek-jelek."

Linn mesam-mesem malu-malu. "Daripada kamu, nggak konsisten! Perasaan dulu kamu ganteng deh, Rein. Sekarang kok ganteng banget?"

Rein tertawa. Linn turut tertawa. Tidak jauh dari mereka, Yonah dan Dewik seperti menahan muntah menyaksikan tingkah norak Linn.

Bayangan Linn mundur ke masa dua tahun silam, saat awal-awal menjadi murid di SMA Khatulistiwa ini. Pertama kali melihat Rein di MOS, ia langsung suka. Selain ganteng, Rein adalah sosok pemuda pemberani. Berani membantah perintah kakak-kakak senior, bahkan Linn pernah menyaksikan dengan kepalanya sendiri Rein berani menerobos lampu merah. Linn memang unik. Keunikannya itu yang membuat Rein juga menyukai Linn. Sayangnya, belum sempat hubungan mereka lebih dekat, Rein keburu hengkang ke luar negeri.

"Nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi," kata Linn. Suaranya terdengar begitu girang.

"Sama. Aku malah sempat mengira nggak bakal kembali lagi ke tanah air."

"Trus apa yang akhirnya membuat kamu kembali ke Indonesia?"

Rein diam sejenak. "Tapi janji ya jangan bilang siapa-siapa?"

Linn mengangguk-angguk.

"Sebenarnya, aku pulang ke Indonesia hanya demi kamu, Linn," kata Rein dengan suara berbisik.

"Ah masa?" Linn tersenyum kege-eran. Tubuhnya seakan melayang menembus mega-mega.

"Iya. Aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi."

"Aku juga, Rein. Seneng banget."

Keduanya saling senyum.

"Hati-hati sama Linn. Dia udah punyanya Evan!" Yonah yang berada di deretan bangku belakang berteriak memprovokasi.

"Yonah apaan sih?!" Linn menoleh sambil merengut.

"Ciee... Siapa Evan? Pacar, ya?" Rein penasaran dan sedikit cemburu.

"Calon mantan!"

--~=00=~--

Bel pertanda bubaran sekolah berbunyi, yang disambut dengan helaan nafas lega dan sorak-sorak kecil dari berbagai kelas. Tidak sampai semenit, para murid sudah berduyun-duyun keluar kelas lewat pintu-pintu yang telah disediakan.

Di parkiran sekolah, tampak Evan berdiri mondar-mandir menanti pacarnya.

"Alinna!" teriaknya.

Linn yang sedang berjalan bersebelahan dengan Rein itu menoleh, menghadiahi Evan dengan senyum berlesung pipit kebanggaannya. Tapi Evan tidak peduli. Ia lebih peduli dengan cemburu di hatinya melihat Linn bersama Rein. Dan menyadari ada gelagat tidak baik, Rein buru-buru pamit menyingkir.
"Ganjen banget sih jalannya pakai deket-deket dia!" Evan to the point.

"Dia murid baru, sebagai murid lama aku cuma mau membantunya beradaptasi."

"Murid baru dari Hongkong! Kamu pikir aku nggak tau dia dulu pernah sekolah di sini?!" debat Evan sengit.

"Dari Timor Leste, Van. Bukan dari Hongkong!" balas Linn tidak mau kalah sengit.

Evan membuang muka dengan perasaan dongkol. "Tadi pagi kalian akrab banget. Ngobrolin apa aja?"

"Saling tanya kabar."

"Cuma itu?"

"Iya."

"Bohong! Pasti bohong."

"Ada sih. Aku nanya kenapa kembali, trus kata Rein aku mggak boleh bilang ke siapa-siapa, kalau dia sekolah di sini lagi hanya demi aku, Van. Gitu," kata Linn sambil tersenyum tanpa dosa.

Wajah Evan bertambah masam. Kemudian tanpa sepatah kata, bergegas meninggalkan Linn dengan langkah-langkah menghentak.

"Dasar jailangkung, semaunya aja datang dan pergi!" gerutu Linn mengiringi kepergian Evan.

"Evan kenapa? Kayaknya kesel banget?" tanya Yonah yang baru saja tiba di parkiran bersama Dewik.

"Tau tuh. Cemburuan banget!"

"Kamunya juga sih seharian deket-deket Rein terus. Wajarlah dia cemburu."

"Nah udah tau kenapa masih nanya?" Linn balik bertanya. "Lagian emang jauh lebih nyaman sama Rein."

Yonah menggeleng-gelengkan kepala. "Diputusin baru tau rasa kamu, Linn!"

"Iya. Dan rasanya itu pasti plong banget diputusin manusia posesif kayak dia," sahut Linn enteng. Aslinya ia memang sudah tidak betah berpacaran dengan cowok yang galaknya nyaingin ikan hiu itu.

"Curiga ini nanti ending-nya bakal mirip dua bulan kemarin. Kamu diputusin Bang Rudi tukang antar galon, gara-gara kamu kecantol si Andre, tukang antar galon baru."

"Ya ampun, Yonah, kamu masih ingat mereka? Aku aja udah lupa. Move on dong, move on! Hahaha," kata Linn sambil tertawa keras.

"Dasar!" semprot Yonah menoyor bahu Linn. Kadang Yonah tidak habis pikir, sahabatnya satu ini bisa bentar-bentar ganti pacar. Mantan pacarnya banyak. Entah apa motivasinya. Padahal mantan yang banyak juga tidak akan dibawa mati.

"Eh temenin ke pasar pusat dong. Tadi pagi Ibu nitip beliin sapu ijuk," Dewik mengubah topik.

"Ke pasar Sail aja. Kemarin aku shopping ke sana sama Mbak Uci, sumpah ada tukang parkirnya yang ganteng banget!" sahut Linn penuh gairah.

Yonah menepok jidat. Dewik melirik Linn sebentar, kemudian menggeleng sambil tersenyum-senyum tipis.

"Tapi lipgloss aku mana nih?" Linn sibuk mengobok-obok isi tas. "Kok nggak ada?"

"Emang kamu taruh di mana?" tanya Yonah.

"Di dompet."

"Kok nyarinya di tas?"

"Dompetnya di dalam tas. Beneran ilang nih lipgloss aku. Mamaa..." Linn mulai panik, tangannya terus mengobok-obok, matanya ikut melongok ke dalam tas. "Gimana nanti ketemu abang tukang parkir kalau bibir kering begini?"

"Kalau cuma bibir biar keliatan basah, gampanglah ntar di jalan makan gorengan dulu," kata Yonah memberikan solusi.

"Yonaaah!!" teriak Linn ngamuk. Sudah tahu situasi lagi genting masih saja mencari gara-gara.
Yonah tertawa sebentar. "Gini deh, Linn. Menurutku, kalau kamu tadi naruh lipgloss-nya di dompet, sebaiknya nyarinya juga di dompet, jangan di tas."

"Dompetnya nggak ada!"

"Berarti lipgloss-nya nggak ilang, dompet kamu tuh yang ilang?!"

"Ha!" Linn memandang Yonah kaget. Seperti tersadar dari mimpi buruk. "Iya dompetku?! Ya ampun dompetku!" Linn kembali mengubek-ngubek isi tas dengan gerakan lebih gegabah. Tapi dompetnya memang tak ada.

"Nah kan?"

"Aduh... Dompet itu berarti banget buatku, Yonah. Udah kuanggap seperti adik kandungku sendiri, kalau hilang pasti aku dimarahin Mama karena dianggap nggak bisa menjaganya dengan baik."

"Tenang dulu, Linn, tenang. Nggak usah drama. Coba diingat-ingat kapan terakhir kali kamu bersamanya?"

"Tadi pagi aku masih ketemu dia. Aku masukin baik-baik ke dalam tas ini."

"Terus?"

"Terus nggak tau, kalau ingat ngapain aku sepanik gini?!" kata Linn hampir menangis.

"Pantesan gampang banget ngelupain mantan, dompet sendiri aja bisa lupa!" sesal Yonah melirik Linn. Kasihan. Cantik, muda, anak orang kaya, tapi pikun!

"Di jalan tadi, nggak mampir-mampir beli sembako atau apa gitu?" tanya Dewik.

Linn diam termenung. Menyandarkan keningnya ke tembok. Berharap dengan ritual tersebut bisa mengingat keberadaan dompetnya. Dan ternyata manjur! "Ah, iya! Di sebuah toko di daerah Kubang. Tadi pagi beli pulsa, kayaknya belum aku masukan lagi?"

"Yaudah, sekalian ke pasar, kita samperin ke sana. Ayok berangkat sekarang juga. Mumpung Linn masih ingat!" seru Yonah memberi komando.
Selanjutnya 👉 Zuck Linn #4: Dani Zuckici

1 komentar untuk "Zuck Linn #3: Dompet PHP"

Comment Author Avatar
Di cerita pertama, kesimpulannya itu perampok kena jebakan batman ya? hahaha agak miris kalau jadi dia, cuma dapet sebatang lipgloss, lumayan buat gincuin bibir jadi merah meriang tapi gak bisa buat nambel ban hahaha. Good cerita kak!

willynana.blogspot.com

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku.